Rea kabur.
Di bawah terik mentari jam 13.00 lewat beberapa menit, gadis dengan rambut dikepang 1 itu berjalan menyusuri jalan-jalan tanah yang tak cocok dengan sepatu mengkilat miliknya. Jalan yang tak rata, membuat Rea beberapa kali hampir jatuh terjerembap ke tanah. Dia menggosok lututnya yang tanpa bekas luka terlalu sering, menimbulkan merah di sana semakin meradang.
Kemarin, Jono menawarinya untuk main ke rumah Nuri yang punya ladang besar. Kata Jono yang sol sepatunya sering lepas itu, ada mangga, jambu air, dan rambutan yang pohonnya tumbuh begitu besar. Selain itu, orang tua Nuri juga punya buah Kenitu yang Rea tak tahu bagaimana bentuknya, dan bengkoang yang hanya dia tahu dari gambar di tempat lulur Mama.
Dengan modal nekat dari cerita Jono, gadis kecil yang tak pernah lupa memakai jam tangan digital, berlari meninggalkan area sekolah begitu sadar sopirnya telat datang. Dia berlari meninggalkan jadwal les piano yang membuat rambutnya sakit karena diikat terlalu erat, menuju rumah Nuri dalam penggalan cerita Jono kemarin siang.
“Rea?”
Suara dengan nada bingung itu menyapa Rea yang pandangannya masih menoleh kanan-kiri, berusaha mencari dalam memori ke mana kakinya melangkah setelah jalan ini.
Gadis itu menoleh, mendapati Jono dengan tas kebesaran yang talinya hampir lepas berlari mendekatinya.
“Kamu belum pulang? Kenapa di sini?”
Tatapan Jono tidak tampak senang. Rea sering melihatnya, tatapan yang juga Papa berikan saat tahu Rea tak memakan habis makan malamnya, atau saat Mama melihat Rea menangis karena bonekanya ternoda cat kuku merah.
“Rea? Kamu nggak dicari orang tua kamu? Ayo aku antar balik ke sekolah.”
Tak ada jawaban dari Rea. Dia tiba-tiba merasa bersalah, bukan pada Mama atau Papa, tapi pada Jono yang tidak senang akan kedatangannya yang tiba-tiba.
“Rea, nanti kamu dimarahin orang tua kamu, aku antar balik ke sekolah ya….”
Rea menunduk, menatap sepatunya yang berdebu karena tanah bergelombang yang terus membuat lututnya terantuk tanah.
“Aku cuma mau main, cari bengkoang sama kenitu… Maaf aku tiba-tiba datang, aku kira kamu cerita kemarin karena undang aku….” Rea memilin ujung tas berwarna peach miliknya, jadi bingung harus apa.
“Bukan! Bukannya aku nggak senang!” Jono panik, dia menggeleng-geleng cepat.
Karena kalimat itu, Rea berani mendongak lagi, menatap temannya yang sekarang menggaruk rambut karena tiba-tiba saja panasnya mentari terasa menyengat tanpa memberi ampun.
“Kamu sudah ijin orang tua kamu?”
“Belum… nggak akan boleh kalau ijin sama Mama atau Papa.”
“Udah coba ijin belum? Kata ayah aku, harus dicoba dulu sebelum takut, Rea.”
Padahal mereka baru saja naik kelas 6, tapi ucapan Jono persis kakak Rea yang baru naik kelas 3 SMP tahun ini. Dia tidak langsung senang Rea datang, tapi menanyakan dulu bagaimana Rea datang. Takut jika nanti temannya dimarahi saat pulang.
“Nggak akan boleh. Kalau main di jadwal les, aku pasti dimarahi,” jawab Rea dengan nada agak memohon.
“Kalau gitu waktu libur.”
“Nggak bisa, aku nggak punya waktu main. Aku les juga kalau libur. Aku cuma bisa sekarang, Jono. Aku mau main sebentar aja…. Aku mau cari kenitu, bengkoang, atau bekicot sawah dekat rumah pak RT….”
Tangan Jono yang dipenuhi bercak hitam karena sering memperbaiki rantai sepedanya, menggenggam tangan Rea hingga gadis itu berhenti memilin ujung tasnya.
“Ayo lari! Waktu kita cuma sebentar buat ngebolang di rumahku.”
Gadis itu berhenti dulu, menahan tangan Jono untuk menungguinya sebentar.
Rea membuka sepatu mahalnya yang membuat kakinya sulit menjejak di jalanan bergelombang, menyimpannya di antara tumpukan buku dalam tas sekolah.
“Udah, ayo!” Senyum lebar Rea tunjukkan. Dia sudah tak ingat jika tadi sempat takut dan panik.
Jono ikut membuka sepatunya, menyisakan kaos kaki putih kebesaran yang berlubang di bagian tumit dan jempol kaki.
“Ayo!”
Mereka sama-sama berlari sambil tertawa-tawa, merasakan angin sejuk siang hari menerpa tubuh kecil mereka. Tak tahu jika satu sekolah panik kehilangan Rea. Tak tahu jika Mama Rea sampai menangis menelepon siapa saja. Tak tahu jika Ayah Rea sampai membatalkan rapat penting ketika tahu anaknya tak ada di sekolah.
••••
Ketika sampai, ibunya Nuri menawari Rea untuk mengganti baju dengan baju anaknya yang sudah kekecilan, memberikan dia sendal Nuri yang sudah tak dipakai lagi.
“Jaket sama baju kamu simpan di rumah Ibu dulu ya?” kata ibu Nuri dengan wajah yang berseri-seri senang mendapati rumah jadi lebih ramai.
“Iya.” Rea menyerahkan seragam sekolah, cardigan rajut berwarna abu-abu, dan jam tangan digital yang jarang dilepaskan.
Setelah itu, dia mengikuti Jono dan Nuri ke kebun belakang rumah yang ternyata sudah ada ayah Nuri yang menunggu mereka bertiga.
“Sini! Rea tadi mau apa? Kenitu sama bengkoang ya?”
“Mau semua, Om! Sekalian dibawa pulang.”
Jono yang menjawab, dia yang terus menggandeng Rea dari tadi, membantu karena tahu temannya itu agak sulit mengeluarkan suara—malu karena tidak terlalu kenal.
Nuri juga mengangguk mendengar jawaban Jono.
“Aku kira kamu nggak bakal boleh ke sini lho.”
Nuri tertawa lebar ketika sadar Rea masih agak takut-takut melihat banyaknya tanah bertekstur di bawah kakinya. Ada ranting, daun kering, buah busuk, dan benda-benda yang tak pernah ada si jalan semen berbatu rumahnya.
“Sini, ambil bengkoang dulu ya,” kaya Ayah Nuri yang tampak sangat muda jika dibandingkan dengan Ayahnya.
Rea mengangguk cepat, lupa kalau masih menginjak bumi yang sama.
Hari itu, dia menggali tanah bersama 2 teman sekelasnya yang hidupnya sebebas burung pipit. Rea mencari bengkoang yang rasanya ternyata tak terlalu manis, terkubur di dalam tanah seperti singkong. Makan kenitu yang getahnya sampai menyentuh baju. Jambu air yang ternyata saat digigit mirip gabus, merah, tak semanis saat menggigit apel, tapi enak.
“Buah tuh lebih enak kalau baru dipetik, langsung dimakan,” kata ibu Nuri.
Dia datang lagi membawa buah yang baru selesai dicuci bersih dan dipotong-potong agar mudah dimakan—hasil berkebun suaminya dan anak-anak.
“Mau cari bekicot di sawah nggak, Rea?”
Nuri sudah dekat juga dengan teman sekelasnya yang mampir karena diundang Jono. Mereka tadi sama-sama terciprat air kenitu yang dibuka terlalu keras oleh Jono.
Yang mengundang Rea datang itu segera menghentikan gerakannya mengumpulkan daging rambutan, melihat pada dia yang sekarang penuh getah, tanah, bahkan air buah.
“Kamu nggak apa-apa sampai lama?” tanya Jono sambil meletakkan rambutannya di kresek hitam milik mereka.
Kunyahan Rea terhenti. Dia melihat ke luar jendela rumah, membatin untuk meyakinkan diri bahwa waktu belum terlewat begitu lama.
Selama nilainya tetap di angka sempurna, selama not-not lagu tak hilang dari ingatan, selama gerakan tari balet yang dipelajari selalu ditampilkan dengan sempurna, maka semua akan baik-baik saja.
Itulah keyakinan yang berusaha Rea pasak dengan kuat di otaknya saat ini. Untuk menegarkan hatinya yang dengan berani meminta kebebasan.
“Iya… iya-iya! Boleh kok!”
“Yaudah makan dulu. Kalau udah kenyang, kalian berangkat bareng Bapak.”
Nuri protes mendengar ucapan ibunya, tak mau harus dibarengi Bapaknya terus hari ini. Dia bilang mereka sudah biasa ke sawah, tadi kan Bapak juga sibuk mengambil buah, jadi harusnya istirahat saja dan tidak usah ikut-ikut anak kecil.
“Nuri, bapak kamu itukan jarang libur kerja, katanya kangen sama anaknya yang setiap Bapak pulang kerja udah tidur. Rea kan juga nggak pernah ke sawah, jadi perlu dijaga orang dewasa,” ucap ibunya Nuri berusaha membuat anaknya mengerti.
“Nggak apa-apa, Nuri. Bapak kamu baik kok, hebat lagi! Pasti lebih gampang dapetin bekicotnya,” sambung Rea, “Papa aku aja jarang di rumah, jarang main sama aku. Kalau main mau ngapain juga ya? Ayah biasanya cuma nulis berkas, duduk di depan laptop, atau telepon Mama setiap hari. Dia nggak tahu cara gali tanah, ambil buah, atau nyari bekicot.”
Mereka semua tertawa mendengar Rea yang bercerita soal ayahnya, membuat Nuri lupa jika baru saja menolak kehadiran Bapak.
Begitu mereka sudah kenyang dan bertenaga lagi, kaki itu kembali menempuh perjalanan panjang ke sawah di depan rumah Pak RT yang paling jauh di antara yang lain.
Jono bilang, sawah yang mereka datangi punya jalan menuju sungai besar. Biasanya Nuri juga Jono ke sana untuk main perahu menggunakan ban atau pohon pisang, duduk di atasnya sambil terombang-ambing tanpa pegangan.
“Nggak akan hanyut?” Rea bertanya polos, ngeri membayangkan jatuh dari perahu mereka.
“Arusnya nggak sederas itu kok, cuma cukup buat jalanin perahu-perahuan kita.”
“Rea, sini!” Nuri berteriak memanggil dari tempatnya dan Bapak berdiri.
Langkah Rea mendahului Jono, berjalan agak tertatih bahkan hampir terpeleset karena licin. Setapak hanya muat satu orang saja, jadi perlu ekstra hati-hati jika tak mau merusak padi yang masih hijau.
Mereka mulai mengambil bekicot-bekicot yang bergerak sangat lambat dan halus. Awalnya Rea agak ngeri karena cangkangnya bercorak, tapi lama kelamaan dia mau mencoba mengambil juga walau harus cepat-cepat memasukkanya ke timba yang Bapak bawa. Beberapa kali Rea hampir nyungsep jika tidak dipegangi Bapak yang sangat sigap.
Sebelum dapat tangkapan yang banyak atau pergi ke sungai untuk main perahu, tampak ibu Nuri dari kejauhan melambai pada mereka berempat.
“Rea! Rea dicari sama orang tuanya!” kata ibu Nuri dari kejauhan.
Tangan yang kotor karena lumpur itu langsung menggenggam erat ujung bajunya.
Rea takut, sangat takut sampai perutnya sakit sekali. Dia membayangkan skenario-skenario jelek yang bisa membuat masalah bagi siapa pun yang terlibat dengannya hari ini. Rea tak mau Jono, Nuri, Bapak, atau ibu Nuri ikut dimarahi karena Rea yang pergi tanpa izin.
“Nggak apa-apa, Rea… biar Ibu sama Bapak yang bantu kamu ngomong ke orang tua kamu ya?”
Wanita itu membungkuk, lalu memegang tangan kecil Rea yang berlumpur dengan begitu mantap, membuat gadis kecil itu menggantungkan seluruh takutnya pada orang tua Nuri.
Langkah yang berat terus mengikuti kaki yang kali ini bersandal karet biasa. Dadanya berdegup kencang sampai terasa seperti memukul-mukul dari dalam.
Begitu sampai, ternyata mobil yang selalu Ayah gunakan ada di sana. Dia bersama Mama yang make-upnya luntur. Ayah juga tidak kalah kacau, jasnya yang rapi sudah tak terkancing dengan benar. Rambut Mama tak lagi mengenakan jepit rambut mahal, dan dasi Ayah sudah hilang entah ke mana.
“Rea. Rea!”
Ayah dan Mama setengah berlari, menghambur memeluk putrinya yang kotor di sana-sini, berbau lumpur, dan pakaian yang penuh getah buah.
“Kamu ke mana aja? Kenapa nggak izin dulu?” kata Ayah menangkup wajah anak bungsunya.
Bapak, ibunya Nuri, dan Nuri sendiri melihat ke arah Jono yang diam—pura-pura tak tahu.
Rea sendiri mulai mencebik, tanda bahwa tangisnya sudah hampir keluar.
“Aku takut nggak boleh….” Gadis kecil itu menangis, memeluk leher Ayahnya yang tak pernah dia lihat sekacau sekarang.
Mama Rea tak bisa mengatakan apapun selain memeluk putrinya yang ternyata pergi karena aturan yang dibuat mereka. Dia hanya tahu Rea senang bercerita soal tari balet yang baru dipelajari, nilai sempurna yang tanpa sadar ia tuntut harus terus menyentuh angka yang sama, atau gaya renang kupu-kupu yang terus Rea ingin bisa lakukan.
“Maaf ya, Bapak dan Ibu. Rea bilang dia ingin main, jadi saya ajak ke tempat yang dia dengar dari cerita temannya,” kata Bapak sesopan mungkin.
Ayah Rea yang sudah berdiri tegak sambil menggendong putrinya menggeleng-geleng pelan. “Saya harusnya yang berterima kasih. Jika tidak ada anak-anak ini, saya tidak akan pernah tahu keinginan putri saya. Maaf jadi merepotkan Anda sekalian.”
Hari itu, Rea tidak lagi hanya bercerita soal apa yang dia pelajari di sekolah atau tempat les berbayarnya, tapi soal bengkoang yang ternyata adalah umbi-umbian. Kenitu bergetah yang tak pernah dia tahu, atau buah belimbing yang ternyata bukan hanya berbentuk bintang saja.