“Oi, apa kabar, Lenin Bro,” katanya menyapa Lenin yang tak sengaja bertemu mata dengan dengannya; Kengi, salah satu pelanggan tetap bar yang setiap malam menonton pertandingan Rugby, Cricket, dan Darts. Malam terakhir pertandingan Darts yang dimenangkan oleh seorang wanita yang tak seberapa tinggi, tak seberapa berotot, berkaca mata, dan tak seberapa cantik itu mengejutkannya. Tiap kali terpikir pada wanita itu -yang bahkan tak bisa ia ingat namanya, akibat betapa asing melihat seorang wanita dalam pertandingan Darts kelas dunia- otaknya tak bisa menerima apa yang disaksikannya.

     Wanita itu melakukannya dengan sangat mengagumkan. Rasanya ruangan bar yang bertembok hijau tua dengan kesan lembab dan mengantuk itu jadi demikian hening; hening yang asing untuk bar yang biasanya riuh dengan apa saja. Setiap laki-laki yang menemani Kengi mungkin merasakan hal yang sama dengannya, termasuk Lenin. Ada sesuatu yang begitu memesona -yang gerak atau perawakan laki-laki tak bisa mengekspresikannya. Mungkin karena lengannya yang tak seberapa besar dan tak seberapa indah itu memanjang ketika melemparkan Dart terakhir yang menentukan akhir pertandingan itu. Suasana hening, tak ada pembicaraan apapun, hanya beberapa desahan dan cegukan dari buih bir dan lemon yang dipukul naik oleh asam lambung yang terlalu sulit untuk dihindari.

     Saat itu, belum ada yang tahu siapa yang akan memenangkan pertandingan. Wanita mungil berkaca mata itu memamerkan permainan yang memukau. Tapi lawannya, yang berdiri di belakangnya adalah seorang laki-laki berkulit putih, yang namanya sudah terkenal bertahun-tahun dalam perlombaan itu. Bahkan sebelum ia bisa melemparkan Dart, ayahnya sudah terlebih dahulu memasuki panggung Darts yang penuh puntung rokok dan tumpahan bir dari orang-orang mabuk.

     Dart melesat menembus cahaya lampu di dalam layar. Mendadak semua seperti melambat, mungkin karena orang-orang tak ingin cepat-cepat mengakhiri dugaan-dugaan yang akan segera mereka ketahui kebenarannya. Beberapa saat kemudian, mereka seperti bisa mendengar suara benturan Dart di titik biru yang melapisi titik merah tepat di tengah papan bundar; “Dug!

     Wanita berkaca mata, membelalak, membuat matanya terlihat lebih besar. Kengi melompat dan bertepuk-tepuk riuh, Lenin melihat Kengi, tak mengerti cara merespons teman duduknya itu. Ia ikut mengangkat gelas dengan tawa canggung yang aneh. Tak lama kemudian semua mata yang sudah mabuk, hampir mabuk, belum mabuk, dan mata-mata naif yang berusaha memikat wanita di hadapan mereka mengangkat gelas dan bersorak bersama Kengi. Bar itu riuh, berguncang seolah marah karena dipaksa bangkit dari tidur masa-bodoh masa tuanya. Kengi tentu saja sangat bahagia, jam 4 sore tadi ia sudah menitipkan $200 dolar taruhan untuk wanita itu. Ia bisa minum lebih banyak dan merokok lebih banyak dari biasanya.

     “Hari yang baik untuk Darts!” teriaknya sambil tertawa-tawa histeris.

     “Baik, hanya terlalu banyak yang masih harus dikerjakan, kau tahu!” jawab Lenin sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya.

     “Yah, lama-lama semua akan menjadi sama saja, kesibukan yang sama, makan pagi yang sama dan malam-malam yang tak banyak bedanya juga,” timpal Kengi. Sesaat kemudian ia tertawa kecil, “Hahaha, aku mendengar Koro terus mengeluhkan hal itu. Mengerti atau tidak, aku jadi pandai menirunya,” lanjutnya.

     “Sial, kukira kau benar-benar sudah muak?” Lenin meletakkan gelas bourbon-nya.

     “Yeah, Koro sudah terlalu tua untuk menikmati hidup,”

     “Jangan katakan hal semacam itu tentangnya, ia laki-laki yang baik.”

     “Aku tidak mengatakan ia tidak baik, ia hanya sudah tua,” katanya melawan.

     “Baiklah, aku dengar ibumu akan segera membawanya ke rumah.”

     “Sial, di kota ini berita bisa cepat sekali tersebar, lebih cepat dari penyakit,” katanya tertawa. “Ya, Koro sudah tidak lagi mampu diajak bicara, mungkin sudah bosan meladeni kami seumur hidupnya. Ia semakin keras kepala, dan menurutku membawanya ke rumah juga demi kebaikannya sendiri. Kau tahu, perempuan tuaku tinggal sendirian, sangat sulit baginya yang sudah mulai lelah juga menangani Koro.”  

     “Tentu, dia bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya dan mungkin akan punya waktu luang untuk bertemu kawan-kawannya. Tak lagi hanya menghabiskan waktu mengurung diri di rumahnya.”

     “Oh, tidak separah itu. Dia masih bisa pergi ke mana saja, hanya tidak bisa berlama-lama. Koro semakin cepat lupa pada hal-hal sepele. Kemarin, dia masuk ke toilet, tiga puluh menit setelah itu dia keluar sambil menggerutu. Aku tanya apa yang mengganggunya dia malah membentak-bentak. Ya, hal-hal semacam itu lah…”

     “Semoga saja keadaan akan membaik. Ngomong-ngomong bagaimana denganmu?” tanya Lenin.

     “Masih sama saja. Masih terjebak dengan kaki kiri ini.” Kengi berkata sambil mengangkat sedikit lutut kirinya untuk meyakinkan Lenin kaki mana yang ia bicarakan. Lenin tertawa, tak tahu harus berkata apa. “Kakimu baik-baik saja.”

     “Selalu seperti ini memang, baik-baik saja ketika ada orang lain bersamaku. Aku sedang mencari cara untuk melepaskannya dariku,” katanya acuh.

     “Maksudmu kau mau melepaskan kaki kirimu?” Lenin tak tahu akan ke mana pembicaraan mereka sekarang.

     “Ya, kaki ini bukan punyaku. Kurasa Tuhan sengaja menukarnya. Aku pernah berencana menunggu sampai orang yang memiliki kaki ini datang mencarinya. Tapi sudah bertahun-tahun tak pernah kutemukan pamflet pencarian kaki kiri.” Ia meneguk birnya yang masih berbuih “Aku pikir tak apa menunggu sedikit lebih lama, tapi bertahun-tahun membuatku semakin muak saja.”

     “Bagaimana kau tahu kaki itu bukan milikmu, Bro?”

     “Kau tahu kenyataan absolut?” Ia membakar sebatang rokok yang sudah sedari tadi disiapkannya. “Tak perlu cara-cara tertentu untuk meyakini sesuatu. Begitu, ya, begitulah.” Kengi menghentikan penjelasannya begitu saja. Senyap sejenak.

     “Sepertinya susah juga mengatasi kaki kirimu itu,” ujar Lenin karena terganggu oleh kesenyapan yang mendadak dari Kengi.

     “Yah, Bro, tidur dan bangun masih dengan kaki kiri yang sama. Aku tak ingin terlalu banyak bermimpi, tapi pasti akan sangat menyenangkan bangun tanpa kaki kiri sialan ini.” Diangkatnya lagi lutut kirinya, lalu berseru, “Cheers, Bro!” sambil mengacungkan gelas. Mereka bersulang dan sama-sama memutuskan untuk tinggal lebih lama, mengawasi lampu penyeberangan jalan. Seorang wanita berpakaian minim sibuk mengelus-elus layar telepon genggamnya.  

     Kengi menggaruk kaki kirinya.***

*Darts adalah olahraga melempar misil seperti anak panah ke papan bundar di dinding. Biasanya dimainkan oleh dua orang.

===================
Maywin Dwi-Asmara, lahir di Mataram, Lombok, 3 Mei 1992. Cerpenis dan peneliti. Kumpulan cerpennya berjudul Surat-surat Lenin Endrou (Basabasi, 2019). Kini, ia bermukim di Palmerston North, Selandia Baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here