TERJAGA
almanak masih setia
menyimpan angka-angka
jam dinding masih setia
mendetakkan yang fana
lampu-lampu masih setia
memancarkan cahaya
dan waktu juga masih setia
merapuhkan sisa-sisa usia
Bekasi, 2026
.
.
SUBUH
setelah derit pintu
dan wajah basah
oleh air wudu
kaki-kaki melangkah
menuju-Mu
sebelum panggilan itu
berhenti bertalu
sebelum pagi berdebu
dan segala deru
menderu-deru
Bekasi, 2024
.
.
SENJA
senja adalah aku
di tanah-tanah lapang
di derasnya hujan
dengan kaki telanjang
meninggalkan jejak
dan kenangan di tubuh
alam
tentang kebebasan
tentang kegembiraan
senja adalah ibu
menyapu halaman
membersihkan daun-daun
yang berguguran
juga sisa amarah
yang berserakan
sebelum membakarnya
dan asapnya
membumbung tinggi
menjadi sunyi
senja adalah ayah
menuntun sepeda
memasuki pekarangan
setelah berkeringat
di sepanjang siang
di tubuhnya
ada jejak matahari
dan di wajahnya
ada kepenatan
yang disembunyikan
di balik samar senyuman
.
.
MENGENANG KEPERGIAN AYAH
dengan sebuah sasmita
ibu berbisik padaku saat itu
katanya
engkau sudah tiba di ujung
perjalananmu
maut yang mendekap tubuhmu
mengisyaratkan panggilan itu
lewat sengal nafasmu
dan sukmamu pun terbang
menjemput sunyimu
aku meraung, tapi matahari
membakar tabah ibu
tangannya gemetar
mengusap matamu
dan berbisik di telingamu
selamat jalan
pergilah dengan tenang
rumahmu adalah kesunyian
langitmu adalah keabadian
istirahatlah
baringkan letihmu di sisi Tuhan
April, 2023
.
.
KETIKA SELESAI MENGEPEL LANTAI
tak ada lagi yang tersisa
debu ataupun helai-helai
rambutmu
yang jatuh digugurkan
waktu
tapi aku melihat
ada jejak kaki di lantai yang
basah
berjalan menuju kamar
ah, barangkali kamu ingin
sejenak meredakan kesepian
yang semakin hari semakin
berdesakan
sebelum senja datang
dan kita sejenak berbincang
tentang hari tua
tentang angin
tentang gelombang
yang masih saja datang
dan mengusik rasa tenang
Bekasi, Mei 2026
.
.
SEBELUM TIDUR
setelah menutup pintu-pintu
memadamkan semua lampu
mari berdoa, katamu
agar maut tak datang bertamu
Bekasi, 2024