SUDAH sejam lepas Ashar. Sinar matahari tak lagi menyengat di luar kedai. Di jalan, di Dusun Padanglaweh, nampak tiga orang tukang bangunan beriringan dengan sepeda motor pulang dari bekerja; beberapa perempuan pulang dari sawah berjalan kaki memakai tudung, dan anak-anak yang pulang mengaji di masjid bernyanyi lagu kasidah . Hembusan angin sore yang sepoi membawa kesejukan di kedai itu. Dan, Iqbal merasa diri begitu bangga karena duduk semeja dengan seorang kawan yang sekarang jadi wartawan di sebuah media online bonafide di Jakarta.
Mereka duduk berhadap-hadapan. Selain sebungkus rokok dan korek gas, di meja mereka juga ada dua gelas kopi hitam yang Iqbal pesan ketika baru tiba di kedai tadi.
“Kau tidak merokok dari tadi,” kata Rido sembari mengangsurkan bungkus rokoknya dan korek gas ke hadapan Iqbal.
“Aku merokok. Tapi tak lebih empat batang dalam sehari-semalam,” kata Iqbal.
“Penyair. Selama yang kutahu, jarang tidak merokok.”
Iqbal lantas menyambar bungkus rokok, mencabutnya sebatang, dan memantik korek gas. Ia hembuskan asap rokok pelan ke udara.
“Hanya kau yang bisa kupercaya, baik dulu maupun sekarang,” kata Iqbal. “Di mana mereka tahu kalau aku patah hati dengan Nada kalau bukan Nere sendiri yang menyebarkan gosip. Aku tidak patah hati. Aku cuma mengelak. Lagi pula, Nere juga mengatakan pada kawan-kawan kita di kampus kalau aku begitu tergila-gila pada Nada. ‘Talak jatuh sayang tiba’ kalau pepatah kampungku mengatakannya.”
“Soal itu aku pernah dengar juga. Tapi aku nggak percaya sebaran gosib murahan seperti itu,” kata Rido. Ia sesap kopinya.
Terbayang di kepala Iqbal selama menjalani hubungan dengan Nada. Ia juga menjalani hubungan sembunyi-sembunyi dengan Lara. Kalau tidak sudah punya cowok, mungkin Iqbal sudah dengan Lara. Ia menyukai Lara, bahkan mencintainya. Tapi tidak untuk Nada. Ia hanya kasihan saja jika menolak cinta perempuan itu. Hubungannya dengan perempuan itu lebih karena rasa simpati saja. Lagi pula, betapa kakunya pacaran mereka–jalan bareng selalu berjarak dan makan bareng dikantin kalau tidak Nada yang memaksa Iqbal tak mau.
“Kata Nere kau terus-menerus menyebut nama Nada di kosannya. Nggak curhat saja, tidur-tiduran di kosannya kau menyebut nama Nada seperti menggigau.”
“Itu tidak benar. Benar aku menyebut nama Nada, sedikit curhat, tapi itu untuk mengalihkan perhatian Nere saja. Supaya ia tidak tahu, sebenarnya hatiku menyebut nama Lara. Nere pernah menyukai Lara dan cintanya ditolak. Andai dia tahu aku juga menyukai Lara. Pasti ia naik pitam,” kata Iqbal.
Ia layangkan pandang ke luar kedai. Nampak burung-burung bermain di dahan-dahan pohon mangga di rumah depan kedai. Angin masih berhembus sepoi dan Iqbal merasakan ada yang berkeping di hatinya jika ingatatannya berpaling pada Nere, seorang kawannya dulu–mereka sering mengerjakan tugas bareng dan sering duduk-duduk dan mengobrol seru di warung kopi malam hari jelang mata mengantuk.
“Aku tahu Nere juga menyukai Nada. ‘Kalau Nada nggak lagi sama lu, biar buat gua aja,’ katanya. Bagaimana aku tak menyebut nama Nada. Karena kutahu Nere sudah punya dua pacar. Kalau ia mendapatkan Nada, berarti Nada jadi yang ketiga. Seenggaknya, dengan menyebut Nada dan sedikit curhat, ia jadi segan padaku. Aku menolong Nada jadinya malam itu. Nere, setahuku lelaki sok tampan. Dasar buaya darat” lanjut Iqbal.
Giginya gemeretak. Mengingat malam itu ia di kosan Nere, Iqbal begitu geram. Ia hanya sedikit curhat. Karena Nada di kampus minta kejelasan, seperti apa pacaran mereka sebenarnya. Kata Nada, pacaran mereka hanya main-main saja. Tidak ada bukti cintanya. Besoknya sudah tersiar gosip di kampus kalau pikiran Iqbal siang dan malam hanya Nada saja. Nere yang menyebarkannya.
Hari-hari berikutnya Nere juga mengatakan kepada kawan-kawan kampus, kalau Iqbal sering pergi ke Bandung. Mengobati luka hatinya karena putus dengan Nada. Duduk di kafe-kafe. Pergi dengan beberapa perempuan kampus yang kesepian. Bersenang-senang hingga menghabiskan uang SPP dan uang bulanannya.
“Sudahlah,” kata Rido. Tangannya meraih sebatang rokok, membakarnya, dan mengisapnya agak kencang. “Semua itu sudah lama berlalu. Sudah 2,5 tahun yang lalu.”
“Iya… aku sudah melupakannya. Bahkan, aku juga sudah melupakan semua kisah manisku dengan Lara. Kalau bukan karena takut dibilang lelaki ganjen, aku sudah jadian dengan Lara. Aku tidak mau merebut pacar orang. Lara juga tidak mencintai Ivan. Hanya status saja,” kata Iqbal. “Tapi Nere yang menusukku dari belakang, menyebarkan kabar murahan kalau sesungguhnya aku hanya lelaki yang hoki saja dapat Nada dan berusaha menguras uangnya, merusak hidup Nada, sakitnya masih terasa hingga kini.”
“Terus kau pun menghilang secara tiba-tiba dari kampus. Kata teman-teman, kau kehabisan bekal dan pulang kampung untuk menjual tanah.”
Di jalan, sekali-kali terdengar suara oto atau onda. Selain angin sore sepoi, atap kedai juga terbuat dari daun rumbia, semakin membuat kedai itu sejuk. Membuat nyaman dan betah. Nampak sejauh mata memandang, di samping kedai, pohon-pohon kelapa tumbuh lurus ke langit berbaris-baris.
Peristiwa pulang kampung itu begitu berbekas di benak Iqbal. Ia cuti dari kampus. Meminta bantuan pada saudara-saudara ibunya di Jakarta, tidak ada seorang pun dari mereka yang peduli terhadap kelanjutan kuliahnya. Ia putuskan pulang kampung. Sesampai di kampung ia katakan pada ayahnya. Ia kehabisan bekal kuliah. Uang terus-menerus kurang setiap bulan. Ia bujuk ayahnya menjual tanah demi melanjutkan cita-citanya jadi sarjana. Ayahnya menyanggupi permintaannya.
Namun, rupanya ayahnya yang anak tertua dalam keluarga dihalangi adik-adik tirinya (adik seibu tapi tidak seayah).
Adik-adik ayah sudah dua kali menjual tanah. Dan, ayah tidak pernah dapat uang sepersen pun kecuali hanya menandatangi saja. Giliran ayah yang ingin menjual tanah yang hanya sebidang (tak luas) adik-adiknya mencegat ayah. Mengatakan pada ayah, tidak ada hak anak Pakia (ayah dari Ayah) atas tanah di keluarga mereka.
Ayah yang hanya seorang petani lada dengan hasil tak seberapa; dan kredit pakaian ibunya yang tak lagi laku, membuat Iqbal memutuskan tidak kembali ke Jawa. Ia bertahan di kampung.
Iqbal termenung. Berpaling angannya ke masa lampau, ke kampus. Betapa memesona Lara. Dengan wajah alami dan penampilan kasual, perempuan itu bak dewi di matanya. Ia menyukai Lara dari semenjak semester IV. Iqbal terlambat, Lara sudah jadian dengan Ivan. Lantas, hubungan mereka berjalan sembunyi-sembunyi. Kalau lagi duduk berdua di kedai luar kampus, apa pun obrolannya, mereka selalu bisa menyenangkan dan menyemangati; dan tak jarang mereka bisa tertawa bersama di sela-sela obrolan. Lara sering ke kosan Iqbal, bercengkrama, berdiskusi sedikit.
Tak seorang pun di kampus tahu, hubungan spesial Iqbal dan Lara, kecuali Rido.
“Ngomong-ngomong, kapan nih menerbitkan buku. Puisi-puisimu sudah lumayan banyak tersiar di media,” kata Rido.
Menerbitkan buku? Iqbal berkata kepada diri sendiri. Buku puisi yang tak laku di pasaran, tentu itulah jawabannya. Ia tidak bisa menceritan kepada Rido, bagaimana susahnya ia untuk jadi penyair. Menulis berpuluh-puluh puisi setiap malam. Hingga mungkin ratusan puisi dalam seminggu. Hasilnya beberapa saja yang dimuat media, tak rutin pula setiap minggu–kadang sekali sebulan pun sudah syukur.
Untungnya kawan kakaknya mengajaknya bekerja di Toko, sebuah toko elektronik dan elektrik di Nagari (Desa) Air Haji. Dengan gaji Rp 2,5 juta per bulan di luar makan siang, cukuplah memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan, ia bisa bantu membiyai kebutuhan sekolah adik perempuannya di SMA.
“Baru tiba di kampung, kepada seorang kawan aku cerita tentang pengalamanku di perantauan. Aku ceritakan semuanya secara mendetail. Tapi apa, ia membocorkan ceritaku ke orang-orang. Memanipulasinya. Sehingga, orang-orang kampung menganggapku sudah terjebak berpegaulan bebas di Bandung, maka jadi tidak tamat kuliahnya. Suka main perempuan juga, katanya,” kata Iqbal dengan curhat selingan.
Sebenarnya ia juga ingin katakan pada Rido, bagaimana sulitnya ia hidup di kampung. Nyaris frustasi. Sebelum ia bekerja di toko. Belanja sehari-hari yang bergantung pada orang tua dan honor puisi yang tak seberapa. Berkawan dengan para pengangguran dan tidak ada obrolan yang bersifat intelektual di kampung sama sekali.
Memang Ridolah satu-satunya kawannya dulu, sewakti di kuliah, yang mau mendengarkannya. Pengertian. Ia juga sering pinjam uang Rido bila uangnya habis menjelang kiriman dari kampung tiba.
“Belum ada rencanaku menerbitkan buku puisi. Untuk sementara biarkanlah puisiku terserak di media dan kuposting di medsos. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Lara kini,” kata Iqbal.
“Ia sudah menikah dengan rekan kerjanya di perusahaan asuransi. Di Jakarta.”
Iqbal mengusap dada. Ada sedikit sesak di sana. Bagaimana pun, titik cinta itu masih ada di hatinya. Sekarang jelaslah, terang-benderang, Lara sudah menikah.
“Kau nggak punya medsos. Nggak ada kontak yang bisa dihubungi. Aku nggak tahu keberadaanmu di mana. Kalau di kampung, sebenarnya sudah lama aku ingin datang ke kampungmu. Untungnya beberapa bulan yang lalu kau bikin akun medsos. Kita pun berteman, dm-an. Bertukar nomor WA, dan chat. Di medsos, ada postingan puisi-puisimu yang pernah dimuat di media, aku baca seluruhnya. Bahkan berulang-ulang,” kata Rido. Ia lantas memandang pemilik kedai, seorang laki-laki paruh baya yang sepertinya sudah banyak pengalaman hidup. Nampak lelaki itu duduk santai sembari memandang sungai di belakang kedai yang arusnya deru mengalir.
*
Di jalan nampak anak-anak sekolah berangkat dengan mobil carry atau odong-odong. Pns atau belum pns berseragam mengendarai sepeda motor ke tempat kerja. Suara burung-burung bernyanyi di pohon-pohon. Udara pagi begitu agak dingin. Iqbal dan Rido duduk di teras rumah Iqbal. Mereka berteman dua gelas teh, pisang goreng, dan rokok.
Sudah dua hari dua malam Rido di rumah Iqbal. Rido ada keperluan di Padang. Media tempatnya bekerja mengadakan pelatihan jurnalistik di sebuah kampus swasta di Padang. Karena merasa begitu kangen dan ber-”dosa” rasanya kalau tidak ke kampung Iqbal, ia mendatangi sahabatnya itu.
“Aku cuma bercanda sewaktu bicara di kedai,” kata Rido.
“Maksudmu?”
“Nggak lama setelah kau pulang kampung, Lara dan Ivan putus. Waktu itu Lara meneleponku, menanyakan keberadaanmu. Apakah masih di Jawa atau di mana. ‘Kalau di Jawa, di mana tempat tinggalnya dan kerjanya,’ katanya. Aku tidak tahu lagi informasi tentang kau. Kukatakan saja, mungkin di kampung. Kata Lara, ’Kalau di kampung, kembali nggak Iqbal ke Jawa.’ Aku jawab, tidak tahu, semuanya misterius.”
Iqbal menarik napas panjang. Ia ambil sebatang rokok dan menyalakannya. Begitu rumit jadinya. Andai dia bertahan di Jawa dulu, tentu tidak akan seperti ini jadinya. Ia dan Lara yang terpisah jarak sedemikian jauh.
“Kupikir tidak ada yang terlambat, Iqbal,” kata Rido sambil menepuk pundak kawan di sampingnya itu.
Iqbal mengambil dan memakan pisang goreng. Rido mengikutinya. Iqbal pandang wajah kawannya itu. Nampak sejahtera dan tidak ada beban pikiran.
“Mediaku lagi butuh nih. Untuk wartawan di Padang. Beritanya seputar budaya, kearifan lokal, kuliner, dan pariwisata. Kau masih bisa kan menulis feature, beritanya dalam bentuk feature. Kau juga bisa menulis berita langsung. Tentang kebakaran, bencana alama, kebijakan publik, korupsi pejabat, atau tentang kecelakaan. Bagaimana?” kata Rido sembari mengambil rokok sebatang dan menyalakannya.
Iqbal tercenung sesaat. Betapa tinggi semangatnya dulu untuk bisa jadi sarjana. Ia mengerjakan semua tugas kuliah jurnalistik yang bersifat praktek dengan sepenuh hati. Namun, itu kan sudah lama berlalu. Ia tak pernah lagi bersinggungan dengan jurnalistik. Apalagi menulis berita, semenjak sudah tiba di kampung.
Iqbal berpikir sejenak. Kalau ia terima tawaran sebagai wartawan kontributor untuk Kota Padang, tentu ia bisa membangun karirnya. Dengan terus menulis berita, malamnya ia juga masih bisa menulis puisi. Sembari mengambil kuliah S1 di UT (Universitas Terbuka), ia nantinya bisa pindah ke Jakarta. Menjadi wartawan tetap di sana. Dan, ia akan bertemu dengan Lara–yang kata Rido belum juga punya pacar.
Tiba-tiba timbul di hatinya rasa kangen karena dua hari ia tidak kerja di toko. Kepada bosnya, ia katakan ada kawan yang datang dari jauh. Dari Jakarta.
Ia tidak bisa begitu saja meninggalkan tokonya dan pindah ke Padang. Bos toko begitu percaya padanya. Ia begitu dihargai dan betah kerja di sana. Hari-harinya senang sekali melayani pembeli. Hatinya berada di antara dua pilihan, ke Padang meniti karir jurnalistik atau tetap di kampung menjadi karyawan toko sembari terus menulis puisi dan melupakan Lara selamanya.
“Bagaimana?” kata Rido.
“Tidak bisa aku jawab sekarang,” kata Iqbal. “Setidaknya beri aku waktu tiga hari.”
Siang nanti Rido akan kembali ke Jakarta. Mobil travel sudah Iqbal telepon tadi malam, untuk mengantarkan Rido ke Bandara Internasional Minangkabau. Ia akan berpisah dengan sahabatnya itu.
Sesaat hatinya seperti tali yang begitu tipis, sekali renggut putus. Matanya berkaca-kaca. Ia pandang jalan di depan rumahnya, sudah mulai jarang kendaraan lewat. Entah kapan lagi ia bertemu Rido.
Berkelebat Lara di pikiran Iqbal. Rido sebutkan kalau perempuan itu masih menunggu seseorang yang tepat, jadi calon suaminya. Seseorang dari masa lalu yang terus-menerus dikenangnya. Seseorang yang tidak ada status dengannya tapi ia merasa tenteram dan nyaman berada di sisinya. Seorang dari dusun, dari tempat yang jauh. Seseorang yang nyambung dan kalau ngobrol menghabiskan waktu berjam-jam sembari tertawa. {*}