DI BAWAH matahari terik, anak itu berjalan pincang sambil meringis. Ia merasa nyeri pada telapak kaki kirinya yang luka dan kini meradang. Pandangannya agak mengabur karena air memenuhi kelopak matanya yang terasa panas. Sedikit lagi ia akan mencapai rumahnya. Tapi ia kemudian berhenti sejenak demi melihat seekor burung camar melayang sendirian di udara. Anak itu tersenyum menyaksikan gerakan terbang menukik yang dibuatnya.

Angin laut yang bertiup kencang dan tiba-tiba menyebabkan ia segera menghentikan tontonannya itu. Lalu ia berjalan lagi dan akhirnya sampai di ujung tangga rumahnya. Ia duduk pada anak tangga pertama, menunggu ibunya.

Laut begitu luas dan ia suka memandanginya. Tampak beberapa perahu mengapung jauh di permukaan. Para nelayan akan turun ke laut pada saat tengah malam sebab mereka tahu angin akan bertiup kencang menjelang subuh. Perahu-perahu kecil hanya akan mencari ikan di sekitar Pulau Bulaeng Ti’no, Pulau Pammoli’ Cinna atau Pulau Kacinnongang Je’ne. Pulau-pulau itu tak begitu jauh dari sini sehingga mereka sudah bisa kembali sewaktu matahari terbit. Bagi yang memiliki perahu lebih besar, tentu akan mencari tempat yang lebih jauh lagi dengan harapan mendapatkan ikan lebih banyak pula. Mereka baru akan kembali selepas dhuhur. Anak itu kini menantikan saat-saat bertemu dengan ayahnya. Di langit burung camar itu tak ada lagi.

Sebenarnya ia masih ingin melangkahkan kaki naik ke atas rumah, tapi rasa nyeri makin kuat ia rasakan, membuatnya hanya bisa duduk di situ. Ia menunggu sampai ibunya menghampirinya. Suhu badannya meningkat.

”Lukamu harus kubersihkan dulu,” kata ibunya sewaktu memasukkan kaki anaknya yang bengkak itu ke dalam baskom kecil yang telah diisi air hangat. Anak itu mengeluarkan suara desis dari mulutnya ketika ibunya mencelupkan kakinya ke dalam air.

”Sebentar lagi ayah pulang kan, Bu?” ia mencoba menahan rasa nyeri dengan bertanya. Ibunya tak segera menjawab. Ia tetap berkonsentrasi mengeluarkan pasir yang menempel pada telapak kaki anaknya itu sedikit demi sedikit. Ia terlihat hati-hati sekali mengorek pasir dengan menggunakan ujung kuku jari kelingking tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegangi kaki anaknya itu.

”Tengah hari begini biasanya ia sudah kembali,” jawab ibunya kemudian tanpa memperhatikan wajah anaknya. Ia terus berkonsentrasi mengeluarkan pasir yang mulai menyatu dengan bagian lukanya itu. Kemarin, ketika ia bermain bersama anak-anak nelayan lainnya di pinggir laut, tanpa sengaja ia menginjak pecahan kulit kerang yang tajam sehingga kakinya robek dan luka. Tapi ia sudah terbiasa dengan luka seperti itu makanya ia biarkan. Lagipula ia bukan anak yang suka mengeluh. Luka seperti itu tak ia pedulikan jika ia sedang asyik berlomba membuat istana pasir dengan teman-temannya itu.

”Semalam ayah berjanji menangkap Ikan Pari yang besar untukku,” kata anak itu menatapi ibunya. Ibunya tak memberi respon, lalu anak itu berkata lagi, ”Saya suka melihat sayapnya yang lebar.”

Anak itu membuka kedua telapak tangannya dan mengangkatnya melewati kepalanya. Ia lalu menyusunnya dan membayangkan ikan Pari besar itu membuat gerakan terbang menukik seperti yang dilakukan burung camar.

”Ya, ayahmu tentu akan memenuhi janjinya.”

”Tapi apa benar ayah bisa menangkap ikan sebesar itu sekarang?”

”Tentu bisa, sayang.” sahut ibunya, akhirnya menatap wajah anaknya. Anak itu tersenyum. Cahaya pada bola matanya berbinar-binar. Seberkas cahaya itu menembus masuk ke dalam hati sang ibu.

”Ya, kupikir ayah pasti bisa menangkap Ikan Pari untukku,” jawab anak itu bangga. Di dalam pikirannya, ayahnya akan kembali dengan seekor ikan besar bersayap lebar dalam gendongannya. Ia membayangkan ikan itu masih hidup sehingga ia bisa meletakkannya ke dalam air dan melihat sayapnya mengepak-ngepak. Tapi dalam pikirannya itu juga, ia menaruh khawatir. Bagaimana kalau ikan itu didapatkan ayahnya, dimana ia akan menyimpannya. Di sini tak ada kolam, sedangkan baskom milik ibunya itu hanya pas untuk kedua kakinya saja. Ia memandang ke laut yang begitu luas. Sesekali dicarinya camar itu.

Sang ibu terus berusaha membersihkan telapak kaki anaknya itu. Tanpa sengaja ia menyentuh bagian yang luka menyebabkan anak itu meringis. Ibunya berhenti sejenak, kemudian melanjutkannya lagi. Setelah selesai, ia membalut kakinya dan menggendongnya ke ranjang.

”Biarkan saja jendelanya terbuka,” kata anak itu kepada ibunya ketika hendak menutup jendela. Anak itu terus mengarahkan pandangannya ke laut. Ia ingin melihat perahu ayahnya datang. Tentu ia akan senang seandainya ayahnya kembali membawa ikan besar itu untuknya.

”Angin laut tak baik buatmu sekarang,” ucap ibunya dan segera menutup jendela. ”Istirahat yang cukup akan membuatmu lebih baik.”

Anak itu tak ingin bersilang pendapat dengan ibunya. Ia hanya ingin melihat laut, merasakan hembusan angin pada wajahnya, tapi sang ibu lebih menginginkan dirinya cepat sembuh. Lagipula ia bukan anak yang suka membantah.

”Sebaiknya kau cepat meminum ini, atau sebentar lagi kau akan mengigau,” perintah ibunya. Anak itu bangkit, membuka mulutnya dan menelan dengan cepat sirup penurun panas. Hanya itu obat yang bisa diminumnya sekarang. Tak ada persediaan obat yang lain. Ibunya menyerahkan segelas air putih sambil berpikir untuk membawanya ke mantri desa malam ini juga jika panasnya belum juga turun.

Anak itu merebahkan tubuhnya kembali. Ibunya menaikkan selimut sampai sebatas dadanya. Lalu diperasnya air dari kain-kain perca yang hendak digunakannya sebagai alat kompres. Kain kompres itu ia letakkan pada dahinya juga pada kedua ketiaknya. Sekilas ia melihat tatapan mata anak itu menjadi aneh.

”Ayah pasti bisa menangkap Ikan Pari itu kan, Bu?”

”Ya. Tapi sekarang berusahalah tidur.”

Anak itu setuju dengan anjuran ibunya tetapi sepertinya masih ada sesuatu yang dipikirkannya. Kalau ikan itu datang bagaimana ia akan memeliharanya. Tidak ada satu pun wadah yang bisa menampung ikan sebesar itu. Kini ia memutuskan untuk mencari nama yang cocok buatnya.

”Ibu, aku ingin memberi nama yang lain buat ikan itu,” kata anak itu lagi.

”Ibu rasa sebaiknya kau memejamkan mata, nak,” balas ibunya. Dengan penuh kasih sayang, ia membelai-belai rambut anaknya itu.

”Tapi aku ingin memikirkannya sekarang.”

Ibunya menarik napas, seolah tak setuju dengan apa yang ada dalam pikiran anaknya itu. Tapi dikecupnya juga pipi anak itu lalu meminta izin untuk meninggalkannya sebentar ke dapur.

Sang ibu mengira anak itu sudah memejamkan matanya ketika ia kembali. Tetapi dilihatnya ia terus memandangi langit-langit rumah. Matanya berkedip-kedip. Rupanya ia masih terus mencari nama yang bagus buat ikannya itu tapi belum juga ditemukannya. Lalu dilihatnya ikan pari itu melayang-layang di langit. Ia memegangi kedua sayapnya dan mengikuti gerakan terbang menukik seperti yang dilakukan camar. Ada sedikit pancaran kebahagiaan pada kedua pipinya. Ibunya lalu duduk di tempatnya semula, di samping kepala anaknya. Ia merasa iba melihatnya. Angin laut bertiup terlalu kuat sehingga hembusannya masih ia rasakan lewat celah-celah dinding.

Mungkin karena obat itu mulai bekerja dalam tubuhnya, dalam keadaan lemah anak itu berkata kepada ibunya, ”Ibu, kalau ayah datang memberiku ikan besar itu, akan kupanggil ia I Mumba.”

I Mumba adalah legenda yang hampir terhapus dari ingatan para nelayan. Hanya beberapa orang saja yang masih bisa mengingat kisah itu dengan baik. Beruntung kakeknya termasuk orang yang masih bisa menceritakannya. Dalam kisah itu, I Mumba begitu perkasa sehingga para perompak laut takut padanya. Anak itu tak pernah bosan dan meminta kakeknya mengulang-ulang cerita itu. Ketika kakeknya meninggal setahun yang lalu, tidak pernah lagi ada yang menceritakannya.

Tapi kini ia menemukan jalan untuk menghidupkan I Mumba. Tokoh kesayangannya itu ia jelmakan sebagai ikan pari dalam khayalannya. Ia ingin sekali membelai-belai punggungnya dan menyaksikan sayapnya mengepak-ngepak perlahan. Ia suka melihat riak-riak kecil yang timbul karena gerakan sayapnya itu.

Anak itu memiringkan tubuhnya, melingkarkan lengannya ke paha ibunya. Ibunya bisa merasakan hangat tubuhnya. Ia begitu cemas.

”Maukah ibu bernyanyi untukku?” pinta anak itu.

”Baiklah, tapi berjanjilah untuk tidur.”

Anak itu tahu sebentar lagi ibunya akan menyanyikan lagu kesukaannya. Tapi ia terlalu lemah sekarang untuk mendengarkannya. Ia mulai memejamkan matanya.

O, kondobuleng
Attujuko mae ri anakku
Nanucini’ sumanga’na*)

Sebelum ibunya selesai dengan lagunya, anak itu telah tertidur. Ia telah jauh berlayar ke dalam mimpinya. Bersama I Mumba, ikan sekaligus tokoh kesayangannya itu, ia terbang menjelajahi lautan yang menghampar biru dan sesekali melakukan gerakan terbang menukik seperti yang dilakukan camar. Sang ibu membelai-belai rambut anaknya dan masih mencoba melanjutkan lagunya.

O, bantinotto’
Allemi totto garrinna
Ribbakkammi cilaka ri tallasa’na **)

Saat-saat begini ia membayangkan suaminya di tengah laut mencari ikan untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Angin laut bertiup dan mengusap wajahnya. Laut begitu luas dan ia suka berlama-lama memandanginya.[]

Keterangan:
*) O, bangau putih/terbanglah kemari, ke anakku/lihat semangat hidupnya
**) O, burung pelatuk/patuklah sakitnya/terbangkan celaka dalam hidupnya

=====================
Muhary Wahyu Nurba, lahir di Makassar, 5 Juni. Menulis cerpen, puisi, dan artikel sastra. Anggota Masyarakat Sastra Tamalanrea, Makassar. Cerpen Ikan Besar adalah versi bahasa Indonesia dari Big Fish yang pernah dimuat di harian The Jakarta Post.