Membaca Diri Sendiri

Yang Tertinggal di Antara Dua Rakaat

Aku bersujud di atas sajadah yang menghafal gemetar,
tapi tanah di bawahnya tak lagi hangat.
Langit menggumamkan azan
seperti doa yang patah sebelum sampai langit ketujuh.

Air wudu menyentuh pipi
tanpa benar-benar menyentuh jiwa
dinginnya mengalir,
tapi tak memadamkan apa-apa.

Kupanjatkan nama-Nya
dari kerongkongan yang lelah
menyimpan kebisuan bertahun-tahun.
Ayat-ayat keluar dari mulut
seperti burung kehilangan arah,
terbang, tapi tak pulang.

Antara rukuk dan sujud
aku lupa
siapa yang sedang kupanggil.
Hanya sunyi yang menjawab
dengan suara batu,
diam dan berat.

Seusai salam,
aku duduk lama di ruang kosong itu
tak tahu
apakah aku baru selesai beribadah,
atau baru saja
meninggalkan diri sendiri.

.

.

.

Mushola di Tengah Pasar

Ada mushola mungil di tengah pasar,
dindingnya basah oleh bau cabai dan asap ikan.
Lantainya lengket oleh jejak
para penjual dan pembeli yang terburu waktu.

Seorang perempuan renta
menggelar sajadah di pojok,
membaca Al-Fatihah
di antara suara tawar-menawar
dan panggilan tukang parkir.

Tak ada khusyuk di sana,
hanya getar-getar kecil
yang bertahan hidup
di antara harga dan harapan.

Mungkin Tuhan
lebih senang duduk di mushola pasar
daripada di masjid marmer
yang terlalu putih
untuk menampung air mata.

.

.

.
Sebelum Takbir

Ada hening yang lebih tua
dari suara takbir.

Ia tinggal di dada,
di antara keraguan dan rindu
yang tumbuh seperti benalu di leher malam.

Aku berdiri,
membetulkan arah kiblat
seperti membetulkan punggung
yang lama memikul sepi.

Tapi tubuhku
tak lebih khusyuk dari bayangan sendiri.
Takbir terucap,
tapi maknanya tertinggal
di pintu kamar yang lupa dikunci.

.

.

.
Ketika Tasbih Terputus

Tasbih milik ibu putus di tengah dzikir.
Manik-maniknya berserakan
di lantai yang belum selesai disapu.

Ibu tetap menggenggam benangnya
seperti menggenggam hari-hari
yang tak bisa disusun ulang.

Aku ikut membantu memungut:
satu untuk kesabaran,
satu untuk doa yang tak dikabulkan,
satu untuk luka yang selalu kembali.

Kami tak bisa menyatukannya lagi.
Tapi ibu bilang,
“tak apa, Tuhan tetap mendengar
meski tanpa hitungan.”

.

.

.

Surat dari Jendela Timur

aku menulis cahaya ke dalam amplop senja
mengirimkannya pada alamat yang tak kukenal
barangkali, ia akan tiba di tangan pagi
yang selalu lupa menutup matanya

udara membawa aroma hujan pertama
dan kertas di meja menggulung seperti tubuh yang lelah
aku membaca diriku sendiri
di antara lipatan kalimat yang tak pernah selesai

 

.

.

.
Pohon di Tengah Kuburan Air

sebuah pohon tumbuh dari dasar kolam kering
akar-akar menulis kisah tentang kehilangan musim
dan burung-burung, entah pergi ke mana

aku duduk di tepinya, menunggu daun terakhir jatuh
mungkin di sana
ada satu doa yang tak sempat diucap
menjadi benih, menjadi alasan bagi tanah
untuk terus bernapas

 

.

.

.
Luka yang Menyimpan Cahaya

malam tak selalu hitam
kadang ia berwarna luka
yang mencoba sembuh di antara doa dan nyeri

aku menyalakan lilin kecil
di ruang yang belum sempat dinamai
dan melihat bayangku sendiri berlutut
di hadapan sesuatu
yang tak lagi kupahami,
tapi tetap kupanggil dengan lembut:
cahaya

Makassar, 2025

Bagikan:

Penulis →

Dewi Rizky Purnama

Lahir di Bone, Sulawesi Selatan. Lulusan S1 Ilmu Gizi Universitas Hasanuddin. Perempuan yang kerap disapa Dewi ini juga aktif sebagai pekerja lepas di bidang content writer & copywriter. Beberapa karya dalam buku antologi cerpen dan puisi pernah diterbitkan, salah satunya antologi puisi “Coretan Rasa dan Pena”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *