Laki-laki tua itu berjalan
terpincang-pincang menyeret langkahnya, disertai derai batuk menguncang bidang dadanya. Dengan sepotong tongkat di sebelah tangan kanan, ia memasuki perkampungan, dan akan bersimpuh di depan rumah siapapun sembari menadahkan kedua tangannya. Baju yang lusuh, hampir robek seluruhnya lekat di badannya dibasuh oleh keringat yang mengucur.

Ia duduk di halaman rumah seseorang. Menunggu si pemilik rumah keluar. Memangil-manggil tuan rumah diantara tarikan napasnya yang lambat dan goyah. Berharap seseorang keluar dari dalam rumah membawa uang, seberapa besar jumlahnya akan ia terima asal si pemberi ikhlas memberinya pada laki-laki tua itu, dengan keriput di sekujur tubuhnya.

Terus ia duduk di teras rumah seseorang itu. Rumah mewah berupa bangunan gedung bertingkat, dengan lampu-lampu menghias di setiap sudutnya membuat laki-laki itu yakin si pemilik rumah adalah orang paling kaya di kampung itu. Karena sejak laki-laki tua itu berkeliling semenjak matahari muncul di permukaan langit hingga kini menjelang sore hari, ia cuma menemukan rumah itu sebagai satu-satunya tempat tinggal yang megah dibanding rumah-rumah reyot yang ditemuinya sebelumnya.

Maksar, begitu nama laki-laki tua itu kemudian dikenal warga Tang-Batang. Selama lebih tiga puluh menit menunggu, seorang perempuan paruh baya agak gemuk berdiri di ambang pintu. Berpandangan beringas pada Maksar. Ia meminta Maksar segera angkat kaki dari rumahnya, lantang ia berteriak di depan muka laki-laki tua itu sampai Maksar menunduk, mengambil napas dalam-dalam, lalu bersama napas yang ia lepas, Maksar membuang ludah di wajah perempuan paruh baya itu.

“Dasar pengemis!” Terbungkus sumpah serapah ucapan perempuan itu mengumpat. Dengan cepat ia mendorong tubuh Maksar hingga laki-laki itu tersungkur. Pelan-pelan Maksar meraih tongkatnya dan berjalan pulang.

Matahari hampir tenggelam di ujung barat. Laki-laki tua tersandung batu hingga terpelanting jatuh. Gelap sudah mulai membungkus permukaan langit. Dengan sisa napas terengah-engah ia coba meraba-raba tanah, mencari tongkatnya yang terlempar jauh dari tempat ia tersungkur. Angin menggesek daun-daun jati. Maksar belum sanggup mengangkat tubuhnya sendiri. Ia memutuskan membaringkan saja tubuhnya, melepas penat karena berjalan sepanjang hari keluar masuk kampung.

“Ini tongkatnya, Kek.” Laki-laki muda yang menghampiri Maksar, membawakan tongkatnya. Terkaget Maksar mendengar suara Kasno, laki-laki muda itu. Kebetulan Kasno lewat di tempat itu dan tanpa sengaja telinganya mendengar suara lelaki tua merintih.

“Dimana rumah kakek? Mari saya antar,” kata Kasno menawarkan kebaikan pada lelaki tua itu. Maksar tak membuka katup mulutnya. Tak juga mengucap terimkasih pada Kasno karena berkat laki-laki muda itu ia bisa berjalan pulang dengan mengetuk-ngetukkan tongkatnya, mencari jalan setapak menuju rumah.

Belum juga Maksar menanggapi ucapan Kasno. Ia berdiri dan memandang raut muka Kasno, dalam remang-remang menjelang gelap malam hari. Tanpa perlu berucap apapun pada Kasno, justru malah Maksar melempar ludah ke wajah Kasno. Laki-laki muda itu terkejut dan berperasangka macam-macam soal Maksar. Apa lelaki tua itu tak waras? Ingin Kasno balas meludah, bahkan jika ia mau bisa dengan mudah menendang tubuh ringkih Maksar, tapi ia urungkan semua itu karena dianggapnya Maksar kehilangan akal, jiwa laki-laki tua yang dicekik kesepian. Begitu pikir Kasno.

Sudah berpuluh-puluh kali Maksar kerap membuang ludah ke wajah seseorang tanpa sebab. Seiring jarum bergeser, perilaku laki-laki tua itu dianggap meresahkan dan tak disukai banyak orang. Hingga kemudian setiap kali Maksar menginjakkan kaki di halaman rumah seseorang, ia langsung akan menerima umpatan, diusirnya seperti layaknya pecundang. Menanggapi sikap warga Tang-Batang Maksar tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Mungkin karena perlakuan orang-orang yang tak lagi ramah padanya menyebabkan laki-laki separuh abad itu tak dapat ditemukan lagi keberadaannya hingga saat ini. Tak terdengar lagi suara ketukan tongkatnya berseiring dengan laju napasnya. Tapi, menjelang sore hari, yang begerimis ketika orang-orang bekumpul di rumah Maksum dikarenakan Misdar, anak dari  lelaki paruh baya itu kejang-kejang, menjerit kesakitan, seperti disusupi arwah. Mendadak Maksar muncul tiba-tiba membuat orang-orang terbelalak menatap laki-laki tua itu.

Dengan tampil mencengangkan Maksar mengunyah ludahnya sendiri dalam mulut. Sejurus kemudian, laki-laki renta itu membuang ludahnya tepat mengenai wajah Misdar, anak lelaki Maksum. Orang-orang mengernyitkan dahi melihat tingkah Maksar yang kembali berulah. Laki-laki tua itu memejamkan mata. Ia membuka matanya beberapa menit kemudian. Bersamaan dengan terbukanya mata Maksar, saat itu juga Misdar berhenti mengejang dan bocah laki-laki itu langsung berdiri di depan orang banyak, memperlihatkan dirinya yang sembuh seketika.

Sejak itu masyarakat percaya, Maksar adalah lelaki sakti. Ludah Maksar dianggap mujarab oleh penduduk. Kabar kesaktian Maksar tersebar secepat kilat dari mulut ke mulut, dari waktu ke waktu. Justru laki-laki tua itu kini selalalu diharap kedatangannya. Tapi selepas kejadian menakjubkan waktu itu Maksar kembali tak menunjukkan batang hidungnya di depan orang-orang.

Walaupun laki-laki sepuh itu tak lagi diketahui dimana kini ia berada. Ia justru semakin termasyhur setelah beredar desas-desus bahwa orang-orang yang diludahinya dulu kini mengalami bermacam perubahan. Perubahan yang beragam diterima orang-orang itu. Perempuan gempal itu, yang mengusir Maksar dulu kini jatuh miskin dan terpaksa melacurkan diri demi sesuap nasi. Sementara Kasno, laki-laki yang diludahi Maksar tanpa sebab itu kini sudah jadi orang kaya, dan telah naik haji.

Suatu hari saat Kasno berkunjung ke rumah Maksum, ia berceloteh banyak mengenai Maksar, laki-laki tua pemilik ludah mujarab itu. Orang-orang sudah mengakui sangat mengagumi betapa mujarabnya ludah Maksar. Kasno berdehem sebentar melegakan tenggorokannya dari sesuatu yang menyumbat.

“Sekalipun ludah laki-laki tua itu mujarab, berhati-hatilah. Ludahnya bisa menyembuhkan, memberi keuntungan, atau justru ludah itu bisa jadi penyakit, mendatangkan celaka. Maka bersikaplah baik kepadanya jika tidak ingin bernasib celaka.” Kasno menceritakan dengan binar-binar di matanya. Tanpa mengurangi debar-debar di dadanya, Kasno selalu membangga-banggakan Maksar.

Beberapa bulan berlalu terdengar kabar bahwa Maksar tengah menyepi di bawah kaki bukit. Tinggal di rumah berupa gubuk terbuat dari anyaman bambu. Laki-laki tua itu tak lagi sanggup menyeret kakinya, singgah dari satu rumah penduduk ke rumah lain, menyusuri ruas-ruas jalan kampung. Diam-diam Maksum terobsesi menemui laki-laki renta itu, dan niat itu pun ia kerjakan. Pergi tak bilang siapa-siapa, dalam gelap malam dini hari.

Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Maksum duduk dalam gemetar sembari menatap wajah Maksar. Tanpa diminta terlebih dahulu oleh Maksum, tiba-tiba saja laki-laki tua itu membuang ludahnya ke wajah Maksum. Temaram lampu teplok memantulkan bayangan dua lelaki yang saling berhadapan. Angin bergemuruh di luar. Maksum tersenyum, merasa terberkahi mendapat ludah Maksar di wajahnya. Sebab maksud kedatangan laki-laki itu kesana memang ingin mukanya diludahi agar istrinya mengijinkan menikah lagi dengan perempuan simpanannya selama ini.

Dan beberapa detik berikutnya, Maksum malah merasakan nyeri di kedua matanya. Begitu Maksar mendekatkan mulutnya di tepi telinga Maksum, laki-laki itu sudah tak dapat melihat apapun di sekitarnya, kecuali gelap membungkus dua bola matanya. Kebencian terbungkus umpatan dan sumpah serapah terhadap Maksar, karena laki-laki tua telah membutakan kedua matanya.

“Dengan begini, akan kau tahu siapa sesungguhnya yang benar-benar mencintaimu. Istrimu atau perempuan simpananmu,” ujar Maksar, lelaki tua itu dengan sangat lembut. Jantung Maksum hampir copot dari tangkainya mendengar ucapan Maksar, karena laki-laki paruh baya itu belum mengucap apapun perihal maksud kedatangannya, tetapi lelaki tua itu sudah mengetahuinya lebih dulu.

Tak ada yang bisa dilakukan Maksum selain meminta lelaki tua itu mengembalikan penglihatannya. Dalam buta mata seperti itu, Maksum tak merasakan keberadaan Maksar di dekatnya. Laki-laki tua itu keluar rumah sejak tiga puluh menit lalu meninggalkan Maksum seorang diri di dalam rumah gubuknya. Maksum cuma mendengar suara cicak dan desah napasnya sendiri.

Pulau Garam, 2019

===================

Zainul Muttaqin Lahir di. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpen perdananya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here