SATU-SATUNYA benda yang selalu menemani Arwan di rumah tua itu –rumah yang hampir terlupakan di pinggiran kota itu –adalah jam dinding tua berwarna tembaga yang tergantung di ruang tengah. Benda itu diwariskan dari ayahnya, dan sejak kecil, Arwan selalu merasa jam itu istimewa. Ia tidak pernah rusak. Tidak pernah mogok. Tidak pernah butuh baterai.
Arwan adalah lelaki berusia lebih separuh abad. Rambutnya memutih di bagian pelipis, dan punggungnya mulai membungkuk seperti pohon tua yang tertekan angin. Ia hidup sendirian sejak istrinya meninggal lima tahun lalu, dan anak semata wayangnya pergi ke luar negeri, jarang mengirim kabar.
Jam itu berdetak dengan suara khas: tek-tok… tek-tok… Konstan, tegas, hampir seperti detak jantung kedua bagi rumah itu.
Dan yang lebih aneh lagi, jam itu selalu tahu kapan Arwan sedang sedih. Ketika Arwan merasa kesepian, jam itu akan berbunyi satu kali lebih keras dari biasanya.
Ketika ia menangis di malam hari, jarumnya akan bergerak mundur satu menit, seolah ingin menghiburnya, memberi waktu lebih untuk menenangkan diri. Arwan tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun. Bahkan kepada istrinya yang masih hidup.
”Aku rasa kau satu-satunya yang mengerti aku,” bisiknya suatu malam, menatap jam itu dengan mata berkaca-kaca.
Jam itu tidak menjawab.
Tapi dentangnya terasa hangat di dada Arwan.
Hari-hari Arwan dijalani dalam keheningan.
Pagi hari ia menyapu halaman. Siang hari ia duduk di kursi rotan, membaca koran lama. Malam hari ia menonton berita, lalu tidur ditemani suara jam dindingnya.
Namun semuanya berubah pada suatu sore hujan, ketika seseorang mengetuk pintu.
Arwan membuka.
Di depannya berdiri seorang anak perempuan kecil, kira-kira berusia sembilan tahun. Rambutnya basah, kakinya kotor, dan matanya seolah menyimpan langit yang retak.
“Maaf, Pak… boleh saya berteduh sebentar?” tanyanya dengan suara pelan.
Arwan merasa ragu, tetapi hujan di luar begitu deras, dan wajah gadis itu terlalu polos untuk dicurigai.
Ia mempersilakan masuk. Anak itu duduk di tepi karpet, menggigil.
“Kamu dari mana?” tanya Arwan sambil memberikan handuk.
“Saya nggak tahu…”
“Nama kamu siapa?”
Gadis itu menunduk.
“Nira.”
Dan sejak saat itu, hidup Arwan berubah.
Nira tidak pernah benar-benar pergi. Ia tidak tahu rumahnya di mana, atau siapa orang tuanya. Polisi sudah dihubungi, tetapi tidak ada laporan kehilangan anak. Seolah-olah gadis itu muncul dari hujan.
Anehnya, Arwan tidak merasa berkeberatan. Ia justru merasa senang. Rumahnya kembali hidup. Nira membantu menyapu, tertawa saat melihat Arwan salah menuang gula ke dalam sop, dan setiap malam mereka duduk bersama menonton sinetron, lalu mendengarkan detak jam dinding.
“Jamnya aneh ya, Kek,” kata Nira suatu malam.
“Kamu juga merasakannya?” Arwan menoleh, sedikit terkejut.
Nira mengangguk.
“Kayak… bisa baca hati kita. ”
Waktu berlalu.
Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan. Nira seperti bunga yang mekar di tengah reruntuhan hidup Arwan. Ia mulai kembali berkebun, menulis puisi pendek di kertas roti, bahkan membuat lemari kecil dari kayu bekas untuk menyimpan barang-barang milik Nira.
Tapi suatu pagi, Nira tidak ada di kamar.
Ia tidak di dapur.
Tidak di halaman. Tidak di mana pun.
Arwan panik.
Ia berteriak, mencari ke seluruh penjuru kampung, menanyakan ke warung, ke masjid. Tidak ada yang melihat anak kecil itu.
Ia pulang ke rumah dengan langkah gontai.
Seolah tubuhnya kembali menjadi kosong, seperti dulu. Ia duduk di kursi rotan, memandangi jam dinding.
Jam itu berdetak lebih cepat.
Tek-tok. Tek-tok. Tek tek tek tek…
Jarumnya berputar gila.
Angka-angka di dalam lingkarannya seperti bergetar. Arwan berdiri, mendekat. Tiba-tiba, dentangnya berbunyi nyaring sekali.
Dua belas kali.
Seolah tengah malam.
Padahal matahari masih bersinar.
Dan tiba-tiba… Arwan tidak berada di ruang tamunya.
Ia berdiri di sebuah ladang bunga.
Langit berwarna ungu, dan angin berhembus seperti nyanyian.
Di sana, jauh di ujung padang, ia melihat sosok yang dikenalnya: Nira
Gadis itu berlari kecil ke arahnya.
“Kakek!”
“Nira! Kamu di mana? Apa ini? Mimpi?”
Nira tersenyum, tapi matanya tampak sedih.
“Ini tempat singgah. Antara waktu.”
“Apa maksudmu?”
Nira mendekat, menggenggam tangan Arwan.
“Aku bukan anak sungguhan, Kek. Aku dikirim jam itu.”
Arwan terdiam.
“Apa maksudmu dikirim?”
“Jam dinding itu… bukan jam biasa. Ia menjaga orang-orang yang kesepian. Ia mengirim ‘teman’ untuk mereka yang terlalu lama sendiri.”
Arwan mundur perlahan, hatinya seperti tertusuk.
“Jadi kamu… hanya ilusi? “
“Bukan ilusi. Aku nyata selama Kakek percaya. Tapi waktuku habis. Jamnya akan kembali mencari yang lain.”
Air mata Arwan jatuh tanpa suara.
“Aku sudah menganggapmu cucuku.”
Nira memeluknya erat.
“Dan aku akan selalu jadi cucumu… di hatimu.”
Dan seperti kabut pagi, Nira menghilang dalam pelukan.
Arwan terbangun di kursi rotan.
Ruang tamu sunyi.
Jam dinding berdetak normal kembali. Angkanya tetap di tempatnya, jarum tak lagi liar.
Di kamar, tak ada jejak Nira.
Tak ada lemari kecil. Tak ada sandal anak-anak.
Seolah-olah semuanya hanya mimpi.
Tapi di meja makan, ada sepucuk kertas kecil.
Tulisan tangan anak-anak, dengan spidol biru:
Terima kasih sudah membiarkanku tinggal. Aku senang di sini. Jangan lupa senyum, ya. — Nira
Sejak hari itu, Arwan tidak lagi merasa sepenuhnya sendiri.
Ia tetap tinggal di rumah tuanya, menyapu halaman setiap pagi, dan mendengar detak jam dinding setiap malam.
Kadang, saat hari hujan dan senja mulai turun, ia merasa aroma sabun anak-anak tercium samar.
Ia tersenyum, menatap jam dindingnya.
Pukul itu, seperti biasanya, berdetak dengan tenang. Tapi sesekali… berdentang sekali lebih keras, seolah-olah berkata, “Kamu tidak sendiri.”