Manuskrip Warisan Guru Pong
Di sebuah perpustakaan yang dibangun
dari epitaf kenangan masa kecilmu
para arwah nokturnal menyalin
manuskrip yang tidak pernah
selesai dibaca manusia.
Burung hantu menggoreskan
kalimat tentang kesunyian
cara jitu mengalahkan diri sendiri.
Kelelawar menulis
tentang cinta yang tumbuh
dengan kepala di bawah.
Dan musang bulan
menggambar jejak kaki
orang mati yang kembali
mencari kenangannya.
Pada malam paling bisu,
kami menemukan halaman
mengenakan huruf dari kecupan bibirmu.
Kalimatnya retak-retak
seperti menghela napas patah-patah.
Perpustakaan itu mulai bergetar
saat aku melagukan keras-keras.
Huruf-hurufnya saling menahan sesuatu
seperti orkestra leguh yang tak tuntas.
Di akhir teks, tertulis
“Semua yang ditinggalkan
akan menulis ulang dirinya
di dunia yang tak kau datangi.”
Kami menutup manuskrip itu
namun gema suara-suaranya
terus mengetuk-ngetuk kepala.
Tak ada kata penutup.
Hanya bekas jari
di halaman terakhir
yang tak cocok
dengan tangan siapa pun.
Jakarta, 2025
.
Museum Untuk Hal-Hal
yang Tidak Pernah Terjadi
Di kaki bukit di sudut ingatanmu,
ada museum yang memamerkan
peristiwa-peristiwa yang tak pernah
benar-benar terjadi.
Di ruang pertama tergantung
peta laut yang tak pernah ada
dengan arus-arus yang menggambarkan
jalan pulang orang yang belum dilahirkan.
Di ruang kedua,
ada rangka dari waktu
berderak keras ketika disentuh
mengingatkan kita
bahwa masa depan pun bisa patah.
Di ruang ketiga,
pameran terfavorit
foto kita berdua
sedang saling mencari
di tempat yang tidak pernah kita datangi.
Kami menyentuh bingkainya
warna kelam,
lebih salju dari jarak
yang pernah kau tinggalkan di dadanya.
Pemandu museum berkata:
“ Peristiwa yang tidak terjadi
tetap bisa menghantui,
ia berhenti
seperti lupa siapa yang menunggu siapa.”
Kami keluar dan museum itu
mengikuti setiap langkah
seakan memastikan bahwa kami
tak lupa apa yang tak dilakukan
Di buku tamu
nama kami telah tertulis
dengan tanggal besok.
Jakarta, 2025
.
Ladang Tempat Arwah Tertidur
Di sebuah ladang tua
yang ditanami canda dan tawa kita
setiap benih yang ditanam
menyimpan hantu yang menunggu
untuk menjadi sesuatu.
Satu tumbuh menjadi angin
satu menjadi suara pecah
satu menjadi penyesalan.
Ada satu benih berdiam
lebih lama dari stasiun tua.
Saat tumbuh
ia berubah menjadi tubuh kecil
yang menyerupai bayangmu
rapuh,
kurus,
penuh warna yang tak selesai.
Ia menatap
tak berbicara
tapi kami tahu
benih itu menumbuhkan
apa yang pernah kita tinggalkan
di antara dua musim yang salah.
Ketika petani datang
untuk mencabutnya
rintihan kecil itu memudar
dan ia kembali menjadi tanah.
petani itu menutup lobang
tanpa menyadari
apa yang salah
apa yang benar
apa yang baru saja
disembunyikan darinya.
Jakarta, 2025
.
Perjamuan Para Kesedihan
Di dalam kepala yang menyimpan
ratusan gema tak selesai
para Kesedihan berkumpul
untuk mengadakan perjamuan.
Ada Kesedihan yang kehilangan bahasa
Kesedihan yang berjalan pincang
Kesedihan yang lupa siapa
yang dipanggil pertama kali
Kesedihan yang
Ah,
Tak ada kata yang mau duduk disampingnya.
Mereka sarapan nostalgia
dan minum air mata
dipanaskan matahari
hingga serasa ampas torabika.
Di tengah perjamuan
sebuah Kesedihan duduk sendirian
berwajah mirip wajahmu.
Ada yang mendekatinya.
merengek,
“Aku milikmu, honey.”
Ia bertanya, “sejak kapan”
Kesedihan itu menjawab,
“Sejak kau belajar
tersenyum tanpa percaya.”
Ketika perjamuan usai
semua Kesedihan pulang
seperti bayangan yang kembali
ke punggung pemiliknya.
Yang satu itu
tak ikut pulang.
Esoknya,
kami tak lagi tahu
siapa yang sedang
ditinggali siapa.
Jakarta, 2025
.
Kota yang Berpindah Setiap Tengah Malam
Ada kota di utara rumahmu
yang tidak pernah tidur
di lokasi yang sama.
Setiap tengah malam
seluruh bangunannya bergeser
rumah merapat pada bukit
jalan berbelok ke arah lain,
dan menara masjid
memutar kiblatnya sendiri
menemui kegagalan dan kepalsuan.
Penduduknya hidup
dengan rasa menggigil
karena tak pernah tahu
mereka bangun
di kota yang kemarin
atau kota yang reinkarnasi.
Kami datang mencarimu
membawa alamat
yang berubah setiap malam.
Kota itu menjauh
saat kami mendekat
laiknya seorang
yang tak ingin ditemukan
namun tak ingin dilupakan.
Ketika akhirnya rumahmu ditemukan
pintu itu tak memiliki lobang kunci.
Dari jendelanya
sebuah bayangan bergerak
mungkin dirimu
mungkin seorang
yang memakai caramu melepas
napas-napas kerinduan.
Kota itu bergeser lagi.
Dan sepatu itu masih di sana.
Ketika kami menyentuhnya
kami lupa
kaki siapa
yang seharusnya merasa kehilangan.
Jalan Haji Ung. 2025