Kitab Pengobatan


SETELAH duri ikan hinggap di tenggorokannya beberapa hari, lehernya semakin membesar sampai ia muntah darah seperti keracunan. Tapi tetap ia bisa berjalan seperti biasa, dan hanya merasakan kesakitan di dalam leher, seperti ada yang menusuk-nusuk dari dalam. Ia dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit terdekat, dikasih pil 4 papan. Dokter menyuruh diminum 3 kali sehari satu tablet, pagi, siang dan malam. Ia yang kurang percaya dengan obat dokter sudah melakukannya, tak ada perubahan sedikitpun. Lehernya yang makin membengkak ia periksakan ke dokter lain, ia disarankan operasi. Ia yang keras kepala membantah dan berucap ketus,

“Lebih baik aku mati daripada operasi, masa masalah sepele seperti ini tidak bisa diatasi oleh dokter, dasar dokter sialan. Tidak masuk akal saja apa yang kalian sampaikan.” Ia pergi meninggalkan rumah sakit dengan jiwa yang membara. Dalam perjalanan darah mudanya terus naik, ia mengeluarkan kata-kata kasar, dan berdoa untuk keburukan. Lalu ia mendatangi rumah Zubair yang katanya orang pintar yang masih menggunakan alat-alat tradisional dalam pengobatannya. Begitu ia sampai di rumah Zubair, setelah menunggu antrean yang lumayan panjang, ia bercerita tentang penyakitnya pada beliau yang sangat ia hormati. Ia juga bercerita sekilas pada beliau pengalamannya di rumah sakit yang membuat ia kesal.  

“Itu akal-akalan dokter saja, masa harus operasi. Sini kau!” Perintah Pak Zubair. Ia duduk pasrah di atas kursi rotan. Pak Zubair beranjak ke dapur sejenak, mengambil piring putih meletaknya di atas lantai yang sudah dibentang tikar. Ia memegang leher pasiennya yang membengkak, dan semakin maju ke depan menyerupai gondok.

“Itulah kerjaan dokter di negeri kita selalu membodoh-bodohi pasiennya supaya dapat uang,” ia yang dapat pembelaan dari dukun kampung itu mengangguk-angguk setuju. Zubair yang mendekat dan memegang leher pasiennya masih bicara sambil bekerja,

“Aku pribadi, banyak yang aku tidak setujui kelakuan-kelakuan mereka pada pasiennya, yang menurutku sesat, walaupun masih ada dokter yang baik di negeri ini.”

Setelah menuangkan sedikit minyak yang berbau harum ke perut telapak tangannya, Zubair mengurut-urut lembut leher pasiennya itu, membuat ia terbatuk-batuk, dahaknya yang berdarah memercik ke luar. Kemudian  Zubair memutar-mutar piring putih yang baru diambilnya tadi ke dapur. Pasiennya sendiri bingung, apa hubungan piring itu dengan tenggorakannya yang sakit. Tapi ia tidak terlalu memikirkan itu, yang penting ia bisa sembuh dalam waktu cepat. Dan memang pengobatan Zubair begitu manjur. Tiga hari setelah itu, penyakit pasiennya berangsur-angsur sembuh, sampai ia bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Sejak itu pula pasienya ingin berguru menuntut ilmu pada Zubair.

“Ilmu apa yang kau inginkan? Aku tidak punya ilmu Matematika, Bahasa Indonesia, apalagi ilmu Bahasa Ingris yang bisa diandalakan yang akan kuberikan untukmu,” ia yang bercanda tertawa sendiri menutup mulut, diikuti mantan pasiennya yang bernama Jakub itu. Dengan malu-malu Jakub menjawab dengan suara bergetar.

“Selain ilmu pengobatan. Aku ingin tubuhku kebal senjata tajam, mohon ajari aku guru,” Jakub merunduk, dan hampir saja bersujud. Baru hari itu ia yang siap dijadikan murid memanggil Zubair guru.

“Maksudmu ilmu tahan bacok gitu?” Jakub mengangguk berkali-kali.

“Iya, ilmu kebal guru,” ia masih menunduk. Kalau tidak diperintah Zubair bangkit lagi, mungkin ia masih menunduk sampai matahari terbenam meyerupai sembah di depan lelaki itu.

“Itu mudah sekali, hari ini pun kau bisa melakukannya,” Zubair mengambil pisau tajam yang terletak di atas meja, lalu ia berbisik-bisik seperti membaca mantra, dan menggesek-gesek kulitnya dengan pisau itu membuat Jakub takjub.

“Sebelum aku kasih mantranya, kau harus melakukan beberapa sarat!” 

“Baik. Apa pun saratnya akan aku lakukan guru,” Jawab Jakub sebelum tahu apa sarat yang akan dilaluinya, dan ia bersujud di bawah kaki Zubair.

“Kau harus puasa dua bulan berturut-turut. Selama puasa itu kau tidak boleh menyakiti hati siapapun,” Jakub dengan senang hati menerima itu. Ia melaksanakannya sampai tuntas, dan ia datang lagi setelah selesai menjalankan perintah dari gurunya. Dengan hati yang bersinar-sinar, ia yang keliahatan kurus mengetuk pintu dan mengucap salam. Seperti biasa ia disuruh duduk di atas kursi rotan. Beberapa menit kemudian ada tamu lain yang datang tiga orang. Ia yang disuruh menunggu mundur ke belakang, mendengar pembicaran gurunya dengan tamu yang datang itu. 

“Ada keperluan apa?” Dari tadi ia memperhatikan perempuan itu, yang datang tidak memakai jilbab seperti perempuan yang lain. Dan ia tamu terakhir, orang yang ketiga ngantre.

“Mau minta tolong sama bapak.”

“Minta tolong apa?”

“Anakku itu lo, Pak.”

“Siapa?” Zubair kenal dengan perempuan itu, tapi tidak terlalu kenal dengan semua putrinya, kecuali dua orang saja.

“Si Finta. Anakku yang penyanyi itu, Pak.” Zubair menggoyang-goyangkan badannya, lalu turun dari kursi, posisinya duduk bersila seperti tamu yang datang. Ia sudah bisa menduga, apa tujuan perempuan itu datang kemari. Ia kenal dengan si Finta artis kibot kampung itu, yang sering menari-nari sampai larut malam mempertontonkan tubuhnya yang bahenol.

“Mau minta jimat sama bapak, biar si Finta digilai banyak lelaki dan banyak penggemar.” Zubair belum berkata sepatah pun, dan belum bergeser dari tempat duduknya. Masih setia mendengar pernyataan seorang ibu yang kira-kira sudah berumur 60 tahunan yang tidak ingat mati. Baginya karir putrinya segala-galanya. Ia dulu yang bercita-cita jadi artis kampung, cita-citanya terpaksa terputus di tengah jalan karena tak dibolehkan oleh ibunya, yaitu nenek Finta.

“Bukankah si Finta itu sudah digilai banyak lelaki?”

“Ya, tapi lelaki miskin. Aku siap bayar bapak mahal. Asalkan keinginanku terkabul. Dan si Finta itu menikah dengan lelaki tajir nanti. Menjual tanah pun aku siap, yang penting manjur jimat bapak.” Zubair bangkit dari tempat duduknya setelah memberi senyum, dan masuk dalam kamarnya sesaat. Tidak ada seorang pun yang tahu selain istrinya, apa isi dalam kamar itu dan apa kerjanya dalam kamar itu. Orang hanya menduga-duga ia sedang bermunajat beberapa saat minta pertolongan Tuhan. Tapi itu dugaan tamu saja yang pernah datang, dan belum tentu benar, bisa jadi meleset.

“Ini pakaikan pada jilbabnya, jangan sampai kelihatan sama orang lain,” ia baru saja keluar dari kamar, memberikan jimat sebesar ibu jari orang dewasa, berukuran pendek, ditutup dengan kertas putih, dimasukkan dalam plastik kecil.

“Tapi Finta tidak pernah pakai jilbab Pak. Kalau dia pakai jilbab kecantikannya berkurang. Lagian diakan bukan perempuan surga.” Sebenarnya Zubair tahu Finta tidak pernah memakai jilbab, baik waktu manggung ataupun di luar itu. Ia menyuruh  karena ada maksud tertentu.

“Kalu tidak, masukin saja dalam kantong celananya setiap dia naik ke atas panggung,” perempuan itu senang sekali menerimanya. Dan ia memberikan uang satu juta, dan menutup pertemuan itu dengan sebuah ucapan,    

“Kalau sukses nanti lebih dari itu aku kasih Pak, percayalah.” Zubair mengiakan saja, tapi dari wajahnya nampak jelas ia tidak senang melihat kedatangan perempuan yang tak tahu diri itu.

“Apa yang Bapak tulis dalam kertas jimat itu?” tanya Jakub beberapa detik setelah perempuan itu pergi.

“Tidak ada, aku hanya menggulung-gulung kertas kosong, dan memasukkannya ke dalam plastik kecil, kemudian membalutnya dengan timah,” jawab Zubair sambil mengambil rokok sebatang yang terletak di atas meja dan membakarnya, ia tak menawarkan Jakub. Ia tahu Jakub bukan seorang perokok berat seperti dirinya. Ia juga tahu lewat cerita temannya, kenapa Jakub minta ilmu pengobatan dan ilmu kebal kepadanya.

“Guru telah menipunya, berarti guru curang.”

“Tidak, tapi dialah yang menipu dirinya sendiri karena telah datang ke sini, tapi ia tidak sadari itu,” Jakub paham maksud gurunya.

“Seharusnya dia datang ke mana guru?”

“Pada tabib dunia yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang,” Jakub tambah mengerti menafsirkan kata-kata gurunya. Dan ia meninggalkan pembicaraan tentang perempuan itu. Ia mengalihkan topik pada kepentingannya sendiri.

“Kenapa guru mau mengajarkan aku ilmu kebal, bukankah itu ilmu sesat?” Gurunya yang tahu pasti pembicaraan mengarah ke sana tidak terkejut dengan pertanyaan itu.

“Karena aku yakin kau mempergunakannya bukan untuk keburukan. Kau hanya ingin melakukan pertunjukan di pasar-pasar untuk mencari nafkah. Dan tentunya sebelum bermain nanti, aku akan menyuruhmu minta maaf sebelumnya kepada semua penonton, karena itu hanya sebuah pertunjukan yang menggunakan trik yang bisa dilakukan oleh orang-orang profesional yang terlatih.”     

“Trik bagaimana maksud guru?”

Zubair berdiri, mengambil pisau panjang dan membuka bajunya. Kemudian ia menyembelih lehernya sendiri, dan mengiris-ngiris sekujur tubuhnya sampai ke perutnya.

“Dengarkan baik-baik aku jelaskan rahasianya Jakub. Ketika kamu menggesek-gesek tubuhmu dengan pisau ini, mata pisau miringkan sedikit, jadi badanmu tidak terluka. Kalau kau yang menyayat tubuhku yang belum pandai triknya pasti aku terluka. Kalau tidak, kau cari pisau yang terbuat dari besi, tapi bahannya empuk seolah itu pisau benaran karena bentuknya saja yang sama, tapi matanya tidak tajam. Jika kau gesek-gesekkan pisau itu ke tubuhmu bukannya berdarah malah geli.” Jakub ingat ketika dua orang melakukan pertunjukan di pasar waktu itu, mereka saling mengirirs-iris tubuh masing-masing.

“Jadi guru tidak kebal senjata seperti cerita orang-orang?”

Gurunya menggeleng.

“Mana ada manusia sepertiku yang atos menahan senjata tajam seperti batu, Jakub.”

“Jadi guru tidak percaya ada orang kebal senjata tajam dengan menggunakan ilmunya?”

Zubair terdiam.

“Lalu kenapa guru menyuruhku berpuasa sampai dua bulan berturut-turut?”

Gurunya tersenyum, tak memberi penjelasan lebih detail. Ia hanya menyuruh Jakub menjawabnya sendiri dalam hatinya, sambil ia memberikat kitab pengobatan yang harus dibaca tuntas oleh Jakub.

“Kitab ini, gunakan untuk orang-orang yang membutuhkan pertolongan,” pituahnya sebelum Jakub pergi.

(*)

Bagikan:

Penulis →

Depri Ajopan

Lulusan Pesantren Musthafawiyah Purba-Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menyelesaikan S-1 Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang. Menulis fiksi dan diterbitkan di sejumlah media. Novel terbarunya Pengakuan Seorang Novelis. Ia bergiat di Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau, sebagai guru Bahasa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *