Seiring Waktu Berlari

Tentang Waktu yang Merekam Kenangan

Ia menyimpan beragam kenangan yang telah
dikumpulkan waktu. Di balik lembar-lembar
tua dan keping-keping lama, kenangan
tersusun rapi seperti tumpukan baju dalam
lemari. Dan seiring waktu berlari, kenangan
kian berseri.

Tentang jamuan makan malam; jalan
berlumpur yang beralih menjadi barisan
pertokoan; tautan jemari di depan
auditorium; sebaran lili di taman
kota. Waktu merekam perkembangan
kenangan seperti seorang ibu menyaksikan
putra-putrinya tumbuh.

Semarang, 2025

.

.

Tentang Jiwa yang Telah Pergi

Mata-mata pilu menatap
kosong dari balik kerai
bambu. Nafas mereka
menyedot jiwa-jiwa
mati hingga yang
tersisa dari raga
hanyalah rasa
sepi. Kepala
kami
menengadah,
menyaksikan barisan
lara mengudara. Buana
tak mampu menahan mereka
yang berkehendak tiada. Dan bentala
menyandera raga yang kini tak berpenjaga.

Semarang, 2025

.
.

Tentang Kebenaran yang Disembunyikan

Jemari kami saling meraih
dalam kehampaan.
Mencari percaya di antara
tumpukan curiga.
Yang kami temukan adalah
benang-benang kusut
sukar diurai.
Kami mencari bantuan gunting
di ruang kebenaran.
Namun, mereka disembunyikan
oleh kebohongan.
Kami memecah simpul
berbekal asa
Namun yang timbul
adalah kecewa.

Semarang, 2025

.
.

Tentang Bagaimana yang Tak Pernah Dijawab

Bagaimana cara raga memasang jiwa
bila yang tersisa darinya adalah
indra mati. Bagaimana cara jiwa
membebaskan segala derita bila tawa
dan cita tak pernah ada. Bagaimana
(Kata bagaimana telah dihapus dari kamus)

Semarang, 2025

Bagikan:

Penulis →

Erna Muti’rofianas

Lahir di Semarang. Menulis fiksi, terutama genre misteri dan fantasi, serta menulis puisi, cerpen, dan resensi di beberapa media online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *