Judul Buku : Kata-kata yang Menyeberang
Penulis : Abdul Kadir Ibrahim, dkk.
Editor : Asia Ramli Prapanca
Penerbit : De La Macca
Cetakan : I, 2026
ISBN : 978-602-263-2559
Antologi puisi ini adalah antologi puisi yang diterbitkan dalam rangkaian Festival Sastra Kepulauan IX yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni Teater Kita Makassar sebagai bagian dari program Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Antologi puisi ini memuat puisi karya enam puluh tiga penyair dari berbagai daerah di Indonesia dan dari Malaysia.
Antologi puisi ini menjadi catatan penting dalam kesusstraan Indonesia, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan dengan berbagai suku bangsa, bahasa, dan budaya. Secara fisik antar satu budaya dengan budaya lain dipisahkan oleh laut. Sekadar pertanyaan apakah Republik Indonesia ditinjau dari geografisnya lebih cocok disebut “negara kelautan” ataukah “negara kepulauan?” Menurut Zuhdi (2024) jika dilihat dari konsepnya merupakan terjemahan dari archipelagic state yang berasal dari bahasa Yunani. Istilah itu terdiri dari atas dua suku kata: achr berarti utama dan pelago yang artinya laut. Dari perspektif tersebut wilayah Indonesia mestinya dilihat sebagai ‘laut yang ditaburi pulau” bukan “pulau-pulau yang dikelilingi laut.”
Artinya, bukan pulau-pulau kecil yang terletak di laut yang jauh, melainkan lautan pulau-pulau atau laut yang menghubungkan dan bukan menceraikan. Laut bisa jadi merapatkan pulau menjadi satu tubuh, satu keluarga atau satu bangsa. Kemajemukan diserap ke dalam kesatuan. Di sisi lain laut adalah menghubungkan namun memiliki hak untuk tetap berbeda. Dengan demikian kita dapat merepresentasikannya bahwa kepulauan dapat dirawat dengan tradisi puitiknya untuk menautkan keberagaman kampungnya.
Untuk memperjelas memahami laut kita bisa memahaminya dengan membaginya ke dalam tiga kutub, yakni laut yang memisahkan, laut yang menghubungkan, dan laut yang menyatukan. Sebagai laut yang menyatukan kita baca puisi D. Zawawi Imron berjudul “Lagu Laut” berikut:
Sampaikan salamku, wahai kecipak laut
Pada bumi Bugisku yang hangat
Perahuku teramat jauh kini berlayar
Kutembangkan siul di tengah jerit lautan,
Dari langit
tempat melukis hati gadisku
Di mana saja sama birunya
Karena kesetian perlu diuji
oleh jarak, topan dan cakrawala,
Semua gelombang biarkan terus menggebu
Paling-paling jadi gambar tenun sarungku
Dan sekian karang
bisa didindar dengan kemudi.
Ibu, alangkah jauhnya Sinjai
Meski tanpa tali temali
Engkau tetap hambatan
Dan kalau malang perahuku karam
Kuyakin hatimu, ibum
adalah kuburku yang sebenarnya.
(Hlm. 48)
Puisi Zawawi Imron adalah puisi Madura yang menyeberang ke Bugis. Suara liris berlayar jauh dari bumi Bugisnya dan laut menjadi penguji kesetiaan yang harus lulus oleh jarak, topan, dan cakrawala. Namun laut sekaligus memulangkan: salam dititipkan lewat kecipak ombak, Madura tersambung ke Sinjai lewat pelayaran. Inilah puisi yang dihidupi dari atas perahu, bukan dari pantai.
Untuk memperjelas bahwa puisi ini ditulis dari atas perahu bukan dari pantai dapat kita baca puisi-puisi yang ditulis dari pantai. Faisal Yunus menuliskannya dengan apik dalam puisi “Di Belakang Rumah, Laut Masih Memanggil Namaku“ dalam kutipan: Aku lahir dari rahim ombak yang tak pernah lelah mengeja pantai/darahku mengalir bersama asin yang disimpan angin/bersama nyanyian camar yang saban pagi membelah langit/ketika fajar membuka pintu-pintu cahaya//(hlm.64).
Demikian pula Tri Astoto penyair dari Parepare memandang laut dari pantai dengan menarik dan imajis pada puisi “Ritus Pulau“ dalam kutipan berikut: setiap menatap di kejauhan sepanjang pantai/mata kasatnya terbayangi naga besar di tengah samudera/mengulurkan ekor gelombang meliuk memanggil badai/tapi pulau ini menjadi tempat berteduh//(hlm. 165).
Kisah dalam I La Galigo ditulis oleh Nurhayati Rahman dalam puisi “Jejak Sawerigading di Ujung Jendela“ dalam kutipan berikut: berhari-hari kau suntuk untuk membelah laut/bukan karena sakit ditolak cintamu We Tenriabeng/bukan pula karena rindumu pada puteri Cina, l We Cudai/bukan..bukan itu/tapi kau mau temukan makna kehidupan dan mengambil/iktibar tentang tata kelola negara/Oh, Sawerigading, putera titisan para dewa langit dan bawah laut//(hlm. 125).
Puisi berikutnya sangat menarik untuk diapresiasi seperti dalam puisi Ibrahim Gibra berjudul “Lautku Tak Lagi Gampang bagi Cadik dan Sampan“ dalam kutipan: Tapi tak mudah lagi cadik dan sampan/membaca tanda. Sebab pada bulan yang/menimang bilangan malam, nelayan itu/tak bisa lagi membujuk ikan//(hlm. 74).
Begitu pula dalam puisi Muhary Wahyu Nurba berjudul “Kembali ke Laut“ berikut ini:
Aku berdiri menghadap laut.
Kucari jejak nenek moyangku
yang dulu menantang maut
“Tegakkan layar, tebas lidah gelombang!
Jangan biarkan apapun karam sebelum negeri impian“
Aku dengar getar suaramu
menembus lurung waktu
menyentuh sukmaku yang mencari
sungai darahmu
O, sejak lama aku ingin
mengecap asin yang sama denganmu
(hlm. 124).
Pada akhirnya membaca puisi sastra kepulauan bertajuk merawat tradisi puitik menautkan keberagaman kampung seolah menjawab pertanyaan, bahwa karya sastra tidaklah lahir dari kekosongan sosial (sosial vacuum), tetapi lahir dan dipengaruhi oleh realitas sosial serta konteks budaya yang ada di dalam masyarakat. Realitas sosial yang berada di dalam kehidupan penyair dan imajinasinya dapat menjadi ide dan materi untuk diwujudkan menjadi puisi yang bagus.
Laut dapat direpresentasikan untuk menjadi gambaran dalam kehidupan seseorang melalui imaji, metafora, dan bahasa kias. Begitu banyak dapat dikisahkan dalam puisi-puisi kepulauan yang intinya adalah untuk memiliki tekad ‘sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang” sebagaimana yang dilakukan oleh nenek moyang kita. Nenek moyangku orang pelaut. (Bambang Widiatmoko, penyair)