Jangan pernah menghitung kematian. Begitulah ia selalu mengingatkan dirinya, apabila kabar kematian masuk ke indra pendengarannya. Tetapi sekuat apa pun ia mencoba tak menghitung dan gelisah, pertahanannya akan jebol, kemudian ia mulai menghitung, dan mengeja nama-nama yang telah tiada, plus mengingat peristiwa yang terjadi di rumah duka, atau hal-hal yang dialaminya bersama orang-orang yang telah mati itu semasa mereka masih hidup. Lalu ia akan teringat pada rentetan tahun yang memilukan. Baris nama yang ia rindukan, yang tak mungkin lagi ditemuinya. Ia akan mengingat bagaimana orang lain sibuk meramal kematian familinya dengan alasan tidak masuk akal, tetapi selalu terbukti di tahun berikutnya, di bulan yang sama, atau sebulan dua bulan lebih lama dari peristiwa kematian sebelumnya, seolah kematian yang seperti itu bukan kebetulan semata. Melainkan takdir yang aneh. Kutukan.

Ia tak ingat tanggal dan bulan di tahun Masehi ketika peristiwa yang mengawali kematian tiap tahun itu. Yang diingatnya ketika itu Rajab, tepat hari ke sembilan Ia dan keluarganya puasa sunnah di bulan Rajab. Bakda subuh, seseorang mengetuk pintu rumah. Ia tergesa membuka sebelum ayahnya mendahului. Didapatinya, pamannya berdiri lesu, memasang wajah muram. Arini tersentak, tubuhnya lemas ketika lelaki kurus itu mengatakan kabar kepergian neneknya.

Langit mendung menaungi makam dan rumah yang berderet di sisi kiri kanan jalan. Beberapa kali turun gerimis, seakan langit turut berduka akan kepergian ibu dari empat bersaudara itu. Keluarga diliputi duka yang lara. Sehari dua hari Arini dan ibunya menangis. Dua hingga tiga hari ia mulai mencoba kuat. Hingga satu minggu, ia mulai jarang menangis. Sepekan berlalu, berganti ke pekan berikutnya hingga satu tahun mereka mencoba melupakan duka, meski luka itu tak betul-betul pulih dari hati tergores kepergian yang mengejutkan.

Kabar kematian datang lagi. Kali ini datang dari ayahnya. Kakak tertuanya meninggal bakda salat duha. Di tahun kedua, kematian kedua, ia harus menerima kenyataan mengejutkan itu. Saat itu ia mulai membandingkan hal yang terjadi di kematian neneknya dan kematian berikutnya.

Pertama-tama, selalu terjadi ketika tengah ada perselisihan keluarga. Kala itu keempat saudara, tiga paman serta ibunya berselisih urusan tempat tinggal ibu mereka. Hal yang menyebabkan sang ibu memutuskan hidup sendiri, meski akhirnya pamannya yang paling muda mengalah untuk menemani, tentu dengan mengorbankan pekerjaannya di luar kota dan bekerja di kotanya meski dengan gaji yang kecil. Keempat bersaudara tak saling sapa dan berkabar, hingga akhirnya mereka dikumpulkan kembali oleh duka kepergian. Di tahun ke dua pun, ayahnya, beserta kedelapan saudaranya tengah berselisih. Lagi, kematian mempersatukan mereka dalam kubangan duka.

Hal kedua, di tahun kemarin dan berikutnya, sebelum dua kematian itu terjadi, beberapa tetangganya meninggal satu per satu. Terkadang di minggu yang sama, atau dua minggu setelah kabar kematian itu terdengar. Kabar kematian akan terus berdatangan memasuki lubang telinganya. Kemudian kabar kematian familinya seolah menjadi kabar penutup dari kematian secara terus menerus itu. Kematian yang janggal namun hanya kebetulan. Tetapi selalu memunculkan persepsi gila dari orang lain. Seolah kematian beruntun itu telah termaktub dalam garis takdir keluarga mereka sebagai kutukan.

Hal ketiga adalah mimpi. Tahun lalu, sebelum neneknya meninggal, selama dua pekan, secara berselang, ia bermimpi aneh. Ia melihat seluruh keluarganya berkumpul dalam suasana ramai dan muram, namun ada berkas-berkas cahaya keemasan yang menyinari kemuraman itu. Cahaya hangat dalam mendung yang suram.

Tiga hal itu mulanya ia tepis, ketika tiba-tiba muncul dalam benaknya. Semua kebetulan belaka. Tak perlu mengaitkan kejadian dengan kejadian lain tanpa alasan kuat dan logis. Apalagi urusan kematian. Begitu pikirnya. Namun tiga hal itu kembali muncul ketika keluarganya kembali berduka di tahun ketiga dan keempat di bulan yang sama. Bahkan di tahun ke lima, ia kehilangan sepupu terdekatnya, familinya yang masih muda, yang mati tanpa disangka, sehingga kematiannya menjadi kejutan menyakitkan, sebab saat itu—keluarganya tengah berselisih dengan sepupunya itu.

Di waktu-waktu menjelang kematian yang mengejutkan tersebut, keluarganya sering menggunjing sepupunya, bahkan mereka memutus tali silaturahmi karena teramat sakit hati oleh keputusannya yang menyinggung hati keluarga. Saat itu, sepupunya yang bernama Abdul Ghani menolak tawaran keluarga Arini untuk menikahkan mereka. Anggota keluarga besarnya bertambah dan berkurang seiring adanya kematian dan pernikahan yang menghasilkan kelahiran. Tiga hal itu mulai ia yakini sebagai firasat dan tanda.

Di tahun keenam, tepat ketika ia akan menikah, ia mulai bermimpi aneh. Kabar kematian bermunculan di kampungnya, pula beberapa sanak saudaranya sedang berseteru. Ia sangat cemas, terlebih pada ayahnya. Dalam mimpinya yang ia yakini sebagai tanda, ia sering melihat ayahnya dikelilingi cahaya keemasan yang terlihat menghangatkan. Ia kerap dilanda gelisah, bahkan menangis tiba-tiba di sudut ruangan. Setiap malam ia berdoa untuk kepanjangan umur orang tuanya, sebab tanpa mereka bagaimana mungkin adiknya yang masih sekolah dapat menerima. Terlebih, tak ada seorang pun yang mengharap kematian, kendati kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

“Pak, pokoknya saya ingin cuma Bapak yang jadi wali nikah saya,” katanya dengan wajah pucat, setelah tersadar dari pingsan.

“Ya jelas. Memangnya mau siapa lagi?” kata ayahnya seraya berlalu.

“Kamu ini kenapa sih, Rin? Tiba-tiba sering melamun dan tak sadarkan diri. Sekarang malah ngomong aneh. Sebentar lagi kamu akad, jangan terlalu stres, ibu khawatir riasan pengantinmu jelek pas acara.”

“Arini mimpi itu lagi, Bu.”

Ibunya terlonjak. Wajah tuanya terlihat pucat.

“Siapa yang tidak ada?”

“Semuanya lengkap.”

“Lalu, siapa yang sering muncul sendiri?” tanya ibunya lagi.

“Bapak,” jawabnya tertunduk.

Mimpi hanya bunga tidur, berhenti menafsirkan mimpi dengan serampangan, begitu kata kakak pertamanya menenangkan ia dan ibunya yang gelisah. Setenang apa pun raut wajah lelaki itu, masih ada kekhawatiran yang tersirat di bola matanya. Arini dapat melihat itu dengan jelas.

“Apa salahnya mendoakan beliau berumur panjang?” gumam ibunya.

Kakak sulung Arini mengangguk tanpa bicara, lantas meninggalkan kamar. Arini menatap punggung tegap itu lalu menatap ibunya, membayangkan wajah ayahnya, lantas terpejam. Kematian tak dapat dibatalkan meski dengan doa. Kematian adalah kepastian. Tak ada yang akan hidup abadi di dunia ini, pikirnya. Setidaknya, kematian dapat diulur.

Mimpi dan firasat itu terjawab ketika ia telah menikah. Satu minggu setelah acara pernikahan, seusai acara munjungan, kabar kematian ia dengar dari mulut suaminya setelah mengangkat telepon. Ibunya masuk rumah sakit karena terkejut mengetahui kabar kematian anak sulungnya yang baru tiba di Lampung. Ia termangu. Mimpi itu tak sesuai dengan prediksinya. Ia bingung mesti lega atau bersedih. Mungkin pula keduanya. Ayahnya tak mati, justru kakak sulungnya yang pergi. Orang yang sebelumnya ia marahi dan abaikan permintaan maafnya karena tak bisa ikut munjungan ke rumah mertua Arini. Kematian itu sungguh membuatnya terpukul dan bimbang.

Di tahun ketujuh, tepat ketika ia mendengar kabar kematian tetangganya–yang keempat kali setelah kematian yang lain di bulan itu, dalam kengerian wabah virus mematikan, ia merasakan firasat buruk itu lagi. Ia menelepon orang tuanya, memastikan kabar mereka baik, lantas entah mengapa ketika menelepon, mulutnya mengucap maaf begitu saja, seolah ia tengah melakukan sungkem, seperti yang dilakukannya dua belas bulan lalu. Matanya telah basah digenangi air. Seketika hatinya begitu hampa, ketika ia menyadari apa yang diucapkannya. Apa yang dilakukannya seolah mendukung kematian salah satu di antara kedua orang tuannya. Seharusnya ia tak meminta maaf seolah mereka akan benar-benar mati. Tetapi apa salahnya meminta maaf? Toh ia pun tak tahu kapan dan kepada siapa kematian akan menjemput.

Ia mulai sesak, lantas menatap bayi lelaki berusia satu bulan di sampingnya. Bagaimana nasibmu jika kau tinggal tanpa ibu? Batinnya.

“Rin, kau sudah selesai?” tanya seorang di seberang sana.

“Iya, Bu. Maaf mengganggu Ibu dan Bapak,” katanya menahan isak lalu menaruh kembali telepon pintarnya, setelah mengetahui sambungan telepon dimatikan.

Mimpi-mimpi yang kerap dialaminya di minggu terakhir ini terus berkelebat dalam pikirannya. Dalam mimpi itu ia berjalan di sebuah taman, di bawah langit mendung, tapi ada seberkas cahaya keemasan yang menyoroti tubuhnya. Mungkinkan kematian itu adalah gilirannya? Ia terguncang dan terisak, kembali memandangi tubuh mungil yang terlekap di sampingnya.

Setelah beberapa kali menyeka air matanya, ia memerhatikan sekeliling ruangan, terutama atap rumahnya. Benarkah ia akan segera mati? Batinnya. Jika ya, seharusnya ia telah dapat melihat sosok tinggi besar yang mengintainya, sebagaimana yang sering diceritakan sebagian orang, bahwa ketika kematian semakin mendekat, Azrail akan terlihat. Ia tidak merasakan ubun-ubunnya berkedut hebat, atau kehilangan bayangan tubuh. Arini menghela nafas berat, lantas menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar. Kematian belum mendekatinya. Ia seharusnya tahu, dan yang ia takutkan tadi hannyalah buah dari kepanikannya.

Tetapi ia kembali resah, mengingat mimpi dan tanda-tanda yang terus bermunculan. Siapakah yang akan menerima ajakan Azrail berikutnya? Sebab ia yakin tanda-tanda itu telah menjadi acuannya sebagai firasat akan ada kabar kematian dari keluarganya. Segalanya selalu akurat.

Ia teringat suaminya, lalu mengkhawatirkan lelaki yang tengah sibuk menyusun proposal acara untuk kantornya itu. Lelaki itu terlihat berbeda dewasa ini. Air mata Arini mengucur lagi. Sungguh ia tak akan pernah siap ditinggalkan lelaki itu. Bagaimana mungkin ia dapat hidup bahagia dengan membesarkan anak tanpa suami?

Arini menelepon suaminya, menanyai keadaan ia. Setelah mendapat kabar baik, ia tersenyum lega. Namun beberapa saat kemudian, hatinya kembali resah. Ia benar-benar takut menerima kematian atau kabar kematian. Perempuan itu membaca ayat-ayat suci guna menenangkan pikirannya. Iya. Seharusnya ia siap menerima apa pun yang terjadi, sebab kematian adalah sesuatu yang pasti dan tak dapat dihindari. Usaha menghindari kematian dengan mati-matian hannyalah kesia-siaan. Mestinya ia tidak panik dan bersiap diri, barangkali betul kematian tengah mendekatinya, dan sungguh, ia tidak akan bisa menghindari, atau memprotes Tuhan dan membujuk-Nya agar tak menunda kematian sampai waktu yang menurutnya tepat untuk mati. Sekali lagi, sekuat apa pun ia mengatakan kematian adalah kepastian, kegelisahan dan ketakutan menyelimutinya. Ia belum siap sungguh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here