Fragmen Ingatan




Nama yang Hilang


sebuah nama membatu
di liang gema waktu
terkubur dalam sunyi:
seperti huruf-huruf retak di batu nisan langit

rindu menjelma burung kabut
mengepakkan sayap di jurang pesan
mengoyak kelambu arwah
yang melilit akar-akar senyap

Malang, 2025




Tanah Perkabungan

tanah bersaksi pada sunyi
air mengeja luka di dada bumi
dan batu—puisi beku yang nyaring dalam diam

mereka menulis senja
dengan huruf-huruf dari napas langit
sementara fatamorgana berlutut
di altar musim yang hangus

kenangan mengendap di dasar sunyi
dan cinta kehilangan dermaga
di poros waktu yang kehilangan zikir

Malang, 2025




Sepanjang Kemarau


ingatan menetes perlahan
seperti damar dari luka pohon tua
kusimpan musim di balik kelopak sajak
agar tanah bisa meminjam air
dan kemarau mengingat doanya

rindu dan dendam bersetubuh di padang pasir
daun menunggu gugur
sambil membaca tubuhku yang beku
dalam ejaan musim yang terlupakan

Malang, 2025




Jalan Telah Buntu

angin kehilangan arah
mata langit berdarah
hidup seakan mendirikan batas
dari cahaya yang tersingkir

aku hitung hujan
seperti jari menghitung duka
sementara malam menjadi ranjang
bagi doa yang kehilangan buku

esok adalah ingatan yang tak akan sampai
dan para ziarah membawa puisi
ke pusaraku yang tak pernah selesai dibaca

Malang, 2025




Simfoni Kertas

Cinta,
terselip di lipatan huruf—
daun-daun kertas gugur
di musim yang tak pernah kita pahami

Tinta mengalir,
seperti bisik hujan pada jendela
kau tak ada, tapi halaman tetap terbuka
dan waktu mencium tepinya

Apakah ini rindu,
atau sekadar debu
yang menari dalam cahaya patah?

Malang, 2025




Fragmen Ingatan

aku tidak pernah tahu, ketika sunyi bicara pada malam
ke dalam botol-botol mimpi dituangkannya ilusi
tetap saja ruang itu hampa
karena malam selalu hadir tanpa cahaya
meski di sudut-sudut kota, gemerlap lampu bagaikan kata-kata
yang bercerita tentang hidup
dari kisah usang, untuk dimainkan kembali
ke dalam fragmen ingatan

Malang, 2025




Sumur-sumur Kering

matahari hancur berkeping
diangkut sampan-sampan kertas
diserahkan pada doa angin

kata-kata menjadi arus
di semesta yang mencibir kekalahan

sumur-sumur mengering
dan masa lalu hanya sebongkah garam
di mata yang haus cinta

kita menimba rindu
dari dasar gelap sejarah
dan air mata jadi bahasa
yang tak pernah dimengerti hujan

Malang, 2025

Bagikan:

Penulis →

Vito Prasetyo

Tulisan ini adalah kiriman dari kontributor yang tertara namanya di halaman ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *