Hati yang Pergi

Kertapati

Setiap kereta datang, kukenang masa kecil. Bapak pulang
di Kertapati, membawa sisa keringat di bajunya.
Lalu malam demi malam bersama, setelah Maghrib berjamaah
Ia mengajariku Hijaiyah. Di sana ada Tuhan, dan Ia
berharap aku menemukannya, lalu menyimpannya baik-baik di dada—

sebelum kereta lain merampasnya, dan aku hanya bisa
memberikan lambaian tangan paling sempurna. Lalu di satu titik
Ia menghilang. Dan aku meraba dadaku, berdoa pada Tuhan di sana
Sesegera mungkin Bapakku dikembalikan.

Aku tidak pernah tahu, nasib seorang lelaki ternyata
harus menanggung kedewasaan. Setelah kereta datang
aku masuk ke gerbong nasib, berdiri, dan sedemikian karib
dengan waktu yang sia-sia. Sambil kuingat tangisan
anakku yang tak rela Bapaknya pergi, setelah terpaksa
kulepas pelukannya yang gigih.

Aku baru tahu, ternyata hati yang pergi
tak kalah pedihnya
dengan hati yang ditinggalkan.

.

Pada Hari Minggu

Ia ingin mengunjungi stasiun, menaiki kereta
yang pernah memerangkap tahun demi tahun
Tulang-tulang di kakinya
Menahan masa depan
Tanpa bisa memahami seperti apa

Di luar, dunia bergerak. Semakin jauh
Ia merasa ditinggalkan
Sambil mengenang kembali saat diarak
Masa muda, segala sesuatu seolah-olah
terpusat pada dirinya

Koran-koran, tajuk utama berita memuat namanya
sebagai lelaki yang telah mematahkan hati
siapa saja yang merasa hidup ini baik-baik adanya

Ia ingin pergi, sampai stasiun terakhir
Dan melihat satu demi satu penumpang
Di gerbong yang kini melompong itu

Ia pun merasa dirinya hanya abjad
dari kata-kata dalam buku-buku yang tak
pernah disentuh
Tersusun rapi di rak, begitu berdebu

.

Seekor Kucing di Kehidupan Lalu

Sambil kupandangi hujan
Dari jendela kamar
Kubayangkan aku seekor kucing
Di kehidupan lalu
Yang mengingat malam
Tanpa lagu pengantar tidur
Menunggu seseorang memungutku
Setelah seseorang membuangku

.

.

Kereta Berangkat

masih jauh stasiun tujuan kita
pemberhentian terakhir sebelum masinis lupa
mengucapkan doa
dan sebaris ucapan selamat tinggal

.
.

Hanya Nasib

Hanya nasib yang paham
Suara jangkrik pada suatu malam
Bercerita tentang negara
Yang hancur bukan karena perang
Seorang anak perempuan
Memegang sekerat roti basi
Menatap nanar ke arah kamera
Milik wartawan yang bercita-cita
Mendapatkan penghargaan fotografi

Nasib juga yang paham
Keesokan hari, aku tak lagi mampu
Mendengar rintih jangkrik itu
Entah karena ia tertangkap untuk umpan
Atau aku yang keburu dikangeni Tuhan

Bagikan:

Penulis →

Pringadi Abdi Surya

Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus. Buku terbarunya berjudul Bersahabat dengan Alien (Elexmedia).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *