Cerita Ceritanya Pengarang

// Cerita Sebelumnya //
Alur cerita pada bab II novelnya ia pikir bergerak terlalu kaku terikat draft awal, kurang imajinatif, sehingga tiga ribuan kata yang sudah terketik ingin ia buang semua. Baru memikirkan sudah membuatnya merasa tertekan. Melepas suntuk, ia mengangkat wajah dari papan ketik, dan saat itu juga matanya terbelalak melihat seorang laki-laki paruh baya sedang melintas di seberang jalan.

Ia punya kesempatan mengamati laki-laki paruh baya di seberang jalan itu, karena orang itu melangkah pelan saja. Matanya agak perih, perlu mengedip-ngedip menepis silau akibat uap panas yang memantul di atas aspal, membentuk semacam kaca tipis yang sedang ditiup-tiup perajin. Laki-laki paruh baya yang ia lihat itu mengenakan kemeja bercorak kotak-kotak, kedua langkah kaki dibalut celana koboi yang nampak usang, dan kepala ditutupi topi yang biasa dipakai pemain kasti(1) – menurutnya itu topi pemain kasti seperti yang biasa ia lihat di gambar, di film, atau malah hanya pernah ia baca.

Ia merasa pernah melihat orang itu sebelumnya, dengan tampilan tak lekang dari ceruk kenang: kumis memutih yang ujungnya menaut dengan janggut dan cambang, terlihat seperti bihun menutupi permukaan bagian bawah pipi dan dagu; sangat khas….

Dorongan menyapa tak tertahan. Karena ada ruas jalan yang mengantarai, meski tidak lebar, ia tetap perlu bersuara sedikit lebih lantang, dengan aksen disopan-sopankan, “Andakah itu, Maaeestroo?!”

Laki-laki paruh baya itu ternyata menoleh. Lihat, memang dia! Bagaimana mungkin? Ia sisihkan pikiran-pikiran sangsi, karena orang itu melambaikan tangan. Tadi ia memilih meja kecil di teras kafe, karena sebelumnya cuaca tidak terlalu panas, dan itu pilihan yang sekarang ia syukuri; matanya bisa leluasa melihat ke mana-mana, sampai melihat laki-laki paruh baya itu.

Langlang pikirannya kemudian tak tercegah: kalau laki-laki paruh baya itu sudi singgah sejenak di mejanya, duduk berhadap-hadapan seraya bercakap-cakap, ia bersedia mentraktir. Di kafe ini jelas tidak ada rum … begitu saja ia teringat minuman itu, yang tentu bisa diganti dengan kopi americano, kopi latte, kopi tubruk, atau apa pun yang penting menemaninya mengobrol dalam durasi sepeminuman secangkir kopi.

Sekelebat merenung, muncul ide memasukkan saja laki-laki paruh baya itu ke dalam cerita di novelnya; tidak perlu jadi tokoh utama, tapi tetap harus jadi tokoh penting, misalnya … eh, sebagai guru mengarang? Kenapa tidak! Baiklah; berarti ia perlu menyeberang jalan, mengejar laki-laki paruh baya itu, meminta izinnya, namun … ia tak melihatnya lagi. Permukaan aspal di depan kafe tempatnya duduk kian silau. Sejauh yang bisa dijangkau tatapannya, baik ke arah kanan maupun sebaliknya, sosok orang tadi tidak lagi terlihat.

Hampir satu jam berikutnya ia hanya menatap layar laptop, tanpa bisa lagi mengetik satu kalimat pun. Writer’s block ternyata tidak pilih-pilih tempat dan suasana; imajinasinya buntu, justru ketika ia baru saja melihat laki-laki paruh baya yang telah memberinya banyak inspirasi menjadi penulis….

// Cerita Lainnya //
Di alun-alun Place St. Michel, Latin Quarter, di kota Paris yang sedang menggigil dikemul musim dingin, ia berjalan tergesa-gesa lalu masuk ke salah satu kafe. Terlalu lama di jalan bisa membuatnya membeku. Di dalam kafe sedang ramai, menyebarkan suhu hangat, membuat tubuhnya berangsur nyaman. Kafe itu tempat favorit banyak penulis dan seniman seperti pelukis, pematung, aktor teater, dan entah seniman apa lagi.

Butuh puluhan detik melihat-lihat sekiranya ada tempat kosong. Dalam cuaca sedingin ini nampaknya semua orang berlomba mencari kehangatan di ruang-ruang kafe, dan ia kalah cepat. Tatapannya merambah ke semua sudut kafe sebelum merasa putus asa; tidak ada kursi yang tak berisi. Ia enggan kembali ke jalanan, itu bisa mengubah tubuhnya benar-benar menjadi kristal es. Masih bingung akan melakukan apa ketika ia melihat seorang lelaki bertampang lusuh kurang tidur berdiri lalu berjalan sempoyongan ke arah pintu. Seorang pemabuk ternyata bisa menjadi dewa penolong: meninggalkan satu kursi kosong, dan ia buru-buru duduk di situ.

Ia belum memesan apa-apa pada pelayan kafe ketika matanya melihat laki-laki paruh baya itu; orang yang sama yang pernah dilihatnya di seberang jalan! Jarak yang mengantarai tidak sampai lima atau enam langkah, jadi ia bisa melihat jelas orang itu sedang menulis pada sebuah buku dengan menggunakan pensil. Ia memperhatikan bagaimana khidmatnya laki-laki paruh baya itu meruncingkan ujung pensilnya, entah pada setiap berapa baris kalimat selesai ditulis; beberapa kali pula mengangkat wajah, menatap seorang perempuan yang ada di meja lain.(2) Tak sekedip matanya lengah, terus memperhatikan gerak-gerik laki-laki paruh baya itu….

***

Menggelesot di samping temannya, ia senyum-senyum memikirkan cerita-ceritanya sambil bertanya, “Menurutmu, yang saya ceritakan itu hanya imajinasi?”

Temannya belum memberi tanggapan, ia sudah melanjutkan, “Di kafe itu, sebelum menyimpan buku yang sudah dia tulisi ke balik saku bagian dalam jasnya, laki-laki paruh baya itu menoleh ke arah saya. Mungkin dia baru sadar sedari tadi saya memperhatikannya. Lalu, dia melambaikan tangan, meminta saya memindahkan kursi yang saya duduki untuk bergabung ke mejanya.”

Ia dan temannya satu angkatan di Fakultas Sastra, harusnya sudah sama-sama di Semester 4 seandainya ia masih aktif ikut kuliah. Sesekali ia ikut mendaki gunung, kemudian keseringan dan mulai melupakan jadwal kuliahnya. Meski sama-sama penyuka buku, terutama novel (ia pernah bilang ‘laki-laki yang suka membaca novel itu keren’), tetapi temannya tidak pernah mengatakan ingin menjadi penulis, berbeda dengan dirinya yang sudah bertekad dan ke mana-mana bilang akan menghabiskan seluruh waktunya sebagai novelis.

Siang itu ia mengajak temannya menghadiri launching novel dari seorang penulis debutan. Ia mewanti-wanti dirinya sendiri harus hadir karena ia juga sedang menggarap novel pertamanya. Di samping berharap ada inspirasi spirit, siapa tahu bisa pula memunculkan ide-ide baru untuk kelanjutan bab-bab novelnya yang mangkrak.

Tak henti mulutnya mengoceh, mengatakan pengalaman transendentalnya melihat laki-laki paruh baya itu sangat mengusik isi kepalanya kalau tidak selekasnya ia ceritakan. Selepas berjeda, entah pada hembusan napas ke berapa ia berkata lagi, “Beberapa karya besar lahir dari percampuran antara pengalaman dan khayalan.”

Temannya masih sibuk mencerna ceritanya, dan ia terus saja berceloteh, “Pada kesempatan bertemu itu, harusnya saya berguru langsung pada dia.” Sempat-sempatnya ia merutuki teori dan tips menulis dari buku-buku pelajaran mengarang yang bertumpuk di rak bukunya; katanya semua sudah ia mamah, tetapi tidak mangkus juga membuatnya becus menulis cerita, apalagi cerita yang bagus. “Oya, saya lupa menjelaskan; laki-laki paruh baya yang saya lihat itu, adalah guru mengarang … atau lebih cocok digelari gurunya guru mengarang. Saya jamin, lebih separuh penulis di dunia ini pernah berguru padanya.” Senyampang acara ditutup, ia juga menutup celotehnya, “Mempelajari buku-buku pelajaran mengarang sudah mentok, sudah saatnya berguru langsung pada gurunya guru mengarang.”

***

Seusai acara peluncuran novel itu, ia dan temannya bergeser ke pusat jajanan tepi pantai. Mereka duduk di atas tembok tanggul, menatapi senja di depannya yang sedang bergerak malas. Permukaan air laut mulai berwarna jingga berjelaga. Pelayan baru saja meletakkan sepiring ubi goreng dan dua gelas sarabba di dekat mereka.

Setelah dua seruput sarabba, ia berkata, “Beberapa pengarang terkenal pernah mengalami kejadian aneh, kejadian yang susah dinalar, yang dia tuliskan menjadi sebuah cerita dan menjadi karya besar.” Ia menikmati betul kata-katanya, senikmat mencocolkan ubi goreng ke sambal dan menyuapkan ke dalam mulutnya.

“Seperti pengalaman transendentalmu bertemu dengan laki-laki paruh baya itu?” Temannya terkesan tidak terlalu serius menanggapi. “Mm, tokoh ceritamu yang kamu sebut guru mengarang ini, nampaknya sangat mengobsesimu.”

“Dia sumber spirit dan inspirasi saya,” ia menimpali. “Dan dia guru mengarang yang ramah.”

“Seorang guru ketika bertemu muridnya, memang sepatutnya begitu,” balas temannya. “Dia guru Bahasa Indonesiamu waktu sekolah dulu?”

“Sudah saya bilang, dia guru mengarang lebih dari separuh penulis di muka bumi ini,” ia menyanggah keras sampai mengaduk-aduk remah ubi goreng di dalam mulutnya. “Saya sedang menulis novel debut, Bro, jadi mesti total menggarapnya.” Ia berdecap-decap. “Ketika halusinasi berkelindan dengan kenyataan, saya kira itu bagian dari kerja inspirasi.” Ia nyengir. “Bagaimana memisahkan antara khayalan dengan kenyataan? Antara saya sebagai pengarang dengan tokoh yang saya ciptakan? Di situlah dibutuhkan kreativitas. Eh, bisa jadi, guru mengarang itu sengaja menampakkan wujud untuk mendatangi muridnya yang sedang butuh bimbingan.”

Masing-masing isi gelas sarabba mereka sudah agak dingin, membuat rasa pedas-pedasnya makin terasa. Selepas tiga tegukan, temannya menyergah, “Menampakkan wujud? Maksud kamu?”

“Guru mengarang itu sudah lama tiada … dia sudah meninggal.”

Seperti berusaha mencerna apa yang barusan ia katakan, temannya tercenung sejenak sebelum berkata, “Makanya kamu menyebutnya pengalaman transendental?”

“Semua tulisan tentangnya, menyebutkan dia sudah meninggal sejak tahun 1961….”

“Heh … sudah enam puluh tahun lebih! Memangnya siapa guru mengarang yang kamu maksud ini?”

“Hemingway … dia Ernest Hemingway.” Ia tak peduli betapa bingung rona paras temannya. “Setelah bertemu di kafe itu, setiap saya melanjutkan menulis novel saya guru mengarang itu selalu datang membimbing saya menulis.”

Ia tidak menjelaskan guru mengarang itu sebenarnya hanya datang melalui karyanya; baik novel, cerpen, esai, laporan jurnalistik, maupun buku-buku yang ditulis pengarang lain yang membahas tentangnya. Ia memiliki semua jenis buku itu dan suka membacanya berulang-ulang. Ia juga tidak mengatakan guru mengarang itu kerap pula datang dalam khayalannya, menjadi bagian dari imajinasi-imajinasinya. Ia ingin temannya sibuk sendiri mencerna ceritanya pernah bertemu dengan Hemingway, gurunya guru mengarang itu.

Oya, saya hampir lupa mengungkap identitas pengarang debut itu; ia itu adalah saya sendiri. Perkara saya pernah bertemu dengan Hemingway, itu hanya bualan saya kepada teman. Bualan itu sebagai pelarian, efek mangkel pada novel perdana yang saya tulis yang tak henti dicekik writer’s block, sampai tidak juga selesai hingga hari ini. ***

Bukit Wekke’e Parepare, 2025/2026

Catatan:
(1) & (2) dicuplik dari buku Gabriel Garcia Marques: Bagaimana Aku menjadi Penulis (Circa, 2019) dan buku: Ernest Hemingway, Paris yang tak Berkesudahan (Basabasi, 2020). Cerpen ini terinspirasi dari kisah di dalam tulisan tersebut.
Sarabba: minuman khas Makassar/Sulawesi Selatan, dengan bahan utama: jahe, gula aren, santan; untuk rasa yang lebih komplit biasa pula ditambahkan susu, kayu manis atau cengkih, dan kuning telur.

Bagikan:

Penulis →

Pangerang P. Muda

menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit, al.: Tanah Orang-orang Hilang (Basabasi), Perkara Pisau Lipat dan Laba-laba Emas (Sampan Institute). Berdomisili di Parepare.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *