POHON-POHON cacao berdahan rindang dan batang-batang kelapa berbuah lebat membentang di lereng gunung Tome-Acu. Ranting-ranting mangga yang lama berbuah menjuntai. Ladang kentang luas tak jauh dari kandang unggas lama dirintis. Haruto muda telah mengumpulkan banyak benih tanaman dan mengangkut ke Estado do Para, termasuk buah acai. Kesemuanya disemai sebelum ditanam. Jerih payahnya dinikmati anak-anak, juga oleh cucu kesayangan, Thosinori Fujigawa. Abang-abangnya pun sudah bergelar sarjana setelah menimba ilmu di Universidade Federal do Parana. Seluruh penduduk kota mengenal dan menaruh rasa hormat terhadap keluarga mereka, termasuk pendatang lain dari Eropa Timur dan Italia. Rumah besar bertekstur Jepang dan kebun-kebun luas tak didapatkan begitu saja melainkan perjuangan panjang dan keuletan generasi pertama; issei nikkejin. Haruto Fujigawa tak hanya berblepotan keringat dan lumpur melainkan darah dan air mata.
Thosinori merupakan generasi ketiga yang sangat fasih berbahasa Portugis di samping mengerti bahasa Inggris dan tentu saja lancar berbahasa Jepang. Sejak kanak-kanak telah diajarkan bahasa Jepang dan dididik untuk berbangga terhadap segala hal yang berhubungan dengan tanah leluhur. Di saat senggang ia menekuni seni bela diri Jiu-Jitsu, dan pria berusia tiga puluh delapan tahun alumni Federal Technological University itu gemar bercocok tanam dan beternak.
Kakeknya termasuk salah seorang dari tujuh ratus sembilan puluh orang petani Jepang yang ikut menumpang kapal Kasato Maru di awal abad ke-20; meninggalkan Pelabuhan Kobe menuju Cape Town dan diturunkan di Porto de Santos, Sao Paulo. Badannya dirasai remuk setelah lima puluh dua hari perjalanan. Hari-hari selanjutnya pria bertubuh gempal itu memburuh di ladang kopi hutan Brasil bersama budak-budak kulit hitam asal Afrika yang diangkut paksa penjajah Portugis, dan tentu bergabung dengan para pekerja Jepang lainnya. Jam kerja yang sangat panjang. Situasi dan kondisi tanah baru demikian sulit sehingga sering hidup susah serba kekurangan. Dalam ketertindasan Haruto muda melarikan diri akibat tak sanggup menanggung beban hutang dari majikan oleh sistim ijon yang kejam. Bertahun-tahun hidup penuh kekhawatiran, berpindah dari satu lokasi ke wilayah lain tanpa kepastian sebelum menemukan lahan pertanian di Parana; menanam kentang dan sayur-sayuran.
Putra kedua Haruto lahir dan dinamai Rokko untuk mengabadikan nama Gunung dekat pelabuhan Kobe. Setelah besar Rokko membantu ayahnya melanjutkan usaha perkebunan. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain pindah ke Maringa. Disamping merintis perkebunan teh, ada yang menanam padi dan buah arbei. Dan di Parana, bersama Toshinori, Rokko putranya terus mencetak kebun-kebun melanjutkan upaya dan cita-cita Haruto. Dan kini anak-anak dan cucu-cucu Rokko pun dapat menikmati jerih payahnya.
Ketika harga hasil pertanian turun akibat daya beli masyarakat melemah banyak petani mengeluhkan keadaan. Saat bersamaan pengangguran di Brasil meningkat. Tak berbilang penduduk miskin berkeliaran di kota-kota besar. Sedangkan di Jepang tersebar berita adanya permintaan tenaga kerja dari industri mobil dan elekronik. Gaji yang sangat tinggi menggiurkan. Kabar meluas ke Amerika Latin di mana masyarakat keturunan Jepang berada, termasuk di Argentina dan Peru.
Nicholas Ichimonji teman sekampus Toshinori sangat tertarik gaji besar. Ia menjual kebun cacao dan berangkat ke Jepang, tinggal di Gifu. Putra seorang dosen senior temannya pun ikut ke Jepang dan bekerja di Gunma, Oizumi. Teman-temannya yang lain ada yang ke Saitami dan Kanagawa. Mereka yang dahulu tinggal di Maringa, Curitiba dan di Sao Paulo mulai tersebar di perusahaan-perusahaan mobil dan elektronik. Masyarakat keturunan Jepang berpaspor Brasil dan Peru ramai-ramai ke Jepang.
Warga asal Jepang yang dilahirkan di Amerika Latin dan mendulang nasib di tanah leluhur mendapat gelar dekasegi dan tak sedikit yang tinggal di Nagoya, terutama di Homi Danchi, Toyota City. Gaji besar diperoleh dan umumnya mengirim sebagian penghasilannya ke Brasil.
Toshinori penasaran terhadap negeri para leluhur yang sering diceritakan mendiang ayahnya, Rokko. Kebun kelapa yang luas dijualnya. Dan berangkatlah ia ke Jepang menggenggam harapan, membawa bergudang mimpi. Dua orang putri, Takonobu putranya beserta istri diajak serta. Mereka bergabung dengan komunitas dekasegi lainnya. Tua muda, pria dan wanita kesemuanya bekerja.
Generasi muda Jepang yang hidup berkecukupan di Tokyo, Osaka dan Nagoya tak berminat pekerjaan jorok, ribet dan membahayakan; umumnya ke luar negeri dan meniti karir sebagai artis dan selebritis. Selain ke Inggris ada juga yang ke Australia, menjadi pengusaha dan sejenisnya. Dan pekerjaan yang kitsui, kitanai dan kiken diisi para imigran untuk mengerjakannya, termasuk pendatang asal Tiongkok dan Korea. Dan wajah-wajah Jepang kelahiran Brasil yang berbahasa Portugis dan disebut Nikkei Burajiru-jin menempati posisi lowong di pabrik-pabrik. Anak-anak mereka ditinggalkan di kamar dan banyak yang mencari teman bermain di luar bangunan.
Wajah-wajah Jepang yang berbahasa Portugis tampak kelelahan sepulang bekerja. Awalnya pekerjaan terasa ringan tapi lambat laun kegiatan di pabrik dirasai rutin. Pikiran mereka juga lelah. Para pendatang Brasil yang umumnya berasal dari kelas menengah dan alumni universitas menghibur diri mendengar musik. Garita da Ipenema yang dinyanyikan Tom Jobin menggema di larut malam. Begitu juga suara Marisa Minto dan Milton Naci Mento. Sergio Mendez sangat digemari.
“Mereka berbeda,” Nyonya Akaike yang tinggal di distrik Aichi menilai dekasegi tetangganya. Dan wanita Jepang yang selalu di Jepang itu merasa kehilangan dunianya di sekeliling dekasegi. Ia terusik dan mengajak Koiki putranya pindah ke distrik lain.
Nyonya Akaike tak sendirian. Ada Hirasi, Hiyama, Nyonya Abe dan lainnya. Semuanya pening mendengar bossanova, bolero dan lambada yang tak henti-henti distel pada malam hari. Belum lagi anak-anak mereka yang berlarian dan berbicara keras dan tak difahami.
Takumi makin sensitive melihat diri yang Nikkei Burajiru-jin dinilai nihonjin – orang Jepang. Dalam urat nadinya mengalir darah Jepang. Wajah dan fisiknya pun rupa Jepang. Tapi cara berjalannya berbeda dengan gerak tubuh orang Jepang yang lahir dan menetap di Jepang. Ungkapan dan bahasanya berbeda, setiap hari berbahasa Portugis. Mereka menyetel musik agak keras, nihonjin tidak. Nihonjin menyaksikan para dekasegi menyukai warna ungu lembayung untuk barang-barangnya, sedangkan nihonjin menggemari warna polos, abu-abu ke putih.
Wajah-wajah yang dulu tak begitu menyukai musik Samba saat di Brasil, berada di Jepang malah banyak yang senang melihat karnaval Samba dan menunjukkan kebanggan pada Brasil. Hitomi, istri Toshinori dan kedua putrinya pun bersikap antusias.
Kini Toshinori duduk di warung Brasil di wilayah Homigaoka. Lagu Meu Pai Meu Irmao dan Minhas Ferias mengalun dari mulut Fernanda Takai. Di Brasil ia tak begitu menikmatinya. Di Jepang mengapa menjadi lain?
Tahun-tahun menjalar. Matahari timbul tenggelam. Beberapa orang memutuskan kembali ke Brasil. Ada yang membawa pulang banyak uang setelah sekian lama membanting tulang.
Nicholas Ichimonji tak ingin kembali ke Brasil, malu pulang merasa gagal tak bisa mendapatkankan kembali kebun kakaonya yang sudah ia jual. Impiannya hidup enak dan memperbaiki nasib berubah menjadi mimpi buruk.
Toshinori ingin kembali ke Brasil tapi belum tahu kapan berangkat. Tak terpikirkan lagi olehnya kegagalan dan keberhasilan. Baginya masa depan anak-anak yang diprioritaskan. Kedua putrinya; Nanami yang berusia enam belas tahun dan Eiko dua tahun lebih muda — senang tinggal di Jepang. Takonobu kini berumur sepuluh tahun dan ketiganya dikirim ke sekolah Jepang. Anak-anaknya bukan hanya berbicara bahasa Jepang dengan ibunya, tapi sudah berpikir dalam bahasa Jepang. Namun bukankah mereka tetap dianggap orang Brasil yang tak sepenuhnya bisa menjadi nihonjin?
Nicholas Ichimonji bingung akibat perusahaan tempat bekerja merampingkan pegawai. Dan ia termasuk salah yang didepak perusahaan. Pemerintah Jepang membuat kebijakan pemberian tiket gratis bagi mereka agar bisa kembali ke Brasil. Tapi ia tak ingin hengkang, berkelana dari satu kota ke kota lain.
“Kuminum air yang mengalir di tanah ini,” teriak Ichimonji depan Stasiun kereta api di Nagoya. “Kumakan apa yang tumbuh di sini. Kuhirup udara di sini. Memayung langit di sini, berpijak di tanah ini. Kenapa rasa cintaku pada Jepang tak bisa diterima? Aku bekerja keras dan membayar pajak. Betul, diriku memang lahir di Brasil, tapi itu bukan pilihanku. Kenapa harus mengusirku?”
Ichimonji makin lama di jalanan. Sepatu bututnya telusuri trotoar. Di Hamamatsu kota pinggir pantai Shizouka ia memungut barang bekas dan menjual ke pusat daur ulang. Dari hasil pekerjaannya ia memperoleh sedikit uang untuk ditabung dan mengirim untuk keluarga di Brasil.
Sore hari yang gerah Toshinori berdiri, keluar dari kedai; menyaksikan sosok-sosok melintas di jalanan.
“Orang-orang Cina dan Korea juga pendatang,” pikirnya. “Mereka tidak dianggap pendatang bila kembali ke negeri asal. “Di Brasil, aku Nikkei Burajiru-jin. Orang Brasil dari Jepang. Dan di sini, aku pendatang dari Brasil,” wajahnya kusut masuk ke gerbong kereta, duduk bersebelahan dengan dua wanita separuh baya.
Tiga sosok pemuda melompat masuk gerbong sebelum pintu tertutup. Seorang bercelana jeans dan berbaju kaus warna mencolok. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana yang ia kenakan. Yang seorang berkaus juga. Di depan bertuliskan satu kata: Brasil. Mereka berbicara dalam bahasa Portugis. Suaranya agak keras, tak acuh di tengah suasana di mana orang-orang berwajah lelah sepulang bekerja.
“Aneh!” komentar salah seorang dari mereka. “Kok dia ngomong terus padahal orang Jepang tidak mengerti dia bicara apa.”
“Kasihan anak itu,” balas salah seorang. “Itu dialek kuno Okinawa.”
Ketiganya tertawa lepas.
Penumpang lain tetap tak berpaling dari smart-phone dan bacaan. Mata mereka tertuju pada surat kabar, majalah dan benda-benda yang dipegang. Tapi penampilan ketiga anak muda itu memaksa mereka memperhatikannya, terutama cara berpakaiannya. Dan pikiran para penumpang dalam gerbong l terfokus pada ketiga pemuda yang secara fisik mirip orang Jepang.
Dua wanita separuh baya mengalihkan perhatian dari ketiganya. Selang beberapa detik mata keduanya saling berpandangan, dan mereka menukar satu kata:
“Gaijin! Pendatang!”
Toshimori menunduk, merapatkan jaket. Mayang kelapa, bunga mangga lebat dan ayah ibu dekat sekali di matanya. Biji kentang, unggas berkeliaran dan buah cupuacu menari dalam memori. **
2022