Menuju Cahaya

SEPASANG SENDAL
DI BERANDA PESANTREN

Sendal itu menunggu
tanpa suara
di antara dinding yang memeluk udara.
Jejaknya tak pernah kembali
karena kaki yang memakainya
telah menjadi doa
di atas sajadah ilmu dan sabar.

Angin datang membawa bau kertas usang,
mengibaskan debu pada kitab yang setia.
Dan sendal itu
masih berdiri di ambang
seperti saksi
atas perjalanan diam santri
yang tak pernah pulang
kecuali dalam ingatan.

Satu per satu
malam melipatnya menjadi sunyi,
pagi membuka lipatan itu
dengan salam.
Tak ada yang tahu
apakah sendal itu kehilangan pemiliknya,
atau pemiliknya telah menjelma
langkah-langkah
menuju cahaya.

Aku duduk memandangnya,
seperti menunggu
diriku sendiri
yang mungkin suatu hari
akan pergi
dan ditinggalkan
oleh sendalku
di beranda yang sama.

Yogyakarta, 2025

.
.

SAAT KITA DUDUK BERDUA DALAM DIAM

Kita duduk berdua
seperti dua puisi
yang belum selesai ditulis.

Matamu menatap ke luar jendela,
seakan kata-kataku
hanya musim
yang telah lewat.

Ada cinta
yang tak sanggup kita ucapkan,
karena ia terlalu telanjang
untuk dibicarakan dalam cahaya.

Tanganmu gemetar
saat menyentuh cangkir,
dan aku tahu:
kau sedang menyentuh hatiku

Kita diam,
tapi seluruh ruangan
penuh dengan jerit yang tak bersuara—
jerit rindu
yang malu
mengenakan pakaian harapan.

Dan aku berkata dalam hatiku:
andai diam ini bisa menjadi rumah,
aku akan tinggal di sana
bersamamu,
selamanya—
tanpa kata,
tanpa jeda,
hanya kita,
dan luka yang saling mencintai.

Yogyakarta, 2025
.
.

OBROLAN YANG TAK SELESAI
HINGGA HARI TUA

Kita duduk di bawah pohon,
seperti dua bayangan yang saling mengintip
di malam yang tak pernah sepenuhnya gelap.

Kau bercerita tentang luka,
tentang hidup yang terus mengoyak,
dan aku hanya mendengar
dengan hati yang tak lagi punya suara,
tapi penuh dengan rahasia yang tak terucap.

Kata-katamu mengalir seperti air,
mencari jalan keluar dari mulut yang letih.
Sedang aku hanya terdiam,
melihat dirimu yang semakin lelah
tergerus waktu yang kita tolak bersama.

Setiap obrolan kita adalah puisi yang patah,
sebuah larik yang tak lagi mampu
menahan beban makna
di antara ruang-ruang kosong
yang kita tinggalkan.

Kau bicara tentang masa depan
yang tak pernah benar-benar datang,
dan masa lalu
yang telah mati sebelum waktunya.

Namun, meski semua itu telah hilang,
kita tetap ada—
seperti dua bayangan
yang tak bisa saling menyentuh,
terpisah oleh jarak yang tidak kita buat
tapi tetap kita jalani,
di bawah langit
yang penuh dengan cahaya
yang enggan menyentuh kita.

Yogyakarta, 2025

.
.

Bagikan:

Penulis →

Abdul Wachid B.S.

lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Wachid lulus Sarjana Sastra dan Magister Humaniora di UGM, dan menjadi dosen di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Abdul Wachid B.S. lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (15/1/2019). Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022). Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *