ENGKAU hanya sedang mencari cara, mencari bentuk tentang bagaimana menjalani hidup. Sebab engkau yakin, tidak ada jalan yang paling ideal, tidak ada jalan menuju sempurna. Hanya cara yang dimaklumi orang, untuk berbuat baik dan benar. Antara keyakinan dan bukan.
Suatu sore, dari teras rumahnya, Arsy menatap kemuning senja di langit barat. Teras rumahnya persis menghadap ke arah barat. Matahari seakan bergerak lambat. Arsy betul-betul ingin menikmati pemandangan itu. Semua beban yang ada dalam pikirannya seakan ingin dilemparkan ke ufuk barat, yang tengah melukis panorama. Tidak seperti biasa, kali ini Arsy tidak ingin tergesa-gesa meninggalkan pemandangan itu.
“Arsy….” Tiba-tiba terdengar panggilan cukup keras dari dalam rumahnya. Pasti itu suara ibunya. Arsy tidak menjawab. Sekian detik, panggilan itu kembali terdengar.
“Arsy…!”
Suara itu seperti batu yang dilempar ke permukaan muara batinnya—membuyarkan riak-riak tenang yang sejak tadi ia pelihara. Senja yang semula utuh kini retak, seperti cermin yang terlalu lama memantulkan wajah yang sama. Arsy tidak segera menjawab.
Ia masih duduk di kursi kayu yang mulai lapuk dimakan usia, menatap matahari yang perlahan turun, seperti seseorang yang kelelahan memanggul dunia. Di matanya, senja bukan sekadar pergantian waktu—ia adalah batas antara menjadi dan tidak menjadi. Seperti sepasang pengantin yang enggan meninggalkan satu sama lainnya. Antara langit dan cahaya.
“Arsy!”
Kali ini lebih dekat. Lebih mendesak. Lebih mengagetkan.
Ia menarik napas panjang. Udara sore terasa seperti sesuatu yang ingin tinggal lebih lama di dadanya, tetapi waktu tidak pernah memberi izin untuk menetap.
“Aku di sini, Bu,” akhirnya ia menjawab, tanpa menoleh.
Langkah kaki ibunya terdengar, pelan tapi pasti. Seperti takdir yang tidak pernah tergesa, tapi selalu tiba tepat waktu.
“Dari tadi Ibu panggil. Kenapa melamun lagi?” suara itu begitu dekat dan kini berdiri di belakangnya, hangat sekaligus penuh beban yang tak terucap.
Arsy tersenyum tipis. “Aku sedang melihat sesuatu yang mungkin tidak semua orang sempat lihat.”
Ibunya menghela napas. “Kamu selalu bicara seperti itu. Dunia ini bukan hanya tentang melihat, Arsy. Ada yang harus dikerjakan. Ada yang harus kamu jalani.”
Arsy menoleh. Wajah ibunya tampak seperti langit pagi—tenang, tapi menyimpan sisa-sisa hujan.
“Kalau semua orang hanya menjalani tanpa melihat, apa bedanya kita dengan bayangan, Bu?” tanyanya pelan.
Ibunya tidak langsung menjawab. Ia duduk di samping Arsy, menatap arah yang sama. Senja kini semakin tenggelam, meninggalkan warna-warna yang sulit dijelaskan oleh bahasa.
“Kamu terlalu banyak berpikir,” kata ibunya akhirnya. “Hidup itu tidak serumit yang kamu bayangkan.”
Arsy tertawa kecil. “Justru karena semua orang bilang sederhana, aku jadi merasa ada sesuatu yang disembunyikan.”
Keheningan jatuh di antara mereka. Bukan keheningan yang kosong, melainkan yang penuh—seperti ruang yang dipenuhi pertanyaan tanpa jawaban.
Di kejauhan, matahari hampir hilang. Arsy merasa seperti sedang menyaksikan sesuatu yang berulang, tetapi selalu terasa baru—sebuah kematian kecil yang diterima tanpa protes.
“Masuklah. Sudah mau magrib,” kata ibunya, berdiri.
Arsy mengangguk, tapi tubuhnya belum bergerak. Ibunya masuk lebih dulu, meninggalkan Arsy sendirian dengan senja yang kini hampir selesai. Dan saat itulah sesuatu terjadi.
Langit yang tadi kemuning tiba-tiba tampak seperti terbuka—bukan secara harfiah, tapi seperti ada lapisan yang terkelupas. Arsy mengerjapkan mata. Ia merasa pandangannya berubah, seperti ada sesuatu yang menariknya masuk ke dalam warna-warna itu.
Ia tidak lagi duduk di teras. Ia berdiri di sebuah tempat yang sama sekali ia tidak mengerti namanya. Langit di atasnya berwarna seperti luka yang belum sembuh. Tanah di bawahnya tidak padat—ia seperti berjalan di atas kenangan yang dipadatkan menjadi permukaan.
Di hadapannya, berdiri seseorang. Atau mungkin sesuatu. Sosok itu menyerupai dirinya—tetapi lebih pucat, lebih sunyi, dan matanya seperti menyimpan seluruh malam yang pernah ada.
“Siapa kamu?” tanya Arsy. Sosok itu tersenyum. “Aku adalah kemungkinan yang kau tinggalkan.” Arsy terdiam.
“Aku adalah semua jalan yang tidak kau pilih. Semua kata yang tidak kau ucapkan. Semua keberanian yang kau tunda,” lanjut sosok itu.
“Kenapa aku di sini?”
“Karena kau terlalu lama berdiri di antara penghentian,” jawabnya. “Antara keyakinan dan ragu. Antara ingin dan takut. Kau ingin hidup yang jujur, tapi kau takut kehilangan tempat di dunia yang tidak jujur.”
Arsy menunduk. Kata-kata itu seperti cermin yang memantulkan sesuatu yang selama ini ia hindari.
“Tapi bukankah semua orang seperti itu?” katanya pelan.
“Ya,” jawab sosok itu. “Dan itulah mengapa dunia ini berjalan seperti sekarang—setengah hidup, setengah mati.”
Angin tiba-tiba berembus, seakan membawa suara-suara yang tidak jelas. Arsy mendengar potongan kalimat:
“Harus berhasil…” “Jangan berbeda…” “Ikuti saja…” “Yang penting aman…” Suara-suara itu berputar di sekelilingnya, seperti burung yang kehilangan arah.
“Apa ini?” tanya Arsy.
“Ini dunia,” jawab sosok itu. “Dunia yang selalu bertentangan dengan keinginanmu. Dunia yang meminta kepastian, sementara kau mencintai kemungkinan. Dunia yang ingin definisi, sementara kau hidup dalam pertanyaan.” Arsy merasakan dadanya sesak.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanyanya.
Sosok itu mendekat. “Kau tidak perlu melawan dunia. Itu terlalu besar. Kau hanya perlu tidak berkhianat pada dirimu sendiri.”
“Dan kalau aku gagal?”
Sosok itu tersenyum lagi—kali ini lebih lembut. “Gagal bukan masalah. Yang berbahaya adalah hidup dalam bentuk yang bukan milikmu.”
Tiba-tiba, tanah di bawah Arsy bergetar dan retak. Dari celah-celah itu, muncul bayangan-bayangan—wajah-wajah yang tidak ia kenal, tapi terasa akrab. Mereka semua tampak lelah. Seperti orang-orang yang hidup terlalu lama dalam peran yang bukan milik mereka.
“Ini siapa?”
“Mereka adalah orang-orang yang memilih aman daripada jujur,” jawab sosok itu. “Mereka tidak mati. Tapi mereka juga tidak benar-benar hidup.” Arsy mundur selangkah.
“Aku tidak ingin seperti itu,” katanya.
“Kalau begitu, berhentilah mencari bentuk yang diinginkan semua orang,” kata sosok itu. “Bentuk tidak ditemukan. Ia diciptakan.”
Langit tiba-tiba berubah. Senja kembali muncul—lebih terang, lebih hidup. Seolah-olah dunia itu sendiri memberi ruang bagi sesuatu yang baru.
“Sekarang pulanglah,” kata sosok itu.
“Pulang ke mana?” Sosok itu menunjuk ke arah cahaya.
“Ke tempat di mana kau bisa mulai menjadi dirimu sendiri.”
Seketika semuanya memudar. Arsy membuka mata. Ia kembali duduk di teras rumahnya.
Langit sudah hampir gelap. Hanya sisa-sisa cahaya yang bertahan, seperti kenangan yang belum rela pergi.
“Arsy?” Suara ibunya kembali terdengar, kali ini lebih lembut.
“Iya, Bu,” jawabnya.
“Kamu kenapa? Dari tadi diam saja.”
Arsy berdiri perlahan. Ia menatap langit sekali lagi, lalu tersenyum—bukan senyum yang biasa, tapi yang datang dari tempat yang lebih dalam.
“Aku baru saja pulang,” katanya. Ibunya mengernyitkan dahinya. “Dari mana?”
Arsy berpikir sejenak, lalu menjawab, “Dari tempat yang tidak perlu aku datangi lagi.” Mereka masuk ke dalam rumah bersama. Malam turun dengan tenang.
Di dalam kamar, Arsy duduk di meja kecilnya. Ia mengambil selembar kertas kosong. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut pada kekosongan itu. Ia mulai menulis. Bukan tentang bagaimana hidup seharusnya dijalani, tapi tentang bagaimana ia ingin menjalaninya.
Di luar, angin malam berembus pelan, seperti seseorang yang akhirnya menemukan arah pulang. Dan untuk pertama kalinya, Arsy tidak lagi merasa berada di antara dua titik. Ia tidak memilih antara keyakinan atau ragu. Ia berjalan—dengan keduanya. Dan anehnya, justru di situlah ia menemukan bentuknya sendiri. Sebuah bentuk yang tidak sempurna. Tapi hidup! (*)