Tiga Burane

Adalah seorang gadis rupawan yang dipinang oleh tiga laki-laki tampan yang membuat cerita ini ditulis. Seorang lelaki ringkih dengan janggut serupa rambut jagung telah menuturkannya, dengan sudut mulut berbusa oleh sisa ludah. Ia bilang, tutur kisahnya akan hilang oleh embus angin ke arah timur, bila tidak ada yang menuliskan.

Maka mulai kutulis pembuka ceritanya: Seorang gadis rupawan dipinang oleh tiga laki-laki tampan. Ketiga laki-laki itu saudara kembar; tidak hanya raut rupanya yang sepersis, tapi bentuk dan tinggi tubuhnya pun tak ada beda, bahkan sifat dan keinginannya pun sama. Mereka bernama Burane Kanja, Burane Garetta, dan Burane Kessing.

Betapa bingung orang tua si gadis mendapat pinangan tiga laki-laki sekaligus. Tak mungkin anak perempuannya memiliki tiga suami! Untuk mengelak dari kerumitan, orang tua ini mengenakan syarat kepada ketiga peminang itu untuk mencari benda ajaib yang memiliki manfaat pada anak gadisnya.

Oleh dorongan rasa cinta pada gadis idamannya, ketiga laki-laki kembar itu pun memutuskan melakukan pengembaraan mencari benda-benda ajaib. Mereka berpencar demi menghindari menemukan benda yang sama. Burane Kanja menuju ke arah utara, Burane Garetta berjalan ke arah barat, dan Burane Kessing menyusur langkah ke arah selatan.

Sedang si gadis, dalam penantian, saban senja memilih duduk di tepi jendela kamarnya yang menguak ke hamparan lapangan berumput, di mana ketiga laki-laki pujaan itu berpencar melangkah menjauh. Siapa pun lebih dahulu tiba, tak masalah, baginya ketiga laki-laki itu sama saja.

Ratusan purnama kemudian datang silih berganti, tahun demi tahun luntur, yang terus pula menggerus penantian si gadis. Bercangkung menunggu seraya menatap hampar lapangan berumput di luar jendela kamarnya, membuat kondisi fisik si gadis terus melemah; pikirannya pun terus mengusut, dibebani dugaan demi dugaan pada keselamatan sang pujaan hati.

Akhirnya si gadis jatuh sakit; bertambah parah setiap pekan berganti, hingga sampai pada hari saat detik-detik kematian menjelang.

***

Adalah seorang lelaki tua dengan janggut serupa rambut jagung yang selalu membuatku menyusup ke reyot gubuk rumbianya. Angin pantai terus menggoyang gubuk itu, seakan hendak menerbangkan, seraya melawan ikatan erat tiang-tiang penyangganya pada tonjolan akar-akar bakau yang menyembul dari ceruk pasir.

Orang-orang tua di kampung kami mengatakan lelaki ringkih itu telah hilang ingatan. Ia tak mampu lagi mengurai kata tentang tanah muasalnya. Ia terdampar di tubir pantai kampung kami, di suatu hari, diduga setelah berhari-hari terapung berjuang mengulur nyawa dengan berpegangan pada serpih badan perahunya. Entah ia seorang nelayan, atau seorang pelaut, atau malah seorang perompak, yang perahunya telah digasak badai hingga menyerpih.

Anak-anak seusiaku enggan menyusup ke gubuknya. Beda dengan aku, sepulang dari belajar mengaji di surau selepas Asar, bersemangat kusurukkan tubuh kecilku ke dalam gubuk itu. Aku suka mendengar cerita-ceritanya, terutama kesahnya tentang kisah yang akan hilang oleh embus angin ke arah timur, begitu katanya, bila tak ada yang menuliskan.

Maka kutulis lanjutan ceritanya: Di ujung pengembaraan, ketiga saudara kembar itu ternyata bertemu di satu tempat. Persuaan mereka terjadi sesaat setelah ketiganya berhasil mendapatkan benda-benda ajaib temuan masing-masing. Ketiga benda itu tersimpan di lokasi yang tidak berjauhan, dan agaknya ketiga saudara kembar itu telah memutari separuh lingkar bumi hingga bertemu di titik yang sama.

Sekian lama memendam rindu pada kembarnya, membuat ketiganya sontak berpelukan dengan haru. Saking larut bertukar pengalaman, mereka tak sadar senja mulai lindap. Mereka tak ingin lagi mengeloni gelap malam di tempat pengembaraan yang sepi. Pada senja ini juga mereka ingin pulang.

“Bagaimana kalau kita melihat-lihat dulu keadaan kekasih kita?” usul Burane Kanja. “Dia tentu telah lelah menunggu. Dengan benda temuanku yang berwujud serupa cermin ini, akan dapat melihat keadaan kekasih kita saat ini.”

Dalam kilap pantul permukaan benda ajaib itu, nampak kondisi gadis pinangan mereka sedang dalam detik-detik jelang kematian.

Terperanjat berbarengan, ketiganya saling-tukar tatap bingung.

Burane Kessing lebih dulu menguasai diri. “Tenanglah,” sahutnya. “Dengan benda temuanku yang berwujud serupa batu permata ini, akan bisa menyembuhkan, mengembalikan ke kondisinya yang semula, bila secepatnya dapat disentuhkan ke tubuhnya.”

“Masalahnya,” sela Burane Kanja, “sejak kita memulai pengembaraan, telah ratusan purnama di langit malam kita lalui, baru kita tiba di tempat ini. Untuk kembali, tentu kita pun membutuhkan waktu yang sama. Dan kekasih kita pasti telah tiada.”

“Tenanglah,” giliran Burane Garetta menyela. “Dengan benda temuanku yang berwujud serupa tusuk konde ini, waktu perjalanan dapat dipersingkat dengan cepat. Berpeganganlah pada benda ini, pejamkan mata kalian; dan dalam beberapa kejap, kita akan tiba di sisi kekasih kita. Batu serupa permata temuan Burane Kessing, tentu dapat segera disentuhkan ke tubuhnya.”

Ketiganya berlekas memegang benda itu, berbarengan pula memejamkan mata; dan dalam beberapa kejap saja, ketiganya telah berdiri di depan pintu kamar si gadis pinangan.

Tergopoh orang tua si gadis menyongsong. “Cepatlah. Dia sakit parah. Sepertinya, ajalnya tinggal beberapa detik lagi….”

Ketiganya menyerbu masuk. Burane Kessing segera mengeluarkan benda ajaib serupa batu permata temuannya, lalu meminta orang tua si gadis menyentuhkan ke seluruh tubuh anaknya.

Hanya berbilang tiga hingga empat tarikan napas, si gadis terbangun dengan wajah berseri-seri.

“Oh, kamulah yang berkenan menyuntingnya,” ujar orang tua si gadis, dengan wajah tak kalah berserinya kepada Burane Kessing.

Burane Kanja dan Burane Garetta sontak menyela, “Tunggu dulu. Tidak bijak bila Bapak terburu-buru begitu mengambil keputusan. Bapak perlu mendengar cerita kami dulu.”

Ketiga saudara kembar itu lalu berjejer, tepat menghadap ke orang tua gadis pinangan mereka.

“Pada benda temuankulah, yang berwujud serupa cermin itu hingga kami dapat mengetahui kondisi sakit parah menjelang ajal pada putri Bapak,” papar Burane Kanja. “Tanpa mengetahui keadaan putri Bapak lewat benda itu, tentu kami belum kembali ke sini untuk menyentuhkan batu ajaib serupa permata itu.”

“Dengan benda temuankulah, yang berwujud serupa tusuk konde itu yang telah mempercepat perjalanan kami ke sini,” urai Burane Garetta pula. “Tanpa melalui bantuan benda itu, kami tidak bisa tiba tepat waktu di sini untuk menyentuhkan batu ajaib serupa permata itu.”

“Jadi, ketiga benda itu tak mungkin terpisahkan, Bapak,” ketiganya mempertegas.

“Benda ajaib yang serupa batu permata itu, akan menjadi induk kalung yang menghiasi leher jenjang putri Bapak, dan itu akan membuat kecantikannya kian terpancar,” tambah Burane Kessing.

“Benda ajaib serupa tusuk konde itu, akan menahan beraian rambut putri Bapak, akan bermahkota di rambut itu hingga keanggunan putri Bapak kian terpancar,” tambah Burane Garetta.

“Benda ajaib serupa cermin itu, akan memperjelas tata kecantikan putri Bapak, dan akan menjaga kecantikannya agar terus terpancar,” tambah Burane Kanja.

“Ketiganya benar-benar tak terpisahkan, Bapak!” Semringah wajah si gadis.

“Tapi tak mungkin kamu memiliki tiga suami sekaligus!” hardik orang tua si gadis marah. Kebingungan kembali menelikung pikirannya.

***

Adalah sebuah kapal nelayan milikku, yang membuat kami masih selalu bersama, berbilang puluhan tahun kemudian. Belakangan baru kuketahui, lelaki ringkih dengan janggut serupa rambut jagung itu ternyata seorang ‘penentu lokasi’ yang mumpuni. Di gulita malam sekalipun, kami tetap dapat tersasar ke tempat-tempat berkumpulnya ikan-ikan yang kemudian kami jala.

“Inginnya kita terus bergerak ke arah timur,” kataku, setelah lambung kapal kami disarati ikan-ikan tangkapan. “Supaya aku pun bisa tiba di tempat penemuan benda-benda ajaib itu. Dan dengan benda ajaib temuanku, akulah yang berhak menyunting si gadis rupawan.”

Lelaki itu, yang kian ringkih dan kian uzur, mengikikkan tawanya. “Tugasmu hanya menuliskan cerita tentangnya, bukan ikut meminang,” di sela tawanya ia menyahut. “Dan tak mungkin lagi ada yang bisa menyuntingnya; sejak aku sebagai bapaknya, tak bisa lagi mengingat arah mana pulang ke tanah muasal.” ***

Parepare, Okt. 2007/Versi revisi: Agust. 2019.

Catatan:

Cerpen ini ikut dibukukan dalam antologi cerpen: ‘Pohon yang Tumbuh Menjadi Tubuh’, 2018, Gora Pustaka Indonesia.

Bagikan:

Penulis →

Pangerang P. Muda

menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit: Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019), Perkara Pisau Lipat dan Laba-laba Emas (Sampan Institute/2021), serta dua kumpulan cerpen remaja. Guru SMK berdomisili di Parepare.