Sajak yang Pulang

Pada sebuah jalan kenangan
Beribu syair kini menyepi
Merambah pada kesunyian malam
Yang satir-satirnya perlahan runtuh

Menyisih ke tepian pantai
Dalam dekapan senja putih
Risau penyair berbisik:

Kini tak ada lagi kata terucap
Bergeming di antara ruang kosong
Sajak-sajak indah hanya mengaliri kertas putih
Tertuang suka-suka, hambar tak ada makna

Seperti angin yang cepat berlalu
Melalui sebuah pesan rahasia
Dititipkannya wasiat permisi
Atas kepulangan syair
Pada dinding yang rapuh sore itu

Sarang, 2021




Di Bawah Hujan

Sewaktu jarum jam mulai berdenting
Dua mata itu tak lagi pandai bercakap
Membisu pada keraguannya sendiri
Menaksir hasrat yang diam-diam dilangitkan

Di bawah hujan
Dipandanginya rinai yang jatuh
Menyisir ke arah lampu-lampu kota
yang cahayanya menjadi temaram

sedang di bahu-bahu jalan
angin berhembus begitu pekat
Mengoyak ranting-ranting
Mengugurkan daun-daun
Meluruhkan harapan

Pada janji-janji yang telah dibuat
Sepasang mata itu mendekapnya
tanpa ragu-ragu

Sarang, 2021





Deru Nestapa

Sudah tiba masanya
Kuncup-kuncup menjadi layu
Di musim gugur
Sepasang merpati berjauhan

Ranting-ranting terlihat patah
purnama tampak suram

rusa yang cepat langkahnya
memacu diri membelah angin
:melepas cemas

Pada sepotong arus
Nasehat-nasehat dipesan
Di ketinggian tak terhitung
ketenangan semakin terusik
riak air bising tanpa jeda

Sarang, 2021





Bertaut

Lihat burung camar itu
Menggoda awan yang sedang bercakap
Menari-nari di sekelilingnya

Biru langit menjadi kian dalam
Memintal berkas-berkas cahaya tanpa pola
Seperti buih di lautan
yang berserak dan terurai

Sementara ranting-ranting kering
Di batang pohon sibuk melukis
Menggurat garis-garis seirama
Dibentuknya seperti tatanan arus

Akar yang piawai menopang
dibuatnya daun tertiup angin tak gugur
Sedang pada bunganya kumbang-kumbang itu bertaut

Sarang, 2021




Pada Sebuah Jarak

Pada sebuah jarak
Langkah-langkah kecil berjalan tak beraturan
Ditebasnya dingin malam penuh sesak
Rerumputan di sekelilingnya tampak menggigil

Sekeping senyum mulai meregas
Melihat langit penuh bintang
Letupan-letupan kembang api ramai di udara
Melepas pendar kilau bertebaran

Pada sebuah jarak
Langkah kecil itu masih berjalan
Menyelinap cepat diantara kegelapan
Dibelahnya kesunyian yang penuh rahasia-rahasia

Sarang, 2021





Jalan Pulang

Adakah jalan pulang
Untuk keraguan yang berkelok
Dari nyala mata, yang menyelipkan tanya
Perihalmu, tiada henti

Adakah jalan pulang
Meski hanya setapak
Untuk perangai yang hina ini kembali

Telah terlaksana
Dalam tawanya, ia memelihara tangis
Merawat dzikir, menyemai doa
Untuk dilangitkan
Menuju meja tuan
Bersama hidangan lain
Terimalah

Di tepian jalanan
Harapan tersungkur
Untuk bertahta di savana agung
Terpejam, meneguk tirta amarta
Menghirup semerbak arumi bunga padma

Panger, 2020




Rindu yang Bertandang

Dari balik jendela, malam ini turun hujan. Teriring suara gemericik, aroma tanahpun mengudara. Rindu-rindu yang bertandang, tak lama, kemudian dipulangkan. Ia tertolak, merujuk kembali kepada tuan.

Bagaikan kabut dibelah petir, di tengah jalan, rindu mendadak gamang. sendiri di kolong langit, memijit takutnya sendiri, bimbang jika harus pulang. tak kuasa, ia memilih bersembunyi. tersandar di antara ranting yang daunnya telah kuyub itu.

Sementara di seberang, tuan lama menanti. dibiarkannya gelisah menampik sapa, alis mengeryit deras. ia menunggu kedatangan rindunya sendiri, untuk kembali menepi.

Sarang, 2020






===============
Ihda Asyrofi adalah nama pena dari Saiful Arif Solichin, lahir di Magetan 13 Maret 1999. Mahasiswa sekaligus aktivis yang suka ngobrol, ngopi dan jalan-jalan. Menulis puisi juga sesekali cerpen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here