Yang Mekar di Tubuhku
aku bersemi dari benih ayah ibuku
tujuh puluh tujuh kali dipertanya ruh
jawabku selalu: T e n t u
pada jagat yang mengerak
hadap hidupku kian berarak
kiri mataku petir berkerikil
tapak-tapak kaki menuai gigil
hawa apik apiku dititip manja
murka bengisku terpenjara
sangkaku hidup itu
ambangan padma di permukaan telaga
sial! hidup itu
potongan-potongan daging dalam belanga
sangkaku (lagi) hidup itu
seka bening embun membasuh bumi
sial! paling nyata hidup itu
geletik nyala api memakan habis jerami
dan
nahasnya ia kadung kunikmati
di sekujur darahku
di dahan tulang rusukku
di gelombang sukmaku
di dasar telapakku
mekar megah (di tubuhku)
memarku redam merapat di ujung malam
sunyiku terbujur kematianku pun undur
arakku padam menanakku dalam kelam
nyawa nyalanya teduh
diam-diam
ada yang mekar di tubuhku
.
Penyair Penyiar Sepi
angin malam tak lagi genit
samar-samar kelu menggigit
dulu gemas membisikkan rahasia
pada surai kekasihnya
bertelanjang kaki gadis menjuntai lara
berpesta pikiran riuh
rona mata bak mawar merana
memerdu lagu seraya mengaduh
perempuan menikahi sunyi
waktu kelam mekar langit puisi
bermaksud menanggalkan lirih
dikekang menari dalam imaji
kau perempuan, katanya
konon penjarakan cinta demi cita
urung berucap olehnya bibir terjajah
mengurung diri pertanda jenuh bersua
cukuplah pecut merajalela (haruskah ia cakap)
lantunan mengharubirukan si gagap
bersuara tak mahir, lenyap pun ia dekap
mabuk karena khamar atau pening karena arak mekar
ocehan bak gemuruh
nyaris terpikat keruh
sekalipun di dasar ceruk
binar matanya kian mengutuk
udara malam menjerat ia begitu keras
leka ia meraung mereka makin ganas
ceracau menghardik berulang kali
tatkala permohonan meninggi
“semoga di malam tidak tenang,
selalu kutemukan tamak bersitegang;
antara hidup dan mati di peraduan,
senang dan sedih sikut-sikutan.
semoga di setiap detik jantungku,
ada detak hidup yang tak berhenti
hanya karena malam selalu kelabu”
denting penat mengundang keluh kesah
berangsur reda kembali resah
hidupnya hebat walau banyak kelebat
mengulum asa yang sudah lama dikubur gelora
terlahir dari rimbun air mata
menyesar pelita bersengketa
lebur tak tersisa dan bila malam tiba
aku menjelma lilin yang menyala
belenggu marak di mana-mana
pada guratan aku berkelana
kata memilih diam di dalam sepi dada
kepada detak-detak hiduplah!
.
Sembilu Berlabuh
gelut isak semerbak kabut redum kembali bertaut
kala surya malam bermesra pada temaram
senandika guratkan angan kian berlebam
sontak sembilu merajai onar tak kunjung redam
duhai kelam
puan berupawan ini tersengut rusuh
air matanya bak mahligai berambai-ambai
senandungnya ruah serapah begitu lihai
seribu bala kemari menyerbu
“wahai kau, senang bersamuh
kami bertandang buas
wajar jika pilu kian mengeras
seduhlah hingga luruh”
desak dilimpung sesak
deru risau terbelalak
linglung berkepayang
liku menuntutnya berpulang
di hadapan tungku yang membara
rampungkan pelbagai roman sengsara
sejoli insan menyitir bait sajak
“manusia harus hidup
dari luka
dari petaka
dari kisah-kasih berpuing lebur
dari ingar-bingar beralur
manakala nadi masih berdegup
tangan masih bertangkup”
tekuk lutut marak di sana-sini
asal mereka dikasihi
asal ilusi berakhir permai
asal jalan buntu tak menyaingi
kabul yang kutunggu
kalut yang kutemu
ah tak berani berkhayal
“betapa sengit pun betapa legit
mimpi adalah minuman keras
masa bodoh raut memelas
keburu babas
cita meriap sejak belia
namun ia kepunyaan maha segala”
curam kan berlabuh tenteram
dikara kan terbenam
ketika malam bergegas
kata-katamu bergerak gemas
kalimatmu menjadi ruh
mendayu-dayu melayang jauh
mendarahlah engkau, mendarah
maka engkau akan berseri-seri ribuan kali!