Kemaren Rumah Kami Masih Berdiri

TIADA TEMPAT paling nyaman untuk beristirahat selain rumah sendiri, dengan suasana yang tentram dan damai, gemericik air sungai yang membawa damai, tiupan angin membuai, cicitan burung-burung yang bertengger di pohon belakang rumah menjadi harmoni yang hidup.
Inilah desaku, desa yang permai, hamparan petak-petak sawah menjenjang, dikelilingi bukit barisan, gunung Merapi dan gunung Singgalang berdiri gagah bersisian. Tiang-tiang kokoh sebagai pasak bumi. Danau Singkarak dan danau Maninjau yang menjadi kebanggaan. Di sini aku dilahirkan, dalam nuansa alam mengagumkan.

Beratus-ratus tahun yang lalu, leluhurku turun dari puncak Merapi membawa adat dan budaya, mencari nafkah, beranak pinak. Entah aku ini generasi keberapa, aku juga tidak tahu, yang kusadari sejak kecil, aku terbiasa berjalan kaki di atas pematang sawah, turun ke lembah untuk mandi di sungai tanpa rasa takut. Aku tumbuh menjadi anak pemberani, kuat dan tangguh. Setiap saat bermain dan berlarian dengan teman-teman sebayaku, basah oleh keringat, berlumpur, lusuh dan legam, namun hatiku selalu riang. Setiap sore kami berlarian pulang dalam lelah setelah bermain seharian, masuk ke ladang-ladang warga, mencari mangga, ataupun biji kopi yang terserak di makan tupai.

Suasana yang selalu sejuk. gunung Merapi yang selalu aktif. Sejak dulu kami terbiasa melihat abunya di halaman rumah yang menyembur di malam hari, di musim hujan terlihat dari jauh garis-garis putih yang merupakan air terjun yang biasa kami menyebutnya air sarasah. Air-air itu turun ke lembah-lembah mengaliri setiap sungai yang di lewatinya. Dulu hutan-hutan di wilayah kami masih begitu rindang dan lebat. Saat hujan datang udara dingin dan sejuk, paling enak berkerumun di bawah selimut, atau duduk di depan jendela menikmati kopi panas dengan singkong rebus yang masih berasap. Kenikmatan tinggal di desa kami semakin lengkap dengan kerukunan hidup bertetangga yang tiada duanya. Satu sama lain saling menyapa, tolong menolong dan begitu kokoh memegang adat dan budaya.

Rumah-rumah kami masih banyak yang terbuat dari kayu, khas rumah gadangnya orang Minang, meskipun tidak bergonjong tapi rumah itu memberikan kehangatan bagi sekeluarga. Tempat bercengkerama, berlajar, dan berdiskusi bersama, masa-masa itu merupakan masa-masa terindah di sepanjang hidup kami. Penuh tawa dalam kesederhanaan, mensyukuri apa yang kami punya dengan rasa bahagia. Tidak pernah kami mengeluh, hari-hari hanya menjalankan kehidupan dengan tenang, mencari rezeki dengan cara yang halal karena kami percaya sumber bahagia kami adalah penerimaan kami yang begitu tulus pada apa yang diberikan Tuhan kepada kami. Tapi itu semua tentang cerita lama, kisah romantisme yang kini apakah mungkin akan terulang dan kami nikmati kembali.

Pagi ini, aku berdiri di halaman rumah. Ah bukan halaman lagi, karena tidak ada lagi rumahku, rumah tetanggaku dan rumah siapapun di desa. Hanya tumpukan kayu-kayu besar melintang di hadapan, gundukan tanah dan lumpur, bahkan aku bingung dimana aku berdiri, di atas atap rumahku, atau rumah tetanggaku. Tidak ada lagi yang tersisa.

Tenda pengungsian berdiri lima kilometer jauh di belakangku. Aku dan orang-orang desa yang selamat dari terjangan banjir dan longsor tidur di sana, di tenda darurat itu. Ahh bukan tidur, mana bisa kami tidur di tengah hujan yang terus mengguyur, hati kami masih diliputi cemas dan takut akan datangnya banjir susulan. Kemaren, rumah kami masih berdiri di sana, hari ini lenyap, tak bersisa. Pakaian penuh lumpur di badan, kelu, kaku sekujur tubuh ini, tulang-tulangku beku., bahkan pikirankupun ikut membatu. Ada apa ini? Tuhan mengirimkan hujan dan angin yang begitu kencang. Berhari-hari tanpa jeda, meluruhkan semua yang dilaluinya, menghanyutkan apa saja, bukan hanya rumahku, dan rumah seisi desa, tapi juga keluargaku, sahabatku kerabat-kerabatku ikut hanyut dibawa air bah, dan tertimbun tanah longsor. Mereka semua sudah pergi meninggalkanku sendirian di sini. Dan aku belum melihat jasad mereka. Sepahit ini deritaku. Sedalam ini dukaku. Tidak adakah yang bisa mengerti? Apa bisa mata ini dipejamkan dalam kondisi seperti ini?

Kemana perginya desa yang indah dulu? Kemana perginya keriangan dan kehangatan keluarga dulu. Hanya luka. Yang tersisa hanyalah kesedihan yang menyayat-nyayat hatiku. Aku bertanya apakah ini musibah? Kemarahan Tuhan kepada kami? Apak ini ujian atau cobaan? Aku ingin bersabar menghadapi musibah ini, karena aku yakin desaku menjadi yang dipilih Tuhan untuk diberikan ujian.

Tapi siapakah yang tega menjadi penyebab murka Tuhan ini? Iya kalian, kalian para penguasa yang tak pernah berniat melindungi kami rakyat kecil ini. Desaku yang kaya dan subur menjadikan kalian rakus untuk memilikinya. Tanpa kalian pernah berpikir kalau semua yang ada di sini diciptakan Tuhan sesuai dengan takarannya, lalu mengapa kalian merampok hutan kami, menjarah kekayaan alam kami?

Tanda tangan kalian memberi ijin mereka para pengejar rupiah menggunduli tempat tinggal kami. Sekarang apa kalian mengerti apa yang kalian lakukan? kami yang harus menanggung akibatnya, dosa kalian mengapa kami yang harus memikulnya. Keserakahan dan ketamakan kalian mengapa harus kami yang harus mengalami penderitaan ini. Luka ini tidak akan sembuh dengan mudah, karena rasa sakit akan penghianatan kalian pada ibu pertiwi merobek-robek dada kami, mencabik-cabik kemanusiaan kami, kalian tidak pantas menangis melihat derita kami, air mata kalian hanyalah air mata buaya, kebohongan yang kalian tutupi dengan dalih untuk kesejahteraan rakyat.

Kami telah hidup di sini berpuluh-puluh tahun dalam ketenangan, kalian menghancurkan masa depan kami, meluluhlantakkan negeri kami. Hukuman apa yang pantas untuk kalian? Bahkah di saat luka kami terburai, kalian mengeluarkan kata-kata yang semakin menyakiti kami. Kalian tak ingin kami bahagia, kalian menyiksa dan membunuh kami perlahan-lahan.

Kemaren rumah kami masih berdiri di sana, sekarang hanya tumpukan kayu-kayu besar hasil penebangan liar dan gundukan tanah lumpur busuk, berbau mayat dan kehancuran. Kalian yang di sana para penguasa, kapankah kalian akan sadar dan berhenti menjadi penjarah di negeri sendiri?

“Tiraaam!” suara paman memecah lamunanku.

“Tiraam, ayo kemari, jangan berdiri di sana! Hujan masih terus turun. Menjauhlah.”

Aku masih saja diam, membiarkan hujan membasuh luka hatiku, Ibuku, ayahku, adikku telah hilang dibawa musibah ini. Paman berlari ke arahku, menarik tanganku dengan paksa.

“Tiram, ayo kita ke kemah pengungsian. Berada di sini sangat tidak aman, jika longsor datang lagi kita tidak akan selamat. Kita akan mati sia-sia.”

“Apa ayah ibu dan adikku tidak mati sia-sia, Paman?” tanyaku lemah.

“Doakan mereka syahid, Tiram. Ikhlaskan mereka, dan bertahanlah, berjuanglah untuk tetap hidup, Tiram.”

“Untuk apa lagi aku hidup, Paman?”

“Tiram…Istighfar, Nak, Kita semua akan mati, hanya kita tidak pernah tahu, dimana, kapan? seperti apa dan dengan cara apa,? Itu rahasia Allah, Nak.”

“Jika mereka tidak merusak hutan kita, ini tidak akan terjadi, Paman. Mereka tidak akan mati.”

“Ini ujian, Tiram, bersabarlah. Allah sayang kepada hamba-hamba yang sabar.” Paman mengusap lembut kepalaku.

“Bagaimana aku bisa bersabar, Paman? Bagaimana menghadapi semua ini?”

“Tiram..!” Paman memelukku erat. Air mata kami tumpah menyatu dengan air hujan yang semakin deras membasahi wajah kami.

“Tiram, coba kau lihat di sana, masih ada banyak warga desa kita yang selamat. Dan mereka butuh kita untuk saling menguatkan. Kesedihan ini tidak akan membunuh kita, Tiram. Tidak, Nak, tidak! Kita akan bertahan, kita akan bangkit bersama, percayalah Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Pasti ada hikmah di balik semua musibah ini. Percaya dan yakinlah, Tiram, kita masih punya Allah sebagai satu-satunya tempat kita menggantungkan harapan. Bangunlah, dan kuatlah anakku!”

Aku terdiam, hatiku hancur, perlahan kucoba mencerna kata-kata paman. Sungguh terdengar begitu bijak. Tapi tahukah kalian tidak semudah itu, sungguh tidak semudah itu untuk bisa bersabar dalam kondisi ini.

“Paman, iya aku yakin semua ada hikmahnya menjadi anak negeri yang serakah ini. Di akhirat nanti, penguasa-penguasa yang zalim itu akan menanggung semua derita kita, mereka akan membayar semuanya.”

“Tiram!” desah paman dengan sesak.

***

Bagikan:

Penulis →

Fitri Yeye

Sarjana Pertanian dari Universitas Andalas Padang. Menyelesaikan S2 di Magister Manajemen dan Bisnis H Agus Salim Bukittinggi. Penulis buku, Novel, Puisi, Cerpen dan berbagai artikel. Diantaranya: Menjaga Nyala Demokrasi (buku). Satu Cinta Dua Agama (novel), Rahasia Hati (novel). Berebut Kursi (novel).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *