TERHENTI DI SEBUAH HUTAN KECIL SAAT BERSALJU

Siapa pemilik hutan ini sepertinya kutahu.
Ia berumah jauh di desa sebelah sana itu;
Tak akan terlihat olehnya aku singgah sebentar
Memandangi hutannya penuh ditutupi salju.

Kuda kecilku pasti terheran-heran
Mengapa berhenti jauh dari perkampungan
Di antara hutan terpencil dan danau beku
Adalah senja terkelam di sepanjang tahun.

Kudaku kelonengkan bel mungilnya
Mungkin bertanya ia adakah yang tak biasa.
Suara lain terdengar hanyalah sayup sapuan
Dari angin lembut dan guguran salju di udara.

Hutan ini alangkah menawan, dalam, dan gelap.
Sayang aku ada janji yang tak boleh tersilap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap.




BURUNG KECIL

Sempat kuberharap burung itu pergi
Tak berkicau dekat rumah di sepanjang hari
Sudah kutepukkan tangan dari pintu mengusirnya
waktu terasa tak kuasa menahan kesal lebih lama

Salahnya pasti padaku ada juga
Burung dan nadanya tak patut jadi terdakwa
Dan tentu ada yang keliru denganku
Jika ingin membungkam setiap lagu



SEBAYANG AWAN

Sehembus angin mendapati bukuku terbuka
Lalu mulai membolakbalik helaian kertas, mencari
Sebuah sajak yang dahulu pada musim semi
Kucoba sampaikan: tidak ada di sini yang seperti itu

Bagi siapakah sajak musim semi tergubah?
Sehembus angin hanya bergeming menjawabnya
Maka sebayang awan melintasi wajahnya, cemas
Aku membuatnya terkenang kangen akan tempat itu



KE LADANG

Aku akan keluar menyiangi ladang
Hanya singgah mengangkat timbunan daun
(dan sejenak menunggu alirnya bening, mungkin)
Ku tak bakal lama—kau ikutlah bersama

Aku akan keluar, menyapih si sapi kecil
Yang masih berdiri di sisi induknya, betapa mungil
Tubuhnya bergetar limbung kala dijilati induknya
Ku tak bakal lama—kau ikutlah bersama



SEJUMPUT EMAS

Debu selalu merubungi kota
Kecuali bila kabut laut meredakannya
Dan aku salah satu bocah yang diberi tahu
Boleh jadi ada emas di antara bubungan debu

Seluruh debu yang diterbangkan angin tinggi
Nampak bagaikan emas di langit senja hari
Tetapi aku salah satu bocah yang diberi tahu
Bahwa sungguh ada emas di antara debu-debu itu

Begitulah hidup di Kota Gerbang Kencana
Emas membubuhi minuman dan makanan kami
Dan aku dulu salah satu bocah yang diberi tahu
“Kita mesti makan habis sejumput emas itu.”

Catatan:
Kota Gerbang Kencana = Kota San Fransisco yang terkenal dengan jembatan Golden Gate-nya. Dahulu kota ini menjadi sasaran perantau berdatangan untuk menambang emas.


======================

Diterjemahkan dari The Poems of Robert Frost, The Modern Library, New York, 1950 oleh Hendragunawan S. Thayf, mahasiswa Fakultas Filsafat di Universitas Gadjah Mada. Saat ini bermukim di Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here