Cerpen Herumawan P A

Adi kecil senang pada sinar matahari yang masuk ke dalam rumah. Karena setiap pagi, sang ibu selalu membuka semua jendela di rumahnya.Ia pun lebih sering bermain-main dengan sinar matahari itu.

Adi biasanya akan menari-nari di bawah sinar matahari yang masuk lewat jendela. Atau berjemur sambil bercanda riang di bawah sinar matahari bersama kedua orang tuanya

Begitu pula, Pak Basri sang ayah. Hidup Pak Basri tambah senang ketika sang istri mengandung anak kedua seorang perempuan yang sangat dinantikannya. 

Malam hari itu, sang ibu yang sedang hamil hendak melahirkan, Pak Basri ditemani Mbok Siyem, pembantu membawanya ke puskesmas. Adi disuruhnya tetap di rumah.

Ketika tiba di puskesmas, sang istri disuruh pulang karena menurut dokter jaga belum waktunya melahirkan. Pak Basri lalu minta rujukan ke rumah sakit tapi dokter tak memberinya. Karena tak terdaftar BPJS. Pak Basri terpaksa membawa pulang sang istri.

Jelang pagi hari, sang istri benar-benar akan melahirkan. Pak Basri ditemani Mbok Siyem membawanya kembali ke puskesmas. Dokter segera memberi rujukan ke rumah sakit.

Pak Basri ingin memakai ambulans puskesmas. Tapi bidan yang bertugas memberitahu sopir tak ada di tempat. Tak mau berdebat dan juga karena iba melihat sang istri merintih kesakitan, Pak Basri meminjam mobil pick up milik salah satu tetangganya, Bu Ani.

Beruntung, Bu Ani mau meminjamkan mobil pick up beserta sopirnya. Pak Basri langsung membawa sang istri di belakang mobil pick up menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan, hujan turun lebat. Pak Basri memilih berteduh di emperan toko dulu.

Di sela berteduh, Pak Basri mencoba menelepon taksi karena melihat sang istri yang tampak kedinginan dan terus merintih kesakitan ditemani Mbok Siyem. Tapi pulsanya tak mencukupi untuk telepon. Ketika hendak kirim sms untuk beli pulsa, ponselnya malah mati karena baterainya habis.

Saat hujan mulai reda, Pak Basri bergegas melanjutkan perjalanan.  Tiba di rumah sakit, jabang bayi ternyata sudah meninggal. Pak Basri sedih sekali.

Beberapa jam kemudian, sang istri menyusul meninggal dunia. Pak Basri benar-benar terpukul sekali. Dan bingung menjelaskan pada Adi, anaknya.

Beruntung, Mbok Siyem mau menceritakan pada Adi tentang apa yang terjadi pada sang ibu dan calon adiknya itu. Adi sedih sekali mendengar ibu dan calon adiknya sudah meninggal.

Seusai pemakaman, Pak Basri menangis meraung-raung dalam rumah. Memecahkan semua benda dan barang. Adi merasa begitu ketakutan. Mbok Siyem langsung memeluk Adi. Pelukannya seperti seorang ibu. Hangat dan mententramkan hati.

Sementara itu, Pak Basri masih saja menangis meraung-raung. Lalu beberapa detik kemudian berganti makian dan cacian. tak bisa mengontrol emosinya. Alih-alih menyalahkan dokter, hujan lebat atau Tuhan, Pak Basri malah memilih menyalahkan matahari. Karena dipikirnya kalau matahari bersinar terang, sang istri dan jabang bayinya bisa diselamatkan.

 Pak Basri terus menerus memaki Matahari. Menyalahkan Matahari sebagai penyebab kematian istri dan calon jabang bayi perempuannya.  

“Wahai Matahari terbit, kau sudah renggut nyawa dua orang yang kusayangi. Mulai hari ini, kunyatakan perang padamu. Aku janji tak mau lagi bertemu denganmu. Aku hanya akan pergi ketika kau sudah terbenam dan pulang ketika kau akan terbit.” Pak Basri bersumpah. Ia benar-benar tak ingin bertemu lagi dengan Matahari. Ia sudah terlalu membencinya. Sejengkal cahaya Matahari pun tak boleh masuk ke dalam rumah. Jendela, kaca hingga ventilasi udara langsung ditutupi kain korden atau koran bekas. Sebagian warga kampung menganggap kelakuan ayah aneh. Tapi ia sudah tak peduli dianggap aneh atau gila.

***

Pak Basri pun pindah kerja dari semula tukang parkir ke tukang cuci piring di sebuah rumah makan. Setiap pagi, ia berangkat kerja sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam.

Teman-teman kerja Pak Basri heran melihatnya tak pernah keluar rumah makan setiap istirahat makan siang. Pak Basri memilih memakan bekalnya di dapur. Hingga suatu hari, Pak Badrun pemilik rumah makan berulang tahun. Semua karyawan diundangnya makan di luar. Pak Basri langsung menolaknya. Pak Badrun tak terima. Dan langsung memecat Pak Basri dengan pesangon tak seberapa.

Pak Basri pun lebih sering berada di rumah bersama Adi dan Mbok Siyem. Tapi itu membuatnya stress.

Mbok Siyem bekerja serabutan sebagai buruh cuci dan penual gado-gado keliling untuk memenuhi kebutuhan hidup ketiganya. Tak lupa, Mbok Siyem menasehati Pak Basri agar banyaknya waktu di rumah dimanfaatkan untuk beribadah dan lebih menyayangi Adi, anaknya. Pak Basri menuruti nasehat Mbok Siyem.

Adi dan Pak Basri pun jadi lebih akrab. Keduanya saling menyayangi. Adi tak pernah mempermaslahkan perilaku Pak Basri ayah yang menutupi semua jendela rumah dengan banyak kertas koran baik dii dalam maupun luar.

Adi juga tak mengubris omongan sebagian warga kampung yang menganggap perilaku sang ayah seperti orang stres, gila dan ada yang bilang sudah menjadi Dracula. Anak-anak pun takut bermain di dekat rumah Adi. Tapi Adi tetap berpikir positif, itu hanya sementara. Sang ayah nanti juga tak begitu lagi.

***

Ketika Adi sudah tumbuh dewasa, Mbok Siyem dipanggil keluarganya kembali ke desa untuk momong cucu. Adi sedih. Sepeninggal Mbok Siyem kembali ke desa, Adi harus banting tulang mencukupi kebutuhan hidup ia dan ayahnya.  

Beruntung, Adi memiliki ketrampilan mengoperasikan komputer. Ia pun diterima kerja di perusahaan yang cukup jauh dari rumahnya. Pak Basri, sang ayah tak mempermasalahkannya, ia malah senang.

Adi lantas bekerja baik. Ia sering mendapat bonus. Bahkan akan dipromosikan ke kantor pusat. Tapi Adi menolaknya karena Pak Basri tiba-tiba jatuh sakit. Walaupun jatuh sakit, Pak Basri tak mau dibawa ke rumah sakit. Terpaksa, Adi memanggil dokter puskesmas.

Melihat dokter puskesmas datang, Pak Basri teringat peristiwa yang membuat istri dan sang jabang bayinya meninggal. Pak Basri yang masih dendam lalu mengusir pergi dokternya. Adi berusaha menengahi. Tapi malah Adi yang terkena marah.

Adi yang kesal lantas mencopoti kertas koran yang menutupi jendela. Ia beranggapan itulah penyebab Pak Basri sang ayah jatuh sakit. Karena kurang dapat sinar matahari untuk tulang dan tubuhnya.

Tapi tindakanku itu diketahui Pak Basri. Ia tampak marah. Pipi Adi dua kali ditamparnya, kanan dan kiri. Lalu menyuruh sang anak kembali menutupi lagi. Adi hanya menurut saja.

Pak Basri tak mau berbicara lagi dengan Adi. Kalaupun mau bicara, ia tuliskan di atas kertas putih lalu menunjukkannya pada Adi.

***

Begitulah rasa benci Pak Basri pada Matahari sudah mengalahkan segalanya. Dan semenjak itu, Pak Basri selalu mendiamkan Adi. Tak pernah bertegur sapa dengan sang anak. Pak Basri hanya mau berkomunikasi lewat perantara kertas.

“Bagiku, Matahari ciptaan Tuhan yang paling indah dan bermanfaat.”

“Tanpa Matahari, tak mungkin makhluk hidup, tumbuhan dan pepohonan bisa hidup.” Adi berbicara sendiri di dalam kamar. Sepi, tak ada mendengarkan dan memperhatikan keluh kesahnya. Hati kecilnya tak beraksi, diam tanpa suara.

Adi lalu bangun dari tempat tidurnya.

“Mungkin ini waktunya, aku pergi dari rumah.” batin Adi sambil membereskan pakaian dan barang-barangnya sendiri. Ia sudah muak dengan sikap sang ayah yang selalu menyalahkan Matahari sebagai biang kematian ibu dan adiknya. Tak habis pikir pula, Adi dengan sikap Pak Basri yang membenci Matahari selama ini.

Sudah bulat Adi putuskan pergi dari rumah. Sang ayah pasti tak akan mengizinkan, Karena Pak Basri masih membutuhkan Adi. Tapi ia sudah tak peduli lagi.

***

         Kini, Adi terpekur di samping pusara sang ayah. Seminggu lalu, Adi membaca berita kematian sang ayah di sebuah koran. Tak terasa sudah setahun, Adi meninggalkan rumah tanpa jendela itu. Dan selama itu pula, ia membiarkan sang ayah hidup sendiri. Tanpa sinar matahari yang cukup dan tak ada yang rutin mengurusnya.

         Adi akui ia memang anak durhaka. Membiarkan Pak Basri sendirian dalam kegelapan. Kini Adi tampak menyesali keputusannya meninggalkan rumah. Menyesali mengapa ia tak bisa sedikit bersabar menghadapi sang ayah.

Adi menengok ke belakang, memandangi sosok seorang perempuan yang sedang hamil dua bulan, tak jauh dari tempatnya terpekur. Ia istri Adi yang dinikahi setahun lalu tanpa memberitahu sang ayah. Adi berharap ketika nanti anaknya lahir, ia tak ingin sang anak sepertinya, yang tega meninggalkan sang ayah sendirian.

Yogyakarta, 24 Juni 2019

Herumawan Prasetyo Adhie, lahir di Yogyakarta, 30 September 1981. Seorang pejalan kaki yang memilih naik trans Jogja atau becak ketika lelah melanda, juga pemerhati sepak bola dan suka sekali menulis apapun. Mulai artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita anak, cerita lucu hingga cerita misteri (mistik/seram). Karya cerpen pernah dimuat di Apajake.id, Bangka Pos, Banjarmasin Pos, Harian Analisa Medan, Harian Jogja, Joglosemar, Harian Rakyat Sultra, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, Majalah Story, Minggu Pagi, Majalah Kuntum, Republika, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Lampung, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Serambi Ummah, Solopos. Tabloid Nova dan Utusan Borneo (salah satu surat kabar Malaysia).