PADA SUATU PAGI yang indah, seorang lelaki yang sedang duduk bermalas-malasan di dapur, sontak melihat seekor kuda bertanduk emas melahap bunga-bunga mawar di kebun. Secepat kilat lelaki itu kembali ke kamar tidurnya yang berada di lantai atas. Ia lalu membangunkan istrinya yang lagi ngorok.

“Istriku, ada seekor kuda bertanduk di kebun,” katanya, “ia memakan bunga mawar kita.”

Dengan malas, istrinya membuka mata dan memandanginya.

“Kuda itu binatang yang cuma ada dalam dongeng.” Selesai berkata begitu ia pun membalikkan tubuhnya.

Lelaki itu kini berjalan mengendap-endap menuruni tangga dan memasuki kebun. Kuda itu masih di situ. Sekarang giliran bunga tulip yang dicomotnya.

“Hei, kuda, makan ini,” seru lelaki itu. Ia menyodorkan setangkai bunga lily kepadanya. Kuda itu memakannya lahap sekali. Dengan perasaan melambung, sebab ada seekor kuda bertanduk di kebunnya, lelaki itu kembali lagi ke kamar dan membangunkan kembali istrinya.

“Istriku, kuda itu juga suka memakan bunga lily,” katanya seraya membangunkan istrinya, “sungguh, ia memakan bunga lily.”

Istrinya dongkol bukan main. Ia bangun dan bersila di atas ranjang.

Dengan pandangan yang dingin ia menimpali suaminya, “Dasar goblok! Saya akan membawamu ke rumah sakit jiwa.”

Lelaki itu sebenarnya sangat benci dengan kata goblok dan rumah sakit jiwa, tapi kini harus diterimanya. Ia berpikir sejenak lalu berkata kepada istrinya, “Lihat saja nanti.”

Ia lalu ke luar dari kamar itu. Ia kembali lagi ke kebun belakang rumah untuk memastikan apakah kuda itu masih ada di situ. Tapi ternyata, sudah tidak ada lagi. Lelaki itu terduduk di antara bunga-bunga mawar dan tertidur di situ.

Sewaktu lelaki itu kembali ke kebun, istrinya ternyata beranjak pula dari tempat tidur dan secepatnya berpakaian. Sang istri sepertinya sangat gembira, terlihat dari bola matanya yang berbinar.

Selanjutnya ia menelpon polisi dan juga seorang psikiater. Ia beritahukan kepada mereka supaya segera datang dan membawa baju yang biasa dipakai untuk mengekang orang gila.

Begitu si polisi dan psikiater itu datang, mereka berdua dipersilahkan duduk di kursi. Keduanya memandangi wanita itu dengan penuh perhatian.

“Suamiku,” berkata wanita itu, “melihat seekor kuda pagi ini.” Polisi itu menatap psikiater dan psikiater itu menatap polisi.

“Katanya, ia memakan bunga lily.” Sama seperti tadi, psikiater menatap polisi dan polisi menatap psikiater. “Dia juga bilang, kuda itu bertanduk emas.”

Selesai berkata begitu, tiba-tiba, dengan kode yang diberikan oleh psikiater, polisi itu segera melompat ke arah wanita itu dan menangkapnya. Mereka sedikit kesulitan menundukkannya sebab ia memberontak, meski pada akhirnya ia takluk juga.

Sesaat wanita itu sudah tak berdaya dalam baju pengekang, suaminya pun telah kembali dari kebun.

“Tuan, apakah anda melihat seekor kuda bertanduk seperti kata istri anda?” polisi itu bertanya.

“Tentu saja tidak,” jawab lelaki itu, “Kuda bertanduk itu binatang yang cuma ada dalam dongeng.”

“Terima kasih. Hanya itu yang ingin kami ketahui,” sambung si psikiater. “Bawa wanita ini pergi. Maaf, Tuan, kami harus membawa istri anda sebab ia gila seperti seekor burung Jay.”

Mereka lalu membawa pergi wanita itu sambil memaki-maki dan meneriakinya. Selanjutnya, wanita itu disimpan dalam sebuah rumah sakit jiwa. Akhirnya, lelaki itu pun bahagia sepanjang hidupnya.*

====================

Judul asli cerpen ini, Unicorn in the Garden karya James E. Thurber. Diterjemahkan oleh Muhary Wahyu Nurba.