Berlin, 14 Oktober 2019 pukul 2 siang.

Suasana musim gugur Jerman yang menyenangkan dengan temperatur ideal membuat pemandangan Kurfürstendamm begitu semarak. Jalan raya yang juga merupakan pusat perbelanjaan bergengsi ibu kota tersebut menggambarkan berbagai kesenangan hidup lewat butik, kafe, showroom mobil, serta sejumlah hotel mewah bergengsi yang tak henti-henti diakses publik.

Dan di sinilah aku berada, di sebuah kedai kopi yang termasyur sejak masa Perang Dunia II bernama Kafe Kranzler bersama tiga sahabat baikku: Michael, Kristiane dan Heidi.

Was siehst du, Michael?” Suara Kristiane yang sedikit heboh membuatku mendongak dari cangkir kopi dan ikut menoleh Michael yang tengah menerawang ke luar jendela.

Lucunya, yang ditanya hanya tersenyum simpul tanpa memalingkan tatapannya dari Swissôtel Berlin pada arah pukul satu. Aku, Kristiane dan Heidi mengikuti pandangannya dan langsung memahami.

Sejauh lima puluh langkah dari pintu masuk hotel, tepatnya di atas sebuah bangku kayu yang terletak di tepi trotoar, tengah duduk seorang gadis muda sambil memangku seorang balita perempuan yang lucu. Makhluk kecil itu tertawa-tawa setiap kali si gadis menggerak-gerakkan sebuah boneka beruang di depan wajahnya.

Pemandangan itu membuat perasaanku campur aduk. Jika melihat ekspresi polos si balita, aku jadi gemas sendiri. Tapi jika melihat si gadis yang memangkunya, hatiku ditelusupi suatu perasaan tak nyaman. Pasalnya, gadis itu mengenakan sepotong kain penutup kepala yang sepanjang pengetahuanku hanya dikenakan oleh para wanita pemeluk agama itu: sebuah kepercayaan yang dalam beberapa tahun terakhir menimbulkan polemik di Eropa khususnya Jerman karena masalah pengungsian, penyerangan, serta pelecehan seksual. Dan lihat saja, orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar si gadis menunjukkan rasa paranoid yang sama entah lewat lirikan, langkah-langkah cepat, atau bisik-bisik jika kebetulan mereka melintas secara berkelompok.

Wie bitte? Bagaimana menurut kalian?” tanya Michael pada kami bertiga setelah berhasil mengalihkan perhatiannya dari si gadis dan si balita.

“Sudah pasti dia dipaksa menikah pada usia muda,” jawab Heidi spontan. “Orang-orang dari golongan itu dikenal sangat patriakhi, kan? Menurut yang kudengar mereka tak jarang memaksa anak gadisnya untuk menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua.”

“Tidakkah hal ini membuatmu jadi miris sebagai sesama wanita?” timpal Kristiane sambil menyikut lengan Heidi. “Ini abad dua satu dan hak-hak kaum perempuan sudah diakui, tapi masih saja ada perempuan yang tak bisa menentukan nasibnya sendiri. Gadis itu seharusnya masih bisa kuliah atau bekerja. Apalagi sekarang dia ada di Eropa. Melihat tata cara kehidupan kita di sini, dia pasti berharap memiliki banyak kesempatan seperti kau, aku dan perempuan-perempuan lain di negeri ini.”

Lagi-lagi Michael tersenyum dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Jika hipotesis kalian benar, maka kasihan sekali dia karena tak bisa menikmati masa muda yang menyenangkan.”

Aku memincingkan mata untuk mengamati si gadis berpenutup kepala serta balitanya secara lebih saksama. Samar-samar kulihat ekspresi anak kecil itu berubah seperti hendak menangis. Si gadis buru-buru membuka tas ranselnya untuk mengeluarkan sebotol susu. Dengan sigap diberikannya susu tersebut pada si kecil yang langsung mengisap dengan suka cita.

Melihat hal ini, spontan aku berujar, “Mungkin dia tidak semalang itu.”

Ketiga sahabatku sontak menolehku dengan dahi berkerut.

“Apa maksudmu, Lukas?” Michael tampak paling terheran-heran.

“Tidakkah kalian memperhatikan apa yang terjadi barusan? Anak kecil itu menjadi rewel tapi si gadis bisa menanganinya. Meski dari jauh, aku dapat menyimpulkan bahwa dia seorang ibu yang baik. Jika benar dia sudah menikah­–mungkin pernikahan itu bukan hal yang terlalu buruk baginya.”

Michael tampaknya memperhitungkan teoriku sebab kemudian dia berpaling untuk ikut memperhatikan gadis itu pula. Tak lama berselang dia bergumam, “Mungkinkah dia menikah dengan pria Eropa?”

Was?!” Kristiane dan Heidi berseru hampir bersamaan.

“Anaknya,” jawab Michael sambil mengedik ke arah si kecil yang kini tampak hendak terlelap. “Kalau dilihat-lihat anak kecil itu seperti anak kulit putih. Mungkin suaminya adalah orang Jerman.”

Kening Kristiane masih berkerut ketika dia berkata, “Maksudmu pernikahan justru membuat dia terbebas dari tradisi yang mengekang karena sang suami membawanya ke negeri ini?”

Michael mengangkat bahu. “Kita tak pernah tahu,” jawabnya sambil meneguk habis sisa kopi pada cangkirnya.

“Bagiku tetap saja,” sergah Heidi. “Dengan siapapun dia menikah, dia tetap tak bisa merasakan kebebasan yang sepenuhnya. Dia tetap harus mengurus bayi dan mengenakan…”

Aku, Michael dan Kristiane terheran-heran akan kalimat Heidi yang terputus sebelum mengetahui bahwa perhatiannya teralih pada sepasang pria dandy yang baru saja menuruni tangga lantai atas kafe. Dari setelan jas serta koper kerja yang mereka bawa, tampak jelas bahwa keduanya merupakan akademisi dari salah satu kampus bergengsi di Berlin. Secara kebetulan mereka memilih meja yang ada di dekat tempat kami.

“Sekali lagi maaf karena aku harus meninggalkanmu lebih awal, Rainer,” ujar salah satu di antaranya, seorang pria berambut pirang dengan kacamata berbingkai emas yang tampak lebih tua. Sementara rekannya menarik salah satu kursi, dia merapikan setelannya untuk bersiap pergi.

Kein problem, Joachim,” jawab sang rekan yang dipanggil Rainer sambil tersenyum. Dia merupakan seorang pria tampan berambut cokelat dengan usia sekitar empat puluhan. “Sampaikan salamku untuk Frau Rauftlin beserta ucapan selamat atas kelahiran putri kedua kalian.”

Danke schon. Ngomong-ngomong, kau tak ingin menikah lagi? Tidakkah kau ingin memberikan ibu baru bagi Paulin? Setahun sudah dia kehilangan ibunya karena kecelakaan mobil itu.”

Mendengar pertanyaan ini, pria bernama Rainer itu hanya tersenyum simpul. “Aku belum berpikir sampai ke sana tapi kita lihat saja nanti. Baiklah, sebaiknya kau bergegas mengejar UBahn yang akan membawamu ke Lichtenberg.”

Ja, auf Wiedersehen, Rainer.”

Auf Wiedersehen.”

Kedua pria berkelas itu saling berjabat tangan. Begitu Joachim pergi, Rainer mengenyakkan diri dan mengeluarkan sebuah telepon pintar dari saku jasnya untuk mengetik sesuatu. Sementara Kristiane dan Heidi memperhatikan pria tersebut dengan pandangan kagum, aku dan Michael hanya bertukar seringai dengan pundak terangkat.

“Kau menyeberang jalan saja, aku duduk di meja nomor 11,” suara berat Rainer yang tengah menelepon terdengar beberapa saat kemudian.

Aku kembali berpaling ke arah jalanan. Kurfürstendamm semakin ingar-bingar. Para pejalan kaki memenuhi trotoar dengan langkah-langkah cepat. Dinding kaca showroom Mercedez menggoda orang yang berlalu lalang. Gadis-gadis muda merayap dari satu butik ke butik lain. Dan gadis berpenutup kepala di depan Swissôtel melintas di depan jendela Kafe Kranzler.

Aku terkesiap.

Untuk sesaat kukira aku berhalusinasi sebelum kemudian terdengar bunyi pintu kafe digeser. Dan masuklah gadis muda itu bersama anak balita cantiknya yang telah terlelap. Mereka melenggang di antara kursi-kursi hingga akhirnya mencapai meja di mana Rainer berada.

Guten tag, Profesor Kross,” sapanya pada Rainer dalam Bahasa Jerman yang agak pelat.

Guten tag, Yasmin. Oh, malaikat kecilku. Dia tidak merepotkanmu, kan?” balas Rainer panjang lebar sambil mengambilalih si balita dari tangan si gadis berpenutup kepala. Ditimangnya bocah itu dengan penuh kasih sayang.

“Sama sekali tidak, Profesor.” Gadis bernama Yasmin itu menggeleng. “Ini botol susu dan bonekanya,” tambahnya sambil menyerahkan sebuah tas kecil yang dia ambil dari dalam tas ransel–yang mana membuatku terkejut begitu mendapati sejumlah buku tebal saat tak sengaja melirik ke dalamnya. “Er… di mana Profesor Rauftlin?”

Rainer Kross yang tengah membuka kopernya dengan salah satu tangan tersenyum saat menjawab, “Dia harus pergi ke Sana Klinikum Lichtenberg untuk melihat putrinya.”

“Oh, istri beliau sudah melahirkan?”

“Ya, satu jam yang lalu dan ini upahmu untuk minggu ini,” jawab sang profesor sambil mengulurkan sebuah amplop putih. “Dan karena kau akan ujian Bahasa Pemrograman Rakitan minggu depan, kau tak perlu datang ke rumah. Aku akan merasa bersalah jika nilai-nilaimu sampai turun dan Technische Universität Berlin mencabut beasiswamu.”

Yasmin tergelak mendengar mendengar hal ini. “Danke Schon, Profesor.”

“Sekali lagi maafkan aku karena lupa memberitahu bahwa venue Konferensi Robotika dipindahkan dari Swissôtel ke Kempinski. Tadinya aku mau meneleponmu setelah acara itu berakhir tapi Joachim terus mengajakku mengobrol hingga kami sampai di kafe ini. Baiklah, Yasmin, selamat belajar dan auf Wiedersehen.”

Auf Wiedersehen.”

Seiring dengan menjauhnya langkah Yasmin meninggalkan Kafe Kranzler, aku, Michael, Kristiane dan Heidi bertukar pandang. Untuk sesaat kami berempat terdiam sebelum akhirnya tersenyum kecut, membuatku bisa menduga bahwa seperti halnya diriku, ketiga sahabatku juga merasakan sebuah sensasi tertohok dalam hati oleh jawaban kenyataan atas segala praduga kami.

Catatan:

Was siehst du?            : kau lihat apa?
Wie bitte?                   : bagaimana?
Was?                           : apa?
Kein problem              : tidak masalah
Danke schon               : terima kasih
Auf Wiedersehen        : sampai jumpa
Guten tag                    : selamat siang

Kurfürstendamm merupakan sebuah jalan besar yang terletak di tengah kota Berlin dan merupakan pusat perbelanjaan serta hiburan seperti Champ d’Elysse di Paris.

Swissôtel Berlin dan Kempinski adalah hotel-hotel terkenal yang terletak di Kurfürstendamm.

Kafe Kranzel juga merupakan salah satu tempat terkenal di Kurfürstendamm.

Sana Klinikum Lichtenberg adalah rumah sakit yang terletak di distrik Lichtenberg, salah satu distrik mewah ibu kota.

UBahn atau Unter Bahn adalah sebutan untuk kereta bawah tanah di Jerman.

Technische Universität Berlin merupakan salah satu kampus terbaik di Berlin.