Api Dua Penyair

(1)
Aku geram
Aku marah
jiwa kawanku telah dibeslah
sekarang jasadnya kaku
tanpa gerak
Sebuah pesan telah ditinggalkannya
“jadilah air di kala api membara
Itu kubaca berkali-kali
begitu sulit kutepis wajahnya
melekat erat di pandanganku
Kita larut dalam penggalan dusta
penghias bumi
Rabi’ah al-Adawiyah pun meminta padaku menulis sajak

(2)
// Syaikh Maula al-Arabi ad-Darqawi, r.a.
aku datang ke masamu
sebagian bumi menjepitku
lalu lalang hawa nafsu
seperti bara api menjulur
membakar kekotoran jiwa

sebuah khazanah di dinding waktu
membentang jiwa-jiwa suci
di bawahnya, kota telah ditinggalkan
seperti mengingatkan langkahku
memadamkan penglihatanku
agar malamku bisa bertasawuf
meluruskan isi pikiran
sebelum bumi terjamah gulita

(2020)



Taman Waktu

entah mengapa
hingga aku harus membaca dunia
dengan mataku yang mulai rabun
pikiranku pun mulai tak mampu
menangkap istilah yang sulit
adalah otakku bukan kamus
waktu seakan mengejar sisa napasku
mungkin kematian
yang harus kupikirkan
menghabiskannya di taman waktu
agar mata kertas tak menatapku
tajam menghunus
seperti belati atau sangkur
dan bibirnya tersenyum pahit
telah kunodai tubuhnya
kulumuri dengan tinta
hitam dan biru
hanya diam pilihannya
dan itu telah mengajarkan diriku
tentang sebuah kesabaran
tentang sebuah keikhlasan
yang senantiasa lisanku menistainya

bagai menghitung siang dan malam
bait-baitku tertidur pulas
hingga detik dan menit
selalu mengingatkan
untuk menaburkan bait-bait itu
di taman waktu

Malang – 2020


Rebana

: untuk ibu

perempuan, cerita yang tak pernah pupus
kau mainkan rebana
langit itu mulai mendung
mata senja pun mengurung aromamu

bila engkau tau
jemari tanganku kaku
penaku meninggalkan kertas
tangisan langit jatuh bergulir
membasuh sajak tubuhmu
kala aku menuangkan
butiran rindu di sebaris baitku

entah mengapa,
lisanku begitu hina menyebutmu perempuan
hingga detak jantungku berpaling dari rahimmu
dan mendendangkan kecapi
meranggas kesucian kasih yang ‘kau lahirkan
beranjak meninggalkan pangkuanmu

sebatas mana gejolak ini menatap langit
adalah kelembutan tanganmu
mengusap dan membelai rambutku
hingga matahari tak pongah melumat pikiranku

pernah kita satukan nalar
pada tempayan waktu
dimana sajak yang kutulis begitu dahaga
akan sabda-sabda cinta
dan ‘kau baringkan segala penatku
di atas pusaramu yang diam
dalam isyarat kidung duka

suara rebana itu mengalun syahdu
keabadian cinta memang hanya milik perempuan
ketika tanganku kaku menulismu, ibu
angin pun lelap memainkan irama alam
bagai kecapi melagukan simphoni duka

Malang – 2020



Puisi pun Bersujud

Sungguh engkau tak mengerti tentang jiwa
karena mata hatimu bukanlah pintu langit
Telah begitu banyak lisan hanya menjadi syair indah
tetapi tak pernah menjadi puisi surga
Pernahkah kita melihat seonggok dusta
yang menggumpal pada jasad dan mengingkari sujud-sujud kita?
Betapa jiwa itu meratap, menangis dan menyesali diri dalam puisi bisu
Aku berkata bahwa diam itu adalah catatan
yang membuat kita semakin mengerti
dimana jiwa-jiwa kita hanya bisa bersandar pada Sang Pemilik Kekal

Malang – 2020



Aku Datang ke Pusaramu

: untuk Jalaludin Rumi

Memisahkan rindu dan kesedihan
dimana emosi telah menikam jiwa
dua makna yang menguliti keindahan syair

Adalah buku, tempat menumpahkan kegelisahan tangan
berkelana mencari kebebasan
untuk hidup dalam masanya
sesuatu yang kita maknai ajaran
tetapi sesungguhnya adalah jalan
mencari sinar, membunuh kedangkalan kasat mata
hingga kita hanya mampu meraba
dalam catatan-catatan waktu dan sejarah

Kini masaku, tak setajam pena Rumi
untuk memisahkan rindu dan kesedihan
walau akupun sering larut
dalam perasaan yang sama
menumpahkan airmata dalam bait-bait hina

Mungkin suatu saat, sajakku terbaring bisu
di sisi pusara Rumi 
menjadi obat penawar rindu
dan mengulang catatan-catatannya:
Divan-i Syams-i Tabriz —
meski sesungguhnya ingin kujadikan sebuah doa
agar akupun bisa membaca:
Maqalat-i Syams Tabriz —

Malang – 2020



Majas Suci

Ketakutan ini telah mengusir keberanian malam
semestinya gelap duduk dan menemani
ketika rasa cinta telah merobek selaput angin
meski dingin itu bukan sahabat jejak kemarau

Biarlah air mengalir membasahi wajah kusam kita
agar ketakutan bukanlah cermin tanpa cahaya
Dan disitu terukir lisan, yang menghidupkan sajak
setelah mengungkung diri dalam gelap panjang
akupun terkesima, seperti membunuh semua kegelisahan
kutulis sajak yang berjalan menembus batas-batas waktu

Malam di bulan Mei mengingatkan ribuan petaka
entah mengapa sajak-sajakpun seakan berkabung
menunggu saat-saat sakral untuk membasuh
segala makna yang tertuang dalam catatan setahun
agar kita mendendangkan syair baru beraroma bunga fitri
bagai membangunkan malaikat
— yang tak pernah tidur —
kita tuangkan secangkir doa
dalam cawan-cawan tak tersentuh malaikat

Kita bakar malam, dengan sinar rembulan
dimana malaikat sering mengerlingkan pandangannya
saat bulan hadir tanpa busana
dan kita berharap kemenangan itu
bukan hanya sebuah majas suci
yang tertuang di sehelai lisan

Malang – 2020

Di Penghujung Ramadan

Di setaman aksara
kalam Ilahi memanggil subuh
malam pun bersujud, hening di pembaringan barat
angin enggan menyentuh gemintang
disini, kertas-kertas baru mulai tertulis
tumpahkan sesak dada
saat benci dan gelisah menyelinap
satu makna

Haruskah cinta dituangkan
dalam cangkir-cangkir rindu
segaris dalam shaf lantunan shalawat
menegakkan bening aksara
ketika lisan kita mulai luntur
terhempas dalam kasat mata yang selalu dangkal
hingga peraduan sajadah tebaring bisu
menghampar, menderu angin
dan berlari menembus alam sekeliling
melekat, bersandar di tubuh pepohonan
menghembuskan dingin, dedaunan pun menggigil
memanggil para malaikat
memohon dingin itu agar terselimutkan
berbaris dalam kehangatan shalawat
meski mata kita melihat, kemarau selalu membakar

Ingin kutegakkan aksara ini
membasuhnya dalam selimut malam
dimana kesunyian hadir dalam pikiran jernih
untuk memuliakan alam dan tanah
yang mulai bertelanjang diri
atau ini sebuah isyarat, bahwa alam pun merindukan cinta
saat perjalanan masa penuh makna menemukan senyumnya
di penghujung ramadan

Malang – 2020

Andai Sajakku Seperti Doa

Aku bukanlah sajak bertubuh sufi
tidak juga bait-baitku sepenggal doa
peziarah pun telah meninggalkan
sayap pusaraku, setahun lalu
meringkuk jiwa di ruang sepi
penuh malaikat
entah, apakah itu
pengadilan para jiwa

Meja-meja hidangan di depanku
seperti cahaya luka
membakar perih, tangis tak ada bedanya
di sekumpulan bocah-bocah, bertelanjang dada
dan seorang bocah berlari kencang
meneriakkan: api neraka!

Betapa perih mata ini memandang siksaan
nafsu dan dosa, meneriakkan kemenangan
tetapi kita memang terlalu angkuh
untuk menyebutnya
dan menghempaskannya di kolong langit
sekian rantai masa terikat
dan kita mengagungkan cinta

Adalah malam-malam penuh sajian rahmat
di hamparan langit malam untuk bermunajat
seharusnya semua ingkar
kita basuh di untaian tasbih
mengumandangkan asma dan istighfar
sebelum kereta penunggu kematian menghampiri

Bukankah kitab-kitab bersih
selalu mengingatkan
dimana tanah-tanah tempat terindah
bagi raga kita
tetapi jiwa itu senantiasa abadi
di akhirat nanti, surga atau neraka

Malang – 2020


Malaikat Malam

Malam mulai menghimpit kesetiaan sudut ruang nalarku
kudengar gemericik air di antara bisu angin, memecah gejolak resah
Aku mencoba meruncingkan garis-garis pena
menuangkan dalam bait penunggu malam
membiarkan pikiran ini berkecamuk, membakar gelisah

Semusim lalu, pikiranku telah terpasung
terlipat pada potongan waktu
terpisah jarak di antara kepingan hujan dan kemarau
di antara amukan ombak
di antara langit terluka
dan di antara nyanyian tanah duka

adalah seorang berjiwa putih telah terlupakan
terkapar ingatan kita
pintu-pintu menujunya tertutup
tiada jalan, darah pun mengalir
menerawang langit malam, hitam-putih
hitam berjalan, menyatu jelaga pekat
putih melintang, membagi cahaya

disini kutulis namamu, wahai Jibril
izinkan aku menulis puisi untukmu

Di bukit tandus,
adalah seorang gadis bagai bidadari memainkan nalarku
menari-nari, menaburkan semerbak aroma bunga
senja tersenyum, engkau bukanlah bidadari
selendang mawar dan melati, engkau tanam pada mataku

disini kutulis dalam sajakku, wahai malaikat malam
masih pantaskah kutitip rindu untukmu?
Agar malamku bertemu para malaikat
dan berbincang tentang kedangkalan doaku

Malang – 2020

Tak Pernah Kekal

cinta itu sepotong ilusi
saat diri kita merasa berarti
cinta itu tanpa warna
tetapi memberi warna
pada rindu dan gelisah
dan pada duka atau kebahagiaan
seperti lisan dan hati
bergejolak, mengartikan puasa
adalah mata kita tak pernah kekal
selain pandangan Ilahi
melekat dalam keagungan-Nya
bahwa mata kita telah mati dalam hidup

Malang – 2020



==================

Vito Prasetyo dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Menulis cerpen, puisi, esai, Tulisan-tulisannya dimuat di beberapa media, antara lain: Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Republika, Suara Karya, Lombok Post, Magrib.id, Haluan, Travesia.co.id, dan Harian Ekspres Malaysia. Termaktub dalam Buku Apa Dan Siapa Penyair Indonesia (2017). Penyair yang pernah kuliah di IKIP Makassar, ini kini menetap di Malang, Jawa Tengah. Buku Kumpulan Puisinya yang telah terbit, Biarkanlah Langit Berbicara  (2017), dan Sajak Kematian (2017).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here