Apa pasal kasur tak mengering meski telah berhari-hari dijemur? Tentu tak ada jika hujan usai bergeser ke timur. Namun karena basah hati tak jua bersua penawar, maka basah kasur oleh amuk sungai Deli beberapa hari yang lampau tentulah menjadi amat sulit mengering.

Sedianya, sewaktu hendak menegakkan rukun Islam di hulu hari, Pak Burhan malah mendapati istrinya tak bangun subuh bersamanya. Tak ada yang menyangka sekalipun Pak Burhan juga Mak Sarinah barangkali, jika salat isya semalam adalah salat terakhir mereka sebagai pasangan yang terikat sumpah setia. Sumpah yang seperempat abad lebih mereka gotong dalam mengarungi legitnya suka dan bangkarnya duka. Lebih memilukan, sebelum tanggal di almanak gugur berganti, Mak Sarinah sama sekali tak merasakan ganjil di tubuhnya. Namun makhluk apa yang dapat menawar datangnya janji? Mak Sarinah pun pamit tanpa berpamitan.

Selesai mengembalikan Mak Sarinah ke muasal segala asal, satu demi satu tetangga yang mengantarkan Mak Sarinah menyodorkan pamit kepada Pak Burhan, kecuali seorang anak remaja tanggung tetangga Pak Burhan yang bernama Imam. Saban sore ia memang selalu main ke rumah Pak Burhan.  

Sekiranya Imam diberikan pilihan saat itu, pulang ke rumahnya atau tetap menemani Pak Burhan, pastilah ia memilih pulang beristirahat. Sebab sejak kabar duka itu menghampirinya, tak sedetik pun ia beranjak dari bahu Pak Burhan. Namun karena si bungsu Taufik yang suka mabuk tak terlihat urat lehernya, Imam pun menarik niat yang nyaris menjulur dari mulutnya.

Sungguh, selain Taufik pemabuk itu, Pak Burhan sebenarnya masih memiliki seorang lagi jantung hati. Marina namanya. Mula-mula merantau, Marina ingat pada orang tua. Selain mengirim uang, Marina pun tak luput berkabar. Minimal seminggu sekali. Tetapi beberapa tahun belakangan, jangankan uang, suaranya pun sudah tak terdengar lagi di telinga Pak Burhan.

”Ayah, Marina boleh cari kerja ke Bali?”

Lama Pak Burhan memilih-milih jawaban. Kecemasan begitu amat kasat mata terbit dari air mukanya. Wajarlah! Orang tua mana yang tak risau anak perawan jauh dari rumah. Dalam kebuntuan itu, Pak Burhan malah terjatuh menyorongkan pertanyaan.

”Mau kerja apa kau, Na? Ada saudara kau di sana?”

”Ina punya kawan kok, Yah. Si Nita, kawan sekolah Ina yang pernah Ina bawa menginap tempo hari. Ayah ingat tidak? Dia sudah sebulan di Bali. Katanya enak cari uang di sana.”

”Iya, tapi kerja kau di sana, apa? Sekolah saja kau belum tamat. Nanti kesasar-sasar kau baru tahu!”

”Kan ada si Nita! Kalau soal kerja banyak, Yah. Ina bisa kerja di restoran, kafe atau bar. Gajinya besar! Nanti Ina bisa bantu-bantu ayah dan mamak di sini. Boleh, Yah?”

Benteng pertahanan Pak Burhan roboh, habis digempur Marina. Bendera putih pun Pak Burhan kibarkan—tak kuat melihat nyala api memancar dari mata Marina. Setali dengan Pak Burhan, Mak Sarinah pun lebih-lebih tak berdaya bahkan tatkala Marina dengan sedikit tertatih menyeret koper—milik mereka dulu saat merantau ke Tanah Deli dari Bukittinggi—ke cerat pintu.

***

Nyaris sepertiga bulan setelah Mak Sarinah kembali kepada Sang Khalik, batang hidung Taufik dan Marina tak juga tampak. Begitu pula Pak Burhan, masih enggan menyapa kicau burung pagi. Beruntungnya, Imam selalu sedia mengeringi hati Pak Burhan yang basah. Sampai-sampai urusan makan-minum ia kerjakan.

Amboi, seakrab itukah Imam? Ya, bak empedu lekat di hati. Berlebih lagi Imam yatim sejak lahir. Ditambah pula Pak Burhan selalu mengajak Imam memotret turis-turis lokal ataupun mancanegara yang berkunjung ke Masjid Raya Al Mashun, Istana Maimun, dan sekitar Taman Sri Deli.   

Itulah mengapa saat malang menerjang Pak Burhan, sempat terbetik niat Imam mengambil alih pekerjaan memotret turis. Akan tetapi sungguh berat lidah menyampaikan, mungkin Imam khawatir tak mendapat restu. Terlebih kamera SLR Canon G III QL milik Pak Burhan tergolong sulit ditakluki.

“Ini kamera lama, Mam. Jika tak pakai hati memegangnya, bisa tak nyala dia,” gurau Pak Burhan sekali waktu.

Sungguh tak berlebihan orang tua itu perihal kameranya. Kisah yang melekat pada kamera itu bukan sembarang.

“Kau tahu, Mam? Ini kamera bapak dapat dari kawan di Kowilhan pasca meletusnya Peristiwa 65. Waktu itu kawan bapak kasihan melihat bapak luntang-lantung tak ada pekerjaan. Alkisah, dimintanya bapak datang ke Kowilhan untuk membantu dia memotret orang-orang yang dituduh PKI. Tentu saja tawaran itu bapak terima. Meski sebenarnya bapak tak pandai menyalakan kamera. Apalagi menggunakannya,” cerita Pak Burhan bersemangat diselipi tawanya yang khas.   

”Tapi jujur, bapak tak sampai hati memotret mereka, Mam.” Tiba-tiba suara Pak Burhan parau seperti mengisyaratkan kesedihan dan penyesalan yang dalam.

”Kenapa, Pak?” sela Imam.

”Tak mengapa, Mam,” Pak Burhan memungut nafas panjang melepaskan segumpal beban yang jenak menindih tipis dadanya.

”Nah, setelah pekerjaan memotret orang-orang itu selesai, kamera bapak kembalikan. Semula diterima kawan bapak. Tapi seminggu kemudian dia mendatangi rumah kontrakan bapak dan menyerahkan kembali kamera itu,” Pak Burhan memetik udara lalu menyambung cerita. ”Katanya, dia selalu mimpi buruk setiap malam setelah membawa pulang kamera itu ke rumah. Mimpi didatangi manusia-manusia tanpa kepala.”

”Lalu kenapa bapak terima kamera itu? Tidak takut mimpi didatangi manusia tanpa kepala seperti mimpi kawan, bapak?” kejar Imam penasaran.

”Ya, semula bapak juga takut, Mam. Tapi karena tak punya pekerjaan, bapak terima saja kamera itu. Bapak pikir kamera itu pasti ada gunanya. Ternyata benar, sampai hari ini kamera itu yang menopang bapak menafkahi keluarga.”

”Bapak tidak pernah mimpi didatangi manusia-manusia tanpa kepala itu?”

”Tidak, Mam. Sekalipun tak pernah bapak mimpi seperti itu. Mungkin pandai-pandainya kawan bapak saja bercerita.”

”Maksudnya, Pak?”

”Ya, maksudnya, biar kamera itu untuk bapak. Lagi pula diakan tahu kalau bapak pengangguran. Hitung-hitung dia bantu bapaklah, Mam.”

”Ooo…” sambut Imam dengan anggukan kepala.

Ihwal itulah yang akhirnya menyeret Pak Burhan menyelami profesi tukang potret keliling. Entah sudah berapa banyak kenangan diawetkan Pak Burhan dalam kamera, bahkan ketika teknologi semakin menepikan segala hal yang berbau manual, Pak Burhan surut mundur dari pekerjaan yang telah membuatnya dikenal orang banyak.

Jika pun sungguh ditelisik, cintanya pada kamera serta pengabdiannya mengawetkan kenangan bukanlah semata alasan ia masih lihai berseloroh dengan para pelanggan. Apalagi usia tentu tak pandai bersembunyi. Namun janji haruslah tunai dibayar! Meskipun kepada anak kandung sendiri—janji membelikan Taufik sepeda motor. Konon, itulah penyebab si Taufik pemabuk enggan berlama-lama duduk di bangku perguruan tinggi.

Ampun! Seperti mendapat label pembenaran, Taufik pun merasa pantas serta berhak uring-uringan jika sedang di rumah dan mabuk jika di luar rumah. Hidup teratur sekarang adalah yang tak teratur menurutnya. Sujud pun kontan tak dikerjakan bahkan melayangkan lengan ke wajah orang tuanya, sungguh tak sungkan Taufik lakukan.

***

Sepertinya kasur sudah mengering dan matahari sungguh teramat terik. Lagi pula tak elok terlalu lama menjemur duka. Bukankah hidup pantang hanyut ke belakang? Ya, itulah mengapa hari ini dengan semangat yang masih menyembul-nyembul Pak Burhan tekad keluar mengekas rezeki. Sekalipun sangon duka yang Pak Burhan terima cukup berdaging, tetap saja jerih keringat lebih lempang di kerongkongan. 

Lantas, siapa sangka istirahat panjang malah melicinkan rezeki! Sampai-sampai Pak Burhan tak lepas sahut-menyambut panggilan turis mancanegara. Walaupun hanya dibesarkan dengan sekolah bambu, dua bahasa asing benua biru begitu gemulai di lidah Pak Burhan.

Demikianlah, untung-malang adalah mempelai teka teki. Pak Burhan niat membagi sukacitanya dan ingin mengajak Imam makan enak selepas magrib. Betapa bahagia seharusnya pulang ke rumah nanti. Namun, setiba kaki menjejak di moncong pintu, Taufik yang terlihat gayang langsung melantas Pak Burhan.

”Sini! Sini, kamera itu!” kata Taufik dengan mulut busuk tuak.

”Untuk apa sama kau, Fik?” pelan Pak Burhan bertanya.

”Bukan urusan, Ayah! Sudah sini! Cepatlah!” suara Taufik meninggi ke udara. Pak Burhan bergeming. Ia masuk ke kamarnya, meninggalkan Taufik di ruang tamu yang mulai beringas. Darah Taufik mendaki makin ke puncak. Disusulnya Pak Burhan ke kamar dengan sebilah pisau lipat.

Sungguh, baru satu-dua kancing kemeja yang Pak Burhan lepaskan, Taufik yang sudah seleher tiba-tiba masuk sambil mengayunkan pisau ke arah perut Ayah kandungnya. Nasib baik. Tusukan Taufik meleset. Tapi, sehebat apakah orang tua seperti Pak Burhan sanggup terus-menerus mengelak?

Taufik muntab. Melaung mengeluarkan kata-kata kotor. Didekatinya Pak Burhan yang semakin tersudut. Dan…

Krepaaaak.

Taufik roboh. Kental darah lamat-lamat menggenangi lantai kamar Pak Burhan. Hening sesaat. Kemudian…

“Lari! Cepat lari! Tak usah pedulikan dia! 

Surabaya, 2019



=====================
Ilham Wahyudi lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Ia seorang fundraiser dan penggemar berat Chelsea Football Club. Beberapa karyanya telah dimuat di koran-koran dan antologi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here