JARNO terhuyung di ruang dosen, dengan tatapan kosong mengarah ke layar laptop. Ia sedang “mengoreksi” skripsi mahasiswa, tapi pikirannya lebih tersangkut pada jamuan nostalgia tentang mimpi-mimpi yang tak pernah terjadi: petualangan epik, asmara liar, atau setidaknya, liburan ke pulau tropis yang penuh eksotisme. Ironisnya, ia justru tersandera di balik dinding buku-buku filsafat yang hanya dimengerti oleh segelintir manusia di dunia ini, atau bahkan mungkin tak ada. Bahkan terkadang dia meragukan pemahamannya selama ini.
Di tengah keheningan kampus, profesor yang satu ini merasa bak fosil yang terkurung dalam laboratorium, tak pernah lepas dari setumpuk buku-buku filosofi berdebu dan mahasiswa yang lebih tertarik pada notifikasi ponsel dibandingkan diskusi Kant atau Hegel.
Jarno memandang jam dinding di ruang kerjanya yang sepi. Detak jarum yang lambat seperti irama hidupnya sendiri: membosankan dan berat. Ia menggeleng, entah untuk apa.
Pulang ke rumah pun bukanlah obat. Pernikahannya dengan Laras lebih menyerupai rutinitas daripada cinta. Suara tawanya, dulu bagai nyanyian, kini terdengar bagai benturan antara sepatu kuda yang enggan dengan jalanan. Ada jeda di antara mereka, kekosongan yang tak pernah disinggung, yang dibiarkan mengental.
Lelah dengan kehidupan yang terasa seperti senandung tanpa titik, Jarno mendatangi sebuah pertunjukan sulap. Di bawah sorot lampu yang redup, ia menyaksikan seorang pesulap tua dengan kumis tipis dan jubah abu-abu kumal, seperti sesuatu yang teronggok di gudang sejak era kolonial.
Orang-orang menatap pesulap itu dengan campuran kekaguman dan skeptis. Pesulap tua dengan senyum miring dan baju kumal penuh debu itu memamerkan “mesin ajaib,” alat sulap yang menjadi andalannya.
Di panggung itu, pesulap ‘berbisik’ pada audiens tentang mesin ajaib itu, sebuah alat yang katanya mampu membawa seseorang ke dalam cerita apa pun yang diinginkan. Jarno mengernyit skeptis. “Ini tentu hanya trik belaka,” pikirnya. Tapi entah kenapa, saat pesulap itu menatapnya tajam dari panggung dan tersenyum samar, hati Jarno mencelos.
Dirundung penasaran dan kebosanan rutinitasnya, Jarno tertarik. Rasa bosannya kini menjelma semangat. Sebagai akademisi, ini tampak sebagai peluang riset yang ‘mendalam’. Siapa tahu, mungkin ia bisa menulis tesis baru tentang “Perjalanan Metafisik ke Dunia Sastra”! Tapi di balik itu semua, ia hanya ingin melarikan diri dari kenyataan. Tanpa pikir panjang, ia mendekati pesulap itu seusai pertunjukan.
“Pilihlah cerita yang kau inginkan, Bung!” kata sang pesulap, sambil mengulurkan sebuah buku tipis, berjudul “Sundari Keranjingan Puisi.”
Sundari adalah tokoh penyair penuh gairah yang hidup di dalam cerita Gunawan Tri Atmodjo. Ia seorang perempuan yang hidup sepenuh hati dalam narasi-narasinya sendiri, sebuah karakter yang terjebak di antara romantika dan idealisme sastra. Jarno langsung tertarik pada sosok ini. Dengan sebuah ketukan kecil di mesin, tubuhnya terasa ditarik masuk ke dalam lorong panjang tak berujung. Begitu membuka mata, ia telah berada di dunia cerita.
—
Jarno tersentak ketika melihat langit merah muda di atas kepalanya. Ia mendapati dirinya di sebuah taman yang penuh bunga-bunga liar. Lalu, di sanalah dia, Sundari, duduk di atas hamparan bunga, dengan mata bening yang bersinar dan senyum yang mengandung seribu makna.
“Jarno!” panggil Sundari sambil tertawa. “Kau terlambat datang! Puisi ini sudah menunggumu!”
Jarno terkekeh. “Bagaimana kau tahu namaku?”
Sundari hanya tertawa tanpa menjawab, lalu membawanya ke dunia puisi yang seolah-olah nyata. Mereka berdua bermain dalam riang kata-kata, saling beradu bait seolah itu adalah dialog cinta. Hari-hari berlalu seperti melodi. Jarno tak lagi terkurung dalam dunia nyata yang hambar; kini ia merasa seperti tokoh puisi yang hidup.
Namun, cerita ini tak seindah fantasinya. Tak lama setelah menikmati kebahagiaan yang fana, muncul Trijoko. Lelaki yang gagah, penuh karisma, dengan tatapan penuh api cemburu, yang ternyata adalah kekasih Sundari.
“Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Trijoko sambil mendekat dengan mengacungkan tinjunya.
Jarno tergagap. “Aku, eh… aku penikmat puisi…” Tapi mata Trijoko seperti dua peluru siap menerkam. Jarno mundur perlahan, sementara Sundari berdiri di antara mereka, mencoba menjembatani ketegangan dengan tawanya yang lembut. Namun, kecemburuan Trijoko tak dapat ditahan lagi.
Hari-hari berikutnya menjadi ajang kejar-kejaran antara Jarno dan Trijoko, layaknya adegan buruk dari film detektif kelas B. Suatu kali, Jarno harus sembunyi di balik pohon hanya untuk menghindari amukan Trijoko yang tak puas. Bahkan, ada momen absurd ketika Trijoko meneriakkan bait puisi beracun, seolah-olah puisi bisa menjadi senjata mematikan.
“Aku tak butuh lelaki baru! Aku tak butuh dirimu, penikmat palsu!” teriak Trijoko sambil melambai-lambaikan sebuah puisi seperti bendera perang.
Jarno hanya bisa pasrah, sambil sesekali memutar otak mencari jalan keluar. Ketegangan di dunia ini semakin meningkat, bahkan Sundari mulai menunjukkan perubahan sikap yang tak disangka. Suatu malam, ia mendatangi Jarno sambil berbisik pelan, “Bawaku keluar dari dunia ini, Jarno. Bawaku ke dunia nyata!”
Jarno tertegun. Ia sendiri ingin pergi dari dunia ini, tapi Sundari justru ingin meninggalkan cerita ini dan mengikuti dia. Ini bukan yang ia harapkan.
“Apa kau yakin? Dunia nyata tak seindah yang kau kira,” jawabnya hati-hati.
Namun Sundari mengangguk dengan tekad bulat. “Di sini aku hanya menjalani peran yang ditentukan oleh orang lain. Di sana, aku akan bebas!”
Akhirnya, dengan sisa keberanian yang ada, mereka menyentuh mesin itu bersama. Sekali lagi, tubuh mereka terasa seperti ditarik dalam spiral tanpa ujung.
—
Saat mereka membuka mata, Sundari tampak terkejut melihat segala sesuatu di ruang kerja Jarno. Sundari seperti anak kecil di toko mainan, memegang laptop sambil mengamati layarnya dengan cermat.
“Mengapa dunia kalian begitu… lurus?” tanya Sundari, mengernyit. “Tak ada ruang untuk bait atau metafora di sini?”
Jarno tertawa getir. “Itulah dunia nyata. Di sini, setiap hal ada aturannya, Sundari. Tak ada kata-kata yang bebas, tak ada waktu yang bisa kau lipat-lipat seperti dalam cerpen.”
Hari-hari berlalu, dan Sundari mulai merasa gelisah. Dunia nyata ternyata tak semeriah yang ia bayangkan. Ia harus menghadapi ritme kehidupan yang monoton, bahkan lebih keras dari dunia puisi. Jarno pun merasa terbebani dengan peran baru sebagai ‘pemandu tur’ di dunianya sendiri. Ia sering kali harus menjelaskan hal-hal sepele pada Sundari, yang kini terlihat kesepian dan kebingungan di antara realitas yang tak ia pahami.
“Jadi, kalian di sini menghabiskan waktu untuk mengeluh dan meratap saja?” tanya Sundari, suatu kali ketika mereka duduk di kedai kopi. “Tak ada puisi yang bisa mengubah waktu?”
Jarno menatap Sundari lama, merasakan semacam dorongan untuk berkata jujur. “Dunia nyata memang tempat yang tak ramah bagi mimpi, Sundari.”
Di saat yang sama, kehidupan rumah tangganya dengan Laras pun mulai memburuk. Laras, yang selama ini diam seperti batu, akhirnya mulai curiga. Ia memergoki Jarno dan Sundari di ruang tamu, tengah asyik ‘berdebat’ tentang filsafat cinta.
Laras tak bicara sepatah kata pun. Ia hanya menatap Sundari dengan pandangan kosong, lalu menoleh ke arah Jarno dengan tatapan yang lebih menusuk. “Ini dunia nyata, Jarno,” katanya pelan, tapi tegas. “Tak semua puisi bisa hidup di sini.”
Kata-kata Laras menusuk hingga ke dasar hati Jarno. Ia menyadari sesuatu yang tak pernah ia pikirkan: bahwa dunia nyata memiliki batas-batas yang tak bisa ditembus oleh puisi. Ia telah membawa Sundari ke dunia yang salah.
Dalam diam, Jarno menekan tombol mesin itu lagi, membawa Sundari kembali ke dunia puisi. Ia memandang Sundari untuk terakhir kalinya, yang saat itu sudah kembali menjadi sosok dalam cerita, dengan senyum yang menyiratkan kesedihan.
—
Saat Jarno membuka mata di dunia nyata, ia mendapati bahwa mesin itu telah menghilang, begitu pula pesulap tua yang memberinya kesempatan tersebut. Ia menatap kosong ke ruang kerjanya yang hampa, hanya ditemani deretan buku yang dingin dan setumpuk skripsi mahasiswa.
Hari-harinya kembali seperti biasa, tetapi dengan sebuah luka yang ia pesimis akan bisa sembuh. Ia terjebak di antara dua dunia, terjerat dalam bayang-bayang cerita yang tak pernah selesai. Setiap kali ia membaca kembali cerita “Sundari Keranjingan Puisi”, Sundari tersenyum dari dalam narasi-narasi itu, seolah-olah menggodanya dari batas fiksi yang tak mungkin lagi ditembus.
Dalam momen kesepian yang memuncak, ia mendatangi kembali tempat di mana ia bertemu dengan pesulap itu, berharap melihatnya untuk kali kedua. Tapi yang ia temukan hanya panggung kosong dan papan iklan yang sudah usang. Begitu saja, cerita Sundari menjadi kenangan yang menghantuinya, seperti mimpi yang tak bisa ia sentuh lagi.