Nakhoda Tua

~ cerita untuk ayahku

JIKA seorang nakhoda tua mencintai seorang dewa, terperangkap dengan romansa masa lalu, maka tidak ada pilihan lain bagiku selain memberi pengakuan terhadap apa yang dicintainya itu.

*

Kegagalan Timnas Garuda mengunci satu tiket untuk tampil di pentas Piala Dunia tahun 2026, menjadi kesedihan bangsa. Padahal harapan untuk ikut di pesta itu, sungguh tidak terbandingkan dengan apapun. Bagaimanapun caranya, timnas harus bisa lolos. Kalau tidak bisa 100 persen pemain lokal, campuran pemain keturunan pun tak apalah. Tentu bangga rasanya bila melihat bendera Merah Putih berkibar bersama bendera dari negara lain, terutama saat berkibar sejajar dengan langganan piala dunia seperti Brazil, Argentina, Jerman, Perancis, Inggris, dan Belanda.

Tapi impian tinggal impian. Setelah segala cara dilakukan, termasuk mengganti pelatih, nasib telah menggariskan bahwa Indonesia belum saatnya tampil. Gagalnya Timnas membuatku mencoba mencari penghiburan agar kesedihan ini tidak berlarut-larut.

Aku pun tidak tahu, apakah dengan mengingat kembali kisah ini, menuliskannya di sini, akan benar-benar membuatku terhibur atau malah sebaliknya, sebab yang akan aku ceritakan ini tentang seorang nakhoda tua: ayahku.

*

Aku kembali ke suatu malam ketika final Piala Dunia 2022 akan dilangsungkan. Malam itu bulan Desember menggantung rendah, basah oleh sisa hujan, seolah tahu ada perhelatan besar yang akan segera digelar di ruang tengah rumah kami. Aku, sejak awal mengidolakan Tim Perancis dan Ayah selalu dengan Argentinanya, tim yang tak tergantikan di hatinya.

Ayah duduk di sana, bertakhta di sofa berkulit imitasi yang warna cokelatnya mulai lusuh, mengelupas di beberapa bagian. Tubuh ayah yang dulu tegap, yang otot-ototnya ditempa oleh kerasnya kehidupan laut dan disiplin besi, kini menyusut. Dagingnya seolah meleleh perlahan dari tulangnya, ditarik oleh gravitasi usia, menyisakan kerangka seorang lelaki tua yang tampak terlalu kecil untuk bayang-bayangnya sendiri.

Namun, di tangan kanannya, ia menggenggam kekuasaan. Setidaknya, ia masih tetap berkuasa atas sebuah remote televisi berwarna hitam, yang tombol-tombol angkanya telah lama hilang digerus jempol. Itu satu-satunya kemudi yang menghubungkannya dengan dunia yang kian asing baginya.

“Argentina pasti juara,” gumamnya. Suaranya seolah dentuman meriam. Matanya, sepasang telaga keruh yang permukaannya tertutup lumut katarak, menatap layar televisi yang masih menampilkan iklan rokok dengan nanar. “Maradona akan menari-nari lagi malam ini.”

“Messi, Ayah, Lionel Messi,” koreksiku pelan, duduk di sofa seberang, memeluk lutut yang mulai terasa kaku.

Ayah menoleh, keningnya berkerut dalam, seolah aku baru saja mengucapkan bahasa dari planet lain.

“Maradona,” ralatnya dengan tegas. “Orang-orang bilang dia sudah mati. Omong kosong itu. Mereka tidak mau lihat Maradona cetak gol. Lihat saja nanti. Kaki dan tangannya sakti.”

Aku terdiam, menelan ludah yang terasa pahit. Di kepala Ayah yang kini menjadi labirin dengan dinding-dinding memori yang runtuh satu per satu, masa lalu, masa kini, dan masa depan tidak lagi berbaris rapi, tapi bertumpuk, dan tumpang tindih. Bagi Ayah, Diego Maradona masih hidup, masih muda dengan rambut keriting liarnya, dan siap meliuk melewati separuh tim Inggris. Dia tidak pernah bisa menerima kematian Sang Dewa, dan menganggap itu hanyalah jeda iklan yang panjang.

Malam itu, 18 Desember 2022, pukul 23.00 Wita, para penonton di Lusail Stadium sedang bersiap menjadi saksi sejarah, siapa yang akan dinobatkan jadi juara dunia. Argentina atau Perancis? Namun di ruang tamu kami yang berukuran 4 x 5 meter ini, sebuah pertempuran lain, yang lebih sunyi, sedang berlangsung.

“Sini remotenya, Yah. Biar aku carikan salurannya,” bujukku. Tanganku terulur, sebuah gerakan diplomatik yang sia-sia.

Reaksi Ayah refleks dan defensif. Ia menarik remote itu ke dadanya, mendekapnya erat seolah itu adalah jimat penjaga kehormatan keluarga. “Jangan sentuh,” desisnya. “Nanti kau ganti ke film-film hantu itu lagi. Atau nyanyi-nyanyi tidak jelas.”

“Aku cuma mau pastikan,” balasku, sedikit menekan nada bicara, frustrasi mulai merayap naik seperti air pasang.

Sejujurnya, aku adalah anak zaman ini. Aku memuja rasionalitas, kecepatan, dan efisiensi. Dalam sepak bola, aku melihat Perancis sebagai manifestasi dari semua itu. Kylian Mbappe adalah dewa kecepatan, sebuah mesin gol yang dirancang untuk menghancurkan romansa masa lalu dengan lari sprint yang mematikan. Aku ingin melihat Perancis menang karena itu logis. Karena itu mewakili masa depan.

Tapi Ayah adalah romansa yang sekarat. Ia adalah penganut mazhab sepak bola klasik, di mana satu orang bisa berlari, menari, membawa bola, menembus jantung pertahanan lawan. Karena itu, ia mencintai Argentina karena Argentina adalah Maradona, dan Maradona adalah simbol dari perlawanan seorang individu melawan dunia yang raksasa.

Kami berebut. Jemariku sempat menyentuh ujung remote yang licin oleh keringat tangannya. Tarik-menarik terjadi. Aku melihat napasnya memburu. Ada kilatan ketakutan di matanya, bukan takut padaku, tapi takut pada ketidakberdayaan.

Tiba-tiba, aku sadar. Ini bukan tentang televisi. Ini bukan tentang sepak bola. Bagi Ayah, remote ini adalah sisa terakhir dari siri’ kekuasaannya, harga dirinya sebagai laki-laki Bugis, sebagai kepala keluarga, sebagai nakhoda. Jika ia menyerahkan remote ini, itu artinya ia mengakui bahwa ia sudah tidak mampu lagi mengemudikan kapalnya. Ia mengakui bahwa otaknya telah karam. Bahwa ia telah menjadi penumpang di rumahnya sendiri, disuapi tontonan, dimandikan, dan diatur.

Rasa malu menyergapku. Apa gunanya aku menang dalam logika jika aku membunuh jiwanya malam ini? Perlahan, aku melepaskan cengkeramanku. Aku mengangkat kedua tangan, menyerah.

“Baiklah, Kapten,” ujarku lirih, menggunakan panggilan masa kecilku untuknya. “Ayo kita tonton Argentina. Jangan sampai kita ketinggalan.”

Sejujurnya bukan itu yang ingin saya katakan, tapi Ayo, Perancis. Waktumu sekarang, libas Argentina. Tapi itu tidak pernah bisa keluar dari mulut saya.

Ayah mendengus, menegakkan punggungnya yang bongkok, membusungkan dada selayaknya panglima perang yang baru saja memukul mundur pemberontak. Dengan jari gemetar, tremor yang ia sembunyikan dengan susah payah, ia menekan tombol demi tombol. Layar berkedip. Biru. Hitam. Lalu hijau.

Lapangan hijau raksasa terhampar. Gemuruh puluhan ribu manusia meledak dari speaker televisi yang sember.

“Nah,” katanya puas, meski napasnya masih tersengal. “Maradona sudah masuk lapangan.”

Di layar, Lionel Messi memimpin barisan, wajahnya tegang namun matanya menyala. Aku tidak akan mengoreksi Ayah. Biarlah Messi menjadi Maradona malam ini. Biarlah roh mereka bersatu.

*

Babak pertama dimulai. Dan seiring bola bergulir, Ayah, sang nakhoda yang baru saja memenangkan pertempuran perebutan kemudi, mulai terkulai. Matanya yang tadi nyalang perlahan meredup. Kelopak matanya memberat, ditarik oleh gravitasi mimpi. Sepuluh menit laga berjalan, dengkuran halus mulai terdengar, berirama, bersahutan dengan suara komentator yang histeris.

Ia tertidur. Remote itu masih tergenggam erat di tangan kanannya yang kini terkulai di atas perut, naik turun seirama napasnya. Ia tertidur saat “Maradona”-nya sedang bersiap melakukan sihir. Dan aku, si Malin Kundang, anak durhaka yang diam-diam memuja Mbappe, kini duduk sendirian menjaga tidurnya.

Di layar, Argentina mengamuk. Menit ke-23, Messi mencetak gol lewat titik putih. Aku menahan napas. Ingin berteriak, tapi takut membangunkannya. Menit ke-36, Di Maria menggandakan kedudukan lewat serangan balik yang begitu indah, begitu artistik, seolah-olah dilukis oleh tangan Tuhan sendiri. 2-0.

Aku menatap Ayah. Wajahnya damai. Seakan-akan dalam tidurnya ia bisa mendengar sorak-sorai itu. Mungkin di alam mimpi, ia sedang duduk di tribun stadion, mengisap cerutu bersama Maradona, menertawakan permainan orang-orang Eropa yang kaku.

“Argentina menang, Yah,” bisikku pada udara kosong.

Ada rasa lega yang luar biasa. Jika skor ini bertahan, saat ia bangun nanti, aku bisa memberitahu kabar gembira ini. Ia pasti akan tersenyum karena merasa prediksinya benar. Namun, sepak bola, seperti halnya hidup, penuh humor getir yang gemar memutarbalikkan nasib di tikungan terakhir. Menit ke-80. Badai itu datang. Namanya Kylian Mbappe. Penalti. Gol. 2-1.

Belum sempat aku memproses kengerian itu, satu menit kemudian, Mbappe kembali merobek jala dengan tendangan voli yang tak masuk akal. 2-2.

Jantungku berhenti berdetak sesaat. Ruang tamu itu mendadak terasa dingin, sedingin ujung jari kaki dan tanganku, meski suhu tubuhku meningkat drastis.

Adrenalinku meledak. Di satu sisi, bagian diriku yang rasional, sisi “Eropa”-ku, bergejolak kagum. Inilah sepak bola! Inilah modernitas! Perancis bangkit dari kubur! Aku ingin melompat, memuji kejeniusan Deschamps, memuji ketajaman Mbappe. Darah mudaku mendidih melihat comeback yang begitu epik.

Tapi kemudian aku menatap Ayah. Dalam tidurnya ia tidak tahu bahwa kerajaannya sedang dibakar. Tidak tahu bahwa “Maradona”-nya sedang dipaksa berlutut.

Ketakutan yang purba menjalar di tengkukku. Bagaimana jika ia bangun sekarang? Bagaimana jika ia membuka mata tepat saat Perancis mencetak gol ketiga? Bagaimana aku menjelaskan padanya bahwa dunia yang ia percaya, dunia di mana keindahan tarian individu bisa mengalahkan mesin, sudah runtuh?

Kekecewaan di wajahnya adalah sesuatu yang tak sanggup kuhadapi. Di usianya yang senja, di mana setiap hari ia kehilangan kepingan ingatan, kemenangan Argentina adalah satu-satunya penghiburan yang ia tunggu bulan ini. Ia sudah membicarakannya selama berminggu-minggu. Jika Argentina kalah, ia akan merasa dikhianati oleh satu-satunya hal yang masih ia cintai.

Maka, di menit-menit kritis itu, terjadilah perang batin dalam diriku. Otakku berteriak: Ayo Perancis! Hancurkan mereka! Tunjukkan superioritas fisikmu! Di sisi lain, hatiku berbisik perih: Tuhan, tolong Argentina. Menangkan, demi nakhoda tua yang tertidur ini.

Pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu. Skor 2-2. Ketegangan di layar kaca merembes keluar, memenuhi ruang tamu kami seperti asap tebal. Setiap kali Perancis menyerang, aku menahan napas sembari meremas bantal sofa. Setiap kali Argentina kehilangan bola, aku mengumpat tanpa suara.

Aku bukan lagi pendukung Perancis. Cintaku pada sepak bola modern telah kubunuh malam ini, saya kurbankan di altar bakti seorang anak. Aku adalah Malin Kundang yang hendak mengubah takdir, tidak ingin selamanya dikutuk jadi batu. Aku menjadi ultra-nasionalis Argentina dadakan. Oh, santo-santo pelindung Buenos Aires, bersatulah malam ini!

Dan pada menit ke-108, Messi mencetak gol lagi. 3-2! Aku nyaris menangis saking leganya. Aku menoleh ke Ayah, ingin mengguncang bahunya. “Yah! Ayah! Lihat! Dia melakukannya lagi!” Tapi dengkurannya masih konstan. Ia berada di samudra tidur yang terlalu dalam.

Namun, drama belum usai. Menit ke-118. Penalti lagi untuk Perancis. Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Dan… Mbappe mencetak gol. 3-3. Gila. Ini gila!

Aku merasa mual. Perutku dipelintir oleh ketegangan yang tak manusiawi. Ini bukan sekadar pertandingan; ini adalah penyiksaan psikologis. Mengapa Tuhan begitu senang mempermainkan harapan? Apakah Dia juga sedang menonton di langit sana dan tertawa melihat kami?

Babak adu penalti dimulai. Ini adalah perjudian nasib paling kejam. Aku tidak berani melihat layar. Aku hanya mengintip dari celah jari.

Mbappe gol! Messi gol! Coman gagal. Tchouameni gagal.

Setiap kali pemain Perancis gagal, ada sorak sorai jahat yang meledak di dadaku, sorakan yang dulu sangat kubenci, kini menjadi satu-satunya harapanku. Aku mengkhianati idolaku sendiri demi seorang lelaki tua yang sedang tertidur nyenyak ini.

Dan akhirnya, Gonzalo Montiel maju sebagai algojo terakhir. Stadion hening. Jantung ribuan penonton seolah berhenti berdetak, termasuk aku, di ruang tamu ini. Hanya suara napas berat Ayah yang terdengar, mengingatkanku akan kefanaan.

Gol!!! Argentina Juara Dunia!!!

Tubuhku lemas. Aku merosot di sofa, seolah tulang-tulangku baru saja dicabut. Bukan euforia kemenangan yang kurasakan, melainkan kelegaan seorang terpidana mati yang mendapat grasi di detik terakhir. Beban gunung berapi di pundakku runtuh.

Argentina menang. Mitos Ayah selamat. Aku membiarkan siaran perayaan berlangsung. Messi diangkat, dipuja bak dewa. Komentator menangis. Tapi mataku tertuju pada Ayah. Perlahan, kelopak matanya bergerak. Kerut di dahinya bergeser. Ia menggeliat, terbangun oleh suara gemuruh dari televisi yang volumenya sengaja kunaikkan sedikit.

Ia mengerjapkan mata, bingung, mencoba mengumpulkan nyawanya yang berserakan di alam mimpi. Ia menatapku, lalu menatap layar, lalu menatap remote di tangannya yang masih dalam genggamannya.

“Puraniga*?” tanyanya. Suaranya parau, lemah, seperti orang yang baru pulang dari perjalanan jauh.

Aku tersenyum. Senyum paling tulus yang bisa kuberikan tahun ini. Aku bangkit, pindah duduk ke sampingnya, dan merangkul bahunya yang ringkih. Bau minyak urut menguar dari kaosnya. Bau Ayah.

“Sudah, Yah. Sudah selesai,” jawabku lembut.

“Siapa menang?” tanyanya, ada nada cemas yang tipis, seperti anak kecil yang takut dimarahi guru. Matanya mencari jawaban di mataku, tidak percaya pada layar yang penuh warna-warni confetti.

Aku menunjuk ke layar, di mana Messi sedang mencium trofi emas itu.

“Argentina, Yah. Maradona-ta’ menang. Mereka juara dunia.”

Wajah tua itu terdiam sesaat. Mencerna informasi itu dengan lambat. Lalu, perlahan, sebuah senyum merekah. Bukan senyum lebar, tapi senyum simpul yang penuh kepuasan, senyum seorang nakhoda yang tahu kapalnya telah sampai di pelabuhan dengan selamat meski ia tertidur di sepanjang badai.

“Aga memeng uwaseng*,” katanya, suaranya bergetar bangga. Ia menepuk lututku pelan. “Kau ini… terlalu percaya sama itu orang Eropa. Mereka mainnya pakai kalkulator. Kita orang Bugis, sama seperti orang Argentina, kalau main pakai hati. Siri’ harga mati.”

Aku mengangguk, mengiyakan saja. Ia tidak tahu. Ia tidak melihat drama itu. Ia tidak melihat kengerian Mbappe. Ia tidak tahu betapa nyaris ia menghancurkan impian Argentina, impian ayahku. Aku tersenyum, seolah melihat Madonna di sudut ruang urung menyanyikan lagu Don’t Cry for Me Argentina.

“Iya, Yah. Ayah benar,” kataku, mengalah sepenuhnya. “Ayah selalu benar.”

Setelah itu kucium ubun-ubunnya. Aku tidak pernah berhenti mencintai pahlawanku ini. Sejak ibu meninggalkannya, meninggalkan kami untuk selamanya, satu-satu sahabatnya adalah aku.

Ayah menyandarkan kepalanya kembali ke sandaran sofa. Matanya berkaca-kaca menatap layar. Mungkin ia melihat Messi, atau mungkin ia melihat dirinya sendiri di masa muda, mengangkat piala kehidupan yang kini perlahan lolos dari genggamannya.

“Matikan saja TV-nya,” perintahnya tiba-tiba, menyerahkan remote itu padaku. Kali ini tanpa perlawanan. Tanpa perebutan.

“Ayah tidak mau lihat Maradona angkat piala?” tanyaku heran.

“Tidak usah. Yang penting sudah menang,” katanya, memejamkan mata kembali.

Aku menerima remote itu. Benda itu terasa hangat, menyimpan sisa suhu tubuh Ayah. Beratnya terasa berbeda sekarang. Bukan lagi sekadar alat elektronik, tapi sebuah tongkat estafet yang baru saja diserahkan.

Aku mematikan televisi. Ruangan menjadi gelap seketika, hanya diterangi lampu jalan yang menyusup lewat celah gorden. Dalam gelap, aku dengar kembali irama napas Ayah yang mulai teratur. Empat tahun lagi, saat Piala Dunia akan dihelat kembali, aku tidak tahu apakah nakhoda tua ini masih ada di sini untuk berebut remote denganku. Aku tidak tahu apakah ia masih akan mengingat siapa itu Maradona, atau bahkan siapa aku.

Namun malam ini, di ruang tamu yang sempit ini, kami berdua pemenangnya. Ia dengan keyakinan masa lalunya, dan aku dengan kebohongan masa kiniku. Argentina juara, dan Ayah masih menjadi kapten di kapalnya yang mulai karam, setidaknya untuk satu malam lagi.

“Selamat tidur, Ayah.”

Sekali lagi, kucium ubun-ubunnya dengan bibir gemetar.

.

Tambora, 2025

.

Catatan:
* Siri’ = adalah salah satu pilar utama dalam falsafah hidup masyarakat Bugis-Makassar. Secara harfiah, kata ini berarti “rasa malu”, namun maknanya jauh lebih luas, diartikan sebagai harga diri dan kehormatan. Bagi masyarakat Bugis-Makassar, kehilangan Siri’ dianggap lebih buruk daripada kehilangan nyawa.

* Puraniga? = Sudah selesai?
* Aga memeng uwaseng =Aku bilang juga apa

Bagikan:

Penulis →

Muhary Wahyu Nurba

Penyair, aktor, fotografer, anggota Masyarakat Sastra Tamalanrea, Makassar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *