Satu Kemenangan Dibayar
dengan Beratus Penderitaan,
Bahkan Nyawa

:Traktat Saragosa 22 April 1529
Spanyol melepaskan klaim atas Maluku
dengan mendapat kompensasi 350.000
duket emas dari Portugal.

Kekasihku kita menyeret langkah
ke arah pintu nasib dan orkestrasi
jarum jam yang bergerak sentripetal
menyulam kisah. Sementara ingatan kita
tertinggal pada ceruk traktat dan
petaka menggali luka. 

:detik, kisah, dan memori membeku
dalam bubu; museum darah airmata
mengalir bagai minyak cat kita pakai
melukis sejarah.

“Kau suka lukisan apa,”
tanyaku. Tetapi kau membisu
di hadapan kanvas.

“Kamp-kamp genosida atau
perkenier,” tanyaku lagi. Tetapi
kau mengigil memeluk kuas.

“Kumohon jangan pernah
lakukan itu! Berapa seniman
lenyap karena perkara serupa?”

“Jangan khawatir!”

Sudah jamaknya begitu: hidup adalah
penderitaan sehingga manusia satu
melumat manusia lain. Tetapi lukisan
harus dilukis. Karena keberanian
karena perlawanan, karena itu
seniman ada.

Kekasihku kita tiba di hadapan relief
mendadak kau jatuhkan sebuah tanya,

“Kemana pergi seorang penjahat ketika
hilang nurani?”

Barangkali bukan akal budi
melainkan kegelapan. Itulah mengapa
para koruptor di hari ini atau seorang bajak laut
di masa silam, tidak pernah merasa berdosa.

Maka terkenanglah kita pada sebuah kisah
kelam lebam:

“Di atas gulungan ombak kapal-kapal bajak laut
mencari suaka pada ketiak jubah. Setelah di atas kabin
penuh hasil rampasan dan di dasar laut karam ratusan
nyawa dikait di tali sauh.

Bajak laut itu memang keras kepala! Hanya untuk
menemukan rute laut ke timur tiba di gudang rempah.
Mereka membutuhkan 40 tahun percobaan dengan
ratusan armada hancur dan ribuan awak tewas.

Untuk sampai di Ternate, Tidore, Ambon, Seram,
dan Banda. Pulang dengan kapal penuh pala, cengkih,
kayu manis, dan lada. Seorang membiarkan Mangellan
dan Enrique de Molucca; navigator piawai, melubangi
selangkangan isterinya atau demi sebuah liontin
yang berisi 3 buah pala 2 batang kayu manis
12 cengkih.

Mereka merayakan kemenangan itu dengan
sebuah pesta kecil diundang kerabat karena
berhasil bersekongkol dengan seorang raja
dan padri yang membiayai ekspedisi. Sedang
 di atas kapal budak-budak sekarat; terserang
tifoid dan busung lapar”.

“Sudikah mereka berkabung
atas pengorbanan itu,”
tanyamu.

“Aku tidak tahu persis!”

Tetapi yang pasti, satu kemenangan
dibayar dengan beratus penderitaan,
bahkan nyawa.

(2019)

Pelukan Gaib

:kepada Sir Henry Middleton

Kaukah itu, Tuan?
Yang ingin tiba di Banda
sebelum azan subuh, sebelum
buah pala gugur.

Tetapi, Tuan
laut bersungguh-sungguh
memahat maut dengan sempurna,
meskipun sedepa laut tetaplah laut
ganas dan memangsa orang asing
yang bernyali menikam pasak rumah
dalam badai.

Yang pada akhirnya
hanya lolongan ombak
hanya aroma kamboja.

Tetapi, Tuan
di tengah tubir ombak,
bagaimana kau klaim kemenangan
jikalau kekalahan lebih terang dari
matahari di tiang layar?

:kau patah dan menunggu pelukan gaib,
karena 1.200 orang awak yang turun ke laut,
800 orang telah raib.

Kaukah itu, Tuan?
Yang ingin tiba di Banda
sebelum azan subuh, sebelum
buah pala gugur.

Tetapi, Tuan
di atas kapal Ascensio
menuju Banda kau dengar
seorang merapal doa,
sekali waktu kau berharap
kata-kata memiliki tangan,
mengubah helaian rambut yang gelombang jadi wol.

Tetapi, Tuan
laut dan ombak tidak bisa dibujuk,
selain kau siapkan tumbal
berupa kepala budak atau nyawamu yang satu.

:demi selangkangan
dan 300 ton pala, 20 ton bunga lawang,
serta burung kakatua, cendrawasih, monyet,
dan kayu gaharu. Kau tak ingin putar kemudi.

Kaukah itu, Tuan?
Yang ingin tiba di Banda
sebelum azan subuh, sebelum
buah pala gugur.

Tetapi, Tuan
laut bersungguh-sungguh
memasang perangkap, meskipun sedepa laut tetaplah laut
ganas dan memangsa orang asingyang memainkan drama,
“Tragedi Hamlett dan King Richard II,”  
karya Shakespeare, saat-saat
menjemput kematian:

Tertambat di laut aku mencium
bau pemakaman, harusnya aku pergi
ke gereja tidak mengenal ombak dan

karang-karang menyentuh badan kapal
yang tipis menghamburkan rempah-rempah,
dilempar ke dalam arus berkafan air asin.
Kemudian lenyap.”

Kaukah itu, Tuan?

(2019)

Genosida di Benteng Nassau, Mei 1621

/Mei 1621/

parigi rantai kering
kilat kibas kubang darah
hari jadi anyir.
dan di kastil maut terpasung
pada bila bambu yang telentang
40 lelaki barane.

:mereka disayat di hadapan
Ibu-Bapak.

“Setelah ini siapa lagi,”
tanyamu.

“Kau kenal wajah pendosa,
tua Pieterszoon Ceon?”

“Jangan menangis, Nak!.
Lawan. Lawan. Lawan!”

Sampai maut menjemput,
kita hanya menunggu giliran,
gugur sebagai pala yang paling
matang atau yang paling busuk.

“Setelah ini siapa lagi,”
tanyamu.

“6.000 orang, jumlah ini sudah cukup?”

Menuju abadi selalu kau nantikan hal itu,
kau tak gentar meski sisa napas di tenggorokan.

Maka tiba pada waktunya
hanya sejumput senyum,
tiada gesekan biola tiada
penjamuan akhir, selain lolongan anjing.

“Setelah ini siapa lagi,”
tanyamu.

Di dermaga kau melihat 1.700 orang
menuju Banda Eli dan Banda Elat.
300 orang dijemput 20 kora kora dari
Seram Timur

:mereka berlayar dengan tiupan napas.
Saat itu laut tenang, tiada beriak ombak
hanya lonceng berbunyi hanya
aroma kamboja.

/Mei 2019/
parigi rantai basah
buah pala gugur.

Sedang di batu bata
dan dada seorang peziarah
masih terpahat lolong duka:

“Alfatihah kukirim untuk:
Ayub, Imam Dender
Kodiat Ali, Orang Kaya Salamon
Jareng, Orang Kaya Kumber
Kakiali, Hulubalang
Kalabaka Maniasa, Orang Kaya Lontor
Lebe Tomadiko, Orang Kaya Lontor
Makatita, Orang Kaya ratu
Pati Kiat, Imam Kiat

Orang-orang Lima, Boi San, Elias, Salem
Para hulubalang, Abdul Rahman, Asam,
Asan, Bai, Boi Niela,Husein, Idries, Islam,
Kakiaya, Kuat Kusin, Kodiat Omian, Lampa,
Mai Burang, Mai ari, Malim, Ralou,Saman,
dan Sanda

Para Orang Kaya, Boi Ira, Orang Kaya Salamon
Boi Wainia, Orang Kaya Tatang.”

(2019)

Pada Punggungmu yang Oase

Pada punggungmu yang oase
malaikat menjaring mimpi
maut menjelma kupu-kupu
lalu kamboja jatuh di kuburan
pelan-pelan layu.

Aku hanyalah seorang pelayat
gagal merapal doa dan sisa-sia
percakapan dunia entah, karena
kata-kata menguap kabut gelap
menganga.

Pada punggungmu yang oase
malaikat menanam pohon duka
lebat buah ratap, selembar daun
gugur jadi tragedi dan aku susah
payah menebangnya.

Aku hanyalah batu nisa
terpahat sepotong epitaf.
Tiada erang pecah, selain tubuh
disembul darah airmata sejak purba
dan tidak diketahui siapa-siapa.

Pada punggungmu yang oase
bulan bintang batu segalanya
menjerit: di sana tangisan adalah
kehidupan.

Sementara aku murung,
kekasih: 

pada matamu yang kausar
aku ingin tidur. Tiada jilat api,
selain bunga fajar merekah.
Ranting pohon menjelma jarum,
kupakai menjahit luka. Daun menjelma
hujan yang kupakai mengubur tangis. 

“Jangan bersedih, Kekasih.
Maut membidik arah kita—maut
Adalah morse—tidak ditulis dengan
huruf patah, serupa sajak atau kidung,”
katamu.

“Maut terlampau tergesa-gesa
untuk kita yang tak pernah berencana
pergi ke surga tanpa membawa apa-apa,”
kataku.

“Tidak! Tidak! Tuhan tidak butuh apa-apa
dari kita. Tuhan tidak seperti Salomo,
‘…mereka membawa emas, pakaian,
senjata, rempah, kuda, dan keledai,”
kaubaca sepotong ayat.

Pada punggungmu yang oase
malaikat maut menamam pohon duka
lalu kau menjelma kupu-kupu dan
aku batu nisan terpahat sepotong epitaf
(inilah tragedi Manusia Maluku: perampasan,
kekerasan, dan pembunuhan sejak purba, tidak
diketahui siapa-siapa).

(2019)

Ishak R. Boufakar/Lelaki Laut lahir di Kian, 23 Juli 1992. Puisi dan cerpen termuat dalam Antologi 250 Puisi Cinta Terpendam (2016), Antologi Cerpen Bertuan (2016), Antologi Surat Untuk Tuhan (2017), Antologi Cerpen Mimpi (2017). Tulisan-tulisan diterbitkan di koran Identitas UNHAS, Koran Fajar Makassar, Koran Salam Papua, koran Ambon Ekspres, Majalah LINTAS, dan Buletin Kala Paradigma Institute. Penulis aktif menulis di media online: @ekpresimaluku.com @rumahtulis.com @seramtimur.com dan @kalaliterasi.com