Menjadi Mata Lampu

aku membayangkan kau sedang mencintai mata lampu.
ketika kaumatikan mata lampu kamarmu,
mata lampu lain sedang dinyalakan seseorang
yang sedang berusaha menulis tentangmu sekali lagi.

Kini aku membayangkan kau sedang membayangkan
langit dipenuhi mata lampu, dan kau pun mencintainya.
jika masa lampau dapat kujangkau kembali, jangan kaget
ketika langit tiba-tiba ada di bawah bantalmu.

aku juga membayangkan kau menjadi mata lampu
yang dapat kulihat di mana saja. jika seseorang ingin
memecahkanmu karena kau padam, mata lampu lain
akan merasakan kesedihan.

Dan kini aku juga membayangkan kau sedang membayangkan
dirimu menjadi mata lampu yang diam-diam memerhatikanku
menyusun struktur tubuhku yang tak pernah utuh lagi.




Telepon dari Masa Depan

telepon berdering.
halo, ini siapa?

Aku dirimu di masa depan yang sedang
membuat konstruksi kebahagiaan di
tubuhmu.

Kenapa kau meneleponku?

Di masa depan, malam dibatasi
pagi dan kau. kau adalah waktu.
kau adalah matahari yang menyembuhkan
nyeri di punggung ibumu.

Hari apa ini?

Hari mimpi

telepon dimatikan.





Di Jembatan Bolong

kita berjalan dituntun sepasang ngilu yang diam-diam
ingin mengubah warna kota ini.
di atas jembatan, kita menyaksikan angka-angka
gagal bunuh diri sebab seseorang memaksanya
menjadi huru-hara di rumah makan.

Apa yang mampu kita selamatkan dari deru cita-cita
yang telah mati? samar kudengar pertanyaanmu
di antara pekik klakson kendaraan.

Rindu yang kaurawat mati-matian adalah pilu
di dada kekasihmu.




Aku Ingin Meminjam Kantukmu

pukul 02.00
tiba-tiba, aku merindukanmu.
Aku ingin tidur dan bersembunyi
di alismu dan biarkan kesunyian
mengecupnya.

Aku terjaga menyaksikan
api yang terus membakar
kota ini. aku melihat kita
sedang berusaha menjangkau
lengan negara.

Dulu, aku ingin mengatakan cinta
sebelum bom dalam diriku meledak.
aku tak ingin mengatakannya lagi.
aku hanya ingin meminjam kantukmu
yang abadi.




Memiliki Adalah Menakar Kehilangan

Pada mulanya, aku ingin menyimpan
seluruh pagi ke dalam jantungmu sebelum
aku menyadari bahwa kecupan hanyalah
letupan yang bakal hilang dan tak mampu
kukenali lagi.

Kau adalah teka-teki yang mudah kutebak
sebelum peluru membuatnya kabur.
Resah yang tak pernah reda adalah kawan
sepanjang jam-jam menunggumu pulang.

Dendam telah memesan kematian untukmu.
Kau pergi dengan seluruh gemuruh di dadamu
Dan namamu adalah sunyi ladang yang ditinggalkan.

Pada akhirnya, waktu telah menutup semua pintu
menujumu.




Dengan Kata Lain, Aku Tak Berhasil Menyentuhmu

Di puisi ini, aku ingin menyentuhmu lagi.
Kubiarkan jendela terbuka dan kenangan
memasuki jantungku.

Setiap kutulis namamu, huruf-huruf
selalu berhasil menjatuhkan dirinya
kembali. Aku gagal menahanmu sekali
lagi.

Aku ingin mendengar jantungmu berdetak,
tapi tubuhku telanjur retak. Kau tak mampu
kutebak.

Di puisi ini, aku ingin menyentuhmu lagi.
Kubiarkan jendela terbuka dan kesedihan
menetap di tubuhku.




Debu-Debu Topoyo

siang menyaksikan angin membawa debu-debu
itu mengabarkan kesedihan.
kecemasan mulai menyentuh mimbar
yang agung.

Buah menolak dikupas. angka-angka tidak
percaya diri menghitung dirinya sendiri
sepanjang tahun.

Jalan adalah pangkal keraguan dan keyakinan
menganulir tata tertib di tengah rasa sakit
yang dipelihara negara ini.

Sementara itu, di selatan, seseorang ingin
pulang tanpa memerhatikan palang
yang ingin menyelamatkannya.






===============
Arham Taheer, lahir di Luwu, Sulawesi Selatan. Pernah menjadi salah satu Emerging Writers pada perhelatan Makassar International Writers Festival (MIWF) tahun 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here