Surat dari Meja 17

Nama saya Raga Wirantara, 38 tahun seorang mantan jurnalis yang kini bekerja sebagai pengarsip di sebuah instansi pemerintah yang sepi dan nyaris terlupakan. Gedungnya tua, berdebu, dan tanpa jendela di ruang kerjaku di Meja 17. Sudut paling belakang, tempat arsip dari tahun-tahun yang tak lagi diingat siapa pun. Tidak banyak orang tahu aku di sini. Bahkan kepala seksi ku sendiri lupa nama lengkapku. Aku ibarat fosil di antara berkas-berkas yang dikubur birokrasi.

Namun suatu hari, sebuah map merah muncul di mejaku. Tidak ada nama pengirim, tidak terlihat tanda terima. Isinya adalah salinan surat-surat pengaduan dari seorang perempuan bernama Ratih Arumsari, tertanggal sepuluh tahun lalu, ditujukan ke berbagai kementerian dan kantor polisi. Isi surat itu tertulis,

“Saya mengalami kekerasan seksual oleh pejabat negara. Saya dipaksa diam. Tapi saya tidak akan berhenti menulis ini sampai ada yang mau mendengar.”

Yang membuatku merinding adalah map itu datang di saat yang sama ketika nama pejabat yang disebut Ratih kini telah menjadi calon wakil presiden muncul di halaman depan semua koran.

Selama beberapa minggu, aku membaca semua berkas yang ada dalam map merah itu. Surat Ratih ditulis dengan rapi, nyaris seperti catatan harian. Ia bercerita tentang bagaimana ia dijebak dalam relasi kekuasaan, diperas, lalu dikubur oleh sistem. Ada bukti transfer, tangkapan layar email, bahkan salinan rekaman suara. Masalahnya bahwa semua pengaduan itu tidak pernah diproses, ditolak, diabaikan bahkan ditinggalkan.

Aku tahu ini bisa membahayakan karier siapa pun. Tapi aku sudah tidak punya apa-apa untuk kehilangan. Maka aku menyalin seluruh dokumen, menyusunnya ulang, dan membuat sebuah laporan investigasi anonim. Kukirimkan ke media, ke aktivis, dan ke lembaga antikorupsi. Lewat email tak bernama, juga lewat akun yang kulacak melalui VPN tiga negara. Aku tidak mengharapkan apa pun. Tapi aku tahu, jika dunia masih punya sedikit rasa malu, kebenaran akan memaksa dirinya keluar.

Seminggu setelah aku kirimkan laporan itu, berita itu meledak. Media sosial terbakar, tagar nama Ratih menjadi tren nomor satu, dibicarakan mulai dari meja kopi kampus hingga studio berita jam utama. Wajahnya terpampang di mana-mana, tapi tidak dengan suara atau kisahnya. Semua orang bicara tentang Ratih, tapi tidak satu pun benar-benar mendengarkannya.

Para pendukung sang calon wakil presiden langsung membalas dengan gencar. Mereka menyusun narasi tandingan, menyebarkan potongan-potongan lama tentang kehidupan pribadi Ratih, menyebutnya perempuan murahan, aktris gagal, bahkan agen asing yang ditugaskan untuk menggoyang stabilitas nasional. Seolah dengan menghancurkan kredibilitas satu perempuan, mereka bisa menyelamatkan bangunan kekuasaan yang rapuh.

Tapi satu hal yang membuat dadaku sesak adalah ini tidak satu pun media menyebut dokumen -dokumen itu datang dari ruang arsip pemerintah. Tidak satu pun yang bertanya dari mana surat itu pertama kali muncul. Semuanya lebih suka percaya bahwa ini hanyalah perseteruan politik dalam elite partai. Aku dan kebenaran yang kubawa lenyap di antara kabut framing berita.

Hari itu juga, ruanganku dirazia. Bukan seperti inspeksi biasa. Para pejabat datang dengan sikap dingin dan penuh pengawasan. Mereka tidak berbicara banyak. Hanya menunjuk dan mengangguk. Semua map, rak, dan bahkan komputer lamaku disita. Tak ada sapa, tak ada terima kasih. Seorang dari mereka sempat menatapku lama. Bukan marah. Tapi seperti berkata: ‘Kami tahu kau tahu, dan kami tahu cara menghilangkanmu dari cerita.’

Aku hanya duduk di Meja 17, pura-pura membaca berkas tahun 1998 tentang pengadaan komputer di era presiden lama. Tanganku gemetar, tapi wajahku tetap tenang. Karena jika aku menunjukkan rasa takut, maka semua ini akan sia-sia.

Keesokan harinya, surat mutasi datang. Tanpa penjelasan, aku dipindahkan ke kantor wilayah di luar kota. Tidak ada sambutan. Tidak ada alasan. Tidak ada bekas. Tapi aku tidak heran karena mungkin memang begitu nasib orang yang menyimpan kebenaran di dalam laci.

Dua bulan berlalu, aku hidup tenang, jauh dari media. Tidak ada notifikasi, tidak ada berita, tidak ada yang mengingat siapa aku. Setiap pagi aku menyapu halaman kontrakan kecilku, menyeduh kopi hitam, dan membaca koran lokal yang hanya memuat berita pasar dan cuaca. Seolah aku benar-benar telah pindah ke dunia lain.

Hingga suatu sore, suara ketukan pelan terdengar di pintu.

Seorang perempuan berdiri di sana. Ia mengenakan baju putih sederhana, rambut diikat ke belakang, dengan wajah yang tidak asing. Wajah yang dulu hanya kulihat dalam cetakan foto, dalam video pengakuan, dalam laporan yang kususun. Tapi kini nyata, berdiri di bawah matahari yang nyaris tenggelam.

 “Mas Raga?” katanya, suaranya datar namun mengandung letupan yang sulit dijelaskan.

“Ya.”

“Aku Ratih.”

Dunia seperti berhenti. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia tidak terlihat takut. Tidak pula marah. Hanya tenang, seperti seseorang yang telah memutuskan untuk membakar masa lalunya.

Kami duduk di ruang tamu kecil, berhadapan dengan segelas air putih di antara kami. Ratih menatapku, lalu tersenyum. Tapi senyum itu tidak nyaman. Ada luka yang belum mengering di balik tatapannya.

 “Terima kasih sudah mengangkat kisahku. Tapi, Mas Raga… tidak semua yang terlihat benar itu adalah kebenaran.”

Aku mengerutkan dahi. “Maksudmu?”

Ratih merogohkan tas kecilnya dan meletakkan sebuah flashdisk di atas meja.

“Kalau Mas buka ini, Mas akan tahu… bukan aku yang menulis surat-surat itu.”

Aku membuka isinya ada satu rekaman video. Terlihat Ratih sedang duduk di kursi plastik, mengenakan pakaian lusuh, menangis di hadapan seorang pria tua yang wajahnya tak tampak tapi suaranya keras dan dingin di balik kamera.

“Saya tidak menulis surat itu. Saya disuruh membaca ulang tulisan orang lain. Kalau saya tidak menurut, mereka bilang akan mengungkap masa lalu saya…”

Layar berganti. Tampak draf surat pengaduan itu, ditandai dan dicoret dengan tinta merah. Beberapa bagian terlihat disengaja untuk menyentuh emosi publik. Di sisi dokumen, tertera logo organisasi. Aku mengenalnya seperti pernah kuliput saat masih jadi jurnalis. Mereka tidak asing, tapi metode mereka lebih licin dari yang kupikir. Ratih kembali bicara dalam rekaman terdengar,

“Awalnya mereka janji akan membantu saya bebas dari trauma. Tapi setelah saya tandatangani satu surat, mereka mulai mengatur hidup saya. Bahkan mengubah cerita saya.”

Aku menyandarkan tubuhku ke kursi. Dunia yang tadinya tampak begitu jelas, kini kembali kabur.

Ratih bangkit dari duduknya. Ia mengambil jaketnya, lalu berkata “Aku juga korban. Tapi bukan dari orang yang kalian pikir. Aku korban dari orang-orang yang mengatasnamakan kebenaran.”

Ia berjalan pergi, meninggalkan aroma yang samar dan langkah yang mantap. Aku tidak menghentikannya. Karena aku tahu, dia tidak datang untuk menjelaskan, tapi untuk membebaskan dirinya dari beban cerita yang bukan miliknya.

Saat Ratih pergi, aku membuka email anonimku. Semuanya telah terlacak, akunku telah dibobol. Ada satu pesan masuk. Isinya terlihat,

“Terima kasih, Raga. Anda membantu kami tanpa perlu kami bayar. Anda arsitek propaganda kami yang paling bersih. Silakan kembali ke arsip. Jangan bersuara lagi.”

Tiba-tiba, semua yang kulakukan terasa sia-sia. Aku membantu mereka menjatuhkan lawan politik. Bukan demi keadilan, tapi demi menggantikan siapa yang duduk di atas takhta. Aku membangkitkan simpati untuk kisah yang direkayasa, mengaduk emosi publik demi narasi palsu yang dikarang di ruang – ruang rapat yang tidak pernah kulihat. Aku hanyalah tinta di pena orang lain, yang setelah dipakai, dilupakan.

Dan kini, tak ada yang mempercayai Ratih lagi. Ia dijuluki pembohong, pengkhianat agenda perempuan, bahkan boneka politik. Wajahnya berubah dari simbol keberanian menjadi ikon kebohongan publik. Dunia menyumpahinya, tanpa tahu bahwa ia bahkan tidak pernah menulis satu kata pun dari kisah itu. Ia hanya membaca naskah yang sudah ditentukan. Suaranya digunakan, lalu dibungkam. Ia menjadi korban dua kali terhadap kekuasaan, dan mereka yang mengklaim membela kebenaran.

Aku kembali ke kantor wilayah baruku bukan Meja 17 lagi. Di sini, aku hanya duduk di pojok ruang pengarsipan yang lebih sempit, lebih dingin, dan jauh lebih asing. Tidak ada jendela, hanya tembok beton dan cahaya neon yang redup.

Tapi aku membawa Meja 17 bersamaku. Dalam ingatan, dalam diamku, dalam setiap map yang kubuka dengan hati-hati. Di dalam laci meja ini, kutempelkan selembar kertas kecil tulisan tangan yang sudah mulai pudar, “Kebenaran tidak akan pernah menang, kalau yang menyebarkannya juga pembohong.”

Tulisan itu menjadi satu-satunya hal yang membuatku tetap waras. Aku membacanya sebelum menyeduh kopi, sebelum membuka folder-folder berdebu dari masa lalu. Sebuah pengingat bahwa kadang, diam jauh lebih jujur daripada suara yang dikendalikan tangan tak terlihat.

Dan aku akhirnya mengerti, bahwa kadang, membela kebenaran juga bisa jadi cara paling halus untuk menyebar kebohongan.

Seminggu kemudian, sebuah amplop cokelat muncul di meja baruku di kantor cabang. Tidak ada nama, hanya tulisan tangan samar “Untuk yang pernah bicara.”

Isinya adalah satu lembar foto lama. Foto Ratih, berusia sekitar 17 tahun, duduk bersama dua pria yang wajahnya kabur, tapi satu dari mereka mengenakan cincin khas milik tokoh yang kini sudah resmi menjadi wakil presiden. Foto itu pudar, seperti disengaja agar sulit dibaca, tapi cukup jelas untuk membuat jantungku berdegup.

Ada aroma samar dari kertasnya campuran debu, kertas tua, dan sesuatu yang hampir seperti parfum murah. Seolah foto ini telah berpindah dari banyak tangan, melintasi waktu dan ketakutan. Di belakang foto, tertulis dengan tulisan tangan miring,

“Bahkan kebohongan pun bisa lahir dari kebenaran yang terlalu lama dibungkam.”

Aku menatap foto itu lama. Mungkin terlalu lama. Tanganku bergetar, bukan karena takut, tapi karena sadar bahwa ini bukan hanya fragmen masa lalu. Ini adalah jejak, potongan puzzle yang belum rampung, bukti bahwa cerita ini belum berakhir. Mungkin tak akan pernah.

Tidak ada petunjuk siapa yang mengirim. Tidak ada cap pos, tidak ada sidik jari. Tapi aku tahu, seseorang masih memperhatikanku. Seseorang ingin aku terus mencari. Tapi kali ini, aku tidak akan melaporkannya. Aku hanya menyimpannya, menyelipkannya ke balik map kosong yang kuberi label ‘Sunyi’.

Karena barangkali, di tengah jaringan kebohongan dan manipulasi ini, masih ada serpihan kenyataan yang menunggu ditemukan. Masih ada kebenaran yang tertinggal di antara dokumen yang dibakar, di antara kata-kata yang dipelintir, di antara luka yang dibungkam.

Dan mungkin, suatu hari, aku akan menulis ulang semuanya. Bukan untuk membalas, bukan untuk membersihkan nama siapa pun. Tapi agar sejarah tahu bahwa pernah ada yang mencoba, meski gagal. Tapi untuk sekarang, aku hanya kembali duduk diam. Menatap meja, menatap amplop, menatap kosong.

Menunggu surat berikutnya.

Bagikan:

Penulis →

Sofia Cynthia

Kelahiran Tanjungbalai, Sumatera Utara. Penulis pemula yang tengah merintis perjalanan di dunia kepenulisan. Melalui menulis cerpen dan puisi, ia berharap dapat mengembangkan kemampuannya dalam menulis.

2 Responses

  1. Menggantung ceritanya
    Ditunggu cerita selanjutnya
    Aku harap ini bersambung bukan tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *