Pasase klasik pena lebih tajam dari pedang yang ditulis oleh Edward Bulwer-Lytton di naskah drama Cardinal Richelieu (1839) nampaknya akan bertransformasi. Teks-teks di sebuah buku kini akan berebut “panggung” dengan ragam wacana yang berseliweran di media sosial. Dari siniar (podcast), video blog dan ragam budaya populer lainnya. Sastrawan atau penulis yang menulis karya sastra di era digital kiranya akan mengalami beragam tafsir dan modifikasi ruang, dan juga bisa tercabut dari akar itu sendiri.

Beragam tafsir yang saya maksud adalah ketika seorang penyair menulis sebuah puisi secara tuntas—lalu akun pada sebuah media sosial memotong puisi utuh tersebut menjadi sebuah kutipan. Suasana yang terbangun akan berbeda dan mengalami modifikasi ruang; dapat disalin tempel dan direproduksi sedemikian rupa hingga beranak pinak. Ketika aksara cetak lahir dengan mesin buatan Gutenberg, kini ia dapat diproduksi dengan mesin kecerdasan buatan dan beralih rupa dengan hiperteks di berbagai kanal.

Kini kita dapat membaca fiksi interaktif di sebuah gim ponsel, puisi animasi, hingga karya sastra yang lahir dari rahim kecerdasan buatan. Ya! Kini korporasi di bidang teknologi telah mampu membuat karya sastra dan seni lewat mesin. Algoritma yang tercipta mampu menguasai indikator dari karya sastra atau seni yang bagus menurut kritikus. Penulis saat ini saya kira harus lebih meningkatkan kualitas karya dan eksploratif dalam menemukan premis agar umurnya panjang.

Penulis di era kiwari bukan hanya mengandalkan pena sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Ia butuh platform atau media untuk menyampaikannya. Saya ingat di tahun 2011, kala itu sekelompok masyarakat dan seniman Indonesia membuat gerakan Koin Sastra. Gerakan itu adalah bentuk keprihatinan atas kondisi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin yang saat itu mengalami pengurangan dana perawatan. Berawal dari maklumat yang telah mengalami reproduksi, retweet dan berbagai pesan berantai, maka gerakan itu menjadi nyata dan terhubung ke semua orang.

Era digital telah memunculkan lahirnya sastra siber dalam bentuk kebiasaan baru. Dari semula karya sastra dibuat secara personal, menjadi karya sastra yang dibuat secara bersama, yaitu puisi berantai. Ketika salah satu akun media sosial membuat suatu unggahan tematik dan para pengguna meresponnya dengan satu bait puisi, misalnya, maka karya tersebut akan menjadi totalitas komunal.

Setelah polemik sastra siber di awal milenum, kini ‘peradaban’ tersebut memasuki babak baru dalam ragam bentuk. Ketika dulu pembaca melakukan penilaian atau resensi secara konvensional, kini penulis menggunggahnya di caption Instagram, membicarakannya di siniar hingga mengulasnya dalam kebudayaan performatif-lisan, di Youtube.

Saat ini kita bisa melihat dan mencuri dengar gagasan seorang penulis. Ia hadir lebih dari teks: pertunjukan audiovisual di kanal Youtube. Hasan Aspahani dan Marhalim Zaini kerap membacakan puisi kemudian mengulasnya; Martin Suryajaya membicarakan filsafat dengan santai dan gaya kasual yang disukai anak muda. Saya kira perluasan itu untuk mendapatkan “pembaca” yang lebih luas dan gaungnya bisa menerobos rimba maya yang penuh notifikasi di ponsel generasi kiwari.

Platform dan Kuratorial

Dunia yang kita alami dan saksikan sekarang adalah sebuah dunia yang bisa digenggam dan dibawa ke mana saja. Kita dapat menyimak, membaca, menonton, menyebarluaskan gagasan di dalam sebuah layar elektronik dan semua seolah dalam genggaman. Untuk berdiskusi sastra pun kita tak harus bertemu secara fisik. Kita dapat berjejaring dan memiliki komunitas literasi yang sesuai dengan bentuk estetika kita. Semua tersaji secara daring. Semua yang tampak sakral dan profan tersaji dengan mudah dan cepat. Yang banal dan estetik hadir dengan segala kemungkinan. Kemudahan dan kecepatan itu bersinggungan erat dengan ketepatan dan kesalahan. Tarik menarik antar kebenaran versi A dengan kebenaran versi B.

Pada era informasi seperti sekarang, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan hanya pakar, melainkan juga para penganut teori konspirasi, orang awam sok tahu, hingga pesohor yang menyesatkan. Begitu petikan di wara (blurb) buku Matinya Kepakaran karangan Tom Nichols. Disrupsi memberikan kemudahan juga kedangkalan. Setiap orang dapat dengan cepat menjadi ahli pada suatu bidang yang tidak pernah ditekuni secara mendalam. Pada sisi lain, melubernya informasi membuat hilangnya nilai dan batas keilmuan.

Kita sekarang bisa melihat menjamurnya kelas pelatihan menulis secara daring. Tak ada yang salah dengan itu tentu. Namun Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan selaku lembaga negara yang memiliki otoritas untuk memberikan konten edukatif, kiranya mempunyai peran untuk mengarahkan itu. Badan Bahasa dapat menggandeng lembaga lainnya seperti Kemkominfo untuk membuat platform atau aplikasi kuratorial sastra yang berfungsi sebagai ensiklopedia dan direktori yang dialogis. Kemudian, data tersebut dapat diperbaharui setiap waktu dan menggapai bank data lainnya di arsip Dewan Kesenian Jakarta, misalnya. Koherensi dan kolaborasi menjadi hal yang penting di sini. Mengingat dinamika bahasa dan sastra begitu lentur seiring perkembangan zaman dan kredibilitas unggahan menjadi hal yang utama.

Ego sektoral antar lembaga pemerintahan yang kadang tidak sinkron, perlu diperbaiki tata kelolanya. Lihat bagaimana Kemendikbud bekerja sama dengan Netflix untuk menayangkan film dokumenter di TVRI untuk program Belajar dari Rumah, sementara sebelumnya Kemkominfo kontra atau memblokir tayangan di Netflix (mungkin akan berubah nantinya). Saya kira kalau program literasi khususnya sastra jelas dengan konsep dan konkret dalam pelaksanaan, penetrasi acara sastra di media arus utama seperti televisi pun akan terlaksana. Jelas dalam hal apa? Dalam bentuk sosialisasi dan pentingnya sastra atau literasi untuk kehidupan; memperhalus budi, memperluas cakrawala dan imajinasi serta dapat masuk ke lintas sektor seni dan kehidupan. Misalnya kita pahami dulu tentang literasi dasar: mulai dari literasi ekonomi sampai digital. Penyampaiannya bisa berbentuk gelar wicara interaktif atau simulasi permainan. Beberapa kali saya menemukan komentar sembrono di kolom komentar media sosial. Komentar yang tidak diiringi dari keterampilan dasar berbahasa: menyimak, membaca, menulis dan berbicara. Alhasil komentar semacam: Indonesia darurat membaca dan sebagainya menjadi diskursus yang selalu ada dan setelahnya menguap entah ke mana.  

Indonesia memang tidak selalu merata dalam distribusi sumber pengetahuan begitu juga dengan sinyal dan pasokan listrik. Namun tidak ada salahnya kalau mencoba terlebih dahulu dengan membuat sebuah platform, yang dari segi aksesibilitas mudah dijangkau cara dan penggunaannya. Platform tersebut kiranya dapat diunduh di Playstore dan ramah terhadap generasi muda. Meski begitu, substansi tetap yang utama; secara komprehensif memuat data terkait sastra Indonesia. Entri tersebut bisa dimulai dari sejarah sastra, kritik sastra, sayembara sastra, sastra populer, sastra avant garde hingga kemungkinan untuk berguru ke praktisi/sastrawan secara gratis dengan ragam persyaratan ketat. Misalnya ketika seseorang/pengguna sudah memiliki akun di platform tersebut, ia dapat mengikuti seleksi agar bisa mengikuti sebuah kelas penulisan daring secara gratis. Tentu ini dengan persyaratan dan kurasi yang transparan.

Saya kira kalau definisi disrupsi adalah tercabut dari akar, maka penulis kiwari bisa kembali menyemai benih kata, menyiram hingga tumbuh menjadi totalitas karya. Ketika ada pohon yang tercabut sampai akarnya, maka penulis bisa kembali membuka kavelingnya dengan menanam benih hingga jadi pohon yang kokoh. Seperti tanaman hidroponik, kita bisa menanamnya di mana saja. Penulis di era pascarealitas, terkadang membutuhkan pendengung atau pelantang agar karyanya didengar. Namun tentu saja, emas tidak perlu mengatakan dirinya emas. Pembaca akan tahu sebuah kualitas.

Saya sependapat dengan pernyataan Eka Kurniawan di catatan singkat Facebook-nya: Kalau ada orang yang suka membesar-besarkan dirinya, mungkin dia sedang merasa terancam. Dengan adanya plaftform/media/aplikasi yang telah diukur dengan instrumen dan variabel yang jelas, harapan saya sastra Indonesia akan dinikmati secara masif oleh generasi muda seperti mereka mengonsumsi konten popular: Netflix, Webtoon dan piranti hiburan lainnya. Jadi, kalau boleh merespons pasase pena lebih tajam dari pedang, maka saya akan menambahkan: dan pena membutuhkan tinta yang bagus agar senantiasa terukir jelas, terjaga dan tepat guna.

===================
Galeh Pramudita Arianto, lahir di Tangerang Selatan, 1993. Bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Makarios dan salah satu pendiri platform Penakota.id. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) menerima beasiswa penerjemahan dari Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020. Saat ini sedang mempersiapkan buku puisi: Kunjungan Alien Pertama ke Bumi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here