(Balada Yulia Wetuq bersama Tim Petkuq Mehuey Wehea Kal-Tim)
.
Bilamana Tuan sedang mencari sosok pertiwi, mendekatlah sebentar. Benar, ikuti jalan kecil itu. Hati-hati Tuan, tanah kuning di sini kerap becek dan berlumpur yang tentu membuat sepatu Anda kotor. Tak mengapa, Tuan. Pengetahuan dan kebudayaan lebih bernilai daripada itu. Nah di sana, ada gerbang dengan atap dua tingkat dan dua pancang tiang berukiran manusia serta dedaunan. Tiang itu berpola seperti pada rumah lamin kebanyakan.
Kita sampai, Tuan. Di depan Anda, bentangan rimba dengan pondasi kokoh meranti, ulin, serta keruing, itulah pertiwi. Kami sebut ibu di sini, Hutan Lindung Wehea yang tetap berusaha mengasuh kita melalui kidung napas semesta.
Hutan ini terletak di Desa Nihas Liang Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Luas hutannya 38.000 hektare, itu seperti 2 kota Jakarta atau setengah Singapura. Menakjubkan, bukan? Dan mungkin dalam benak Tuan menyangka, hutan seluas itu akan dijaga oleh ratusan pecinta lingkungan. Maaf, Tuan, kita harus membuka kepala mengenai ini. Kelompok pejuang Petkuq Mehuey (1), faktanya tak lebih 40 orang. Dan kian ke sini, kelompok itu hanya berisi sekitar 7 orang saja yang bertahan.
Ironis Tuan, sosok ibu yang berkasih untuk kita kian hari terasa parau saja tangis dan jeritnya. Setiap jengkal tanahnya rawan pengerukan, kayunya tumbang ditebang pembalak liar, dan satwa-satwa tak berdosa itu hampir tiap waktu diburu peluru. Sejenak, jadilah Tuan mata dan hatiku. Dan mari menggiring bersama langkah para pejuang untuk merawat luka dari lenguhan duka sang ibu.
*
Di tengah balai los berlantai ulin ini kami berkumpul. Tokoh masyarakat seperti Kepala Desa, Tetua Adat, Aktivis Lingkungan Petkuq Mehuey, LSM, dan enam perwakilan dari sektor perusahaan berbeda tampak bersila. Dan sebagai anggota aktivis, tentulah aku tak sabar menunggu evaluasi darinya. Bukan siapa-siapa yang mungkin di benak Tuan berlabel segala semat title dan jabatan, hanya perempuan dengan tekad sekokoh ulin dan secadas meranti. Matanya yang khas Tionghoa itu sarat kepedulian. Dan dalam tipis senyum ramahnya, sebenarnya tersembunyi murka dari kepak enggang.
Sedari lama aku bersamanya, dan sungguh tiada surut langkah pengabdian atas apa yang kami yakini. Bahwa hutan ialah paru dunia memang benar adanya, bahwa dari sejak moyang kami memijak tanah di sini, tiada sejengkalpun kami masuk tanpa salam permisi, dan bahwa karena tradisi serta adat leluhur itulah kita masih diberkahi napas untuk bertahan sampai sekarang. Dan para perwakilan perusahaan itu bukan hanya wajib tahu. Seyogyanya mereka segera tanggap dalam tindakan.
Usai sambutan dari Kades Yosepa Ping, Yulia mulai menautkan kabel laptop ke proyektornya. Dialah koordinator kami, Tim Petkuq Mehuey.
“Musi,” panggilnya kepadaku. Dan aku paham. Aku izin berdiri untuk menggantikannya di depan laptop, sedangkan Yulia telah berada di samping proyektor.
“Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata (2),” salamnya.
“Arus!..Arus! Arus!”
Setelah Yulia memberikan pengantar ke beberapa tokoh, layar mulai menampilkan foto. Dan perempuan bersasak pendek itu kemudian masuk ke pembahasan.
“Melalui data terbaru kami, jalan utama yang masuk ke dalam kawasan Hutan Lindung Wehea dalam kondisi rusak parah dan kritis. Saya dan warga khawatir karena ruas jalan itu tidak hanya berlubang besar, tetapi juga terlihat tanda-tanda akan longsor. Hal ini menyulitkan mobilitas lembaga adat dan aktivitas kami. Masih bapak sakalian ingat bukan,” jemarinya yang penuh tato bercorak segitiga itu mengudara, seolah dengannya Yulia mampu memberi gambaran, “kawasan konservasi ekologi dan budaya dalam hutan kita ini diakui dunia. Hutan Wehea masuk juara 3! Akankan ini diabaikan?”
Ah, sungguh aku malu kepadanya. Kuamati betul-betul jemarinya itu. Dari awal perjuangannya, jari-jari itu bukan khas perempuan yang berhias kuku berpoles kosmetik. Bukan, Tuan. Sebaliknya, jemari lecet dan kukunya terkikis karena apapun keadaan di hutan akan ia sibak dan bersihkan tanpa keraguan.
Yulia masih berdiri menanti respon. Dan melihat itu belum muncul, ia menukas kembali.
“Keterputusan akses ke Hutan Lindung Wehea dapat berimplikasi serius, mulai dari terganggunya patroli penjagaan hutan dari ancaman perambahan dan kebakaran, hingga terhambatnya kegiatan ekowisata dan penelitian yang menjadi sumber penghidupan warga. Saya minta ini segera disikapi serius.”
Menyadari ada hal yang Yulia tunggu, Syahran, pria cepak perwakilan salah satu perusahaan mengangkat tangan.
“Biasanya Anda dan tim mengajukan proposal. Namun tahun ini kami tak menerima itu.”
Mendengar penjelasan Syahran, Yulia, tak terkecuali aku mengernyitkan kening. Sebuah penjelasan yang tak kami kehendaki bakal keluar dari mulutnya.
“Pak Syahran, kami telah antar proposal itu sejak 4 bulan lalu. Bukan hanya pada sektor perusahaan kelapa sawit, bapak. Pada industri kayu juga kami ke sana,” protes Yulia sambil menunjuk satu orang perwakilan perusahan berseragam hijau gelap.
Pria yang ditunjukpun angkat bicara. Kuyakini dia terpojok. Dan kutunggu kilah apalagi darinya.
“Sejak mendekati pencalonan pemimpin daerah kita kemarin, memang aktivitas produksi kita kurangi. Ada calon yang berupaya mencari kesalahan kami. Dari itu hasil produksi terbatas. Saya pastikan ke Anda, usai dari sini usulan itu segera kami tanggapi.”
“Proses dan realisasikan janji pembayarannya juga, Pak,” tegas Yulia. Dan mata yang tiba-tiba nyala itu sudah pasti muntahan dari kejengkelannya.
“Sekali lagi, saya mohon kesediaan Anda sekalian untuk turun membantu perjuangan Tim Petkuq Mehuey,” sela Kades Yosepa. “Saya mengenal betul dedikasi mereka terhadap lingkungan hutan ini. Mereka betul-betul dari nol sebab ajuan dana dari saya ke pemerintah kabupaten tak pernah terwujud dalam realisasi anggaran. Tim Petkuq Mehuey hanya mengandalkan swadaya masyarakat dan bantuan LSM. Dan itu hanya cukup untuk bahan bakar serta bertahan di hutan.”
“Diakui atau tidak, sebagian jalan yang rusak itu akibat lalu lintas perusahaan. Saya tetap sampaikan terima kasih kepada dua perusahaan yang merespon,” menatap perwakilan perusahaan penyumbang. “Beliau berkenan membantu untuk perbaikan jembatan. Namun empat perusahaan besar lainnya, tetap diam seolah keluar dari komitmen. Pak Syahran,” panggil Yulia.
Pak Syahran mendongak.
“Termasuk perusahaan Anda bahkan merespon lewat WA-pun tidak. Baru ketika somasi dari kami yang ingin tidur di pelataran perusahaan muncul, Anda sekalian sudi untuk datang berdiskusi. Apakah perlu sikap demikian? Bukankah mayoritas dari Anda adalah orang berpendidikan? Bahkan saya yakin banyak di antara Anda mengerti tentang agama. Di kepercayaan Anda, tak terbersitkah sikap empati dan peduli?” tumpahnya dalam suara bergetar. Yulia tak menangis sebab ia sadar bahkan tangisan ibu kami, Hutan Wehea saja tak pernah mereka dengar. Saat sekarang, sikap gugat dan tegas itu prioritas. Dan harusnya telinga serta hati mereka membaca bahwa segarang apapun murka topan dalam gugatan Yulia, lebih baik daripada amuk alam yang bisa mereka dan kami terima.
Layar proyektor terus berkedip menampilkan ekspedisi tim, penanaman pohon dibantu warga dan LSM, potensi lokasi untuk parawisata, hingga rencana kegiatan adat yang sebentar lagi akan dilangsungkan. Yulia dengan terampil dan detail menyampaikan semuanya. Dan pada setiap hal yang ia paparkan, telinga kami terus disusupi komitmen serta janji dari pihak perusahaan. Hingga sesi musyawarah itu berakhir dan bubar pada tengah hari oleh tanda kedatangan sebuah mobil jeep.
Kami yang telah tahu tamu itu segera turun dari balai untuk menyambutnya.
“Jones dan Helena, bagaimana kabar kalian?” sambut Yulia ramah dalam Inggris kepada sejoli muda berkewargaan Australia itu.
Dan mereka membalas dengan hangat. Bagi kami kedatangan keduanya bukan yang pertama. Tuan tahu? Sebagai hutan lindung nomor 3 dalam pengakuan dunia sudah pastilah para bule itu sering kesini untuk survei dan ekspedisi.
“Musi, siapkan motor dan anggota yang lain,” pinta Yulia.
Aku beranjak meninggalkan ketiganya yang masih berpeluk-peluk manja. Kali ini kuyakin kedatangan sejoli bertas ransel itu untuk menghitung pohon-pohon yang berbuah, populasi orang utan, macan kumbang, dan tentunya rangkong atau enggang.
Di satu pondok, kuamati puluhan siswa dari SMP Dharma Utama sedang bersiap melakukan kegiatan pengenalan hutan. Aku bersimpati kepada kegiatan itu. Dan memang seharusnya demikian. Nyatanya semua aspek telah kami programkan. Seperti beberapa minggu lalu juga kami adakan lomba susun batu di sungai Hutan Wehea, pacu jalur, hingga lomba menyumpit. Semua untuk mengajak kesatuan dan kebersamaan.
Kini langkahku telah sampai pada lokasi parkiran. Segera aku mengomando tim yang lain untuk keluarkan motor.
Aku sendiri mulai mengikatkan tali blawit mandau di pinggang.
“Musi, jangan bawa yang itu. Gunakan mandau kerja saja,” sapa Andreas, salah satu sahabatku di Tim Petkuq Mehuey.
Yah memang, untuk beberapa waktu ini aku lebih memilih mandau berhulu lamet baung ini ketimbang mandau kerja. Seringnya kelompok bersitegang dengan pembalak hutan liar sudah bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan. Dan mandau adat dengan hulu sulat kaman serta bertempusar 3 pada sarungnya ini adalah simbol ketegasan. Aku tak punya mandau bertempusar 4 karena itu kepunyaan pangkalima. Namun darah keberanian mereka menelesup seurat sedarah dalam diriku. Sabarku kini mungkin yang paling tak bisa dibendung. Dan bila harus tumpas oleh peluru atau parang mereka, setidaknya aku mati dalam peradabanku.
Aku balas Andreas dengan senyum. Didahului yang lain, segera trail kukeluarkan dan kupacu menuju titik pertemuan.
*
Aku membonceng Jones yang terus mengajakku berkomunikasi bahasa Inggris. Aku tak sepandai dan sefasih Yulia. Darinya aku belajar. Sedikit sekali yang bisa kupahami. Kuncinya ingat kata akhir, begitu sarannya. Pernah coba kucelutukkan begini kepada Yulia:
“Untuk apa paham bahasa mereka, seharusnya para bule itu yang belajar bahasa kita.”
Dan Yulia dengan pikiran ke depannya akan menimpali:
“Bukan kita yang perlu mereka, tapi sang ibu,” tunjuknya pada Hutan Wehea.
Kemudian makin sering bule-bule itu datang, makin mengertilah aku. Seperti berita di Pulau Sumatra tempo lalu di mana musibah banjir menerjang akibat tata kelola hutan yang keliru, nyatanya telah jauh sebelumnya seorang tokoh asing memperingatkan mengenai itu. Sejarah menuliskan betapa bengis dan kejamnya bangsa itu sebagai penjajah, tapi kini kurasakan justru kerakusan bangsaku yang berlaku demikian. Dan dari itulah kutahu Yulia selalu mencari harapan. Sementara asa yang ia yakini salah satunya ada pada hati bule-bule ini.
Jones yang sebenarnya seumur denganku memain-mainkan telunjuk, mengarahkan ke satu tempat atau benda.
“Itu Julang Emas. Langka,” sahutku sebisanya dalam Inggris.
Dia mengangguk. Dengan kode pelan dia memintaku berhenti. Jones meraih kamera dan mulai membidik buru berjenis rangkong itu.
Aku akui rasa ingin tahu para bule ini sangat besar. Kamera terus ia jepret-jepretkan pada setiap objek. Sesekali Jones terlihat mencatat sesuatu di buku sakunya. Tak lama kemudian giliran motor yang Yulia kendarai tampak mengendap pelan di depan sebelum akhirnya berhenti.
Turunlah Yulia lalu maju merunduk diikuti Helena. Dia tampak berbisik. Dan aku mulai menerka bahwa ia sedang menjelaskan tentang habitat tamu kami yang menyambut di depan itu. Ya, Tuan, seekor beruang madu terlihat berjalan menyusuri jalanan tanah kecokelatan di sana. Bagai menemukan berlian, roman Helena dan Jones begitu girang sangat.
Kami memilih memarkirkan motor di situ dan mencari jalan alternatif untuk berjalan kaki menyusuri hutan. Kami paham bahwa beruang di sana mungkin sedang mencari makan atau memomong anaknya. Lagipula, memang kebetulan pemberhentian ini telah dekat dengan lokasi yang ingin kami survei.
Perjalanan masuk ke dalam sela-sela pohon berumur ratusan tahun yang gagah berdiri. Sering kami menunduk menghindari belitan akar dan semak belukar.
“Lihat di sana,” tunjuk Yulia pada satu lokasi dengan selalu berbahasa Inggris. Dua bule mengikuti arahnya.
“Beberapa bulan lalu satu perusahaan yang pro memberikan bantuan modal dan bibit. Ada sekitar 100 bibit kayu ulin, durian, meranti, keruing, dan gerunggang. Kami tanam bersama di lokasi itu. Balian Arai, tokoh kami mendahuluinya dengan upacara adat.”
Jones tanpa ba-bi-bu segera memotretnya. Dia juga menanyakan arti dari bentuk sesaji tempat Balian Arai memulai upacara. Di sana terlihat tikar purun berhambur kembang, dua bilah ujung bambu berdaun yang tertancap menyilang, beberapa helai dedaunan, beras kuning, dan telur ada pada satu mangkuk jaranang dan di topang kotak rotan tergantung. Begitu juga dengan dua tancapan bambu yang diselipkan leher anak ayam. Dan Yulia menerangkan inti dari upacara itu tak lain adalah bentuk rasa syukur, penghormatan, harapan, serta permintaan maaf kepada leluhur. Tak lupa doa-doa yang ada dalam upacara itu selain dari wujud tolak bala juga agar para penjelajah yang peduli dengan alam tak disesatkan kariyau hutan (3).
Dan manakala kami larut dalam ketakjuban adat, sebuah suara dump truk membuyarkannya.
“Oh Syang Hyang! Tidak lagi!” seru Yulia langsung berlari ke hadapan truk yang menerebasi semak.
Dengan tangan siap mencabut mandau, kami sigap mengekor. Tuan, ini bukan sebuah tindakan agresif terhadap semua muatan. Sikap kami demikian dididik oleh kebiasaan dari para maling itu. Tidak ada pembiaran! Jika Tuan kendur untuk ini, hati mereka yang sekeras batu kali tak akan paham arti penghalusan dan rasa bersalah. Lagi dan lagi kehancuran itu akannya dibikin ulah.
“Turun!” bentak Yulia.
Satu supir dan kernetnya mengikuti perintah. Ekspresi getir mencuat dari wajah keduanya.
“Mengapa truk ini memotong jalur? Tunjukkan surat izin kalian.”
Tak ada jawaban dari keduanya. Dan Tim Petkuq Mehuey segera menyebar memagari truk. Benar saja, kulihat berkubik-kubik kayu keruing di bak belakang. Ditutupi terpal biru dan telah terpotong balok segala ukuran. Dan dari warna serat serta kelembapan serbukan yang berhambur di sekitar kayu, aku tahu pasti pemilihan kayu ini serampangan. Seharusnya pemilihan pohon sesuai kriteria kelas 1-2, berusia 40-50 tahun. Nyatanya tak demikian. Serat cerah kuning, bukan merah atau cokelat tua menandakan pohon ini masih berusia muda. Keterlaluan, Ilegaloging dari pembalak terkutuk itu benar-benar terang benderang.
Menyaksikan sergapan kami, Jones dan Helena yang semula merasakan takut mulai memberanikan diri mendekat. Mereka seperti biasa, bertanya, memotret, dan mencatat setiap penjelasan.
“Ya, Helena. Deforestasi dari pihak tak bertanggung jawab masih terus terjadi. Masukkan ini dalam catatan dan sebarkan ke mediamu. Biar dunia tahu bagaimana rayap-rayap di negeriku menghancurkan buminya sendiri,” jelas Yulia. Dia langsung menghubungi pos utama menggunakan HT.
“Aku telah meminta anggota pos melaporkan temuan ini ke pihak berwajib. Mereka akan ke sini. Sementara kita ikat keduanya menggunakan ini,” imbuhnya kepadaku sambil melempar borgol.
Awalnya kedua orang itu tak mau. Keduanya bersikeras hanya kurir. Mereka memberikan informasi sebagai ganti kebebasannya.
“Di sana! Satu kilo lagi. Dekat curug. Mereka maling sesungguhnya. Mereka yang harus kalian buru, bukan kami!”
Dan kami sungguh tak peduli. Ini hanya tentang waktu. Kami tetap berusaha memberangus pentolannya. Bagaimanapun cara dan rumit tentang birokrasinya, kami pasti akan sampai dan menang.
Cukup lama kami menunggu patroli datang. Di atas, tepatnya pada puncak-puncak pohon, ranting tampak bergoyang karena loncatan uwa-uwa dan orang utan. Bunyi burung bersahut-sahutan. Dan ketika suara kepak burung besar seolah menyapa tim dari puncak dahan, Jones menampilkan raut ketakjubannya lagi.
“Mungkinkah?” tunjuknya pada satu dahan tinggi. “Buceros vigil bird? Benarkah itu? Astaga..”
“Indonesianya kami sebut Rangkong Gading. Ya, populasi burung ini benar-benar memprihatinkan Jon,” timpal Yulia. “Tidak sampai 50 ekor di sini. Dan di pulau lain, kuyakin malah lebih anjlok.”
Dooor!!
Shettt! seperti kilat dedauanan saling gemerisik cepat. Dan secara tiba-tiba pula seonggok benda jatuh ke tanah.
Bukk!
Kami semua terperanjat! Rangkong Gading itu terkapar di hadapan kami. Matanya berkedip dan paruhnya menjulang terbuka. Burung itu menggelepar takut. Ingin terbang. Tak bisa. Pada sayap kanannya menampari tanah. Bersama dedaunan kering bercampur bercak merah, nyatanya sayap itu patah.
Aku dan Yulia segera mendekat untuk menolong burung malang itu. Dan beriring langkah kami mendekatinya, suara kerumun orang juga mulai merapat.
“Burung itu milik kami!” sergah Bahadiar. Napasnya ngos-ngosan dengan keringat membanjiri pakaiannya. Kelompoknya berjumlah 4 orang.
Ya, Tuan. Pria berambut plontos itu kerap bersitegang dengan kami. Dia yang merasa di atas angin dengan tiada jera mengulangi sikap perusak itu.
“Pasal 21 ayat 2, 2024!” celetuk Helena.
Aku kaget mendengar itu. Gadis ini ternyata berpengetahuan luas sekali.
“Bicara apa bule nyasar ini!” timpal Bahadiar lagi.
“Benar, Helena,” jawab Yulia. “Penjara untuk para pemburu ini minimal 3 dan maksimal 15 Tahun. Denda 100 juta, tapi ah!!” Yulia menghembuskan napas seolah menafikan beberapa hal. “Korporasi di belakang pemburu-pemburu itu terlalu kuat. Lama-lama tiada batasan lagi bagi kami selain harus menyelesaikannya secara rimba!”
Dan Bahadiar kembali mengernyit oleh uraian bahasa Inggris Yulia. Jones dan Helena mundur menjarak. Semua tim mencabut mandaunya.
“Demi hewan liar itu, kalian bakal mati sia-sia!” ancam Bahadiar sambil mengokang laras panjangnya.
“Enggang yang kau tembak itu perlambang kesetiaan bagi kami, Dayak Wehea!”
“Dan sikap kalian ini akan menjadi pilihan yang salah. Di sini kalian tercerai berai tanpa ada yang peduli bahkan hanya sekadar tahu pun tidak!”
“Balian Arai pernah berkisah kepada kami tentang apa itu keteguhan. Dan atas nama tanah ulayat (4) yang kami junjung! Amanah leluhur yang kami jaga dalam embusan napas dan darah! Kami tetap menyatu bersama prinsip itu,” balas Yulia tanpa ketakutan sedikitpun.
Kisah Balian Arai, akupun juga mendengarnya. Tentang satu masa di sekitaran Kalimantan Timur, antara Hutan dan Laut, bertemulalah dua tokoh yang disegani guna rembuk wilayah. Satu tokoh dari Bugis Kajang dan satunya dari Dayak Benuaq.
Singkat cerita untuk mendapatkan wilayah yang luas keduanya saling menampilkan kesaktian sebagai gretakan. Tokoh Bugis Kajang meraup segenggam beras, dimantrainya kemudian disebar beras itu ke pelataran. Para pengikut Dayak Benuaq kaget, beras-beras itu tak lama mengepulkan asap, menjadi bara dan berapi. Alhasil pelataran tampak menghitam panas oleh beras yang terbakar.
“Itulah kami. Jika Tuan salah berurusan, maka kami tak segan menyambut dan membuat Tuan akan menyesalinya.”
Tokoh Dayak Benuaq kagum penuh hormat. Dia lalu gantian meraup beras kuning yang dia ambil dalam mangkuk jaranang, dibacainya beras itu, diangkat ke langit sambil digosok menggunakan dua tangan, kemudian disebar ke pelataran yang menghitam.
Ajaib. Tak lama beras yang berhamburan itu tampak berkedut. Seperti hidup dan penuh naluri. Beras-beras itu bergerak kemudian berjalan dan akhirnya berkumpul pada satu titik.
“Itulah kami, Tuan. Kami Dayak ini mempunyai ratusan rumpun di bumi Borneo. Dan jika satu rumpun itu dianiaya atau mendapatkan perlakuan yang menyakitkan, tanpa keraguan semua rumpun akan menyatu untuk membelanya.”
Balian Arai menyematkan satu keyakinan dalam ceritanya. Bahwa kesetiaan itu ada dan kita pegang. Seperti enggang yang terluka itu. Kami akan membela atas lambang yang dimilikinya. Seyogya prinsip yang rumpun kami rengkuh, tanah ulayat ini wajib bersih oleh manusia-manusia perusak macam mereka.
Aku bergetar! Ada kobar dalam sukmaku yang memantik jelaga juang. Dan Yulia mengingatkan kisah itu. Menjadikannya siraman minyak!
Dedaunan kering terbang. Raut keraguan menggambar takut di wajah pemburu itu. Dan ketakutan itu kian dipermainkan angin. Keduanya sama-sama jatuh ke tanah sebagai tanda lesak pijakan kami.
Dorr!! Dorr!!
Tembakan peringatan mengudara ke langit.
“Aku katakan sekali lagi. Jika tetap nekad, jangan salahkan kami bahwa tanah ulayat yang kalian jaga bakal menyemaikan darah!”
Hunusan mandau mulai kami arahkan ke target! Kami berlari menerejang bersambut moncong senjata dari mereka.
Door!! Dor! Tar! Tar!!
Semua anggota Petkuq Mehuey tercekat menghentikan langkah! Dadaku tak berhenti berdegupan! Sebuah erangan berat menyentak dari salah satu pemburu. Bersamaan suara itu tubuhnya mendadak lunglai sebelum akhirnya ambruk mencium tanah!
“Berhenti kalian!!” sentak Ipda Narang dari rimbun pepohonan di samping kami.
Bahadiar yang menyadari pengepungan segera urungkan niat serangnya. Tanpa komando, semua pemburu menghambur menyelematkan diri.
Dor!! Dorr!
“Diam! Jangan lari!”
Dan kusaksikan kelompok itu gantian diburu!
*
Malam mengelam bertaut bunyi kerik binatang-binatang kecil dari balik hutan. Kerikan itu sesekali diimbangi kepakan rangkong gading yang terengah-engah dalam sangkar. Dan di ruang tengah kantor polisi itu kami berkumpul.
Di samping kami, ruang interogasi terpisah, dan pintu yang sedikit terbuka memperlihatkan Bahadiar yang meringkuk. Kuketahui pula satu temannya tewas akibat pelor yang menyarang rusuk kirinya. Dan itu membuat aku benar-benar lega.
“Sungguh, Pak. Tindakan kami adalah hasil toleransi yang benar-benar tak terbendung,” jelas Yulia kepada salah satu polisi. Petugas itu mengetik sesuai apa yang Yulia jelaskan.
“Pernah ibu memikirkan bahwa sikap nekad itu sangat berbahaya. Mereka bersenjata api.”
Yulia menyilangkan tangannya.
“Saya apresiasi sedalam-dalamnya atas tindakan tim Anda. Ini yang kami perlukan. Perselisihan ini telah lama berlangsung. Bukan hanya kelompok Bahadiar saja. Masih banyak di hutan sana pemburu dan pembalak kayu yang tak mempan peringatan apalagi diskusi, Pak. Bagi kami, Hutan Wehea adalah warisan yang kami jaga. Kami telah berjanji atas nama leluhur bahwa kelak anak cucu kami tetap akan merasakan warisan itu. Bila harus tumpas karenanya, itu adalah jalan kami. Daun yang meranggas jatuh menjadi pupuk untuk menyemai tunas baru!”
Petugas itu tertegun. Ada gelayut perselisihan antara hati dan pikirnya. Entah, darimana asalnya. Mungkin dari amanah atau tentang rahasia yang kian buatnya bimbang dan serba salah.
Jelasnya beberapa orang dari kami tetap dimintai keterangan. Tak terkecuali, Jones dan Helena. Syukurnya semua memberikan penjelasan yang kunilai sama arahnya.
Dan pada rangkakan jarum jam ke arah 11 malam, semua itu berakhir. Di halaman kantor, Yulia tampak memeluk Helena dengan erat. Dia tahu sebenarnya dua sejoli itu masih beberapa hari akan ekspedisi di sini. Namun suasana caos siang tadi merupakan tanda bahwa situasi kian sulit.
Yulia ingin Jones dan Helena benar-benar aman sampai kondisi mampu teratur kembali.
“Maafkan kelakuan bangsaku. Kami akan tetap berupaya dalam sikap tegas itu. Sampaikan pesanku dan jangan ragu,” tunjuk Yulia ke kamera Jones.
Helena menangis mendengar uraian Yulia. Dan bersama perpisahan itu, sebuah mobil double cabin perusahaan terlihat menggerung untuk merapatkan diri ke sudut parkiran. Kami mengenal mobil itu yang bukan berasal dari tumpangan dua bule ini. Dalam sinaran lampu dan embusan udara malam, turun dari dalamnya dua orang pria bersepatu safety. Keduanya melangkah lesu menuju kantor polisi. Dengan picing mataku yang tak lepas dari salah satunya, kutahu Syahran tampak berjalan sengkarutan oleh sesuatu.
~Selesai~
Catatan kaki:
1. Petkuq Mehuey, bahasa Dayak Wehea artinya penjaga hutan
2. Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata, salah satu slogan dayak yang bermakna “Bersikap dan berbuat Adil Kepada Sesama manusia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
3. Kariyau hutan, jenis hantu hutan yang sering menyesatkan seseorang.
4. Tanah ulayat, artinya tanah beserta sumber daya alam di atasnya yang dikuasai secara komunal oleh suatu masyarakat hukum adat tertentu, diwariskan turun-temurun, dan dikelola berdasarkan hukum adat setempat.
5. Cerpen ini telah memperoleh izin dari sumbernya, yaitu koordinator Tim Petkuq Mehuey, Yuliana Wetuq.