Affan Kurniawan, seorang pengemudi Ojol, tewas terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob Polri di dekat Kompleks DPR RI, Jakarta Pusat, saat terjadi kericuhan demo buruh/mahasiswa. Peristiwa ini memicu kemarahan publik, seruan keadilan, dan sorotan terhadap dugaan pelanggaran HAM serta penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat, hingga berujung pemecatan anggota Brimob yang terlibat dan desakan pembentukan tim investigasi independen. Berikut ini beberapa puisi yang ditulis oleh para penyair sebagai bentuk empati terhadap kematian Affan:
.
.
.
Luna Vidya
Nyong Su Tenga Malam Ni
Mama lia di berita
mobil guling lalu giling itu anak.
mama hati kacil,
tahu dia mati. Di tampa.
Mama hati susah abis itu.
video-video kasih lia api mulai manyala,
Sio mama nda tahu Jakarta nak.
Yang mama tahu, nyong tinggal di sana.
Sio nyong, nyong di mana?
Kabari ka’ kasian. Mama tunggu.
Tunggu. Mama hati kecil
ikut berita, api manyala,
Di tampa-tampa yang seng ada hubungan dengan suara demonstran waktu hari terang.
Anak Affan tu, dia maso ruma seng hidop. Baca berita, dia di jalan tagal ada karja.
Sio nyong, nyong di mana?
di jalan ki?
su mau tenga malam,
asap, gas airmata akang pekat,
Jauhta nak. su mau tengah malam, jangan di jalan kasian.
Gelap nak. Di jalan sedang berjalan kegelapan.
Nyong tahu mama tidak larang nyong ikut demo, jadi demonstran
Tapi kali ini, pulang jua, bukan karena , nyong tidak punya sikap, cari untung cari aman.
bukan.
Hanya jangan hilang dalam ketidaktahuan, atau terseret pusaran massa.
Kaluar jua dari asap, gas airmata untuk saling jaga.
selalu ingat waktu hari terang siapa yang jalan di sebelah sebagai kawan,
pertahankan mereka dalam barisan
karena bisa saja tiba-tiba nyong dikelilingi orang bermasker,
berhelm,
dan nyong tidak bisa menghindar
ada dalam kaco pu pusar
waktu ada yang bataria “seraaaaaaaannng” .
Di sini,
lebih dari satu yang mati.
karena dalam pekat asap
Orang hilang, banyak yang jadi wayang
nda waspada ada yang su naik menumpang. Mengubah cerita.
Nyong di mana?
Pulang jua.
mama tunggu kabar di rumah dengan doa seng putus jatu dari mulu.
Nyong, dari jauh mama minta
mundur dulu.
Supaya eso nyong deng kawan-kawan
bisa maju lagi, masi hidop.
Maju sama-sama, basuara
untuk harapan hidop di negeri ini
jadi lebe bai.
Karena katong cuma punya pilihan
jadi Indonesia dan mencintainya
sebaik-baik yang katong bisa.
Makassar 1 September 2025
Luna Vidya, penyair dan aktor. Lahir di Jayapura, Papua, 1966, berdarah Ambon, tinggal di Makassar sejak tahun 1984.
.
.
.
Budhi Setyawan
Yang Pergi Diam Diam di Antara Teriakan
di antara teriakan para demonstran
yang membelah belah malam
di antara kerjap redup lampu
dan percik gas air mata
yang kirimkan aroma represi
di negeri yang dilukis mooi indie
di kota jakarta yang gagu
saat rimbun pertanyaan menyerbu
kau berlari menyelinap
menuju senyap
sesuai mengantar pesanan makanan
pada pelanggan
belum ada jawaban terima kasih
yang terbit panjang rintih
langit malam makin hitam
luruhkan harum bunga rintik rintik
bersama nyanyian demokrasi
yang terus digaungkan
di sepanjang jalan perjuangan
kau pengantar pesanan
yang telah selesai dengan keseharianmu
dan kami mengantarmu dengan doa
sesuai peta nurani kemamusiaan
yang terus terang menyala
Bekasi, 29 Agustus 2025
Budhi Setyawan, atau sering disebut Buset, penyair kelahiran Purworejo. Hobi menyukai musik dan puisi. Mengelola Kelas Puisi Bekasi (KPB) & tinggal di Bekasi.
.
.
.
Vito Prasetyo
Elegi Seorang Ojol
Di persimpangan mimpi dan peluru,
seorang lelaki berjaket hijau
menerobos waktu, membawa pesan
dari satu perut kosong ke lainnya
Langit sore itu terbelah seperti luka,
awan-awan terurai menjadi pita kuning
dan lonceng, penanda senyum bahagia berhenti
untuk menyaksikan dunia
yang menolak berbelas kasih
Ia bukan pahlawan, bukan musuh—
hanya kurir senyap dari kehidupan kecil
yang dibungkus dalam plastik bening
Tapi di bawah lampu lalu lintas yang berdarah pekat,
sebuah bayangan berseragam
menerjang arah angin,
dan angin itu menjatuhkan tubuhnya
seperti daun gugur yang dituduh memberontak
Kota menutup matanya
aspal menahan napasnya
mesin yang tak sempat dimatikan
menangis dalam dengungnya sendiri
Dari helm yang terpental,
keluar doa-doa yang belum selesai,
menggelepar seperti burung kecil
yang patah sayapnya oleh hukum
yang tidak tahu bagaimana membedakan
antara ancaman dan pengantar harapan
Dan ketika gema keadilan meraung,
bukan pertolongan yang datang,
melainkan genta dari kekuasaan
yang tidak pernah belajar mengeja
apa itu manusia
Malam itu,
bintang-bintang memilih jatuh ke tanah
untuk menemaninya tidur,
sementara kamera-kamera
hanya berkedip—tanpa rasa cinta
Ia mati bukan karena takdir,
tapi karena negara yang lupa
cara berbicara tanpa senjata
Malang, 29 Agustus 2025
Vito Prasetyo dilahirkan di Makassar, Februari 1964 — Bertempat tinggal di Kab. Malang. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983. Founder grup Penyair Berkarya. Karya-karyanya tersebar di pelbagai media cetak lokal dan nasional.
.
.
.
Bagus Sulistio
Dari Aspal untuk Kekal
Arogansi, intimidasi,
Apatis, sadis, bengis
Dan kata-kata lain yang membuat kita meringis,
Adalah perangai manusia
Di gedung yoni
: Bagian yang harus suci
Tapi nyatanya busuk hingga hari ini
Kita telah bosan mengais makan
Pada pasar, sawah, kebun, bahkan jalanan
Sementara mereka disuap dari hasil upeti
Keringat rakyat yang diimingi janji
Ucapan itu adalah angin lalu
Tak ada harapan bagi amanah
Yang ada hanya pesta
Joget, sound horeg, dan kata tolol.
Ya, kami marah
Namun kami mengamuk
Tatkala seorang tulang punggung keluarga
Terlindas barakuda dari uang kita bersama
Ia tak punya mens rea
Pemuda itu hanya lewat
Dan berharap bintang lima dengan tip
Tetapi ia tergilas, terlindas
Bak daun kering di medan perang
Kata maaf untuk keluarga tak lagi cukup
Uang belasungkawa tak menghangatkan orang tua dan adiknya
Maka, dari aspal kami menulis
Dengan darah, dengan air mata, dengan doa yang tak henti
Agar kelak pemuda itu kekal dikenang
Ingat! suara kami bukanlah riak
Tetapi gelombang yang meruntuhkan tembok,
Menghantam kursi-kursi lapuk,
Dan menyalakan api di balik gelap negeri.
Jakarta, Agustus – September 2025
Bagus Sulistio, lahir di Banjarnegara, berdomisili di Jakarta Timur. Saat ini ia menjadi mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Jakarta.
.
.
.
Selendang Sulaiman
Alarm buat Presiden
tak kubiarkan air mata menetes
untuk setangkai nyawa drivel ojol
yang tuhan petik di aspal
usai dilindas rantis brimob
dengan laju kemudi paling kejam
bengis dan tragis.
sungguh tak akan kubiarkan
walau hanya setetes
jika hanya melahirkan kecengengan
dukacita pengubur keberanian
ketakutan terbalut pemaafan
beriring doa masuk surga
usai pemakaman menutup tindak.
tak akan kubiarkan, anak muda
tak akan kucemari daya juang murni
penggerak langkahmu di pejompongan
lari dari pukulan aparat dan gas air mata
mangkatlah dengan gagah seteguh niat
saat kau berangkat bersama ribuan massa
demi keadilan—kehidupan yang lebih layak.
dan sebagai tulang punggung keluarga
tugasmu paripurna.
masya’allah
jutaan mata terbuka yang tersentak hatinya
menyaksikan lautan ojol membelah jakarta
mengantar jasadmu ke alam baka.
istirahatlah dengan tenang kawan
dan saksikan, sejarah pasti terulang
sebab satu gugur dilindas
jutaan jiwa bangkit menolak ditindas
ini alarm nyawa buat presiden!
Jakarta, 28 Agustus 2025
Selendang Sulaiman lahir di Sumenep, bermukim di Jakarta. Founder arsippuisipenyair.com. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media massa cetak dan elektronik serta di sejumlah antologi puisi bersama. Antologi puisi tunggalnya: Omerta (Halaman Indonesia, 2018) dan Peta Biru Dunia Ketiga (Penerbit JBS, 2025).
.
.
.
AD. Rusmianto
Hujan Tanpa Kata
ada yang sengaja mematikan senyummu
ketika anjing dan babi keluar dari tubuh-tubuh marah
mengabarkan senja tanpa pelangi
ataupun hujan tanpa kata
lalu semburat lengkung jingga
adalah sisa cahaya
pada luka jiwa yang menganga
setelah asap dan roda menggila
yang menggigilkan rohku
senyum terkatup,
mata tertutup
bahkan telah menerjemahkan pikiran
menjadi cacian
saat Izrail menjelma gajah besi
buyar satu mimpi
merenggang dua jiwa
percaperca kehidupan berubah menjadi siluet
meledaklah satu nusa
merekatkan pada satu jiwa
gulita menanarkan mata
hingga kehilangan kesadaran raga
O, jiwa-jiwa terlunta
masukan aku dalam sunyi doa-doa
hanyutkan aku pada bulir tangis mereka
lengkapkan mereka dalam jarak tembakku
meledaklah!!
meledaklah!!
Makassar, Agustus 2025
AD. Rusmianto atau Agus Dwi Rusmianto, kelahiran Yogyakarta, berdomisili di Makassar. Menulis mencipta sebuah dunia kata. Tergabung di Komunitas Cermin Tasikmalaya.
.
.
.
Andryan H. Dalimunthe
Elegi Kota Jakarta
di kota jakarta
gedung-gedung bertingkat
seperti pepohonan raksasa
tapi daunnya gugur terbakar
dinyalakan orang-orang majusi
yang takut pada murka tuhan.
di sana ada
batuk kendaraan lewat
abu rokok, wangi parfume
ban hangus, gas airmata.
semua mengendap dalam
cuaca mengenaskan.
sedang di rumah beratap tanya
mata ibu menjelma sungai sedih
di wajah keadilan kota jakarta.
“pak, anak saya sudah tidak ada”
sebuah kerling kelahiran
yang mati sia-sia digilas
barracuda baja.
jakarta, o jakarta
di sana selalu kita temui
: ombak amarah dan duka mengental.
Maluku, 31 Agustus 2025
.
.
.
Wyaz Ibn Sinentang
Langit Ibukota Sedang Tak Bersahabat
Langit ibukota sedang tak bersahabat
Alirkan getir mendung menyelinap
Dari sebuah tatanan terhormat
Umbar kata ambigu picu amarah jelata pun megap-megap
Langit ibukota memang sedang tak bersahabat
Napasmu purna bukan semata dilindas angker barracuda
Ini adalah ekses ketamakan para wakil rakyat
Congkak di atas penderitaan wajar percik perlawanan membara
Langit ibukota tak bersahabat tapi tetap mengantarkan kepulangan abadi
Pulang dalam perjuangan bangsa yang tertindas penguasanya sendiri
Bumi Ale-Ale, 5 September 2025
Wyaz (Wahyudi Abdurrahman Zaenal) Ibn Sinentang lahir di kota Pontianak tanggal 24 April. Karyanya pernah dimuat di beberapa media lokal, nasional/luar pulau, negeri jiran, baik cetak maupun online. Karyanya juga terangkum dalam beberapa antologi dan cerpen bersama.
.
.
.
Siti Nur
Betapa Ingin Aku Pergi dari Sini
aku menyusur langkah di bentang malam
dengan raga dan mata yang letih
menatap langit keadilan yang tak lagi biru
dan di tanah ini, bu
tanah yang dulu kau bilang sakral
kini seperti menolak napas anaknya sendiri
betapa ingin aku pergi dari sini, bu
bukan aku tak cinta
tapi karena cintaku mulai dibunuh
oleh tangan-tangan yang tak mengenal nurani
di sini aku, Umar Amiruddin
dan pendahuluku Widji Thukul
juga Arif Rahman Hakim
adalah anak-anak demokrasi yang merintih pedih
yang menangis sengsara
memikul tawa mereka yang menari gembira
sementara pokok-pokok keadilan
telah kerontang sampai akarnya
betapa ingin aku pergi dari sini, bu
biar aku berjalan seperti bayang-bayang
yang kehilangan jasadnya sendiri
sebab jasadku jadi penebus keadilan
juga kemerdekaan yang tak sempurna ini
aku memang pernah bersumpah
tak akan meninggalkan tanah ini
tanah yang kau timang dengan darah dan doa
tapi kini ia berkhianat, bu
menindas dan melindas nurani
di malam terakhir aku memelukmu
betapa ingin aku pergi dari sini, bu
bukan karena aku telah kalah
justru aku telah menuntaskan kemenangan ini
di mana keadilan dan hati nurani dipupuk kembali
engkau pasti ingin berkata, bu
“Jangan pergi, Nak. Di sinilah luka harus disembuhkan.”
tapi maafkan aku, bu
aku tetap harus pergi
agar bisa kembali suatu hari nanti
sebagai jiwa yang baru
napas yang baru
menjunjung nurani dan keadilan
dalam dada-dada penerus juangku
Pembangunan, 29 Agustus 2025
Siti Nur, perempuan yang mencintai kesunyian dan aksara. Senang menuangkan suara hati melalui puisi dan cerpen dalam manuskrip pribadinya. Hari ini, untuk pertama kalinya memberanikan diri muncul ke permukaan sebagai bentuk empati untuk Affan Kurniawan dan Umar Amiruddin dalam tragedi 28 Agustus 2025.
.
.
.
Effendi Kadarisman
In Memoriam Affan Kurniawan
Engkau nyeri puisi
Mengaduh dari darah
di aspal gelap
Remuk saat tubuhmu dilindas
Engkau luka senja yang merah
Kelopak mawar berguguran
Baja dan besi berkilat
Udara malam tak kan bungkam
Engkau mata pisau
Dibekap kuasa gelap
Busuk dan basah–
Khianat meludah di wajah rakyat
Malang, 30 Agustus 2025
Effendi Kadarisman adalah guru besar linguistik dan pakar etnopuitika Universitas Islam Malang (UNISMA). Di luar bidang linguistik, ia adalah penyair pinggiran yg telah menerbitkan empat antologi piisi. Antologi terakhir Di Halaman Indonesia. Puisi-puisinya juga terbit di 17 buku antologi puisi bersama, dan di berbagai koran nasional. Ia juga menulis esai sastra, kata pengantar dan epilog, serta resensi buku puisi.