Gubuk Gembira

DI WARUNG Bu Kopi ada televisi menyala. Kejaksaan Agung sedang memamerkan uang sitaan hasil korupsi sebelas milyar. Untuk keamanan, katanya, yang dipajang cuma dua milyar. Dua milyar mewakili sebelas milyar. Ruang Konperensi Press hampir separuhnya terpakai untuk memajang uang sitaan itu, ditata di lantai setinggi meja, dipagar pengaman dan dijaga banyak sekali polisi bersenjata api laras panjang. Uang itu diduga berkaitan dengan izin ekspor minyak goreng.
“Mereka begitu,” kata Bu Kopi. “Gampang saja menimbun uang. Kita janda tua dan miskin mencari uang setengah mati hanya supaya bisa tetap makan.”
Saya jadi jengah. Bu Kopi terus menggerutu berkepanjangan, kadang mengumpat pelan. Nanti akan saya ceritakan kejadiannya seperti versi aslinya, menurut dia. Baiklah sekarang ini saya katakan, saya sedang duduk di warung kopi pinggir jalan, di warung Bu Kopi ini, menunggu bertemu seorang teman untuk suatu urusan yang tidak ingin saya ceritakan.

Warung Bu Kopi ini agak masuk dari jalan utama perkotaan, dekat pintu gerbang perumahan elit. Pemiliknya, yang biasa dipanggil Bu Kopi, adalah seorang janda tua, dan seperti dikatakannya sendiri: miskin. Bangunan semi permanen ini dulunya cuma tenda. Didirikan di atas tanah hook dari pemukiman di belakang warung, masih agak luas. Oleh pemiliknya tanah itu ditanami beberapa pohon rambutan, sisanya dibiarkan menjadi semak belukar. Bu Kopi diizinkan mendirikan warung di situ cuma-cuma, juga diberi sambungan listrik dengan meteran tersendiri yang dipasang di teras rumah pemilik tanah. Kabelnya dilewatkan atas dengan penyangga tiang bambu. Bu Kopi harus mengisi tokennya sendiri sewaktu-waktu pulsa listriknya habis. Dulu dia harus minta tolong ke pelanggan warungnya untuk mengisikan pulsanya ke meteran, sekarang ada keponakan dan seorang pembantu yang upahnya dibayarnya setiap hari Sabtu. Bu Kopi juga diberi akses ke keran air di halaman. Air itu dari PDAM, jadi tidak takut kehabisan. Untuk air Bu Kopi diberi gratis, dia boleh menyambung keran dengan selang yang dijulurkan menerobos pagar kawat ke tempat penampungan airnya di warung. Dahulu ketika masih warung tenda, dia harus mengangkut ember demi ember. Sekarang lebih mudah, tinggal putar keran saja. Rumah itu berpagar, tetapi pintu gerbangnya tidak pernah ditutup.

Suatu ketika, pagi hari ketika belum banyak pembeli, warung itu masih berupa tenda, ada seorang ibu-ibu mengendarai sedan mewah, turun dari mobilnya sambil tertawa-tawa.

“Bu Kopi, Bu Kopi!” teriaknya. Bahkan setelah berhadap-hadapan pun bicaranya tetap berteriak. Sebentar-sebentar tertawa. “Suami Ibu,” demikian dia menyebut dirinya sendiri dengan kata “Ibu.” “….mantan suami… bercerai dengan Ibu, tergoda perempuan dari Thailand, cantik dan muda. Ibu dulu juga cantik, setelah punya anak dua dan sudah menikah semua, ya seperti ini jadinya: peyot! Dasar tua bangka nggak tahu diuntung! Ibu usir dia dari rumah! Dia hanya boleh bawa satu koper isi pakaian. Semua hartanya ditinggal di Ibu, semuanya balik nama atas nama Ibu. Dia terpaksa setuju. Pada saatnya nanti semuanya ke anaknya juga, yang dua orang itu. Kalau tetap di dia, tidak, saya tidak ingin harta kekayaannya dipakai untuk memanjakan perempuan muda celaka itu. Ha ha ha! Asetnya banyak, ada ladang, sawah, rumah kos-kosan di berbagai tempat. Duitnya juga banyak. Duitnya Ibu bagi tiga, Ibu kirim ke anak masing-masing sepertiga. Sisanya Ibu simpan dan Ibu gunakan sesuka Ibu. Waktu menikahi Ibu dia tidak punya apa-apa, dan Ibu mau. Sarjana Hukum baru lulus, magang pengacara kesana-kemari. Ibu memilih tidak berkarir karena langsung punya anak. Dua tahun menikah dapat dua anak. Merawat dua anak kecil sendirian tanpa pembantu, di rumah kontrakan lagi. Duit belum banyak. Sekarang dia punya nama besar. Ibu tidak tahu apa saja yang dilakukannya diluar pekerjaan. Laki-laki kurang ajar! Dia pergi ke Jakarta. Sering tampil di televisi, menangani kasus-kasus besar. Ya sudah, itu rezeki dia! Ibu nggak mau tahu lagi! Sekarang Ibu hidup sendiri, ditemani pembantu, sopir, dan karyawan yang mengurusi aset-aset yang ditinggalkannya itu. Kadang-kadang anak-anak datang bersama cucu-cucu. Rumah jadi ramai sebentar. Lebih sering Ibu yang mendatangi mereka. Ibu punya duit banyak, jadi Ibu bisa memanjakan cucu-cucu Ibu, pergi ke mall, ke restoran, ke kolam renang, ke bioskop, ke tempat-tempat yang mereka senang. Kakeknya tidak perduli!”

Bu Kopi ternganga. Tidak ada hujan tidak ada petir tiba-tiba ada orang datang dengan singkat dan padat menceritakan riwayat hidup keluarganya.

“Ibu mau pesan kopi apa?” agak tergeragap Bu Kopi menawari. “Sachetan atau yang digiling dari pasar?”

“Tidak! Ibu tidak minum kopi. Ibu setiap hari lewat jalan ini. Itu rumah Ibu yang di sana,” menunjuk ke arah perumahan elit. “Ibu mau berbagi.” Dia membuka tasnya dan mengeluarkan bungkusan kertas berwana coklat. “Warung Bu Kopi ini harus diperbaiki supaya agak keren, gitu bahasa gaulnya. Nah, ini lima puluh juta, untuk beli material dan ongkos tukang.”

Bu Kopi mundur gemetaran. “Maksudnya ini bagaimana?”

“Ibu berbagi dengan Bu Kopi. Mohon diterima. Insya Allah ikhlas. Ibu hanya berharap ridha dari Allah.”

Bu Kopi mengangkat kedua tangannya. “Maaf saya tidak bisa menerima. Saya….”

“Begini saja. Anggap Bu Kopi berhutang pada Ibu. Setiap awal bulan Ibu akan mampir. Bu Kopi boleh bayar berapa saja sekuatnya sampai lunas. Sudah ya! Ha ha ha!”

Bu Sedan Mewah itu menaruh bungkusan uang di meja, lalu setelah masuk mobil dia tidak pernah kelihatan lagi. Meninggalkan Bu Kopi yang akhirnya memungut dan membuka bungkusan uang itu, air matanya menggenang di sudut mata tuanya. Sekarang sudah satu tahun lewat, sedan mewah itu sekalipun tidak pernah kelihatan lagi. Mungkin Bu Sedan Mewah sudah berganti mobil, mungkin lebih besar yang bisa muat lebih banyak, dia cerita sering mengajak cucu-cucunya ke tempat bergembira. Meskipun demikian, Bu Kopi tetap menyisihkan setiap bulan, sebagian dari keuntungannya. Beberapa bulan lagi akan genap lima puluh juta. Jika sewaktu-waktu Bu Sedan Mewah datang, uangnya tersedia. Demikianlah asal-usul warung tenda berubah menjadi bangunan setengah permanen itu. Meteran listrik tetap di teras rumah pemilih tanah, juga atas nama pemilik tanah. Air gratis.

Saya mendengarkan cerita Bu Kopi sambil menunggu teman yang tidak juga datang, yang keperluannya tidak ingin saya ceritakan. Saya mengingat setiap perkataan Bu Kopi supaya ketika saya bercerita ke orang lain, seperti dalam tulisan cerita ini, ceritanya sama persis seperti yang diceritakan. Saya tidak suka menambahi atau mengurangi, semuanya versi Bu Kopi sendiri.

Siang hari menjelang adzan dhuhur. Mereka datang dengan mengendarai mobil bak terbuka, dengan dua bangku memanjang saling memunggungi. Turun dari mobil dengan kasar dan membentak-bentak, bertanya tentang IMB, izin usaha, retribusi dan macam-macam yang saya tidak mengerti. Komandannya masuk warung dan menendang kursi. Keponakan dan pembantu saya berdiri di sudut, wajahnya pucat pasi ketakutan. Mendengar ribut-ribut itu pemilik tanah datang, yang perempuan, suaminya sampai sore masih di kantor. Dia bertanya ada apa, ada apa? Komandannya yang menjawab, tetap dengan nada tinggi dan kasar. Lalu mereka bertengkar. Saya hanya bisa menangis. Memang apa lagi yang bisa diperbuat seorang janda tua, lemah dan miskin? Menangis!

“Warung ini harus digusur sesuai dengan Keputusan Walikota!”

“Tidak bisa! Tidak boleh! Warung ini ada di tanah saya! Bukan di tanah pemerintah! Apalagi Walikota!”

“Bukan urusan saya tanah milik siapa. Saya hanya menjalankan perintah! Warung ini mengganggu pemandangan. Ibu jangan menghalangi atau….”

“Atau apa?! Atau apa?!” Perempuan itu berkacak pinggang menantang tepat di depan Komandan.

Lalu berdatanganlah tukang-tukang ojek, tukang parkir, para pekerja yang biasa istirahat makan siang dan minum kopi di warung ini. Mereka bentrok dengan orang-orang yang berseragam. Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak-teriak mengatasi semua keributan sambil mengacung-acungkan sebilah golok.

“Coba saja kalau berani! Silahkan gusur! Maju selangkah, saya tebas!”

Perempuan yang berkacak pinggang tadi masuk ke dalam warung, mendampingi Bu Kopi yang menangis tersedak-sedak. Orang-orang berseragam itu terdiam, nyalinya langsung surut. Semuanya mundur merapat ke mobil bak terbuka yang tadi mereka tumpangi. Sekarang tinggal Komandan sendiri berhadap-hadapan dengan orang yang bergolok itu. Komandan itu badannya jauh lebih besar dan tinggi dibanding orang yang bergolok, terlebih dengan jaket lusuh yang pudar warnanya, memperkuat penampilannya: alangkah rapuhnya. Tetapi penampilan fisik sering tidak menjadi ukuran dalam perkelahian. Melihat caranya berdiri dan memegang golok, jelas dia orang yang terlatih, dan lagi nyalinya sangat besar. Sendirian saja menghadapi banyak lawan.

Komandan dengan hati-hati berkata, “Sabar, Pak, sabar ya… nanti saya koordinasi dengan Pak Wali.”

“Jadi ini perintah Walikota? Tidak usah koordinasi! Sekarang juga saya datangi! Awas kalau ada yang berani macam-macam, saya cari satu persatu!”

Lalu orang itu pergi memacu sepeda motornya dengan tetap menenteng golok. Beberapa orang mengikuti dengan sepeda motor yang berbeda. Tidak tahu apa yang disampaikan ke Walikota. Ketika dia kembali ke warung, orang-orang berseragam sudah pergi. Besoknya baru ada yang bercerita. Pendekar Golok itu mengamuk di kantor Walikota. Para pegawai negeri berhamburan keluar, sebagian ada yang berkerumun menonton. Pendekar Golok melepas jaket dan menyarungkan goloknya. Golok dan jaket diserahkan ke orang yang menyusulnya. Dia masuk kantor Walikota dengan tangan kosong.

Pak Wali, seperti umumnya politikus, berusaha bersikap dingin seperti biasanya, menanyakan duduk persoalannya. Dia kelihatan masih terlalu muda untuk jadi pejabat publik, tetapi jangan keliru, dia sekaligus juga ketua partai tingkat DPD; dia sudah terbiasa menghadapi banyak orang yang wataknya bermacam-macam. Para politikus, terutama yang duduk di DPRD yang menjadi mitra, dan sekaligus lawan politiknya dari fraksi lain, suka berbicara keras dan menohok. Jadi dia harus selalu siap menghadapi yang seperti itu. Sudah disadarinya sejak semula, politik adalah jalan yang licin dan terjal.

“Iya benar ini perintah Pak Wali? Yang punya warung itu janda tua, miskin! Pak Wali tidak merasa kasihan? Boro-boro menikmati hidup! Bu Kopi itu cuma mengais rezeki receh untuk bertahan hidup. Bertahan hidup, Pak Wali! Suaminya sudah lama meninggal. Tidak ada yang menafkahi. Siapa lagi yang membela dia, selain sama-sama orang miskin seperti saya? Saya tukang ojek, Pak Wali. Mangkal di warung Bu Kopi!”

“Iya. Iya. Saya sudah paham. Petugas yang di lapangan mungkin bertindak berlebihan. Nanti saya luruskan. Tadi sudah saya perintahkan untuk balik.” Pak Wali menyuruh ajudannya untuk membuatkan kopi. Tapi Pendekar Golok menolak untuk meminumnya. Ia pamit dan bersalaman dengan Walikota setelah berkata, “Banyak orang bergantung pada warung itu, Pak Wali. Jadi tempat berteduh ketika hujan dan panas, jadi tempat istirahat makan siang murah. Banyak anak-anak sekolah juga mampir untuk beli minuman. Gerobak bakso, somay, es doger sering mangkal di situ juga. Sudah ya, Pak Wali. Assalamu’alaykum.”

Beberapa hari kemudian Pak Wali datang ke Warung Bu Kopi, bersama beberapa pejabatnya, dua mobil, dan juga para wartawan yang memvideo dan memotret. Pada jam-jam makan siang seperti itu, banyak juga anak-anak SMA yang gedungnya tidak jauh dari situ berdatangan ke Warung Bu Kopi. Umumnya mereka tidak masuk ke warung, tetapi mengerumuni gerobak bakso, somay, es doger dan lainnya yang berjajar di kanan-kiri warung. Mareka melihat mobil dinas walikota, lalu mulai berteriak-teriak heboh: “Ada Pak Wali! Ada Pak Wali!”

Pak Wali mendengar teriakan-teriakan itu memerlukan keluar warung sebentar untuk menjumpai mereka. Suasana mulai menjadi lebih ramai ketika mulai ada yang meminta berfoto selfie dengan Pak Wali. Sebagai pejabat publik, Pak Wali harus siap untuk melayani yang seperti itu. Dan dengan senang hati dia melakukannya. Dia sadar bahwa ketampanannya sering menjadi daya tarik tersendiri bagi ibu-ibu dan gadis-gadis yang sedang beranjak dewasa. Istrinya kadang merasa keki dan cemburu. Tetapi dia harus maklum. Sekadar selfie tidak menyebabkan berkurang suatu apa.

“Silahkan pesan apa saja, nanti Pak Wali yang bayar! Pak Wali traktir semuanya!”

Perkataannya langsung disambut gegap-gempita: “Horeee! Horeee! Hidup Pak Wali!” Ada juga yang sampai melompat-lompat.

Selesai melayani selfie, Pak Wali kembali masuk warung untuk menyelesaikan makan siangnya. Semua kehebohan itu tidak luput dari rekaman kamera wartawan. Semuanya jadi bahan berita: Walikota yang merakyat!

“Pak Wali memberi saya lima juta. Saya bilang, terlalu banyak, Pak Wali. Belanja Pak Wali semuanya, beserta staff, para wartawan, tukang ojek dan semua yang ada di warung cuma satu juta delapan ratus ribu.” Bu Kopi mengakhiri ceritanya. “Pak Wali tertawa dan tetap memaksa. Akhirnya lima juta saya terima. Setelah saya ambil satu juta delapan ratus ribu bagian saya, sisanya saya bagi rata ke tukang ojek yang ada. Keponakan dan pembantu saya juga kebagian, masing-masing dua ratus ribu. Pendekar Golok tidak mau menerima uang pembagian. Sudah kewajibannya, katanya. Ketika dia membayar kopi yang diminumnya, saya bersikeras menolaknya. Gratis untuk Pendekar! Akhirnya dia mengalah, tetapi berkata: Untuk sekali ini saja!”

Hape saya berbunyi. Pesan WA dari teman yang saya tunggu-tunggu tetapi tidak kunjung datang itu: “Mohon maaf ya, Pak. Saat ini saya tidak bisa ke Warung Bu Kopi. Saya harus mengantar istri saya ke RS. Sepertinya sudah waktunya melahirkan. Nanti kalau sudah beres, biar saya saja yang ke rumah Bapak.”

Saya menutup hape. Kopi saya sudah tandas. Urusan melahirkan lebih penting dari urusan apapun, itu menyangkut kelangsungan keberadaan manusia di bumi yang semakin kacau ini. Meskipun kecewa tak jadi bertemu, tetapi saya maklum. Saya memesan secangkir lagi, kopi giling dari pasar diseduh tanpa gula. Pelanggan datang dan pergi bergantian, banyak yang tidak saling mengenal, tetapi semuanya saling menyapa. Televisi di bagian belakang warung tetap menyala, tetapi tidak ada yang menontonnya. Saya ingin berlama-lama menikmati suasana warung kopi ini.***

Bagikan:

Penulis →

Agus Fahri Husein

lahir di Singaraja (Bali), 28 Februari 1964, dibesarkan di Ngawi (Jawa Timur) dan Yogyakarta. Menyelesaikan studi di Fakultas Sastra UGM, Yogyakarta, 1995. Menulis sejak 1981, sebagian cerpennya terkumpul dalam Menunggu Pacar dan Cerita Lainnya (2004). Cerpennya “Orang Gila” (“The Madman”) diterjemahkan dalam Bahasa Inggris oleh Jan Lingard, dimuat dalam Diverse Lives: Contemporary Stories from Indonesia, Oxford University Press (1994), dan “Sang Hyang Dollar” (“Dollar Guden”) diterjemahkan dalam Bahasa Svenska oleh Stefan Danerek, dimuat dalam Indonesien berättar: Tusen gevärskulor, tusen fjärilar, Bokförlaget Tranan Swedia (2006). Cerpen-cerpennya dibahas di antaranya yang terpenting oleh Stefan Danerek, The Short Story Genre in Indonesia Post New Order Literature, tesis dipertahankan di Lund University, Sweden (2005); Stefan Danerek, “Tjerita and Novel, Literary Discourse in Post New Order Indonesia” disertasi dipertahankan di Lund University, Swedia (2006); dan Abdul Aziz, “Kajian Nilai Moral dan Citraan Cerpen, Konten Proses Sosial Kabar Kaitannya dengan Pemilihan Bahan Ajar dan Hasil Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas” disertasi dipertahankan di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung (2011). Novelnya Uang Terbang (2014) mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, termasuk diluar sastra, didiskusikan di sejumlah kota dan dijadikan kajian skripsi oleh Libertus Jemahan, “Konflik Sosial dan Politik dalam Novel Uang Terbang karya Agus Fahri Husein” (Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, 2015); dan Eko Ady Setyawan, “Realitas Sosial dalam Novel Uang Terbang karya Agus Fahri Husein: Kajian Realisme Sosialis Georg Lukacs” (Universitas Negeri Surabaya, 2015). Profilnya dimuat dalam Profil Seniman Muhammadiyah: 99 Berkhitmat di Kesenian (LSBO PP Muhammadiyah, 2021). Aktif sebagai anggota Dewan Pakar Lembaga Seni dan Budaya PW Muhammadiyah Provinsi Banten periode 2024-2029; dan anggota Dewan Kebudayaan Kota Cilegon Periode 2025-2028.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *