Keranda






IA selalu di situ. Duduk memandang ke luar jendela.

Kursi tua itu adalah singgasananya, sekaligus sangkar rapuhnya. Berderit lirih setiap kali ia menggeser beban tubuhnya, sebuah melodi monoton yang mengisi keheningan rumahnya yang telah lama menelan semua suara lain. Di luar, dunia melukis dirinya dalam gradasi kelabu.

Sejak ia merasa bahwa ia benar-benar sudah tua, ia lebih suka menghabiskan waktu sendirian. Bukan karena ia membenci keramaian, tetapi karena keramaian telah meninggalkannya lebih dulu. Satu per satu, suara-suara yang pernah mengisi bilik-bilik rumah ini telah memudar, menjadi gema yang semakin menjauh, hingga akhirnya senyap. Kini, yang tersisa hanyalah percakapannya dengan debu yang menari di kolom-kolom cahaya pagi, dengan sarang laba-laba yang merajut waktu di sudut langit-langit, dan dengan bayangannya sendiri yang memanjang dan memendek seiring gerak matahari yang enggan.

Kerutan-kerutan di wajahnya kini nampak menonjol, serupa peta sungai-sungai kering di tanah gersang, menyimpan kisah tentang tawa yang telah lama hilang atau air mata yang telah menguap. Kulitnya yang mengendor, tipis, nyaris transparan di punggung tangannya, memperlihatkan jalinan pembuluh darah yang pucat. Rambutnya yang putih keperak-perakan, menangkap cahaya jendela yang redup, membuatnya tampak seperti hantu bagi dirinya sendiri di pantulan kaca. Hanya sinar matanya saja yang masih tetap tajam, bak sepasang elang tua yang mengawasi bentangan waktu dari tebing kesendiriannya.

Ia selalu di situ. Duduk memandang ke luar jendela.

Dan ia segera tahu, barisan di kejauhan itu adalah barisan pengusung keranda. Muncul dari kelokan jalan yang dibatasi pohon-pohon randu yang meranggas, siluet-siluet hitam yang bergerak lambat di atas panggung pagi yang kelabu. Sebuah ritual yang begitu akrab, begitu dingin, begitu pasti.

“Ada lagi yang mati pagi ini,” gumamnya perlahan. Suaranya serak, seperti engsel pintu yang berkarat. Kata-kata itu keluar sebagai pengakuan atas siklus yang tak pernah berhenti. Hampir setiap hari, barisan itu akan lewat, membawa satu nama menuju peristirahatan terakhirnya di pemakaman ujung desa. Mereka adalah penanda waktu yang paling jujur, lebih jujur dari kalender yang lembarannya lupa ia sobek.

Angin dan hujan. Detik berlompatan. Seringkali, tanpa terasa, menghanyutkan.

Hujan belum turun, tetapi angin telah membawa aromanya—bau tanah basah dan anyir kelopak bunga yang luruh. Angin itu menyusup melalui celah-celah jendela, membisikkan sesuatu yang dingin di tengkuknya. Kenangan. Angin adalah kurir kenangan yang paling setia. Ia membawa kembali aroma parfum melati milik istrinya, Hayati, yang telah lama berpulang. Ia membawa kembali suara tawa anak-anak mereka yang pernah berlarian di halaman itu, sebelum mereka tumbuh dan menjauh.

”Barisan pengusung keranda itu tentu sebentar lagi akan lewat,” lirihnya, seperti tertahan. ”Sebentar lagi mereka akan melewati depan rumahku.” Sebuah kepastian yang membuatnya menegakkan punggung, mempertajam pandangan. Ia adalah penonton setia dari prosesi ini. Ia mengenal irama langkah mereka, tempo sunyi dari kaki-kaki yang menapak aspal basah. Ia tahu persis di titik mana bayangan mereka akan mulai menyentuh pagar rumahnya.

Seperti hari-hari sebelumnya.

Angin dan hujan. Terbayang kembali seluruh kenangan.

Dulu, Hayati yang akan pertama kali melihat mereka. “Pak, ada yang lewat lagi,” bisiknya, dan mereka akan berdiri berdampingan di jendela ini, memanjatkan doa dalam hati untuk jiwa yang sedang diantar. Kini, ia hanya sendirian. Seolah ia sedang mendoakan separuh dari dirinya yang ikut pergi bersama setiap keranda yang lewat.

Pengusung keranda itu kini menghampiri rumahnya. Semakin dekat, semakin jelas. Empat, enam, delapan sosok. Wajah-wajah mereka selalu sama: beku, tanpa ekspresi, seolah terbuat dari lilin yang kaku. Mereka tidak pernah menoleh, tidak pernah berbicara. Mereka hanyalah fungsi, sepasang tangan dan kaki yang menjalankan tugas akhir bagi sesama. Keranda yang mereka usung terbuat dari kayu gelap yang kusam, ditutup kain hijau berbordir benang emas yang warnanya telah pudar.

“Sebentar lagi mereka akan lewat,” bisiknya. Kepada siapa? Kepada arwah Hayati? Atau kepada dirinya sendiri, sebagai penegasan atas sebuah rutinitas yang menenangkannya dalam kecemasan?

Kemudian angin, kemudian hujan. Gerimis mulai turun, lembut, perlahan, lalu menderas. Titik-titik air mengetuk-ngetuk kaca jendela, menciptakan ribuan mata kecil yang mengaburkan pandangannya.

Kursi goyangnya terdengar berderit dengan lantai.

Ya, sebentar lagi.

Dan ketika barisan itu tepat di depan rumahnya, mereka tiba-tiba berhenti. Berdiri dan mematung di situ.

Ini tidak biasa. Ini belum pernah terjadi! Selama bertahun-tahun ia menjadi saksi, barisan itu tak pernah berhenti. Mereka adalah aliran sungai yang tak mungkin dibendung. Jantungnya yang tua berdetak sedikit lebih cepat. Keheningan di luar sana tiba-tiba menjadi lebih padat, lebih berat. Suara hujan yang jatuh ke tanah seakan ikut tertahan di udara.

Salah seorang di antara mereka, membalikkan wajah dan beradu pandang dengannya. Wajah itu sama bekunya dengan yang lain, namun matanya… matanya menembus kaca jendela, menembus lapisan debu dan uap air, dan menancap lurus ke dalam matanya. Tidak ada undangan, tidak ada ancaman. Atau ini sebuah undangan?

Kemudian angin, kemudian hujan. Ia gemetar hebat.

Bukan karena dingin yang merambat dari lantai, melainkan dingin yang meledak dari dalam dirinya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, bercampur dengan kelembapan udara. Ia merasa seperti seorang pesakitan yang akhirnya didatangi oleh algojonya.

Dengan perasaan getir, ia menelan ludahnya. Rasa pahit memenuhi kerongkongannya. Apa yang mereka inginkan? Mengapa ritual suci ini diinterupsi tepat di depan berandanya? Ia mencoba menenangkan diri.

“Ah, sebentar lagi,” bisiknya lagi sambil menarik nafas panjang. Kali ini, kata-kata itu terdengar seperti doa putus asa. Semoga mereka segera berlalu. Semoga keteraturan alam semesta kembali pulih.

Dan seolah mendengar bisikannya, tidak berselang lama, para pengusung keranda itu pun kembali berjalan. Perlahan, mereka mengangkat kaki, melanjutkan perjalanan sunyi mereka. Ia menghela napas lega, namun kelegaan itu hanya sesaat. Ada sesuatu yang menariknya, sebuah dorongan yang lebih kuat dari rasa takutnya, lebih kuat dari kelemahan tubuh rentanya.

“Tunggu!” ia berseru. Suaranya pecah, tercekat di tenggorokan.

Seperti ada tarikan magnit yang menyedot tubuhnya, dengan cepat ia bangkit dari kursinya. Sendi-sendinya yang kaku menjerit protes, tetapi ia tidak peduli. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia meninggalkan pos pengawasannya.

Berjalan ke arah pintu, keluar menghampiri para pengusung keranda yang kembali mematung begitu mendengar suaranya.

Hujan kini membasahi rambut putihnya, menempelkan pakaian tipisnya ke kulit. Udara dingin terasa seperti ribuan jarum menusuk pori-porinya. Ia berdiri di hadapan mereka, delapan pasang mata yang hampa menatapnya dari balik bayang-bayang.

“Maaf,” katanya, suaranya bergetar. “Siapakah gerangan di dalam keranda itu?”

Barisan itu bungkam. Langit kelam. Lalu menghamburlah helai-helai kemurungan.

Keheningan mereka adalah sebuah jawaban yang tak bisa ia pahami. Jawaban yang lebih pekat dari mendung di atas kepalanya. Hujan turun semakin deras. Ia lalu menyibak rambutnya yang basah ke belakang. Air hujan mengalir di alur-alur keriputnya.

“Siapakah yang mati?” desaknya lagi, nadanya sedikit meninggi.

Angin dan hujan. Menggasing dan kepayang.

Angin melolong di antara pepohonan, membawa serta daun-daun basah yang menampar wajahnya. Dunianya berputar dalam pusaran air dan udara.

Di tengah angin dan hujan, pengusung itu tetap diam.

“Maaf, siapakah?” tanyanya untuk ketiga kali, suaranya kini melirih, nyaris seperti rengekan seorang anak kecil.

Akhirnya, usungan diturunkan. Mereka meletakkan keranda itu di atas aspal yang basah dengan gerakan yang sinkron dan tanpa suara.

Dan jarum-jarum waktu, berkesiuh menggenggam angin, bergemuruh mengantar hujan. Seolah melambat, setiap tetes hujan yang jatuh tampak menggantung di udara.

Salah satu dari mereka bergerak maju, tangannya terulur untuk membuka tutup keranda.

“Jangan!” pekiknya.

Ia berusaha menolak ketika mereka bermaksud membuka keranda. Tapi terlambat. Tutup kayu itu sudah tergeser, memperlihatkan kain kafan putih yang basah oleh rembesan air hujan.

Ia kembali menolak ketika mereka mulai membuka kafan. Ia memalingkan wajahnya, memejamkan mata sekuat tenaga. Tapi ia bisa merasakan tatapan mereka, tatapan yang memaksanya untuk melihat. Akhirnya, dengan enggan, ia membuka matanya.

Matanya kini tertuju pada sebuah wajah yang beku. Wajah yang begitu ia kenal. Wajah yang lebih muda, lebih damai, seolah semua beban dan kerutan waktu telah terhapus darinya.

Ya. Sebaris nama yang dingin. Selembar nasib yang usai.

Tak ada suara. Dunia di sekelilingnya kehilangan warna, melebur menjadi satu kanvas abu-abu yang berputar. Para pengusung dan keranda itu, perlahan mulai memudar, menjadi transparan seperti asap yang ditiup angin.

Ia tidak tahu, atau mungkin tidak lagi perlu ia tahu, saat mana barisan pengusung keranda itu telah berlalu. Ia hanya merasakan sebuah kekosongan yang mahaluas.

Yang terdengar kemudian hanyalah suaranya yang lirih, setiap tanah kembali ke tanah. Bisikan itu bukan lagi miliknya, melainkan milik angin, milik hujan, milik semesta yang menggumamkan takdirnya.

Dan ia selalu di situ. Duduk memandang ke luar jendela.

Setiap kali lewat barisan pengusung keranda itu, ia merasa tak perlu lagi bertanya, siapa yang mati pagi ini.

Tambora, 2025

Bagikan:

Penulis →

Muhary Wahyu Nurba

Penyair, Aktor, fotografer, anggota Masyarakat Sastra Tamalanrea, Makassar, dan Ketua Perkumpulan IDeAKSI Indonesia.

2 Responses

  1. Saya pikir sebuah syair tentang kematian hanya bisa disuarakan lewat irama pilu, ternyata ada yang lebih syahdu dari suara hujan di penghujung musim kemarau, sungguh menyentuh hingga menyisakan kenangan yang masih membias di sudut pikiran, kata-kata yang selembut pelukan ibu , juga sehangat dekapan ayah.

  2. Wah, cerpen “Keranda” karya Bang Muhary Wahyu Nurba ini, menurt saya, seolah membiarkan jejaknya seperti bayangan yang bergerak pelan di tepi ingatan. Menghadirkn sunyi dan tawar, tp mengendap dalam relung hati. Mungkin karena saya suka cerpen yang cerdas, filosofis, elegan, sekaligus tak terduga.

    Bayangkan, kita bertemu dengan sosok lansia yang duduk di kursi tua di dekat jendela, yang bukan hanya singgasananya, tetapi juga “sangkar rapuh” yang membatasi dunia luar dan memenjarakan waktu dalam keheningan yang monoton. Deskripsi-deskripsi seperti “debunya menari di kolom cahaya pagi” dan “sarang laba-laba merajut waktu” seloah menganyam atmosfer sinematik yg tak cuma pemandangan, melainkan tokoh tersendiri.
    dts
    dst…
    Jos.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *