1
Apa yang bisa dibanggakan dari diriku. Aku hanyalah seorang pemuda berusia 30 tahun yang masih membujang dan hidup sendiri. Aku tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini kecuali diriku sendiri. Kedua orang tuaku telah tiada semenjak aku masih kecil. Saat itu aku kemudian dipelihara oleh kakek dan nenek yang juga meninggalkan dunia ini saat aku telah tamat sekolah menengah atas. Yang diwariskan mereka padaku hanyalah sebuah dunia kecil di atas lautan dan gugusan kepulauan Alor yang menghimpit dunia ini.
Aku tinggal di sebuah pulau kecil dalam gugusan kepulauan Alor. Pulau ini bernama Pulau Buaya. Bukan karena dihuni oleh binatang buas tersebut tetapi dalam arah manapun mata memandang pulau ini tertidur seperti seekor buaya di atas lautan. Di pulau ini aku dan warga tinggal berdesakan di atas daratan yang dikelilingi lautan yang mengakibatkan tidak ada sumber mata air tawar di sini. Biasanya warga mengambil air tawar di seberang yaitu di pesisir Baolang di pulau Alor. Jaraknya dekat hanya sekitar satu mil. Atau karena telah terbiasa dengan keadaan geografis pulau ini, membuat warga harus memutar otak menghadapi kesulitan air dengan mengadakan tanki penampungan di rumah masing-masing untuk menadah air hujan saat musim penghujan yang akan mereka gunakan air tawar tersebut seirit mungkin selama enam bulan datangnya musim kemarau hingga musim hujan kembali.
Bagi warga yang memiliki keluarga besar, kebutuhan air tawar sangatlah banyak dan kondisi pulauku yang kecil dan gersang ini membuat hidup menjadi rumit, apalagi bagi para pendatang ataupun warga yang sudah terbiasa hidup dengan air tawar. Sedang bagiku yang hidup sendiri aku tidak terlalu memikirkan segala kebutuhanku. Semua yang aku butuhkan telah tersedia di pulau ini. Keadaan geografis menghadiai kami keahlian melaut dan mencari sumber makanan di dalamnya. Hanya dengan memanfaatkan semua hasil laut aku bisa mencari makan dan mendapatkan uang. Tidak ada harta mewah yang warga miliki di sini. Bagi para lelaki di kampung memiliki sebuah perahu ataupun kapal motor kecil saja sudah menjadikan kami sebagai seorang pria yang mapan. Kebanyakan teman-temanku mereka telah berkeluarga dan memiliki keturunan. Mereka hanya membangun rumah tangga dengan sebuah perahu tradisional. Kadang saat melihat teman-temanku yang melewati hidup tanpa beban aku merasa iri pada mereka. Aku yang sudah berusia kepala tiga tapi tidak juga berpikiran untuk menikah. Aku masih tenggelam dalam pikiranku yang penuh rencana hidup. Aku harus membangun rumah yang layak, memperbaiki perahu motorku, mengadakan tanki di rumah untuk menampung banyak air tawar yang memadai agar keluargaku nanti betah tinggal di sini dan memiliki sumber mata air yang melimpah. Rencana-rencana itu selalu terbayang saat malam. Saat aku dan teman-temanku berlabuh di tengah laut di depan pulau untuk memancing. Aku selalu memikirkan rencana hidupku ke depan.
Teman-temanku, kadang mereka menertawakan segala rencana dalam kepalaku. Mereka sering bilang aku akan hidup membujang sampai ajal datang menjemput karena terlalu banyak rencana.
“Kampung ini tidak subur, jadi jangan buat orang-orangnya tidak subur,” teriak Jota dari perahunya yang berlabuh tidak jauh dariku.
“Kamu tahu, kenapa kampung kita ini disebut pulau buaya? Itu karena para lelakinya adalah para buaya darat, ha ha ha,” kata Jou yang juga berteriak dari perahunya di sisi sebelahku. Ia tertawa sambil melirikku. Aku tersenyum mendengar perkataan mereka.
“Atau kamu mau dengan Jumina? Ha ha ha ha ha,” kata Jota kembali sambil tertawa lebar. Jou pun ikut tertawa memecahkan keheningan lautan. Aku merasa lucu dan ikut tertawa. Mereka sebenarnya sedang meledekku. Siapa yang tidak kenal Jumina. Dia perawan tua di kampung. Usianya sudah 60 tahun dan kaya raya. Di pulau buaya dia punya toko yang besar dan menjadi satu-satunya toko penyedia bahan makanan di kampung kami.
“Kamu kan punya rencana untuk hidup mapan. Tuh, Jumina. Kau bisa jadi seorang saudagar bila menikah dengannya,” kata Jou sambil tertawa. Aku hanya tersenyum-senyum mendengar celoteh mereka. Mereka berdua memang begitu. Selalu mengganggu kesendirianku dengan menjodohkan aku dengan Jumina. Yang membuat mulut mereka bungkam sejenak hanya saat umpanku termakan ikan, saat tanganku sibuk menarik satu persatu ikan ke dalam perahu.
Saat malam merambat tengah hari kami bergegas menghidupkan mesin perahu untuk pulang. Di rumah sepi. Seperti malam-malam sebelumnya aku hanya membaca beberapa novel yang kubeli di pasar Baolang sambil menunggu ngantuk. Novel-novel Fredy S yang selalu menghantui kesendirianku. Kadang aku merasa dahaga birahiku memuncak namun tanah ini terasa gersang. Seperti kondisi geografis kampung kami yang susah air tawar. Aku merasa gadis-gadis di sini terasa asin seperti tidak asing dan aku tidak berselera.
2
Subuh-subuh sekali aku telah bergegas ke kapal motorku yang berlabuh di tengah laut. Hari ini pasar Baolang akan dibuka. Aku akan mengisi air tawar untuk kebutuhanku dan membeli novel Fredy S. Beberapa novel sudah aku tamatkan dan aku merasa haus akan ceritera-ceritera selanjutnya.
Jota dan Jou juga terlihat telah menghidupkan mesin perahunya. Mereka pergi dengan istri dan anak-anaknya. Istri mereka adalah penenun kain tradisional di Alor sehingga mereka akan menjual kain tenunannya di pasar Baolang. Begitulah kebanyakan para wanita di pulau buaya. Para lelakinya bekerja sebagai pelaut sedang wanitanya menenun di rumah. Hasil tenunan akan dijual di pasar-pasar pesisir yang dibuka pada hari-hari tertentu.
Berbeda dengan pemuda-pemuda lainnya di pulau buaya, hari pasar merupakan hari mereka jalan-jalan sambil mencari pacar, aku tidak terlalu terobsesi dengan kebiasaan mereka. Walaupun kebiasaan itu benar-benar mendatangkan jodoh untuk mereka. Jota dan Jou bertemu istri mereka di pasar Baolang. Mereka berasal dari kampung Alor kecil saat para gadis itu juga jalan-jalan sambil berbelanja.
Hampir semua lelaki di negeri kecil kami ini menggaet pasangan mereka dari kampung-kampung pesisir dalam kepulauan Alor. Demikian pula para gadisnya. Mereka juga mendapat pasangan hidup dari para lelaki yang tersebar di kampung-kampung seberang. Pasar adalah tempat bertemu dan mengikat perasaan, tetapi tidak bagiku. Pasar bagiku adalah berpetualangan dalam novel-novel panas Fredy S. Dari segala barang tradisional yang dijual di pasar-pasar pesisir, novel Freddy S merupakan barang kota yang menyusup diam-diam dalam hidupku dan tergantung padanya sebagai seorang lelaki sendiri aku benar-benar mendapatkan tempat penghiburan pada bacaan-bacaan dewasa tersebut.
Entahlah. Akhir-akhir ini aku berpikir apakah aku telah membangun standar sendiri dari kisah percintaanku. Mungkin aku telah termakan segala omongan Fredy S sehingga aku tidak berselera dengan gadis-gadis kampung di pulau ini. Apalah menariknya kisah cinta orang kampung. Hanya bertemu lalu jatuh cinta. Lalu merencanakan menikah dan punya anak. Aku merasa kisah itu biasa-biasa saja. Aku ingin merasai warna lain seperti yang tertulis dalam novel-novel itu. Entahlah. Kadang kisah-kisah novel itu terbawa dalam mimpiku. Dan anehnya ada satu wajah yang selalu datang dalam mimpi-mimpi itu. Wajah orang asing yang tidak kukenal bahkan dalam sosok gadis-gadis dalam novel Freddy S. Aku merasa seperti orang mabuk yang lupa segala hal, segala kenyataan hidup bahwa aku adalah seorang pria lajang yang telah berusia kepala tiga dan sendirian di pulau kecil ini.
Pada suatu malam di atas lautan yang tenang, aku berceritera tentang mimpi-mimpiku dalam tidur pada Jota dan Jou. Kami berlabuh berdekatan seperti saling bersandar.
“Entahlah siapa gadis itu,” kataku pada keduanya.
“Bagaimana bentuk wajahnya? Apakah dia orang kampung sini,” kata Jota.
“Tidak. Dia seperti bule.”
“Maksudmu orang bule.”
“Iya.”
“Ha ha ha ha,” Jou tertawa lebar.
“Itu hanya perempuan hayalanmu saja. Kau terlalu terpengaruh dengan gambar-gambar dan kisah novelmu itu,” kata Jota.
“Aku merasa dia adalah jodohku. Dia berdiri di atas dermaga sedang aku berada di dalam perahu dan dia tersenyum padaku. Senyumannya itu sangat dalam hingga menusuk hatiku,” kataku dengan dada bergetar.
“Jangan terlalu puitis. Biasa sajalah. Dunia ini berjalan dengan sederhana,” kata Jou seperti sedang menasehatiku. Kami diam sejenak saat pancingan kami tersambar ikan.
“O ya. Sejak kemarin anak-anak berlayar ke Dilli dan membawa pulang banyak barang-barang. Kata mereka, Dilli sudah merdeka dan lagi kacau dan orang-orang pada mengungsi. Orang-orang tidak bisa membawa barang-barang mereka ke dalam kapal. Katanya di dermaga Dilli banyak tertumpuk barang-barang yang hanya terbuang tanpa tuan,” kata Jota.
“Terus?” tanyaku.
“Kenapa kita tidak ikut ke sana dan mengambil barang-barang itu. Kemarin anak-anak mengambil banyak sekali barang. Kulkas, mesin cuci, sepeda motor bahkan mesin-mesin,” kata Jota. Aku dan Jou saling tatap.
“Kalau kalian mau besok kita pergi bertiga,” kata Jota lagi sambil memandang aku dan Jou.
“Kita berangkat subuh,” kata Jou. Aku terdiam sejenak. Selama ini aku belum pernah berlayar keluar jauh dari kepulauan Alor. Namun aku tahu bahwa Dilli terletak tidak jauh dari Alor. Di Alor timur kami hanya akan menyeberang. Aku merasa ada yang menantang adrenalinku. Seperti akan berhadapan dengan sebuah kisah baru yang akan aku baca. Aku merasa ingin menempuh rute itu ke Dilli. Aku tersenyum tanda setuju. Kami akan pergi besok saat subuh-subuh sekali.
3
Kami berangkat setelah warga selesai melaksanakan shalat subuh. Tiga perahu kami berlayar berdekatan dengan bunyi mesin yang seperti saling berlomba memecahkan keheningan lautan. Kami mengambil rute melalui pantai Utara Alor hingga berlayar menyusuri pesisir Alor hingga Maritaing di Alor timur. Di sini kami hanya akan menyeberangi selat Ombai hingga ke Dilli. Dalam pelayaran saat matahari mulai terbit di atas pegunungan Timor, dari jauh kami melihat perahu-perahu motor lainnya. Kami menandai perahu-perahu itu berasal dari kampung kami. Ini seperti musim berburu. Aku merasa sejenak masarakat pulau buaya meninggalkan pekerjaan mereka sebagai nelayan untuk pergi ke Dilli untuk memanen barang-barang berharga yang di tinggalkan pemiliknya di dermaga.
Perahu motorku dan perahu motor milik Jou dan Jota berjalan berdekatan. Aku hanya akan mengikuti mereka sampai ke tempat tujuan. Aku buta akan perjalanan menuju Dilli. Jota dan Jou sudah sering berlayar jauh. Mereka memiliki peta buta yang mereka simpan dalam kepala saat mereka menghabiskan masa muda di lautan untuk “mencari”. Sebuah istilah yang ditujukan untuk para nelayan yang melaut jauh untuk mencari hasil-hasil laut yang mahal seperti kima, teripang dan lobster. Kadang mereka pergi berbulan-bulan lamanya. Bahkan saat kepulangan mereka kadang banyak yang mati di atas tengah laut sedang mayatnya dibuang di tengah laut.
Mungkin hanya aku saja lelaki kampung yang seumur hidupnya tidak keluar dari Alor. Hingga usiaku yang sudah kepala tiga, ini adalah perjalanan terjauhku menuju dunia asing.
Saat siang hari perahu motor kami melaju memasuki kota Dilli. Dari jauh asap tebal terlihat nampak sepanjang kota dan ada suara semacam ledakan dan tembakan.
“Orang-orang lagi berperang. Mereka saling membakar rumah mereka,” kata Jota menunjuk ke arah asap-asap tebal di daratan sana.
“Kita hanya akan menepi di samping dermaga Dilli,” kata Jota lagi.
Aku merasa nyaliku sedikit menciut. Dadaku mulai berdebar karena rasa takut. Aku merasa hanya akan terus mengikuti mereka.
Beberapa saat kemudian mulai nampak gedung-gedung dari kejauhan. Terlihat wajah kota yang nampak bersama asap kebakaran yang menutupi sebagian wilayah kota. Kapal-kapal perang bersandar di dermaga dan terlihat orang-orang berkerumun untuk naik ke atas kapal. Laju perahu kami perlambat. Semakin mendekati dermaga terlihat manusia menumpuk hingga keluar area pelabuhan. Sedang bunyi tembakan dan ledakan terus terdengar. Sesekali terdengar teriakan dan riuh di atas dermaga. Terlihat para tentara dengan persenjataan lengkap berjaga-jaga di tengah tertumpuknya manusia.
Melihat beberapa perahu motor yang berasal dari kampung berlabuh di samping dermaga, kami pun mengarahkan haluan perahu menuju mereka.orang-orang kampung yang melihat kami, memanggil kami untuk berlabuh di dekat mereka, sedang mereka terlihat berjalan memasuki kerumunan orang-orang dan mengambil barang-barang yang tertumpuk di sana.
Setelah berlabuh, Jou dan Jota kemudian melesat pergi meninggalkanku sendirian. Aku melihat mereka memungut banyak sekali barang-barang yang berserakan tanpa tuan dan membawanya ke perahu. Aku tidak tahu harus mengambil apa. Aku hanya terkesima dengan pemandangan manusia-manusia yang berdesakan hendak mengungsi itu. Aku turun dari perahu dan berjalan menuju orang-orang. Aku melihat wajah mereka yang penuh gelisah dan kesedihan. Wajah-wajah yang kosong. Ada yang berduaan. Ada yang sendirian dan ada yang bergerombolan. Aku melihat seorang anak kecil menangis sendirian di tengah kerumunan orang-orang. Tangannya mengulur ke orang-orang seperti mencari orang tuanya. Perasaanku dirasuki kesedihan yang muncul tiba-tiba. Ada genangan air yang tumbuh. Aku berdiri kaku tak berdaya di tengah orang-orang seperti turut merasakan perasaan mereka. Aku mengucak mataku yang berair. Aku kembali mencari anak kecil itu namun ia telah tiada. Aku hanya melihat seorang gadis muda yang juga berdiri melihatku. Aku mengingat wajah itu. Wajah gadis dalam mimpi-mimpiku! Seorang gadis asing berperawakan bule. Aku melihat wajahnya merah dan memelas. Seperti wajah anak kecil itu yang menangis mengulurkan tangan mencari orang tuanya. Lalu sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Senyuman yang menggetarkan hatiku, disertai dengan bunyi rentetan tembakan yang membuat orang-orang berhamburan. Gadis itu berlari menujuku. Aku memegang tangannya dan berlari menuju perahu. Aku membantunya naik ke atas perahu dan membunyikan mesin motor. Perahuku kemudian keluar dari dermaga diikuti oleh Jota dan Jou. Sedang di dermaga terjadi kekacauan. Entah siapa-siapa yang saling menyerang. Menjauh ke tengah laut, Jou dan Jota mengajak aku untuk berlabuh sebentar. Menurut mereka, situasi akan kembali kondusif dan mereka masih ingin mengambil barang-barang. Benar. Setelah situasi tenang mereka kembali ke dermaga untuk mengambil barang-barang. Tapi aku akan tetap berlabuh di sini. Aku merasa tidak tega mengambil barang-barang milik orang lain sedang mereka lagi terkena musibah. Aku melihat wajah-wajah yang sendu dan gelisah. Aku melihat banyak air mata yang mengalir membasahi dermaga itu.
Gadis itu duduk memeluk kedua lututnya. Aku mengambil jaketku dan kuberikan padanya. Angin berhembus sedikit kencang dan cuaca sedikit dingin. Ia mengambil jaketku dan mengenakannya. Aku memberinya sebotol air mineral yang kubawa. Ia mengambilnya dan meneguknya perlahan. Ia tidak membawa apa-apa. Seketika aku mengingat anak kecil yang menangis di dermaga tadi. Rasa iba datang merasukiku. Mungkinkah ia hidup sendiri di kota ini dan ia tidak tahu akan melangkah ke mana setelah ini.
“Kamu suka ubi,” kataku menyodorkan ubi rebus padanya. Ia mengangguk sambil mengambil ubi yang kuberi dan memakannya.
“Siapa namamu?”
“Anha.”
“Aku Wan Alwan.”
“Dimana keluargamu?” tanyaku. Ia menggelengkan kepalanya. Wajahnya berubah merah dan sendu. Ia menunduk.
“Maafkan aku. Kau tidak perlu menceriterakan tentang keluargamu,” kataku merasa bersalah.
“Bolehkah aku ikut denganmu?” katanya tiba-tiba sambil menunduk. Suara itu terdengar memelas.
“Di kampungku susah air tawar. Aku juga hidup sendiri dan tidak memiliki apa-apa kecuali perahu ini,” kataku dengan polos.
“Bawalah aku pergi jauh dari tempat ini. Aku tidak peduli dengan segala hal yang kau miliki. Bawalah aku pergi jauh,” kata Anha dengan suara bergetar. Aku menatap jauh ke arah Jota dan Jou yang masih sibuk mengambil barang-barang. Aku tidak peduli lagi dengan mereka. Aku menghidupkan perahu motorku dan berlayar pergi dengan kecepatan tinggi.
Aku tidak tahu kisah apa yang akan datang dalam hidupku setelah ini. Aku tidak tahu kisah seperti apa yang dilalui Anha di masa lalunya. Aku hanya tahu bahwa dia adalah orang asing yang sering datang dalam mimpi-mimpiku dan hari ini aku bertemu dengannya. Aku yakin dia adalah jodohku. Dan aku tidak peduli lagi tentang rencana-rencana. Aku tidak peduli dengan susahnya air tawar di kampungku. Aku tidak peduli. Aku merasa telah mendapatkan sumber mata air baru yang menghijaukan taman hidupku yang akan penuh dengan warna-warni bunga.