AKU merapatkan kuping ke dinding kamar. Kedua orang tua itu sedang beradu mulut.
“Apa kau tak malu dengannya? Ia sudah besar,” kata A’ma dengan suara tertahan.
“Aku hanya bermain sedikit,” balas A’pa pelan dengan suara yang juga tertahan.
“Orang-orang membicarakanmu!”
“Biarkan mereka bicara. Itu mulut mereka. Kita tidak melakukan kesalahan, kan?”
Suara mereka terhenti sejenak.
“Berhentilah bermain. Kalau dia mendengar ejekan orang-orang, ia akan malu. Atau…” A’ma menghentikan perkataannya.
“Atau apa?”
“Atau aku akan membawanya pulang kampung,” kata A’ma. Suara mereka terdiam. Aku terus mendekatkan kepala ke dinding. Aku terkejut saat A’pa membuka pintu dan melihatku menguntit pembicaraan mereka. Ia berjalan menghampiriku. Ia lalu memegang tanganku dan membawaku keluar rumah.
“Ayo, kita jalan-jalan di luar,” kata A’pa memegang tanganku menyusuri jalan raya bebatuan menuju jalan depan permukiman kami yang ramai dan padat. Aku mengikutinya dengan tersenyum sendiri. Sepanjang jalan orang-orang memanggilnya Abu Nawas, sedang ia hanya melirikku sambil tersenyum.
Aku suka A’pa saat ia mengajakku jalan-jalan. Baik itu di dalam kota Dili maupun di distrik-distrik pegunungan. Bila aku libur sekolah, biasanya aku berlibur di tempat kerjanya. Ia seorang tukang profesional yang bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor milik keluarga Carrascalao yang berpengaruh di kota ini. Lelaki setengah tua ini telah bekerja membangun tanah Timor ini hingga pelosok-pelosoknya. Semuanya ia bangun. Mulai dari jalan raya, jembatan, fasilitas pemerintahan, hingga perumahan-perumahan.
Tidak ada pekerja yang berani bekerja di pelosok Timor. Di sana kehidupan masih tradisional dan banyak pemberontak Fretilin yang bergerilya di hutan. Banyak pekerja yang nekat ke sana pulang tinggal mayat karena dibantai oleh GPK.
Hanya A’pa yang berani ke sana. Ia telah bekerja di tanah ini sejak integrasi pertama Timor Timur ke Indonesia tahun 70-an. Sejak itu ia menjadi tukang profesional yang dipercaya bosnya. Ia menjadi ujung tombak pembangunan di tanah Timor matahari terbit ini. Hanya ia yang mampu ke sana untuk membuka jalan menghubungi pelosok-pelosok, hutan-hutan, dan membelah gunung-gunung. Hanya ia yang membangun jembatan untuk menghubungi daerah terisolasi. Hanya ia yang berani membangun sekolah-sekolah di pedalaman yang buta huruf. Hanya ialah yang membawa fasilitas pemerintahan hadir di tengah-tengah masyarakat di pedalaman Timor.
Siapa yang tidak kenal A’pa? Orang-orang sekampungku tahu bahwa lelaki setengah tua ini adalah seorang lelaki. Mereka yang biasa membawaku jalan-jalan keliling kota selalu menunjuk jalanan, jembatan, gedung-gedung, mereka mengatakan bahwa A’pa yang membangunnya.
Orang-orang pribumi sangat suka dengan A’pa. Mereka sangat menghormatinya. Banyak anak-anak pekerjanya yang merupakan para anggota Fretilin. Mereka bersenjata dan kasar. Namun, di depan A’pa mereka menunduk dan menganggapnya sebagai teman, orang tua, dan guru.
Itulah A’paku. Ia sangat sederhana dan simpel. Bila bersamanya aku tidak pernah merasa takut walaupun kami membuat perkemahan di pelosok-pelosok pegunungan sebagai tempat tinggal sementara untuk bekerja. Bersamanya aku tidak pernah merasa lapar. Bersamanya aku tidak pernah merasa ada masalah. Aku tidak pernah bersedih dan ia pun tetap tertawa. Aku tidak pernah melihat satu hal yang kurang darinya. Aku hanya sering melihat A’ma menegur atau memarahinya di dalam kamar. Biasanya mereka berbisik-bisik. Kebiasaan itu selalu mengundang rasa ingin tahuku. Saat mereka berbisik-bisik menahan suaranya, aku sering menguntit mereka dari balik tembok. Hari ini A’pa menangkap kebiasaanku ini. Tapi aku tahu ia tidak akan memarahiku. Ia mengajakku jalan-jalan dan yang paling kutunggu adalah ia mengajakku ke mas bakso di pinggir trotoar dan memesan untuk kami berdua.
“Apa kau suka jalan dengan A’pa?” kata lelaki tua itu sambil menyantap pentolan bakso. Aku mengangguk. “Kau tidak malu kan punya A’pa sepertiku?”
Aku menggeleng. Aku sebenarnya tidak serius menanggapinya. Aku lagi menikmati makanan favoritku ini.
“Kau tahu, orang-orang bercerita bahwa A’pa yang seorang tukang profesional, membangun gedung-gedung tinggi, rumah-rumah mewah, harus tinggal di atas lahan tak bersertifikat dan membangun sebuah gubuk reot untuk keluarganya. Kau dengar itu?”
Aku mengangguk membalas pertanyaannya. Aku sering mendengar keluarga membicarakan tentang hal ini saat mereka berkumpul dalam sebuah pesta.
“Kau tahu kenapa A’pa tidak mau membeli tanah dan membangun rumah mewah di sini?”
Aku menggeleng mendengar pertanyaannya. Aku masih terlena dengan nikmatnya pentolan dan kuah bakso.
“Bosku, Carrascalao, dia mengatakan bahwa janganlah membangun rumah di Dili. Dia menasihatiku untuk membangun rumah di kampung karena suatu saat nanti tanah Timor Timur ini akan merdeka,” kata A’pa dengan suara penuh keyakinan. Baru kali ini perkataannya menyentuh hatiku. Aku mengunyah makananku perlahan-lahan menghayati ucapannya.
“Kalau merdeka, kita akan ke mana?” kataku.
“Pulang. Pulang ke Alor. A’pa sudah membangun rumah besar di sana. Di sanalah kita akan tinggal,” katanya penuh keyakinan. Baru kali ini aku merasa tersentuh dengan ucapannya. Ada perasaan sedih yang diam-diam menyusup ke dalam hatiku. Namun, perasaan itu kemudian lenyap saat aku membantahnya dalam hati. Tuan Carrascalao itu pasti salah membaca masa depan. Mana mungkin negeri kecil ini bisa merdeka.
“Apa kau merasa malu kalau A’pamu ini bermain sulap?” kata A’pa menatapku.
“Tidak.”
“Coba ulangi bagaimana cara A’pa memperkenalkan diri?” katanya dengan raut menggodaku.
“Perkenalkan, nama saya kertas dibakar menjadi abu, abu dibakar menjadi Abubakar,” kataku sambil menahan tawa. Ia pun ikut tertawa. Lalu saya lanjutkan bertanya, “Tetapi, kenapa orang-orang memanggil A’pa Abu Nawas?” tanyaku lagi, penasaran.
“Karena A’pamu ini orang hebat seperti Abu Nawas,” jawabnya sambil mengangkat tangan dan menunjukkan kekuatan lengannya. “Kau tidak malu punya bapak seorang pesulap?”
Aku menggeleng jujur. Apa alasannya aku merasa malu. Justru aku merasa senang saat bersama A’pa.
“Apa saja yang kau dengar orang-orang bicarakan tentang A’pa di luar sana?” tanya A’pa.
“Banyak.”
“Sebutkan satu!”
“Mereka bercerita tentang bagaimana A’pa bermain sulap.”
“Coba ceritakan satu untuk A’pa!”
“A’pa pernah memotong rambut dengan telapak tangan,” kataku menatapnya.
“Iya, cerita itu benar. Itu adalah trik sulap yang A’pa praktikkan saat di Atambua. Salah seorang pekerja mau mengancam A’pa, jadi A’pa menakutinya dengan
main sulap. Kau tahu apa yang terjadi setelah itu? Ia datang dan bersujud di kaki dan meminta maaf. Ia mengira A’pa orang sakti,” kata lelaki setengah tua itu sambil tersenyum. Senyumannya sangat teduh dan sendu seperti wajah itu mengingat bayang-bayang hidup di depannya.
“Setiap kali A’pa berkunjung ke distrik pedalaman, A’pa selalu memperkenalkan diri dalam bermain sulap. Biasanya A’pa bermain sulap di lapangan yang luas
dan mengundang semua orang. Kepala desa, ketua suku, anggota Fretilin, dan masyarakat adat. Mereka semua berkumpul dan A’pa mulai beraksi,” kata A’pa dengan mata yang menerawang jauh. “Nama saya kertas dibakar jadi abu, abu dibakar menjadi Abubakar,” katanya seperti sedang berakting sulap di depanku.
“Setelah itu A’pa lalu bermain sulap.” Ia terdiam sejenak. Matanya kembali menerawang seperti mencoba mengingat apa yang pernah ia tampilkan di masyarakat.
“A’pa pernah memotong kepala orang. Menghilangkan diri. Menghilangkan benda-benda. Membuat tebak-tebakan, dan masih banyak sulap lainnya. Semua trik sulap itu membuat orang-orang tercengang. Orang-orang yang masih polos merasa bahwa apa yang mereka lihat itu suatu kenyataan, padahal itu hanya tipuan,” katanya sambil tersenyum dan menggeleng-geleng kepala. Aku hanya mendengarnya sambil menghabiskan makananku.
“Setiap kali setelah selesai bermain sulap, di mes kerja kadang kami dikunjungi orang-orang membawa binatang ternak untuk diberikan pada A’pa. Kadang mereka membawa sanak saudara mereka yang sakit untuk A’pa obati. Atau kadang bila mereka punya masalah, mereka datang ke A’pa untuk mencari solusi. Begitu pula para anggota Fretilin, mereka datang dan meminta A’pa untuk memberkahi mereka agar mereka bisa kebal peluru,” katanya dengan mata menerawang sambil tersenyum sendiri.
“Itu semua karena sulap. Di gunung, A’pa yang seorang tukang batu berubah menjadi seorang tabib pendoa, dukun, ketua suku, guru, hakim, dan entahlah anggapan apa yang diberikan warga untuk A’pa. Padahal itu semua hanya tipu-tipu,” katanya sambil tertawa. Melihatnya tertawa aku pun ikut tertawa.
“Itulah yang membuat orang-orang memanggil A’pa Abu Nawas,” katanya menatapku sambil tersenyum. “Apa kau malu punya A’pa sepertiku?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng kepala. “Aku sangat bangga dengan A’pa apa pun kata orang,” gumamku dalam hati.
Setelah selesai menghabiskan makanan kami, A’pa memesan satu bungkus bakso untuk A’ma di rumah. Dari permukiman padat di pinggir jalan yang banyak dihuni warga pendatang, kami pulang melewati jalanan berbatu menuju pedalaman permukiman yang merupakan daerah berawa dan dikelilingi hutan. Di sinilah aku, A’pa, dan A’ma tinggal di gubuk kecil yang terbuat dari dinding pelepah pohon tuak dan beratap ilalang. Kami tinggal berdekatan dengan warga pribumi yang juga tinggal di gubuk yang dikelilingi hutan sayuran dan hutan pisang. Bagi warga pribumi yang polos ini, mereka menganggap A’pa sebagai tabib, dukun, orang suci, ketua suku hingga tukang batu, namun bagi keluarga dan warga pendatang yang tinggal di permukiman padat di depan jalan umum, mereka memanggil A’pa, Abu Nawas. []