Kenangan Belum Selesai


Cara Ayah Mencinta Setelah Mati

Di antara selimut yang dikecup formalin, aku melihat hati Ayah masih berdetak. Bukan karena tubuhnya masih hidup, tapi karena kenangan belum selesai berdebar. Petugas kamar mayat memintaku membawa pulang jasadnya, tetapi aku hanya membawa hati itu dalam kantung plastik bening, berdarah tapi utuh, dingin tapi riuh. Di dalamnya, ada suara yang tak berhenti memanggilku pulang. Kadang aku berpikir, mungkin hati itu tak pernah milik Ayah sepenuhnya. Mungkin sejak awal, itu hanya pinjaman dari luka-luka kami yang tak sempat kami peluk. Aku menyimpannya di kulkas, di antara botol sambal dan sisa ikan bakar. Setiap kali aku membuka pintu, suara itu kembali menggetar: pulanglah, sebelum kau pun menjadi tubuh yang hanya dikenang lewat denyut yang tak pernah selesai.




Kamar 3×3 dan Nama-Nama yang tak Pulang

Ia duduk di pojok ruangan yang temaram, membenamkan wajah ke dalam lipatan kerudungnya yang harum kapur barus dan debu Al-Qur’an lama. Tangannya menggenggam tasbih, tapi hitungannya tidak pernah selesai. Setiap butir hanya sempat disentuh sebelum doa-doa itu tercekat di tenggorokan. Di hadapannya, suara televisi memutarkan berita tentang anak-anak yang hilang, gempa yang menggulung kota, dan seorang pemuda yang menolak pulang.

Setiap malam ia menulis nama-nama di udara. Anak sulung yang menghilang bersama pasukan pencari tambang emas. Anak kedua yang menikah diam-diam dan kini tinggal di kota yang tak pernah disebutnya. Anak bungsu yang paling sering menelepon, tetapi tak pernah bicara lebih dari lima menit. Ia tidak menangis. Ia hanya membungkus senyap dengan kerudung putih dan meletakkannya di bawah bantal, seperti surat yang menunggu hari pengiriman.


Pesan Ini Dihapus

beberapa pesan dibiarkan terbuka tanpa dibaca—
bukan karena tak sempat,
tapi karena tak tahu harus membalas dengan versi dirimu yang mana.

beberapa pesan dibaca berkali-kali
karena satu kalimat bisa jadi rumah
atau reruntuhannya.

dari semua notifikasi yang masuk,
yang paling menyakitkan adalah:
“orang ini baru saja menghapus pesan.”



(Yogyakarta, 2025)

Bagikan:

Penulis →

Salman Alade

Lahir di Gorontalo, kini menetap di Yogyakarta sebagai mahasiswa doktoral Ilmu Pendidikan Bahasa. Menulis puisi, cerpen, esai, opini, dan buku cerita anak sebagai cara memahami bahasa, realitas, dan ingatan. Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga aktif meneliti literasi anak melalui buku cerita. Karyanya tersebar di berbagai media, antara lain Omong-Omong Media, Besok Libur, Metafor.Id, dan Rubrik Persepsi Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *