Jejak yang Terhapus Hujan
Di kaca jendela yang buram,
aku melihat lampu jalanan pecah jadi ribuan warna.
Bukan bayanganmu yang kutemukan,
hanya aspal basah yang memantulkan sepi yang sama.
Kita pernah punya cerita di trotoar ini,
saat sol sepatu kita masih sering beradu.
Sekarang semennya sudah retak-retak,
seperti cara kita berhenti saling menyapa.
Kau adalah percakapan yang menggantung,
kalimat yang kupotong sebelum tanda titik.
Janji-janji itu kini cuma jadi barang rongsokan,
yang menyesakkan sudut lemari di kepalaku.
Kenapa ingatan selalu punya cara untuk pulang?
Padahal pintunya sudah kupasang gerendel ganda.
Aku merasa asing di tengah orang-orang yang tertawa,
mengeja ulang namamu yang mulai memudar warnanya.
Biarkan hujan ini menghapus semuanya sampai tandas,
sampai kau benar-benar hilang,
terbawa masuk ke saluran drainase.
.
.
Di Hilir yang Tenang
Kini hujan itu telah lama reda,
menyisakan genangan yang tak lagi memantulkan duka.
Aku tak lagi mencari bayanganmu di aspal,
atau mengecek gerendel pintu dengan perasaan jengkel.
Ternyata,
melupakan bukanlah tentang menghapus nama,
melainkan membiarkannya jadi bagian dari warna-warna.
Seperti endapan lumpur di dasar drainase yang sunyi,
ia diam,
tak lagi menyumbat aliran mimpi.
Janji yang dulu rongsokan,
kini hanya sekadar barang antik,
disimpan bukan untuk ditangisi,
tapi agar ingatan tak mati etik.
Aku sudah berhenti memotong kalimat sebelum titik,
biarlah ia selesai sebagai cerita yang pernah cukup pelik.
Aku tak lagi merasa asing di tengah tawa orang-orang,
sebab aku telah berdamai dengan sunyi yang paling terang.
Namamu yang memudar kini warnanya serupa fajar,
pucat namun hangat, pelan-pelan membuatku belajar;
Bahwa jejak tak perlu benar-benar tandas untuk hilang,
ia hanya perlu berhenti membuat kita merasa terbuang.
Aku adalah muara bagi hujan yang pernah menderu,
tempat di mana air tenang,
dan aku menemukan diriku yang baru.
.
.
Daur Ulang Kenangan
Ternyata muara itu bohong belaka.
Sebab air yang menyeretmu pergi cuma mampir sebentar,
lalu menguap, memanjat langit yang sesak,
dan jatuh lagi sebagai rintik yang sama persis di kaca jendelaku.
Siklus yang melelahkan, bukan?
Aku baru paham kalau melupakan itu cuma mitos orang-orang kalah.
Mana bisa mencabut bayangan dari tubuh yang sudah ringkih?
Kau akan terus pulang dengan wajah yang ganti-ganti;
kadang bukan lagi sebagai nyeri yang menusuk,
tapi cuma tumpukan kertas di atas meja yang lupa kubuang.
Retakan di trotoar itu sekarang sudah hijau tertutup lumut.
Sesuatu yang dulu rusak,
ternyata bisa jadi tempat tinggal yang baru.
Janji-janji yang dulu kukira sampah di sudut otak,
pelan-pelan mengeras,
jadi lantai tempatku berpijak sekarang.
Ternyata aku tidak mati karenanya.
Gerendel pintunya sudah kulepas.
Biarkan saja udara masuk,
meski bawa bau tanah dan sisa badai.
Aku tak lagi repot-repot mengeja namamu untuk cari makna.
Bagiku,
namamu sekarang cuma bunyi yang lewat—
seperti lagu lama yang sudah habis durasinya.
Jadi,
kalau nanti hujan turun lagi menghantam bumi,
aku tak akan lari atau cari tempat sembunyi.
Aku akan berdiri di sana,
membiarkan bajuku basah kuyup,
sambil berbisik pada diri sendiri:
Kehilangan ini bukan garis finis,
ini cuma perjalanan ziarah yang belum selesai.
.
.
Muara Tanpa Nama
Di sini,
identitas luruh tanpa sisa.
Hujan cuma sekadar jatuh,
tak lagi membawa titipan rindu,
dan gerendel itu hanyalah rongsokan,
tak punya kuasa memenjarakan pilu.
Serpihan yang dulu kupunguti hingga kuku memar,
kini melumat,
berubah jadi debu pasir,
yang bungkam dan hambar.
Lenyap sudah “aku,”
yang keranjingan menambal retakan,
hilang pula “kau,”
yang dulu megap-megap di gorong-gorong sumbatan.
Kita terseret ke dalam dekapan yang teramat lapang,
titik telah jatuh di waktu yang tepat,
dan koma yang menjerat itu kini telah pupus,
tak lagi menyekat.
Di muara ini,
warna kita adalah jernih yang enggan menipu.
Bukan karena kita kosong melompong,
tapi,
karena tiap-tiap luka,
sudah bosan mengaduh dan memilih membatu.
Tak usah repot mengukir nama,
di nisan manapun,
sebab di palung sedalam ini,
kita hanya satu denyut,
yang berhenti saling beradu.
.
.
Catatan yang Tak Perlu Ditulis Lagi
Akhirnya,
jari-jariku berhenti berselisih dengan pena.
Tak ada lagi tinta yang perlu dipaksa bicara,
sebab segala yang bising sudah lunas dieja.
Dulu aku takut pada halaman yang putih,
menganggapnya sebagai kehilangan yang perih.
Namun kini,
kekosongan ini adalah rumah yang paling rapi;
tanpa debu janji,
tanpa sisa-sisa retak yang sembunyi.
Jika suatu saat kau melintas di deretan kata ini,
jangan cari aku di balik huruf atau bait yang sunyi.
Sebab aku sudah bukan lagi cerita,
melainkan spasi—
ruang lega yang memisahkan beban dengan doa.
Buku ini kututup,
bukan karena ceritanya habis,
tapi karena aku sudah cukup.