Senja begitu sunyi di Sarajevo, meninggalkan bau mesiu dan anyir darah para syuhada, seakan menyatu dan terbawa oleh angin. Di antara berondongan peluru nyasar yang membawa korban ataupun serangan rudal yang kapan saja akan menumbangkan gedung, entah mengapa aku tiba-tiba saja kepikiran untuk menulis surat kepadamu. Dalam bayangku, aku akan syahid. Tetapi aku selalu punya harapan, karena aku percaya Tuhan selalu mengirimkan tangan-Nya.[1] Semoga saja aku selalu berada di bawah lindungan-Nya.

Charisa yang kusayang.

Ingatkah kamu saat berlibur ke Carita pada hari jadi kita yang ketiga? Sambil meneguk es kelapa muda yang dagingnya bisa dimakan, kita duduk santai menikmati senja yang indah. Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, barangkali juga perahu lewat di kejauhan.[2] Selama senja membentang di sana, kita saling berbagi cerita tentang mimpi dan keinginan yang belum kesampaian. Tentang keinginanmu mendidik Andrea yang kelak akan menjadi dirimu–sebagai seorang jurnalis TV nasional, atau menjadi diriku–sebagai seorang fotografer. Juga tentang keinginanku berlibur bersama ke Berlin untuk mengenalkanmu dengan Janusz, sahabat penaku. (Dalam  suratnya yang aku terima bulan Juni dua tahun lalu, ia ingin sekali bertemu denganmu dan mengajak kita mengunjungi reruntuhan tembok yang pernah memisahkan dua wilayah itu.) Begitu banyak keinginan yang tidak bisa kita hitung   jumlahnya.

Sayangnya senja yang kunikmati di sini tidak seindah di Carita. Kucari sisa-sisa senja di kota, kucari sisa-sisa senja di antara cahaya lampu-lampu listrik yang begitu pucat benderangnya–belantara cahaya, yang menyembunyikan senja di etalase dan papan-papan iklan.[3] Namun yang kujumpai hanyalah kepulan asap tebal dari puing-puing gedung yang terbakar. Apa kamu tahu, Sarajevo sudah seperti kota yang berkurang penduduknya. Seperti Hiroshima yang lebur oleh serangan bom atom pasukan Sekutu atau Pripyat yang tercemar oleh asam nuklir Chernobyl.

Tuhan tampaknya sedang sedih sebab hampir semua rumahnya telah hangus–bahkan ambruk–oleh ulah tangan-tangan jahat serdadu. Jarang sekali azan terdengar dari setiap minaret.[4]

Charisa yang kurindu, masih kurindu, dan akan selalu kurindu.

Sarajevo mulai terisolasi. Serdadu telah membatasi semua koneksi dari negara luar. Tembakan demi tembakan yang mereka dentumkan merobohkan segalanya, tidak kenal siang maupun subuh. Pasukan perdamaian yang diutus UN semakin sulit untuk masuk ke kota ini. Sementara pemimpin serdadu–yang berpangkat jenderal–terus saja menebarkan teror dan kengerian yang ada di sini. Ia sudah lupa berapa banyak jiwa telah diterbangkannya ke langit. Aneh, mungkin baru sekarang ia sadar, cukup banyak juga darah ditumpahkannya–lewat peluru, dinamit, mortir, granat dan bom. Celakanya yang disebut musuh tidak selalu tentara, tidak selalu bersenjata dan tidak selalu seperti orang yang sedang memberontak, tapi sama bahayanya, jadi harus disikat saja.[5]

Aku bersama Janusz sekarang ditemani dua pemuda–Edin dan Džafer–yang umurnya sebaya (sekira 19 atau 20 tahun). Sungguh pertemuan tidak disengaja saat kami mengambil gambar peristiwa yang tidak terduga di sebuah boulevard dengan rambu “Pazi Snajper!” yang terbaca di bahu jalan. Terdengar dari jauh suara tembakan yang baru saja mencabut nyawa sepasang kekasih yang berlari menuju jembatan Vrbanja untuk menyelamatkan diri.[6] Tidak ada yang tahu dari arah mana suara itu berasal, namun tidak sedikit dari mereka merasa was-was jika tembakan misterius itu mengenai dada atau kepala. Begitu pun dengan diriku yang harus menghindar dari tembakan maut itu. Di jalanan aku sempat berpapasan dan bertumbukan dengan orang-orang yang tidak kelihatan. Kadang aku berpapasan pula dengan orang tidak kelihatan yang meneteskan darah terus-menerus. Tentu saja aku hanya melihat darah yang menetes-netes entah dari mana diiringi suara keluhan.[7]

Pomoć!…Pomozi nam![8]

Begitulah, Charisa. Keluhan-keluhan itu, jeritan-jeritan itu, masih saja terngiang di telingaku. Kulihat juga cairan merah yang tetap saja membekas di setiap sudut jalan biarpun sudah disapu derasnya hujan hingga diterpa debu jalanan. Aku terkejut ketika tembakan misterius berikutnya mengenai Janusz. Bahu kirinya terserempet peluru yang sewaktu-waktu bisa meregang nyawanya. Ia mengerang, menahan sakit yang tidak tertahankan. Aku pun harus mencari pertolongan, sementara karibku masih menggenggam bahunya, berusaha menghentikan cairan kental yang keluar dari tubuhnya itu. Ia mencoba teriak kepada orang-orang yang juga mengungsi dari jalanan maut ini.

Namun tidak ada yang bisa mendengar suara parau Janusz hingga akhirnya ambruk karena lelah berdiri, sedangkan lukanya sudah semakin parah. Cukup berat saat aku mengangkat tubuhnya, tapi aku tetap berusaha mencari bantuan medis–atau siapapun–untuk menyembuhkan lukanya. Panjang umur, kami akhirnya didatangi dua pemuda (yang sudah kusebutkan namanya) saat aku tidak kuat lagi menggotongnya dan lekas membawa kami ke sini.

Apa yang kamu takutkan mungkin sedang terjadi di sini, Charisa. Pernah tempo hari–dari siaran radio–kudengar gedung parlemen yang menjadi denyut nadi Sarajevo telah dibombardir serdadu dengan tank fire, juga membakar dan merobohkan kantor surat kabar Oslobođenje hingga melukai puluhan korban. Saat bersama Janusz, pernah kupotret massa bergerombol di Stari Grad–yang berduka atas perginya sanak saudara mereka usai ditembaki oleh pasukan serdadu beberapa waktu lalu. Tangis mereka pecah melihat jasad-jasad yang tidak bersalah itu dikubur bersamaan. Sayup-sayup gesekan cello Vedran Smailović seakan mengiringi prosesi pemakaman itu.[9]

Tolong aku, Charisa. Tolong bangunkan aku. Biar kulihat senyummu. Katakan ini hanyalah mimpi buruk. Namun seperti duka, aku pun sedang terjaga. Sambil menyesali mengapa kita tidak lagi berjumpa, adindaku.[10] Sudah lama aku di sini sejak Janusz memohon padaku untuk ikut bersamanya, mengemban tugas besar dari pimpinan redaksinya. (Ia pernah cerita dalam salah satu suratnya bahwasanya ia seorang wartawan lepas di sebuah surat kabar ternama di Jerman–yang tentu saja aku lupa nama kantornya.) Sebelum aku pergi, kamu awalnya ragu dengan keputusanku itu karena tidak ingin Andrea tumbuh besar tanpa aku di sampingnya. Tapi aku hanya menenangkanmu dengan kalimat, “Aku akan baik saja di sana.”

Kukirimkan kecupan hangat di keningmu sebagai tanda sayang dan rinduku padamu. (Semoga saja itu bukan kecupan terakhir kita).

Charisa yang kucinta.

Selama bersembunyi di sini–di rumah Džafer, aku menemani Edin yang duduk sendirian di ruang makan sambil menghisap sigaret di mulutnya, menyenandungkan sebuah lagu yang aku tidak tahu artinya. Bait lagunya seperti ini…

Ako se zlo dogodi, ako me noćas pogodi
ja neću od smrti umrijeti, ja ću umrijeti od ljubavi
ja neću od smrti umrijeti, ja ću umrijeti od ljubavi
Jer ja sam vojnik sreće, mene metak neće
možeš mi ubiti ljeto, al’ živjeće proljeće…[11]

Was hast du gerade gesungen?[12]Aku iseng ngobrol dengannya–dengan bahasa Jerman yang kuhafal sebisaku, “Ein Lied von Dino Merlin. Es geht um unseren Kampf gegen die Truppen und die Bemühungen, diesen Krieg zu stoppen.[13] Rupanya ia berhasil membuatku kecele. Ia bicara dengan bahasa itu seakan sudah terbiasa. “Ayahku orang Turki dengan darah Jerman di dalam tubuhnya,” begitu katanya. Lalu berceritalah ia tentang dirinya, tentang orangtuanya yang diungsikan ke Tuzla dan tinggal di sini selama beberapa waktu untuk menemani Džafer, yang sebelumnya sudah ditinggal orangtuanya mengungsi ke Goražde.[14]Džafer, yang dulu satu madrasah dengan Edin, juga harus menemani pamannya yang mengidap pneumonia. Ah, terlalu panjang jika aku menuliskan semuanya ke dalam surat ini, Charisa. Sementara situasi di luar sana semakin tegang, sudah seperti film perang saja.

***

Ada beberapa hal yang kuceritakan padamu, Charisa. Sejak komunis dinyatakan tumbang kurang lebih empat tahun lalu–dari tulisan tangan Janusz yang pernah kubaca dalam suratnya, dunia merayakannya dengan penuh sukacita. Tembok Berlin berhasil diruntuhkan, menandakan kedua wilayah yang terpisah sekian tahun itu telah bersatu membentuk negara federasi. Uni Soviet yang menjadi salah satu pelopor penyebaran palu arit yang disegani, perlahan memisahkan diri membentuk negara-negara baru hingga akhirnya menyisakan sebuah wilayah terluas di dunia yang kemudian diberi nama Rusia.

“Seharusnya kami sudah merdeka,” keluh Edin pada dirinya sendiri, merutuki keadaan yang sedang terjadi. “Entah mengapa kemerdekaan seperti tidak berpihak pada kami. Serdadu-serdadu tengik itu telah merenggut hak kami. Tanah kami. Orang-orang terdekat kami. Semuanya.” Ia kesal karena negaranya tidak bisa seperti dua negara lainnya yang sudah merdeka lebih dulu, meskipun sebelumnya masuk dalam satu wilayah. “Mereka menganggap kemerdekaan adalah impian terkutuk,”[15] lanjut Edin diselingi asap sigaret yang keluar dari mulutnya, “Untuk kami.” Ia kemudian menyodorkan sebungkus sigaret padaku. Kuambil sebatang dan menyulutnya. Semua beban dan ketakutan dalam diriku seakan terbuang bersama kepulan asap yang nyaris memenuhi ruangan ini.

Bagaikan mesin waktu, senja mengantarkanku ke sebuah ruang rindu, menciptakan kenangan yang membekas di hati. Entah mengapa aku membayangkan wajahmu dan Andrea di sana, di antara kepulan asap dari tembakan mortir dan rudal. Aku bersyukur karena Tuhan telah menciptakanmu dari patahan tulang rusukku, yang melengkapi rongga dadaku yang hampa. Juga telah menurunkan malaikat kecil yang cantik bagaikan seorang putri dari negeri seberang.

Charisa, aku mencintaimu. Itu sebabnya aku tidak akan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.[16]Kuharap kamu juga tidak berhenti mendoakan keselamatanku. Aku di sini juga mendoakan Janusz, yang sekarang terbaring lemas usai luka di lengannya telah dijahit, agar diberikan kesembuhan dan segera pulih dari sakitnya. (Apa kamu tahu, ia menjerit seperti hewan terkena perangkap ketika jarum itu menembus lengannya.)

Aku pasti akan kembali padamu, Charisa. Itu janjiku.                                                                                                                      

Suamimu,
Shakti
(Sarajevo, Mei 1993)


[1] Potongan kalimat cerpen Surat untuk Wai Tsz oleh Leila S. Chudori

[2] Potongan kalimat cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku oleh Seno Gumira Ajidarma.

[3] Potongan kalimat novel roman Jazz, Parfum, dan Insiden oleh Seno Gumira Ajidarma

[4] Menara masjid.

[5] Adaptasi paragraf cerpen Darah Itu Merah, Jendral; dari Saksi Mata oleh Seno Gumira Ajidarma.

[6] Jalanan yang menghubungkan Zmaja od Bosne Street dengan Meša Selimović Boulevard, dinamai sebagai Sniper Alley. Pada tanggal 19 Mei 1993, sebuah letusan sniper misterius menewaskan pasangan Admira Ismić dari ras Bosnia dan Boško Brkić dari ras Serbia-Bosnia saat berusaha menerobos jalanan tersebut menuju jembatan Vrbanja. Kisah cinta beda ras ini kemudian didokumentasikan dalam film berjudul Romeo and Juliet in Sarajevo pada tahun 1994 oleh John Zaritsky (Pazi Snajper! = Waspada sniper!).

[7] 7Potongan paragraf cerpen Misteri Kota Ningi (atawa The Invisible Christmas); dari Saksi Mata oleh Seno Gumira Ajidarma dengan sedikit pengubahan.

[8] Tolong!… Tolong kami! (Bahasa Bosnia).

[9] Vedran Smailović adalah musisi asal Sarajevo yang dikenal dengan sebutan “Cellist of Sarajevo”. Selama perang berlangsung, ia memainkan Adagio in G Minor karya komposer asal Italia, Tomaso Giovanni Albinoni, yang biasa didengar di reruntuhan bangunan atau saat mengiringi pemakaman korban perang.

[10] Potongan bait puisi Nadya, Kisah dari Negeri yang Menggigil oleh Abdurrahman Faiz dengan pengubahan.

[11] Potongan lirik lagu Vojnik sreće oleh solois Dino Merlin dari album studio bertajuk Moja bogda sna (1993).

[12] (Lagu) apa yang baru saja kamu nyanyikan? (Bahasa Jerman)

[13] Lagu dari Dino Merlin. Tentang perjuangan kami melawan pasukan serdadu dan upaya untuk menghentikan perang ini. (Bahasa Jerman)

[14] Berdasarkan United Nations Security Council resolution 824, pada masa ituditetapkan kota-kota di Bosnia seperti Sarajevo, Goražde, Srebrenica, Tuzla, Žepa dan Bihać sebagai kota paling aman untuk mengungsi yang dijaga oleh Pasukan Perlindungan PBB (UNPROFOR).

[15] Adaptasi kalimat cerpen Rosario; dari Saksi Mata oleh Seno Gumira Ajidarma.

[16] Potongan bait puisi oleh Sapardi Djoko Damono dari undangan pernikahan.

===========

Nikolas Ryan adalah nama pena dari Mochammad Alnico Herlisanto. Lahir di kota angin, Nganjuk, tanggal 15 Mei tahun 1995. Anak sulung dari dua bersaudara ini sedang menempuh studi S2 di Universitas Negeri Surabaya jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra. Cerpen pertamanya berjudul Kraft, 1999 dimuat di koran Malang Post.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here