IA bukan sekadar putri, tapi sebuah melankolia yang tersimpan dalam akuarium berjalan. Ia telanjang, murni tanpa rahasia. Sebuah kejujuran di tengah peradaban yang bernapas dengan dusta.
Di Kota Naggras, tempat para pemuja mode dan penyembah kemewahan, orang-orang menyebut dirinya dengan julukan purba yang kini terdengar seperti mantra kutukan: Lanigma, Si Tenggorokan kristal. Sebuah frasa kuno yang bermakna bahwa segala yang ia telan: air, makanan, bahkan dosa, akan terpampang nyata bagi mata dunia yang terus mereplikasi kepalsuan sebagai sesuatu yang diwajarkan.
Siapa pun yang menatapnya tidak akan melihat kulit, melainkan langsung menatap ke dalam jantungnya yang berdenyut seperti ubur-ubur merah yang terperangkap dalam toples kristal, berenang sendirian di samudra rongga dada yang sunyi. Setiap teguk air mineral yang menggelontor di kerongkongannya tampak seperti air terjun kecil yang terkurung dalam tabung kaca. Setiap butir pil penenang yang meluncur ke lambungnya terlihat seperti meteor putih yang jatuh ke kawah asam yang sunyi. Bahkan desah napasnya, udara yang tertahan di paru-parunya bagai sayap kupu-kupu basah yang kembang-kempis, menyaring udara kota yang beracun menjadi oksigen yang terlalu suci untuk dihembuskan kembali. Semua itu diproyeksikan di layar videotron raksasa untuk dikonsumsi oleh publik yang dahaga akan tontonan.
Setiap pagi, Lanigma menyeret langkahnya menuju ritual penyucian di Riso Basu. Sebuah kolam renang berlantai marmer di penthouse lantai sembilan puluh. Air di sana dingin, berbau klorin tajam membaur bersama kesepian yang telah disterilkan.
Saat ia merendam tubuhnya, terjadi sebuah peristiwa metafisika: air tidak terlihat membasahinya, tapi seakan utuh menyatu. Batas antara tubuh kaca Lanigma dan air kolam melebur, menjadikan dirinya tak kasat mata, seolah ia telah kembali ke rahim purba. Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi.
Jauh di bawah sana, ribuan pasang mata mendongak. Lensa-lensa kamera telephoto berkilauan di balik jendela gedung seberang, berkedip-kedip seperti mata serangga purba yang birahi, berebut menangkap bias cahaya dari tubuhnya. Lanigma bisa merasakan tatapan itu. Tatapan yang merayapi betisnya, menjilat tengkuknya; sebuah pemaksaan, tontonan visual yang kasar, kejam, terjadi dalam keheningan jarak jauh.
Mereka tidak menginginkan Lanigma sebagai manusia. Di kota yang diselimuti asap dosa ini, mereka menginginkannya sebagai artefak. Sebagai bukti terakhir bahwa kejernihan masih mungkin ada di dunia yang keruh. Kecantikannya adalah sebuah teror. Ia bergerak dengan keanggunan yang menyakitkan, seolah setiap langkah kakinya menginjak pecahan beling yang tak terlihat. Dan matanya! Oh, dua lubang hitam yang menelan cahaya itu, menyimpan seluruh kesedihan galaksi yang tak terucapkan.
*
Malam itu, tragedi datang bukan dengan lolongan sirene, melainkan dengan ledakan sunyi di tengah pesta peluncuran musim semi. Klub eksklusif itu, yang terletak di dekat istana korporasi, dipenuhi oleh aroma uang yang dibakar dan parfum mahal.
Para pangeran kota berkumpul di sana. Mereka adalah putra-putra taipan, pewaris imperium media, dan arsitek kekuasaan yang merasa dunia adalah papan catur mereka. Mereka tidak membawa pedang selayaknya ksatria masa lalu; mereka membawa ego yang diasah setajam silet bedah.
Mereka mengelilingi Lanigma seperti sekumpulan ngengat yang mabuk pada api lilin yang tenang. Tatapan mereka bukanlah kekaguman seorang pecinta, melainkan hasrat seorang kolektor. Ada kehendak purba untuk memiliki. Mereka ingin meminum kejernihan dari tenggorokan Lanigma, ingin menelan transparansinya bulat-bulat, berharap dengan begitu kotoran yang mengerak di jiwa mereka sendiri bisa terbasuh bersih.
Ketegangan di udara memadat, lebih berat dari gumpalan asap rokok elektrik yang menggantung di langit-langit. Seorang pemuda, dengan mata yang menyimpan badai dan tangan yang gemetar oleh nafsu kuasa, mencoba menyentuh pipi kaca Lanigma. Namun, pemuda lain—seorang pangeran yang merasa memiliki hak paten atas bias cahaya di wajah sang puan—dengan sigap menepis tangan itu.
Perkelahian pun tak bisa dielakkan. Tidak ada denting besi beradu besi. Yang terdengar adalah bunyi retak tulang yang diredam oleh debam-debum musik techno seperti jantung raksasa yang sekarat. Gelas-gelas kristal pecah, menumpahkan anggur merah yang warnanya serupa benar dengan darah yang mulai mengalir di lantai dansa.
Lanigma berdiri mematung di tengah kekacauan itu, serupa patung kaca yang hidup. Matanya merekam semuanya dengan kejernihan yang mengerikan. Ia melihat bagaimana nafsu bermutasi menjadi maut dalam hitungan detik.
Salah satu pangeran itu jatuh. Tubuhnya terhempas di atas pecahan botol sampanye, lehernya terpelintir dalam sudut yang tidak wajar. Matanya melotot, menatap Lanigma untuk terakhir kali. Tatapan itu adalah sebuah tuduhan: bahwa kecantikan Lanigma-lah pembunuhnya. Kematian itu hening, tersembunyi rapi di balik dentuman bass yang tak mau berhenti.
Saat itulah Lanigma merasa ada yang retak. Bukan pada kulit kacanya, melainkan jauh di dalam sumsum eksistensinya. Ia terpukul hebat oleh realitas yang menghantamnya: keberadaannya bukan anugerah, melainkan pemicu kiamat kecil ini.
Malam itu juga, Raja dan Ratu (sebenarnya para eksekutif agensi) yang memegang kontrak hidupnya, layaknya memegang tali kekang kuda, segera membawanya pergi. Mereka menyeretnya ke sebuah bungker beton di basement gedung arsip, sebuah kotak tanpa jendela di mana sinyal tidak bisa masuk dan cahaya tidak bisa keluar, menguburnya hidup-hidup dari pandangan dunia.
*
Di luar bungker, perang dingin meletus. Kematian satu pangeran tidak memadamkan api, justru menyiramnya dengan bensin. Para pewaris takhta dari distrik-distrik seberang berdatangan seperti burung nazar, membawa proposal merger yang sebenarnya adalah ancaman akuisisi.
Di atas meja rapat yang dingin, kesepakatan gila dibuat. Siapa yang memenangkan tender, siapa yang paling kuat menancapkan kuku kekuasaannya, dialah yang berhak menikahi—memiliki—Lanigma. Pemenangnya adalah seorang pemuda dengan wajah sedingin granit, seorang gladiator brutal di pasar saham. Ia datang ke depan pintu baja bungker, melamar Lanigma bukan dengan puisi, tapi dengan bahasa angka dan grafik keuntungan.
Namun, sang Raja bimbang. Kalkulasinya rumit. Jika ia menyerahkan Lanigma pada pemuda ini, pangeran dari distrik utara mengancam akan meluncurkan serangan siber yang melumpuhkan infrastruktur kota. Jika ia menolak, pangeran selatan akan memutus pasokan energi, membuat kota tenggelam dalam kegelapan. Kota Naggras berada di ujung tanduk. Pilihan-pilihannya adalah buah simalakama yang beracun.
Dari balik layar monitor pengawas di bungkernya, Lanigma melihat wajah-wajah tua para pembesar itu bermusyawarah. Ia melihat kepanikan yang disembunyikan di balik jas mahal dan dasi sutra.
Keputusan akhirnya jatuh seperti vonis mati yang dibacakan dengan nada datar seorang birokrat: Lanigma harus dibuang.
Logikanya sederhana namun kejam: Ia tidak bisa dimiliki oleh siapa pun, karena memilikinya berarti memicu perang total. Ia terlalu indah untuk dunia yang serakah. Ia harus dikirim ke Omti Olhala, sebuah stasiun di luar angkasa atau mungkin di palung laut terdalam. Sebuah tempat yang tinggi dan jauh, di mana gravitasi hasrat manusia tidak bisa lagi menariknya. Tempat di mana kecantikannya akan dibekukan dalam nol mutlak, menjadi abadi namun tak terjamah oleh tangan-tangan kotor.
Mendengar vonis itu, Lanigma tidak memberontak. Ia menatap pantulan wajahnya di dinding baja yang dingin. Di sana, ia melihat matanya yang lelah. Mata yang telah menampung terlalu banyak keindahan palsu, terlalu banyak kesedihan, terlalu banyak keserakahan, dan kini, terlalu banyak darah.
“Demi kota ini agar tidak runtuh,” bisiknya, suaranya jernih dan rapuh seperti lonceng kaca yang dipukul angin. Ia menerima pengorbanan itu bukan sebagai kekalahan, tapi sebagai satu-satunya cara untuk mencintai kota yang tak tahu cara mencintai dirinya.
*
Hari perpisahan itu adalah hari paling kelabu dalam sejarah meteorologi kota Naggras. Awan rendah menggantung, nyaris menyentuh pucuk-pucuk gedung, seolah langit pun ingin turun menyentuh tanah.
Para pemuja, penggemar, dan pengikut, berbaris di sepanjang jalan protokol. Mereka tidak bersorak. Mulut mereka terkunci, namun dari jutaan ponsel yang mereka genggam, mengalunlah Inde Ndua. Itu adalah elegi digital, sebuah dengung frekuensi rendah yang mendayu-dayu, menyayat hati, sebuah ratapan elektronik bagi dewi yang terusir.
Lanigma diarak dalam limosin kaca anti-peluru menuju landasan peluncuran di puncak Menara. Ia mengenakan gaun sutra berwarna merah ungu, warna senja yang terluka oleh malam. Gaun itu membalut tubuh transparannya, menciptakan ilusi optik seolah-olah darah sedang mengalir deras di luar kulitnya.
Ia tiba di platform keberangkatan tepat saat matahari berada di titik kulminasi, namun cahayanya redup tertutup kabut. Angin di ketinggian itu kencang, menampar-nampar wajah beningnya. Lanigma berdiri tegak di atas podium logam bersusun tujuh, menatap kota di bawahnya. Kota yang mencintainya dengan cara yang sakit. Kota yang ingin memakannya hidup-hidup.
Lanigma mendekatkan bibirnya ke mikrofon. Suaranya bergema ke seluruh penjuru kota, menembus papan reklame dan masuk ke celah-celah jendela apartemen.
“E e e… wahai seluruh mata yang lapar,” bisiknya, mengadopsi mantra kuno nenek moyang yang kini diucapkan dalam dialek digital. “Biarlah aku yang menjadi tumbal bagi kecantikan yang mematikan ini. E e e… jangan lagi kalian saling membunuh demi sebuah pantulan,” katanya, suaranya tenang seperti permukaan danau beku.
Ia menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi paru-paru kacanya untuk terakhir kali.
“Kecantikan ini akan aku bawa serta,” lanjutnya, dan kalimat berikutnya adalah sebuah kutukan yang diucapkan dengan kasih sayang. “Seandainya kalian cantik di masa depan, milikmu kecantikan yang plastik, tanpa keanggunan.”
Itu adalah salam perpisahan sekaligus mencabut esensi aura kota itu. Usai mengucapkan itu, Lanigma berlutut. Ia bersujud pada kamera, pada korporat yang telah menciptakannya dan kini membuangnya seperti barang cacat produksi.
*
Di tengah landasan itu, sebuah peti kapsul telah menunggu, menganga seperti mulut raksasa yang siap menerkam. Peti itu terbuat dari bahan polimer transparan, menyerupai rahim buatan. Di dalamnya, cairan Omti Olhala, biru kental, bergejolak pelan. Itu adalah cairan pengawet, amnion sintetik yang dirancang untuk menghentikan waktu.
Lanigma melangkah masuk tanpa ragu. Para penari Rorampi, perlahan bergerak, membentuk lingkaran dan menari, mengiringi dalam keheningan.
Kakinya yang telanjang menyentuh dasar kapsul yang dingin. Cairan biru itu naik perlahan, menyentuh lututnya, merayapi pinggangnya, lalu memeluk dadanya yang bening. Ia merasakan sensasi beku yang merambat cepat, mematikan saraf-saraf perasanya satu per satu, mengubah rasa sakit menjadi kebas yang purba.
Saat penutup kapsul mulai turun dengan desisan hidrolik, terdengar suara tangis. Bukan dari pengeras suara kota, tapi dari dalam kapsul. Tangis itu teredam cairan, pecah menjadi gelembung-gelembung udara yang naik ke permukaan, meletup tanpa suara. Itu adalah tangis seorang dewi yang dipaksa kembali menjadi patung.
Peti itu akhirnya terkunci rapat. Sistem peluncuran diaktifkan. Perlahan, peti itu terangkat, lalu didorong menjauh dengan hentakan magnetik, meluncur ke dalam tabung vakum raksasa yang mengarah ke kegelapan angkasa, dihanyutkan ke dalam void yang tak berujung.
Lanigma melihat wajah Raja dan Ratu, yang menatapnya dari balik kaca ruang kontrol. Wajah mereka datar, ada kelegaan di sana, namun juga sebentuk kehilangan yang tak akan pernah bisa mereka ganti dengan uang.
Peti itu terus menjauh, menjadi titik kecil di kejauhan, hingga akhirnya lenyap ditelan awan dan jarak. Sayup-sayup suara tangis Lanigma, yang sempat tertangkap sensor audio landasan, perlahan menghilang menjadi statis radio, lalu hening.
Di dalam kapsul yang kini melayang di zona tanpa bobot, Lanigma membeku dalam pose tidur abadi. Di sana, di antara bintang-bintang yang berjarak jutaan tahun cahaya, sepi bukanlah ketiadaan, melainkan sebuah lagu yang frekuensinya terlalu rendah untuk didengar telinga manusia.
Ia terapung sebagai fosil masa depan. Matanya yang terbuka menatap kegelapan purba, dan kegelapan itu menatap balik dengan rasa ingin tahu. Tidak ada lagi rasa sakit. Kesedihannya telah mengkristal menjadi nebula kecil yang indah. Ia telah menjadi monumen bagi cinta yang tak meminta balasan—sebuah pengorbanan yang tidak sia-sia, karena kini ia menjaga alam semesta agar tetap waras dengan kecantikannya yang tak terjamah.
Lanigma adalah sebuah pesan dalam botol yang dilemparkan ke lautan bintang, kini sendirian di dalam keabadian cair itu. Terapung dalam suspensi waktu. Matanya, yang dulu mampu menyerap seluruh kegembiraan dan kesedihan galaksi, kini menatap kegelapan abadi. Meski ia tidak mati, tapi ia telah menjadi memori.
*
Kota Naggras kembali normal, namun ada yang hilang selamanya. Warna-warna neon tidak lagi setajam dulu. Wajah-wajah model di majalah mode tampak cantik dengan simetri yang sempurna, tapi kosong—sesuai kutukan sang putri. Mata mereka seperti jendela rumah kosong.
Namun, legenda urban mulai tumbuh di antara celah-celah beton, menyebar seperti akar rumput liar yang tak bisa dibunuh.
Orang-orang percaya bahwa Lanigma tidak benar-benar pergi ke luar angkasa atau dasar laut. Mereka percaya kapsul itu tersangkut di suatu tempat, di dimensi antara ada dan tiada, mungkin di puncak menara pemancar tertinggi di Gunung Trambao.
Pada malam-malam tertentu, ketika kabut turun menyelimuti kota dan sinyal digital berkedip lemah karena badai matahari, beberapa orang yang beruntung—atau mungkin terkutuk—bersumpah mereka melihatnya.
Mereka melihat sosok perempuan bergaun merah ungu melayang di antara gedung-gedung pencakar langit. Tubuhnya transparan, memancarkan cahaya yang menyilaukan mata, membelah kabut kota yang kotor.
Ia muncul sekejap, menatap mereka dengan mata yang memancarkan ketenangan yang agung—sebuah kedamaian dari dunia lain—lalu menghilang.
Dan bagi mereka yang melihatnya, waktu akan melengkung. Mereka akan ditarik masuk ke dalam halusinasi massal, hidup dalam sebuah kerajaan gaib tempo dulu di mana keindahan masih murni dan terjaga. Mereka akan terperangkap di sana selama satu sampai tujuh hari, merasakan ekstase spiritual, sebelum akhirnya dimuntahkan kembali ke trotoar kota yang dingin.
Mereka kembali dengan ingatan yang samar tentang seorang putri yang tenggorokannya sebening kaca. Seorang putri yang menelan kesedihan dunia agar dunia tak perlu merasakannya, mengajarkan bahwa cinta tertinggi adalah meniadakan diri demi apa yang dicintai bertahan hidup. [*]