Di kebun nam-nam aku melihat kenangan. Seperti dekatnya tiap butir buah yang menggelayut di batangnya, rapat-rapat, serupa itulah kita membilah hari-hari di masa lampau. Ini tepat dua belas purnama, sejak pertama kali kita dipertemukan di pesta Wak Iyah. Kau berbalut kerudung merah, dengan sepeda phoenix biru yang tampak selalu baru. Lina, kau datang menyapa hari-hariku yang kelabu. Di tumpukan kopra yang menggunung, dalam munggu-munggu kelapa yang naik turun, wajahmu adalah kehidupan. Untuk aku, si penggalas kopra yang sehari-hari berkayuh sampan dalam sungai, engkau adalah purnama dalam temaram.

Kenapa aku bertaruh harap pada rasa yang berkelindan di pikiran? Tak lebih sebab pesona yang kian bertaburan padamu. Petang itu, aku melihat serombongan kanak-kanak memanggul bangkar-bangkar kering sebagai pelita bila malam tiba. Mereka berangkat ke rumahmu saat gelap hendak menjelang. Jalanan berlempung, sebagian gawangan kebun kelapa terendam air. Kaki mereka berlumpur, bau tubuh mereka langu. Tetapi wajah mereka seperti bersinar. “Kami ondak pogi mengaji tompat Buk Lina,” mereka tertawa-tawa, gembira.

Aku memang bukan siapa, hendak memendam rasa terlalu lama pada engkau penyentuh jiwa. Bila pagi tiba, waktuku hanya habis di tumpukan tempurung dan belahkampak. Kisaranlah tujuanku. Mengantar kopra berkarung-karung, itupun bila kelapa tak langkas. Adakalanya tukang kait memberi kabar buruk, tak ada kelapa hendak diturunkan. Maka, alamatlah aku hanya menjadi penjaga munggu. Mengenangmu dalam segenap rindu. Kehidupan bagiku hanyalah pertaruhan soal setumpuk nasi yang tersaji di pinggan. Terlampau rumit, hingga terkadang mengkhayal perihal perempuan menjadi satu kemustahilan.

Bila malam, kita pun dikurung kerinduan. Kegelapan membatasi kita dalam hujan yang turun meneduhkan kegelisahan. Bila angin darat datang, seperti itulah rasa hendak kukirim. Padamu yang tentu saja tengah menemani kanak-kanak di depan alif-alif yang mereka baca. Kau perempuan yang asing dengan malam, menunggumu hanya di musim terang. Dan bila kegelapan menjelang, kita hanya dipertemukan dalam impian. Seperti itulah kebaikan, sopan santun yang amat terjaga pada setiap tingkah yang kau tunjukkan. Kebahagiaanku hanyalah pada mengenangmu. Lalu sesekali bertemu curi-curi, dalam pandangan yang sepintas lalu. Tetapi aku begitu percaya, akulah bidadara yang selalu kau pinta dalam doa-doa.

***

Ini hari yang menggembirakan. Ada pesta perkawinan di kampung. Orang-orang akan datang berkunjung, dan akupun akan menantikan kehadiran Lina. Ia perempuan yang selalu dekat dengan bumbu-bumbu. Perempuan itu akan duduk bersama perempuan-perempuan lain yang lagan di rumah orang yang berpesta. Selepas menggalas aku akan datang ke pesta. Bukan untuk berbaris seperti undangan pada umumnya, tetapi sekadar mengaduk nasi dalam dandang besar. Inilah waktu yang dinanti-nanti, saat aku dan Lina bisa beradu pandang dalam sedapnya aroma masakan. Dan siang itu aku benar-benar melihat Lina dengan kerudung merahnya. Matanya merah berlinang. Rupanya perempuanku tengah tunak dengan potongan-potongan bawang. Semakin merona pipi perempuan itu, semakin pula tertunduk hatiku.

“Denan, cobalah kau bawa hidangan ke depan,” pemilik rumah memanggilku. Tugas menghidang dijatuhkan padaku. Ini hal yang kutunggu. Di mana aku bisa lalu-lalang di depan Lina, dan ia pun tentu akan ceria. Aku pun bergegas membawa talam. Dalam sajian kolak pisang merah, pajri nenas dan ayam masak putih. Hidangan dengan aroma yang tak terlupa, tetapi tak serupa aroma kerinduanku pada Lina.

“Tengok jalan baik-baik, Denan.”

Aku terkejut. Seorang bujang kampung berbaju putih memegang talam yang kupegang. Ia tersenyum mengalihkan pandangan.

“Kau tukang galas kopra di kebun Haji Somad?” ia bertanya.

Aku masih tak mampu berucap. Lelaki itu terus menatapku. Tangannya memapah talam yang kubawa dengan jemarinya.

“Bawalah makanan itu ke depan.” Ia berucap lagi sambil berlalu. Dan aku semakin tak mengerti dengan tingkah bujang itu. Aku berlalu, sejenak kulupakan bujang itu. Lalu aku kembali teringat Lina. Kucari-cari dalam pandangan, kemana ia menghilang. Dan senyumku mengembang saat menyaksikan seraut wajah Lina dengan kerudung putih dan baju kurung putih telah duduk di bagian depan pelamin. Ia menemani pengantin yang hendak berkhatam Al Quran. Demi jiwa yang mempunyai rasa, sungguh perempuan itu amat sempurna. Demikianlah hayalanku terus hanyut, pada perempuan berkerudung putih yang kini ada di depanku, bukan lagi di hayalan-hayalan malam yang terbentang. Ia benar-benar telah ada di hadapan.

Aku terus terbuai dengan pandangan mata. Dan saat orang-orang ramai di belakang, membincangkan makanan-makanan yang terbuang. Aku tersentak. Beberapa orang membawa talam-talam hidangan ke belakang. Makanan-makanan itu ditumpahkan dan dibuang. Termasuk talam yang kubawa ke depan.

“Ada apa?”

“Seperti biasa ada yang membuang.”

“Racun?”

“Ya, di depan sudah ada pawang.”

Lina? Bagaimana Lina? Seketika aku teringat perempuanku. Lalu bergegas aku datang ke arahnya. Dan kulihat perempuan itu hanya diam menyimak bacaan-bacaan mempelai. Hanya ada segelas air putih di hadapannya. Tuhan memberi kebaikan tak terkira. Lina tak makan makanan itu, dan aku pun bersyukur.

***

Aku tak mampu menanti lebih lama. Perihal rasa yang terus menumpuk-numpuk di setiap malam, semua ini harus diluahkan. Aku bukanlah bujang tanpa pemikiran panjang. Ini sudah lima kali musim panen kelapa, semenjak uangku kutabung dalam mug beras di lemari kamar. Uang itu kukumpulkan sebagai tanda rasaku yang benar-benar ingin bersama Lina. Aku tahu, adat istiadat teramat sulit bersahabat dengan penggalas kopra macam aku.

Bayangkan, saat datang ke rumah perempuan, kau akan ditanya soal isi kamar. Ada balai, lemari, tilam, pakaian dan apa saja yang bisa dimasukkan ke bilik pengantin. Semua itu akan dibebankan pada para bujang. Entah itu keadilan atau adat istiadat yang harus dipertahankan, tetapi bagi bujang macam aku tentu harus bersabar dari waktu ke waktu. Setiap pagi kujenguk tabunganku. Sudah berapa lembar kiranya yang ada dalam mug itu. Apakah bertambah, atau malah berkurang pada masa aku tak sadar?

Aku mengira-ngira, seandainya uang ini dibawa ke pajak di Kisaran, tentulah ada beberapa hantaran yang bisa kubeli. Aku berkerah-kerah, lalu kuingat wajah Emak Lina, sebenarnya ada sedikit beraliran darah Jawa, mungkin saja ia bisa menerima sedikit kekurangan dari hantaran ini. Atau yang lebih mungkin memberikan aku tempo beberapa bulan melengkapinya. Akankah bisa? Aku berkaca sejenak. Memandang wajah yang sebenarnya tak layak. Tetapi bukankah rasa bisa membuat orang berbuat apa saja, terlebih lagi pada sesuatu yang mengantarkan dirinya pada cinta?

Aku terus saja mengira-ngira. Di bawah batang kelapa yang masih muda aku menghirup angin. Setidaknya, ini hari terakhir aku akan begini. Esok tanggal muda, kukira saatnya untuk mencoba datang ke rumah Lina. Sebab bila terus menanti, aku tak tahu apa yang bakal terjadi. Bagaimana jika telah ada tambatan hati Lina yang ia diam-diamkan di hatinya. Atau pula Emak dan Ayah Lina terpukau matanya dengan hantaran bujang lain yang lebih banyak jumlahnya. Maka aku menghibur diri dengan bersahabat pada angin. Memejamkan mata, merasakan desirannya yang datang di balik bambu-bambu rimbun di seberang munggu. Mataku memandang jauh, di sebalik pohon-pohon kelapa yang rindang itu, di sanalah rumah Lina. Hanya terlihat bubung rumahnya saja dari tempat aku merebah badan. Itupun sudah cukup menalangi rinduku pada perempuan itu. Menatapnya tersenyum rasa, memandangnya terhirup aroma kehidupan yang lebih nyata. Aku pastikan, esok aku akan datang, Lina.

***

Ini pagi yang paling kunanti. Dengan subuh yang awal aku memintal harapan, doa-doa hingga fajar datang. Tak ada sesiapa hendak kubawa menghadap Emak Lina. Hanya keinginan yang begitu bergelora. Aku membawa keikhlasan, pada rasanya yang telah kutumpahkan sekian masa, dalam diam yang selalu kujaga. Bukankah menjaga rasa itu terasa bahagia ketimbang meluahkan tetapi berbuah hinaan?

Inilah masanya, di mana aku akan berhujan air mata atau berseri-seri harinya. Aku memandang ke cermin. Bagaimana bila nanti aku datang, ternyata bilik-bilik rumah Lina telah penuh dengan ranjang hantaran, bisa jadi dan mungkin saja terjadi. Maka hatiku pun semakin berdebar. Siapalah bujang macam aku, tiada benda dan tiada nama. Tetapi tiada yang tidak mungkin dengan doa? Bisa saja Emak Lina justru tak berharap apa-apa, memudahkan segalanya. Dan alamatlah aku akan gembira. Bisa jadi dan mungkin saja terjadi.

Aku berkemas. Dengan sebuah kemeja putih paling baru yang sengaja kubeli di pajak Tanjung Balai, petang semalam. Aku menata rambut, sedikit bergaya. Kubayangkan model rambut ayah Lina dulu, barangkali setakat mirip dengannya akan membuat Emak Lina merasa dekat, dengan sosok yang mungkin saja akan segera jadi menantu. Aku tertawa, begitu besar harapanku, seperti doa-doa petang semalam.

Ini hari yang baik, saat jalanan kering. Lumpur seperti bahagia menemani langkah-langkahku menuju rumah Lina. Rumah dengan rumput jepang yang luas dan hijau, varnish papan yang selalu berkilau. Tempayan besar yang selalu berisi di bagian depan talang rumah. Aku tersenyum. Barangkali tak lama lagi aku akan bermaustutin di sini, tinggal bersama Lina dan keluarganya. Aku berjalan mendekat, seperti ada keriuhan di dalam. Tetapi tak mungkin aku melongok pada tingkap yang tirainya tersingkap. Sejenak keriuhan itu hilang. Aku pun memberanikan diri mengucap salam.

“Assalamualaikum.”

Sekali saja, lalu hening. Dan aku tak mau kalah dengan rasa ragu di hatiku, maka kuucapkan lagi salam itu. Terus hingga lebih dari tiga kali. Semestinya aku pulang, sebab tak ada jawaban. Tetapi ada langkah-langkah di papan rumah yang terdengar. Seseorang membuka pintu.

“Denan…”

“Ya, Wak, ada hal yang ingin saya sampaikan. Bolehkah kiranya saya bertandang sejenak?”

Emak Lina terdiam, tetapi kemudian ia membuka pintu dan mempersilakan masuk. Aku bahagia sebab tak ada penolakan seperti yang membayangi ketakutan hatiku.

“Ada apa, Denan?”

“Maafkan saya, Wak, sebenarnya maksud hati saya kemari hendak bertemu Lina.”

“Oh ya, ada apa kiranya?”

“Kalau kiranya masih ada kesempatan, saya ingin sekali melamar Lina sebagai istri saya. Maaf jika lancang, tetapi saya hanya ingin datang dengan rasa terus terang.”

Emak Lina lagi-lagi diam. Tetapi senyum tetap mengembang di wajahnya. Dan ini pertanda baik, aku pun terus bicara tentang hal-hal yang kupikirkan.

“Soal hantaran, saya sudah siapkan. Tapi mungkin masih belum lengkap. Wak tak perlu khawatir, dalam tiga kali musim kait, saya akan bisa memenuhinya. Dan soal perkawinan pun saya akan usahakan kita bisa mengundang qosidah.”

Hening. Dan kegelisahan mulai terasa di hatiku. Emak Lina hanya meneguk air, bahkan tanpa mempersilakan aku minum.

“Wooooiiii cilakoooo, cilakoooo kaaaauuu! Kemano kau pogi? Cilakooooo!”

Sebuah suara melengking dari balik kamar. Aku tersentak, sebab aku ingat siapa pemilik suara itu. Cepat aku berdiri hendak melihat ke dalam.

“Tak perlu kau ke dalam, Denan, cukuplah kau tau di sini. Lina kini terkena puako. Si Rustam guna-guna dia sebab dia menolak cintanya. Dia cuma diberi air putih saat pesta perkawinan, tetapi sampai kini Lina terus begitu. Ia bahkan kami rantai di kamar.”

Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Emak Lina membuka pintu kamar. Di sana gadis yang mendiami hatiku seolah-olah telah berubah menjadi hantu yang menyeramkan. Rambut perempuan itu berserakan, matanya tajam dan liar. Mulutnya menggeram-geram dan bersuara tak jelas. Hatiku hancur, dan entah kemana hendak kulabuhkan segala rasa yang telah mengendap di jiwa. Perempuanku kini tinggal kenangan.(*)

=======================
Nafi’ah al-Ma’rab merupakan nama pena dari Sugiarti. Berdomisili di Pekanbaru, Riau. Cerpen-cerpennya dimuat di Riau Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos, Padang Express dan sebagainya. Pemenang lomba nasional seperti Green Pen Award 2019 oleh Raya Kultura. Pemenang Lomba Cerpen Nulisbuku dan Kemenegpora tahun 2012. Selain cerpen, juga menulis novel, di antaranya Lelaki Pembawa Mushaf (Tinta Medina 2016), Suraya (Bhuana Ilmu Populer, 2018), Luka Perempuan Asap (Tinta Medina, 2016).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here