Kalau Kita Sudah Menikah


SEBELUM KAU MELANGKAH LEBIH JAUH dan menyelami cerpen ini, aku ingin memberikan sebuah peringatan. Sejujurnya, aku tidak memiliki ide cerita yang jelas. Imajinasi yang biasanya mengalir deras di kepalaku tiba-tiba mandek, seakan ada dinding tak kasat mata yang menghalangi pikiranku untuk bergerak.

Kini, aku sedang berada di Outdoor Kafe 45. Ditemani segelas teh manis hangat (jangan ditanya kenapa tidak kopi? Aku punya asam lambung), bersama kentang goreng yang tinggal tiga batang. Sudah dua jam aku duduk di sini, yang kulakukan hanyalah memilih musik untuk membangkitkan semangat menulis. Sayangnya, setelah lima album berganti, sama sekali tidak membuatku mendapatkan gairah apalagi ide.

Sekarang, aku terpaksa mengetik di laptop saja, setidaknya agar orang-orang mengira aku sibuk dan tidak diusir pegawai kafe karena telah duduk sangat lama tanpa melakukan apa-apa. Padahal, yang kutulis tak lebih dari curhatan seperti ini.

Eh, ada yang datang.

“Mbak, lagi sendiri ya?”

Tiba-tiba satu lelaki berkemeja merah menyala seperti api berkobar menghampiriku. Aku mengangguk canggung.

“Saya boleh ambil kursinya?”

Aku semakin canggung. Sampai tak sadar aku malah cengengesan, “Duduk sini aja juga nggak papa kalau tempat yang lainnya penuh.”

“Oh tidak usah, Mbak, saya lagi nunggu tunangan saya.”

Sialan! Aku malu sekali! Wajahku langsung merah pekat! Bicara apa aku tadi? Kenapa kesannya aku jadi sedang merayunya? Aku ingin segera menghilang, lenyap dari dunia ini, atau minimal menyelip ke bawah meja dan pura-pura tak ada.

“Mbak, boleh ya?” si Lelaki Api bertanya lagi. Ia sepertinya agak kaget melihatku mendadak salah tingkah.

“Boleh, Mas! Ambil aja semua.”

“Semua apa? Kursinya saya ambil semua?” Lelaki Api tertawa ringan. Entah ia sedang berusaha mencairkan suasana atau malah mengejekku.

Sial. Kenapa mulutku selalu bergerak lebih cepat daripada otakku? Aku tertawa hambar, padahal jantungku sudah berdebar tak karuan. Apa ia tidak menyadari bahwa sekarang aku mati-matian sedang menahan malu?

Tanpa mendengar ucapanku lagi, si Lelaki Api pamit undur diri bersama kursi yang ditanyakan sebelumnya. Ternyata ia memilih duduk persis di seberang kursiku. Setelah berhasil mencari posisi ternyaman, Lelaki Api langsung mengeluarkan satu bungkus rokok di saku kemejanya, memantik api, lalu menghisap batang tersebut sedalam-dalamnya.

Beberapa saat kemudian, sekitar sepuluh menit berlangsung, satu perempuan yang sepertinya tunangan Lelaki Api akhirnya datang. Iseng-iseng aku mengintip jari manisnya, ternyata besar juga. Pantas saja si Lelaki Api terang-terangan sekali menyebutnya tunangan alih-alih pacar.

Perempuan yang baru datang berkulit hitam manis. Dari perawakan wajahnya, ia seperti perempuan dari bagian Timur Indonesia. Rambutnya bergelombang, giginya rapih, tingginya semampai. Aku curiga perempuan itu salah satu model di Indonesia.

“Lama sekali.”

Mataku sontak membulat saat mendengar kalimat itu meluncur dari mulut Lelaki Api. Sapaan kepada tunangannya lain daripada yang lain.

Si Perempuan Hitam Manis hanya tersenyum menanggapi, “Biasalah, ada urusan mendadak tadi.”

Lelaki Api memutar bola matanya malas. Terlihat ia antara malas menjawab lagi atau tidak ingin memulai perseteruan.

Aku dari kejauhan meminum satu teguk teh yang sudah dingin. Sebab merasa ada hawa panas yang terjadi di sekitarku sekarang.

“Kalau kita sudah menikah, prioritaskan aku.”

Si Perempuan Hitam Manis tentu terkejut dengan penuturan Lelaki Api, namun bukannya marah, ia malah tertawa, kali ini cukup menggelegar.

Jujur, aku tidak pernah punya pengalaman sama sekali berhubungan dengan laki-laki. Tapi apakah respons yang diberikan Perempuan Hitam Manis sudah semestinya?

Karyawan pembawa menu pun datang memecahkan situasi di antara mereka. Perempuan Hitam Manis ingin mengambil buku menu tersebut, tapi Lelaki Api menariknya lebih dulu, katanya biar dia saja yang memesan.

Sontak ada wajah penolakan dari Perempuan Hitam Manis, “Aku bisa pesan sendiri tahu.”

“Aku tahu itu, tapi aku juga tahu kau akan memesan kopi susu dengan gula tambahan,” Lelaki Api mempertegas pemikirannya, “Kalau kita sudah menikah, kurang-kurangi minum banyak gula.”

Perempuan Hitam Manis menghela napas berat. Meski keinginannya ditentang, aku bisa lihat ada senyuman tipis di kedua ujung bibirnya, Aku yakin Perempuan Hitam Manis tidak marah sama sekali, malah ia tampak kagum dengan perhatian Lelaki Api.

“Dua teh hijau, satu croissant, sama satu air mineral ya.”

Croissant? Untuk siapa?” Perempuan Hitam Manis menaikkan alisnya kala mendengar makanan itu dipesan Lelaki Api.

“Untuk kau,” singkat Lelaki Api lalu membiarkan si Pembawa Menu pergi dari hadapan mereka.

“Aku tidak lapar.”

“Memangnya harus tunggu lapar dulu baru boleh makan?” Lelaki Api bertanya balik, “Kalau kita sudah menikah, kau tidak bisa terus diet begini. Masa aku lebih perhatian kepada tubuhmu daripada kau sendiri?”

“Ya ya ya, kau memang yang paling sayang dengan tubuhku, puas?”

Setelah mengatakan jawabannya, Perempuan Hitam Manis tersenyum lagi, sementara Lelaki Api mengecek ponselnya sebentar. Aku berpikir sepertinya wajah Perempuan Hitam Manis memang ditakdirkan untuk tersenyum setiap saat.

Beberapa lama mereka duduk anteng tanpa ada pembicaraan kembali, datanglah pesanan mereka. Lelaki Api dan Perempuan Hitam Manis sama-sama meminum teh hijau tersebut. Tampak Lelaki Api sangat menikmati setiap tetesan teh hijau yang masuk ke dalam mulutnya.

“Kalau kita sudah menikah, aku akan membebaskanmu untuk bekerja semaumu. Jadi pegawai kantoran juga bisa.”

Perempuan Hitam Manis tidak langsung menjawab. Tangannya yang tadi bermain di gagang cangkir berhenti sejenak, “Tapi kan kau tahu, aku adalah penulis.”

Seketika dadaku sesak. Aku sampai tersedak dengan udara yang masuk ke tenggorokan. Membuat si Lelaki Api dan Perempuan Hitam Manis melihatku sebentar, aku berusaha tersenyum lebar untuk mengisyaratkan tidak ada masalah.

Ternyata Perempuan Hitam Manis bukanlah model! Melainkan penulis! Sama sepertiku! Menulis apa ya dia kira-kira? Aku tidak pernah menemukan penulis seanggun dirinya.

Mengindahkan diriku yang tadi habis tersedak, Lelaki Api melanjutkan topik pembicaraannya lagi, “Ya makanya aku bebaskan, contohnya jadi pegawai kantor. Lagipula kau cocok memakai blazer.”

Perempuan Hitam Manis menghela napas. Ia kembali menyesap teh hijaunya pelan, seolah ingin memberikan jeda pada percakapan. Dari kursiku di seberang, aku bisa melihat matanya sedikit menyipit, mungkin sedang memikirkan jawaban yang tepat.

Perempuan Hitam Manis akhirnya membuka suara. “Kau pikir menulis itu pekerjaan yang bisa ditinggalkan begitu saja?”

Nada suaranya tidak terdengar marah, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuatku yakin ia mempertahankan sesuatu yang penting bagi dirinya.

Lelaki Api mengangkat alis, masih dengan ketenangan yang sama. “Aku tidak bilang kau harus meninggalkan tulisanmu. Aku hanya bilang, kalau mau, kau juga bisa bekerja di kantor. Siapa tahu kau ingin mencoba sesuatu yang berbeda.” Lelaki Api masih menatapnya, tapi kini dengan ekspresi yang lebih lembut. “Setelan blazer akan membuatmu terlihat semakin berwibawa. Seperti tokoh utama dalam novel-novel yang kau tulis itu.”

“Oke, nanti aku pikirkan,” si Perempuan Hitam Manis lagi-lagi hanya mampu menghela napas. Aku jadi tertarik novel genre apa yang perempuan itu tulis? Ia begitu sangat menghindari perselisihan. Dari wajahnya saja ia seperti orang yang mengakhiri perang dunia kedua.

“Aku ingin pesan kopi dulu,” si Lelaki Api berdiri dari kursinya menuju kasir, sementara Perempuan Hitam Manis akhirnya mengecek ponsel setelah sekian lama. Alisnya mengerut melihat layar, sepertinya ada suatu informasi baru yang didapatkan.

“Ada hal penting apa di ponsel itu?” Lelaki Api seketika datang dan langsung bertanya kepada Perempuan Hitam Manis. Tak lupa ia pun membawakan kopinya.

Perempuan Hitam Manis menaruh ponselnya ke dalam tas kembali, “Ini, toko souvenir, katanya ada kendala di pembuatannya. Mereka tak sanggup buat souvenir di tanggal yang kita jadwalkan. “

“Oh,” Lelaki Api mengangguk paham, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Ya sudah cari yang lain aja, masih banyak toko lain kan?”

Perempuan Hitam Manis mengusap dahinya, lalu menatap Lelaki Api dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Aku tidak punya kenalan lagi, kau ada?”

Lelaki Api mengangkat bahu. “Tidak ada juga.”

Sejenak, hanya suara denting sendok dan obrolan di meja lain yang terdengar. Perempuan Hitam Manis menatap kosong ke arah Lelaki Api, ekspresinya tidak bisa kubaca. Entah lelah, kecewa, atau sekadar kehilangan kata-kata.

Tanpa berniat membahas masalah kecil itu lagi, Lelaki Api mengaduk kopinya, matanya menatap cairan pekat yang berputar di dalam cangkir. “Kalau kita sudah menikah, kau jangan biarkan suami membuat kopi sendiri ya.”

Perempuan Hitam Manis terdiam sejenak. Lalu tanpa ekspresi, ia tiba-tiba berdiri, melakukan hal yang sama sekali tak pernah aku duga. Ia melepas cincin dari jari manis dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping teh hijau yang hanya diminum dua kali teguk.

Lelaki Api menegang, matanya mengikuti tunangannya yang melangkah pergi, tapi tak satupun kata keluar dari mulutnya.

Sementara itu, aku, yang duduk di seberang mereka, menatap peristiwa itu dengan senyum tipis. Aku menyesap teh dingin yang tinggal beberapa tetes tersisa. Menikmati rasa manis yang samar, lalu menghabiskannya sampai tetes terakhir.

Dengan perlahan, aku menurunkan cangkir itu, membiarkan suara tawa puas keluar dari mulutku.

Bekasi, 7 Februari 2025

Bagikan:

Penulis →

Intan Karunia Dewi

Mahasiswa semester 8 prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia. Aktif bergiat di Komunitas Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI sejak 2021 sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *