Kepada Affan, di Surga

Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati
Air matanya berlinang…

Affan yang tercinta, itulah penggalan lirik lagu nasional yang cukup relevan melukiskan keadaan negeri ini. Kau tentu sepakat bahwa lagu itu menggambarkan kesedihan tanah air, tanah tumpah darah kita. Begitu pula dengan perasaan kami. Makin sempurna kesedihan itu setelah mengetahui tragedi yang menimpamu.

Dan kami kirim surat ini kepadamu, Affan.

Semoga surat ini sampai di surga, di tempatmu kini beristirahat. Bukan lewat pos, bukan lewat surat elektronik, bukan pula lewat kurir daring, apalagi melalui birokrasi yang penuh fufufafafifi drama korupsi. Tapi kami kirimkan bersama doa-doa yang naik perlahan dari bibir dan hati rakyat kecil Indonesia. Doa itu seperti uar bunga yang melayang ringan, mencari jalan menuju hadirat Tuhan. Dan di dalam doa-doa itu, namamulah yang kami sebut: Affan Kurniawan.

Affan,
Engkau kini sudah jauh dari bising jalanan Jakarta, dari hiruk pikuk klakson dan lampu merah, dari panas aspal yang mengurapi kulit. Engkau sudah berada di tempat yang damai, di taman surga yang asri, tempat air mengalir tanpa macet, tempat udara sejuk tanpa debu, tempat penuh bahagia tanpa digerogoti keserakahan tikus-tikus di kursi yang tinggi. Tanpa bermaksud mengganggu kedamaianmu di sana, izinkanlah kami bercerita, Affan. Bercerita tentang negeri yang kau tinggalkan, tentang hati kami yang ambyar sejak malam itu.

Hari itu, engkau bekerja seperti hari-hari biasanya. Helm di kepala, jaket ojol melekat di tubuh, telepon genggam bergetar menandakan pesanan masuk. Engkau tahu, setiap pesanan bukan sekadar makanan bagi pelanggan, melainkan kehidupan bagi keluargamu. Satu pesanan dapat berarti setengah liter beras, atau berarti ongkos sekolah adikmu, atau bisa jadi obat untuk bapakmu yang sedang batuk. Begitulah kamu hidup. Begitulah kami hidup, begitulah keseharian kita, rakyat tanpa pangkat dan aparat: menjumlahkan harapan dari recehan, mengikat masa depan dari peluh yang tak pernah berhenti.

Tapi malam itu, jalan tak lagi ramah. Engkau terjebak di antara massa dan aparat, di antara teriakan dan benturan. Kami hanya bisa membayangkan: langkahmu terhenti, motormu tak bisa melaju, tubuhmu terjatuh. Dan besi raksasa yang semestinya jadi pelindung, justru menerkammu, melindasmu. Kami tahu, Affan, engkau tak sempat mengucapkan banyak kata. Tak sempat menoleh ke langit untuk berkata: “Tuhan, aku pulang.” Tak sempat memeluk ibumu barang sejenak, tak sempat menyapa ayahmu yang biasa duduk dikursi itu, tak sempat pula melihat senyum adikmu setiap kali kau pulang.

Kami, rakyat kecil yang membaca kabar itu lewat layar ponsel, langsung merasakan darah mendidih dan mata basah. Seakan-akan yang terbaring di jalan bukan hanya dirimu, tapi kami juga. Seakan-akan roda baja itu melindas seluruh harapan wong cilik. Dan ketika tubuhmu dipanggul ke rumah sakit, lalu nyawamu tak tertolong, kami tahu: satu lagi anak negeri pergi terlalu cepat.

Affan, dengarlah dan berbahagialah di sana: engkau kini lebih dari sekadar seorang pengemudi ojol. Namamu kini adalah nyala lilin di hati kami. Engkau menjadi penanda, bahwa di negeri ini, nyawa orang kecil masih dianggap ringan. Engkau menjadi pengingat, bahwa kerja keras rakyat sering kali hanya dihargai dengan ucapan kosong.

Aku percaya, di surga sana engkau tersenyum, tak lagi merasakan sakit. Tapi di bumi, ibumu masih menangis setiap malam. Ibu Pertiwi pun menangis getir. Tangis itu tak bisa kami hapuskan, tapi kami berusaha mendampinginya dengan doa. Adikmu masih memanggil namamu di tengah tidur, seolah engkau pulang mengantar pesanan. Jangan khawatir, Affan. Kami, yang juga adalah engkau, akan mencoba menjaga mereka lewat suara, lewat solidaritas, lewat tangan-tangan kecil yang saling menggenggam.

Engkau tahu, Affan, rakyat jelata ini sebenarnya sudah lama terbiasa diam. Kami diam saat harga-harga naik. Kami diam saat jalan rusak dibiarkan bertahun-tahun. Kami diam saat anak-anak kami gagal kuliah karena biaya terlalu mahal. Kami diam karena selalu diajari untuk sabar, untuk pasrah. Tapi kepergianmu membuat kami tak bisa diam lagi. Karena engkau tidak sedang melawan siapa pun, tidak sedang berteriak di depan gedung kekuasaan. Engkau hanya sedang bekerja. Dan jika orang yang hanya bekerja pun bisa kehilangan nyawa, lalu siapa lagi yang aman? Ya. Tentu saja mereka yang diberi mandat memegang hukum.

Surat ini bukan sekadar ratapan, Affan. Ini adalah janji. Janji dari rakyat kecil sepertimu untuk tidak melupakanmu. Kami tahu, negeri ini pandai sekali melupakan bahkan mengabaikan kesengsaraan wong cilik. Nama korban-korban sebelumnya tenggelam dalam arsip, dalam berita lama, dalam angka statistik. Tapi namamu akan kami rawat. Kami akan menyebutnya di doa, menuliskannya di dinding, membisikannya pada anak-anak kami.

Affan, kami ingin kau tahu sesuatu: kepergianmu justru menghidupkan sesuatu di antara kami. Orang-orang mulai berkumpul, bukan hanya untuk menyalakan lilin, tapi untuk saling menanyakan nasib. Anak-anak muda mulai berbicara tentang keadilan. Para pekerja mulai menoleh pada satu sama lain, sadar bahwa mereka senasib. Engkau mungkin tak pernah bermaksud jadi pahlawan, tapi dengan tubuhmu yang rebah, engkau telah menyalakan bara di hati kami. Meskipun kesedihan ini ditunggangi para penyusup menyelinapkan kepentingan pribadinya atau kelompoknya.

Di surga, mungkin engkau akan bertanya: “Apakah rakyat kecil benar-benar bisa melawan lupa?” Kami jawab, dengan suara serak tapi pasti: bisa, Affan. Kami bisa. Kami harus. Karena jika kami melupakanmu, maka luka ini akan sia-sia. Dan jika kami melupakanmu, maka doa-doa yang kami kirim padamu hanya tinggal kata-kata kosong.

Engkau kini berada di sisi Tuhan. Itu yang menenangkan kami. Karena kami percaya, Tuhan memiliki keadilan sempurna daripada siapa pun di bumi. Tuhan lebih hangat daripada negara. Tuhan lebih peduli daripada birokrasi. Tuhanlah yang kini memelukmu, memberi surga sebagai ganti kelelahanmu.

Tapi izinkan kami tetap menulis surat panjang ini. Sebab kami ingin bicara padamu, meski engkau sudah damai di sana. Kami ingin engkau tahu bahwa engkau tak sendirian. Bahwa di bumi ini, namamu masih bergaung, masih bergema. Bahwa rakyat kecil Indonesia masih menyebutmu dengan kasih sayang, dengan rasa kehilangan, dengan amarah yang tak lagi bisa ditahan.

Affan, jangan khawatir. Kami tidak akan membiarkan ibumu berjalan sendirian. Kami akan mengiringinya dengan solidaritas. Kami tidak akan membiarkan adik-adikmu tumbuh tanpa cerita. Kami akan menceritakan tentang dirimu, tentang pengorbananmu, tentang bagaimana seorang anak muda bernama Affan mengajarkan kepada negeri ini bahwa nyawa rakyat kecil tak boleh lagi diremehkan.

Kami tidak akan menulis sejarah dengan tinta penguasa, tapi dengan air mata rakyat. Dan dalam sejarah itu, engkau ada di halaman pertama.

Engkau memang telah pergi, Affan. Tapi kepergianmu justru memperlihat semakin jelas bahwa banyak hal telah raib dan lenyap dari negeri ini: rasa aman, rasa kepastian hukum, dan rasa perikemanusian yang adil dan beradab. Ya, kamu, aku, dan kita semua tahu karena negeri ini sudah tidak ada pemimpin yang memimpin dengan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebjiaksanaan dalam permusyawaratan.

Affan, di akhir surat ini, kami hanya ingin berkata: tidurlah dengan damai di surga. Kami yang masih di bumi akan terus berjuang. Kami akan menjaga namamu. Kami akan menjaga keluarga yang kau tinggalkan. Kami akan menjaga janji. Kami sangat berharap kepergianmu ke hadirat-Nya menyentuh kasih Tuhan untuk memperlihatkan siapa saja punggawa-punggawa yang berhati srigala; memperlihatkan dengan jelas siapa yang suka mengadu domba. Dan tentu saja kami sangat berharap rakyat kecil negeri ini dinaungi kesejahteraan.

Salam cinta dari kami,
Rakyat Kecil Indonesia

Bagikan:

Penulis →

Era Ari Astanto

Penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit.
Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Juga di beberapa antologi.
Cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *