*Kuratorial Bojonegoro Literary Festival 2019

Melalui puisi-puisi para penyair dalam buku antologi puisi Bojonegoro Literary Festival (BLF) 2019 kita diajak untuk melihat sebuah kepingan bernama Bojonegoro. Sebuah ruang memberi dan menerima antara manusia dan lingkungannya dalam dimensi waktu (dulu, kini, akan datang), yang membawa seperangkat nilai. Nilai-nilai yang mengalami nasib yang berbeda-beda. Ada yang berjalan harmonis dengan realita, dan ada yang berbenturan dengan realita. Di atas pijakan semacam inilah para penyair memainkan suasana puitikanya.

Hutan dan Sungai

Kabar tentang kondisi hutan di Bojonegoro dapat kita simak melalui bait puisi  Warung Kopi karya penyair Tofiq Widodo. A yang berbunyi: pojok warung kopi // lembut kulepas dahaga // kutanggalkan sejenak anganku // tentang hutan jati yang tak lagi kokoh berdiri // tentang pipa-pipa memeras bumi.

Hutan Bojonegoro dalam tangkapan Tofiq itu seperti sedang menghadapi sebuah siklus menuju kematian yang mengerikan. Siklus yang membangkitkan kecemasan dan sedang menyekap pikiran penyair dalam sebuah dahaga (yang kelihatannya tak kunjung mendapatkan selesaian) seperti hutan jati yang tak lagi kokoh saat pipa-pipa memeras bumi. Dalam hal ini penyair menunjukan keterikatan batin yang kuat dengan alamnya (Bojonegoro). Ia, penyair, ikut menanggung rasa sakit yang mendera hutan dan bumi Bojonegoro.

Dalam konteks Bojonegoro, frase pipa-pipa memeras bumi dalam puisi Tofiq Widodo A sangat mudah dipahami. Bojonegoro ialah kawasan yang kaya dengan minyak bumi. Pada tahun 2018 menurut data dari Kementrian Keiangan RI, Bojonegoro menerina dana bagi hasil.sumber daya alam (SDA) terbesar dengan besaran nominal mencapai 2,27 trilyun. Namun, eksplorasi minyak bumi yang berlangsung di sana, oleh para penyair, digambarkan sebagai eksplorasi yang mengancam kehidupan.

Secara lebih jelas, peristiwa pipa-pipa memeras bumi itu dapat dilihat dalam puisi karya Yonathan Rahardjo berikut ini:

Jatiminyakbumi

Tronton besar pengangkut pipa-pipa besar
Orang-orang proyek berpakaian lusuh berlumur keringat dan minyak
Langit menggelap
Ini jam kerja di titik henti
Mereka pulang kerja, pastinya
Wajah-wajah rumah penduduk latar pemandangan
menyiratkan taraf hidup
berselubung Tanya
Pompa alir minyak
Dialirkan ke mana
Pantaikapur
Yang untuk penduduk Jatiminyakbumi mana
Ada di depan sana, sebagian di situ
Sebagian besar dialirkan ke Amerika
Yang untuk penduduk Jatiminyakbumi mana
Jangan tanya lagi soal minyak bagianmu
Guna berjalan kaki beriring tronton proyek itu
Bukan minyak energimu
Tenagamu sudah cukup dari hasil tegalanmu


menyok

Yonathan memainkan ironi kekayaan tanah Bojonegoro dan kemiskinan yang dialami oleh masyarakat dalam puisinya. Sebuah rong-rongan yang membuat batin pembaca terusik. Pada bagian-bagian tertentu bahkan terasa sangat provokatif.

Yonathan mengawali puisinya dengan sebuah tuntutan pembagian hasil. Sebuah ekspresi yang lugas sebagai pewaris bumi Bojonegoro. Tetapi, seakan memahami kekuatannya dan apa yang akan dihadapinya, Yonathan pada akhirnya menyerah. Jangan tanya lagi soal minyak bagianmu// Guna berjalan kaki beriring tronton proyek itu// Bukan minyak energimu// Tenagamu sudah cukup dari hasil tegalanmu// Menyok.

Yonathan tidak menuntut hasil atas ungkapan (olok-olok) sarkasnya itu. Ia pun tak hendak berharap kepada siapa-siapa. 

Selain hutan, Bojonegoro juga mempunyai hubungan khusus dengan Bengawan Solo. Sungai yang mencapai panjang hampir 600 km dan menjadi sungai terpanjang di pulau Jawa ini turut merawat kehidupan di Bojonegoro melalui sumber daya air yang dimilikinya. Dan, meskipun di musim hujan ia mendatangkan banjir, Bojonegoro tetap menerima Bengawan Solo sebagai berkah. Sebagai bukti, untuk pertama kalinya, pada bulan November 2019 ini pemerintah kabupaten Bojonegoro menggelar Festival Bengawan, yang direncanakan akan berlangsung setiap tahun.

Dalam puisi Anak Bengawan, Wahyu Subakdiono menggambarkan dua wajah bengawan dengan sangat efektif. Wahyu, di antaranya, menulis: Air adalah teman canda paling setia sedang kemarau panjang adalah Medan pertempuran, rumah sahaja segala doa.

Bengawan (alam), oleh Wahyu, dihadirkan sebagai Ibu yang bukan hanya memberikan kegembiraan, tetapi juga pengajaran.

Kekeringan seperti diungkapkan Wahyu memang merupakan salah satu masalah yang cukup serius di Bojonegoro. Hingga bulan Oktober 2019 ini saja, sebagaimana diberitakan oleh beritajatim.com, telah ada 71 desa  dari 20 kecamatan di Bojonegoro yang mengajukan permintaan bantuan air bersih. Seiring dengan kejadian itu, pemerintah kabupaten juga telah menetapkan status tanggap darurat di Bojonegoro terhitung mulai September hingga 30 November 2019.

Untuk mendapatkan gambaran suasana kemarau yang dialami Bojonegoro kita dapat menyimak penggalan puisi-puisi berikut ini:

Bulan tegak tengadah
Matanya nanar menatap kemarau yang kian memerah
Dan telapak kaki bapak mendera luka
Berdarah, bernanah,
Tertancap duri-duri sawah

(Lagu Kemarau, Retno Susanti)

angkasa hanya menjadi arena main layangan
angin bercampur debu berterbangan
bumi menjerit panas melewati takaran

(Hutan-Hutan Telanjang, Gampang Prawoto)

Ilalang panjang
Mengubur pesawahan
Menutup pemukiman
Meratakan sendang
Atas nama harapan

(Sekeping Senja di Ujung Kemarau Suwandi Adisuroso)

hawa panas berserak daun-daun kering,
seperti mantra dan doa saat jenazah teriring

(Lebur, Abdul Jalil)

Sementara dalam puisinya yang lain, Abdul Jalil menulis : ingin mencium tanah basah meski lama kian harap tak tiba pernah (Harapan)

Kerinduan pada hujan sebagaimana diungkapkan oleh Abdul Jalil juga dapat kita baca dalam puisi karya Retno Susanti berikut ini:

Hujan

Padamu rindu kutautkan
Di antara gersang
jati dan flamboyan
Dan susu ibu yang kerontang
Meronta mulut kecilku tak berkesudahan

Ibu adalah rintik hujan
Pada luka kasihnya tersiram
Karena bisa dunia terhisap
Mengerang dan mematikan

Ibu adalah wangi melati yang kuhirup
Padanya segala kesah kuadu
Karena tak pernah  kutahu
Mana kawan, mana sekutu

Ibu adalah titik air yang menapak
Darinya bau tanah menyeruak
Menyawa pada raga yang sesak
Kala tapak kakinya  telah  kudekap 
Bau  surga pun  kucecap 

Bila Abdul Jalil secara sederhana hanya merindukan bau tanah saat hujan tiba, Retno Susanti membayangkan mencecap bau surga. Imajinasi Retno dalam hal ini melangkah melintasi objek yang ditatapnya (hujan). Surga dalam puisi Retno agaknya bisa kita sejajarkan dengan puisi Tandur karyaTofiq Widodo. A. Dalam puisi itu penyair menulis:

Bias awan di ujung selatan// Berserakan//

Daun-daun enggan berujar pada angin// yang telah menggugurkan// Hujan baru saja berhenti// Menyegarkan jengkal demi jengkal sawah// yang haus// Haus menghidupi kantong-kantong petani// lapar// Ulah gagal panen// Cahaya mentari menetas di balik awan// Nasi dan telur bersolek di ujung// pematang// Doa dirapal pada sang Hyang// Sorot mata penuh harap// Mengiringi kata amin penutup doa// Waktu akan menjadi saksi// Asa ditabur mimpi di gapai.

Kecemasan Transisi

Waktu yang dioperasikan oleh kekuasaan (politik atau modal) akan menanggalkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan hasrat kekuasaan. Penyair, sementara itu, memungut kembali nilai-nilai yang berjatuhan itu untuk dipertentangkan dengan nilai-nilai yang diproduksi oleh kekuasaan.

Dalam puisi Darurat Tanah Lapang, Siswo Nurwahyudi, di antaranya, menulis : tanah lapang, tempat anak-anak belajar// tentang rumus-rumus hidup dan kehidupan//

menjaga generasi menjadi// manusia-manusia yang tahu makna// semesta dan cinta// kini dirampas tanpa merasa berdosa, tanpa// pengganti yang memadai// anak-anak jaman telah kehilangan hak// milik mereka yang paling berharga// ditenggelamkan ke dalam bilik darjah yang// hanya berisi buku, bangku, dan soal ujian//dicetak dan dikemas suka-suka untuk// kemudian dilepas di rimba raya tanpa// norma.

Dengan bahasa yang terbuka, Siswo menggambarkan terjadinya pembantaian nilai-nilai oleh pembangunan fisik yang bermuara pada kepentingan modal.

Hampir senada dengan Siswo, Agus Sighro Budiono dalam puisi Cerita Bengawan menulis: anak anak tak lagi percaya onggo inggi// kisah penjaga bengawan agar tetap lestari// mesin mesin penyedot pasir yang terus// beroperasi// melumat dongeng misteri// mahluk air berambut api.

Baik Siswo maupun Agus sama-sama menunjukan rasa cemasnya terhadap proses penghancuran generasi yang terjadi di Bojonegoro.

Perhatian kepada isu sosial kelihatannya merupakan basis kekuatan kreatif kedua penyair ini.

Eksplorasi terhadap kenangan yang gamang dalam menghadapi peristiwa hari ini juga tampak dalam beberapa bait puisi-puisi berikut ini:

Palagan Temayang telah berlalu
Dalam balutan rindu

Antara celah tanah retak
Dan kering daun jati
Kurajut benang yang terlupa

(Napak Tilas, Burhanudin Joe)

Di situ dulu penduduk bercocok tanam
Menggembalakan ternak
Kini mereka tak dapat lagi masuk menjejak
Setiap hari cuma melihat lalu lalang
Kendaraan mewah masuk area
Negara di dalam Negara

(Negara Kabut, Yonathan Rahardjo)

Empat persemayaman abadi
Saksi bisu perjuangan
Meratap dalam liang
Tampa lirikan apalagi tatapan

(Layar Terkembang, KRT Mardi Sratu) 

Diantara keabadian terurai mengulur
waktu
Kerinduan akan dongeng-dongeng tua
Seperti ilalalang menembus jantung
bumi

(Kau Lepaskan Angin, J.F.X. Hoery)

rimbunan bambu dengan daun-daun yang meluruh
adalah kalender berdebu dari masa lalu
berderak meraung, menghempaskan ingatan,

(Jumo Kulon, Salis Susmiati)

Di atas trotoar itu pernah terlahir mimpi-mimpi
Dari cangkir-cangkir kopi
Dari wajan di atas api api

(Trotoar, Asrie Dede)

Manusia Samin

Komunitas Sedulur Sikep saling mengikatkan diri melalui hubungan nasab atau seperangkat nilai. Nasab merupakan hubungan genetik yang tidak bisa ditransformasikan ke luar komunitas kecuali melalui proses perkawinan. Sedangkan nilai-nilai ialah sesuatu yang bisa merembes ke luar komunitas dan atau mempunyai kembaran, yang barangkali juga diyakini oleh para penyair.

Ajaran Samin Soerosentiko sendiri, sementara itu, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sebuah bait dalam puisi Samin itu Ayat karya Gampang Prawoto mengisyaratkan bahwa Samin (nilai) bergerak di luar kendali fisik.

ingin aku menulismu tanpa tatapan mata, tanpa napsu, tanpa berahi, tanpa bidangnya dada montoknya payudara, tanpa ramping pinggang, padatnya pantat, kemulusan betis,  lentik jemari, mempur pipi bahkan merahnya bibir perempuan.

Samin dalam puisi Gampang tersebut dipisahkan dengan mata, dada, pinggang, betis, dan bibir. Samin dipisahkan dari teks.

Dalam sebuah wawancara dengan media Suara Pembaruan yang diunggah oleh beritasatu.com, Hardjo Kardi, ketua Komunitas Samin di dusun Jipang, desa Margomulyo, kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, mengatakan bahwa saat ini jumlah anggota komunitas di dusunnya—di mana belum lama ini didirikan tugu Samin oleh pemerintah kabupaten Bojonegoro—hanya tersisa 100 Kepala Keluarga.

Tapi, biar begitu, Hardjo menyatakan akan tetap teguh mengemban nilai-nilai ajaran leluhurnya di tengah perkembangan jaman. Keterasingan Komunitas Samin adalah keterasingan yang dijalani dengan kesadaran dan keberanian, semacam puisi luka di ladang aksara yang dinyatakan oleh Siswo Nurwahyudi: melewati pematang panjang, aku di ladang// aksara// kaki yang senantiasa telanjang, meniti// dengan hati// jiwa dan rasa menjelma anai-anai, tajam// kugenggam// sebatang demi sebatang kata, kupetik// sepenuh kasih// diriku menjadi keranjang tua, nampak// renta dan kusam// tersendiri, tegak teronggok entah bahagia// entah sedih. (Aku Puisi Luka di Ladang Aksara).

Sementara itu pusi-puisi yang menunjukan hasrat cinta kepada alam dan kemanusiaan dapat ditemukan dalam pusi Emy Sudarwati (Pelangi Bojonegoro), Safandi Mardinata (Sepiku Asyik Sendiri), Susanto (Ibuku Ratuku),  Nono Warnono (Merawat Meruwat), Hendro Lukito  (ricik kali), Hembing Kriswanto (Rindu Randu Pitu).

Sedangkan puisi Gombal Warming karya Em. Sholeh menunjukan sebuah pengembaraan keresahan yang lintas batas administratif.

Satu-satunya puisi yang menampilkan wajah Bojonegoro sebagai ruang pluraritas ialah puisi Perempuan Imlek 3 karya Arieko:

Perempuan Imlek 3

Di segara dupa
selalu ada Thian
yang tertawa

Menjadi kamu adalah cinta
bahwa agama senyatanya
cuma sandangan atas
budimu, pekertimu,
jiwamu

Melelehlah wengi mewangi
menjadilah air bergemiricik
kepada surga
kepada bumi

Aku dan kamu
tetep bersholawat
untuk seluruh nabi-nabi
di dalam kelenteng
yang sepi

Hong

Kelihatannya puisi ini cukup berhasil dalam menghadirkan suasana seperti yang diharapkan oleh penyairnya.

Sementara Benny Hassim dalam puisi Kita ini Siapa? Berbicara tentang pluralisme dalam ruang yang lebih luas.

Satu puisi lain dalam buku kumpulan puisi BLF ini adalah puisi berjudul Bunga, Mengapa Engkau Tak Punah Saja? Karya Ajun Pujang Anom. Menurut saya puisi ini telah menanggung beban tradisi ewuh pakewuh dalam menyatakan dirinya, sehingga serangan yang diutarakan dalam bahasa yang vulgar justru bergerak menjauhi objeknya.

Demikianlah sekelumit catatan tentang buku puisi BLF 2019. Sebagai sebuah produk kesenian, tentu saja buku ini tak akan lepas dari kekurangan. Namun, sebagai sebuah dokumen perayaan nilai, pastilah buku ini sangat berarti bagi perkembangan kesusastraan di Bojonegoro.

(November, 2019)

Kurator Bojonegoro Literary Festival 2019

Didik Wahyudi
Timur Budi Raja
Alek Subairi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here