Film Sebagai Gelanggang Bersenda

FILM bertemu puisi. Apa yang terjadi? Saling mengambil dan memberi inspirasi. Film menginspirasi penyair menulis puisi. Penulis cerita film mengambil inspirasi dari puisi.  Saya membuka buku  “Kebangkitan, 2” (Langgam Pustaka, 2025), yang digagas oleh Forum Film Bandung dengan dasar sikap seperti itu.

Secara tematis buku ini berisi puisi tentang cara mendekati berbagai hal terkait film. Ada kenangan menonton film dan bioskop. “Kisah Cinta di Bioskop Indonesia” Ari Nurtanio,, “Berdepan-depan di Layar Misbar” Hudan Nur, “Aktorius” Kurnia Effendi, “Gita Cinta Bioskop Nusantara” Naning Scheid, “Bioskop Wijaya” Putu Fajar Arcana. 

Ada kesan terhadap film dan cerita film. Misalnya, “Perempuan Siksa” Hilmi Faiq, “Adegan Revolusi” Mustafa Ismail.

Ada juga pengalaman terlibat dalam industri dan produksi film. Misalnya, “Pikiran Pelakon” Acha Septriasa, “Menjadi Produser” Chand Parwez Servia, “Puas” Jerome Kurnia, dan yang paling jujur adalah “Film, Rumah Jiwaku” Yasmin Yessy Gusman.

Ada juga harapan dan pandangan kritis tentang film. “Untuk G. Kruger dan Heuveldorp” Derry Drajat, “Serangkaian Gambar Bergerak” Eddy D Iskanda, “Hantu Menyerbu Bioskop” Gol A Gong, “Sudah Lewat Jam Malam, Indonesiaku” Fadjroel Rachman, “Aktor” Noorca M. Massardi, “Secangkir Keraguan, Kini Kemilau” Olien Montero. 

Secara estetis, ada dua jalan yang ditempuh oleh para penulis puisi dalam buku ini, menjadikan film sebagai bahan – sebagian besar puisi di buku ini menempuh jalan itu, atau menjadikan film sebagai cara mengucapkan. Yang kedua itu, dengan intens dimainkan oleh Pranita Dewi (“Gemblak”). Ia tidak bicara tentang film “Gemblak”, tapi memberdayakan segala hal-ihwal terkait gemblak untuk mengucapkan hal-hal yang lebih luas, tapi barangkali berangkat dari pandangan dan penghayatan personal.

Saya ingin mengatakan, demikianlah film sesungguhnya adalah wilayah tematik yang menantang untuk dimasuki dan digarap. Ada potensi estetis yang – namanya juga potensi – kalau tidak digarap dia hanya akan terus tetap tinggal sebagai potensi.

Upaya menggarap film untuk menjadi puisi yang kuat saya temukan mula-mula pada “Hiroshima, Cintaku” (1989-1990) Goenawan Mohamad. Barangkali, Goenawan bukan yang pertama, tapi bagi saya ini contoh yang mengajarkan banyak hal, bahwa cara ucap dalam sajak liris kita bukan itu-itu saja.  Sajak ini berangkat dari film “Hiroshoma, Mon Amor” (1959). Saya menonton potongan-potongan filmnya kemudian, setelah terpesona dengan sajak itu. Perasaan, emosi, dialirkan, diselipkan di antara petikan percakapan, adegan, yang ditafsir ulang.

Dalam sejarah puisi Indonesia film telah lama menjadi tema yang akrab. Film telah menjadi sesuatu yang dekat dengan keseharian. Pada tahun 1949, Chairil Anwar menulis “Aku Berkisar Antara Mereka” yang dengan cermat mencatat bagaimana film telah menjadi semacam ajang pergaulan, dalam bahasa Chairil “gelanggang bersenda”, dengan kontras antara kenyataan-kenyataan yang didapat dan film Amerika yang diputar di bioskop Capitol, di Pintu Air, Jakarta. Capitol adalah nama biokop terkenal bersama Metropole (Megaria) di Menteng, dan Astoria.

Begitu wajar dan begitu kuat kesan menonton film Amerika itu, sehingga Chairil mencatatnya dalam salah satu di antara sajaknya yang ditulis di tahun akhir hidupnya. Kita tidak tahu, film apa yang diputar itu, Chairil tidak mengulasnya dalam puisinya. Tapi, barangkali, kesaksian Chairil yang hanya sepotong itu, bisa jadi refleksi betapa film telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang baru merdeka itu. Semoga tidak berlebihan jika dari sini saya anggap kita bisa bicara soal kebangkitan film di Indonesia.

Yaitu: film harus menjadi gelanggang bersenda, kemana kita pergi berkunjung, menjadi saksi bagaimana kenyataan dan imajinasi bertarung, merayakan dan “… buktikan tanda kedaulatan kami bersama”.

Kata seorang kawan, film adalah ekspresi puncak dari kesenian. Semua cabang seni bertemu di sana. Cerita, kekuatan kata, gambar, suara, gerak, dan lakon. Maka, sebagai resultante dari semua cabang seni, film seharusnya bisa menyeret dan menghimpun semua energi kreatif dan semua cabang seni. Apabila film maju (kita bisa bicara tentang pemajuan kebudayaan di sini) maka majulah semua cabang seni dan itu, kemajuan cabang-cabang seni akan menambah tenaga gerak maju film kita.

Dengan kegandrungan pada sajak Chairil “Aku Berkisar Antara Mereka” saya ingin membicarakan satu sajak dari buku “Kebangkitan” ini, yaitu sajak “Ibadah Para Pemimpi”. Muhary Wahyu Nurba seakan membentangkan kesaksian yang lebih, dari dalam, sebagai orang dalam dunia film dunia yang “menyulam cahaya dari kegelapan / dengan naskah yang kami petik dari denyut nadi”.

Di sajak ini, kita seperti dipertemukan dengan Sjumandjaja khusuk membaca, mengeja luka ibu pertiwi. Muhary seakan ingin mengatakan – atau mengingatkan – bahwa film adalah kerja intelektual, bukan sekadar memproduksi bahan hiburan. Kita juga melihat Arifin C Noer yang resah, dengan tenaga seperti bah, menggugat penguasa.

Atau Nya’ Abbas Akup, yang membuat kita tertawa dengan film-filmnya, tapi kata Muhary, dia tidak sedang bercanda. Ia menyodorkan cermin, menyentil nurani.

Sajak ini juga menyebut nama Christine Hakim – perempuan bermata belati, berjaga di antara realita dan fiksi, kemampuan aktingnya disanjung oleh Muhary sebagai “setiap dialognya adalah jantung cerita”.

Sajak Muhary sendiri, bagi saya adalah jantung dari buku ini. Terutama ketika ia menulis:

Kami – para aktor, sutradara, penulis, kru,
adalah para penjaga sunyi – ya, kami, para pemimpi –
Terus bernyanyi dalam lorong gelap bioskop,
tempat di mana cahaya lahir dari proyektor
yang nyaris putus napasnya.

Semua kelompok puisi yang saya sampaikan seakan dirangkum oleh Muhary dalan sajak ini. Menjadi intinya, menjadi jantungnya, bahwa selama kjita masih menjalankan peran dengan kesadaran sebagai penjaga, cahaya itu akan terus menyala, tak akan putus napasnya.

Dan seakan melengkapi Muhary, rumusan kebangkitan itu dituliskan oleh Putu Wijaya (“Kebangkitan, 2):

Bangkitlah, kita semua terpaksa harus jadi pahlawan
Bukan dalam buku sejarah tapi dalam hidup nyata
Bukan didongengkan nenek untuk meninabobokan cucunya
Bukan relief di tugu makam pahlawan
Tapi hidup masih di depan mata dalam layar putih
Rumah dan senjata untuk mengalir
& tetap menyala.

Jakarta, 28 September 2025.

Bagikan:

Penulis →

Hasan Aspahani

Penulis, Jurnalis, Penyair. Bukunya Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering mendapatkan penghargaan sebagai Buku Puisi Terbaik Anugerah Hari Puisi Indonesia 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *